DOSEN GRAY

DOSEN GRAY
BAB 23


__ADS_3


Apabila kamu ingin terbang, lepaskan semua bebanmu. Lepaskan masa lalumu, terbanglah dengan bebas, untuk meraih kebahagiaan baru, berjuanglah untuk masa depan tanpa harus di bebani oleh kisah masalalumu.


Coretan-coretan itu My buat hanya untuk sekedar penyemangat diri, My duduk di dalam kelas, setelah satu minggu izin akhirnya gadis itu kembali bergulat dengan aktivitas perkuliahannya.


Pagi ini mereka berangkat lebih awal satu jam lebih cepat, hanya karna menuruti kemauan My. Untuk menghindar dari gosip. Mereka berangkat sepagi ini, hingga pria itu melewatkan waktu olahraga paginya. Lihatlah bahkan kampus masih terlihat lenggang.


Hanya kicauan burung gereja yang terdengar saling bersahutan. Ata duduk di kursi kebesaran yang ada dalam ruangannya. Ia raih gawainya dari dalam tas. Jemarinya mulai mengetikkan kata demi lata.


Dosen Gray


"Pergilah sarapan dulu, kamu tadi gak sempat sarapan"


Pesan itu hanya My baca tanpa gadis itu balas.


Setelah menunggu beberapa menit, masih sama. My masih belum menjawab chat dari Ata, akhirnya pria itu memutuskan untuk menelponnya. Setelah panggilan ke dua, terdengar suara manja dari hagis impiannya.


"Ya pak, ada apa?"


"Kenapa chat saya hanya dibaca?"


Tanya Ata langsung ketopiknya


"Lagi sibuk, nyelesaikan tugas"


jawab My singkat.


"Tugas yang mana lagi?"


Tanya Ata heran.


"Tugas yang tadi malam belum selesai"


Jawab My jujur


"Keruangan saya sekarang, masih ada waktu tiga puluh lima menit lagi"


Titah Ata menuntut. My berjalan ke ruangan dosennya, dengan menenteng ransel berisi laptop.


Sampai di depan pintu, My mengetuk sebagai isarat gadis itu sudah datang.


"Masuklah"


pinta dosennya lembut. My duduk di sofa, di ruangan suaminya bekerja.


Ata mendekat, ke arah My sembari menenteng paperbag yang dalam isinya, mengeluarkan aroma harum.


"Sarapan dulu, saya sudah pesankaan sarapan ini melalui aplikasi ojol.


My menatap dosennya heran.


Karna, pak dosen mengeluarkan satu porsi nasi goreng dengan ukuran jumbo.


"Bapak gak sarapan, juga?"


Tanya My penasaran.


"Kamu dulu, saya nanti"


Ucap pria itu santai. Bukannya Ata tak sanggup membeli dua porsi nasi goreng, tapi itu bagian dari siasatnya untuk menciptakan kedekatannya dengan mahasiswinya.


My mulai membuka kemasan nasi goreng. Gadis itu mulai menyuapkan nasi goreng kedalam mulutnya.


"Pak, sepertinya ini kebanyakan. Saya tidak akan sanggup menghabiskan nasi goreng sebanyak ini."


Ucap My sembari mengunyah. Dosen ganteng itu tersenyum manis. ke arah istrinya.


"Kalo gitu biar saya bantu menghabiskannya, sayang jika dibuang, mubazir"


Ucap Ata, seolah alasan itu benar. My mengangguk lembut. Tapi wajah gadis itu tampak bingung.


__ADS_1


"Tapi sendoknya hanya satu, pak" ucap My polos.


"Gak papa, saya makan pake sendok bekas kamu. Oya mana tugas mu?


Ucap At mengingatkan. Akhirnya gadis itu sarapan sambil ngerjain tugasnya.


"Sini sendoknya, kamu kerjakan tugasmu"


Ucap Ata meninta. My menyerahkan sendok dari tangannya kepada Ata. Pria itu mulai mengbil alih sendok.


"Aaa, buka mulutmu"


Perintah Ata menuntut. Dengan ragu-ragu akhirnya gadis itu membuka mulutnya. Menerima suapan dari pak dosen. Setelah suapan untuk My, Ata gantian menyuap mulutnya sendiri. Tangan My bergerak lincah di atas keyboard, sementara mulutnya mengunyah sarapa. Mereka terlihat sangat manis jika sedang akur seperti itu.


Dosen itu bahagia, akhirnya strategi perang menakhlukkan hati My mulai ada jalan. Akhirnya mereka sarapan sepiring berdua, tanpa ada protes dari bibir mungil mahasiswinya.


"Minum dulu, agar pencernaanmu bagus"


Ucap Ata sembari menyodorkan satu gelas air putih. My menerimanya, perlahan gadis itu menandaskan satu gelas air puti, pemberian pak dosen.


"Terima kasih, pak."


"Kenapa harus berterima kasih, ini hanya satu gelas air putih, harusnya saya yang berterima kasih, kamu telah bergagi sarapan dengan saya"


Ucap Ata Bahagia. My ikut tersenyum manis, menanggapi ucapan dosennya itu.


"Sudah selesai tugasnya?"


"Alhamdulillah, suudah pak"


"ya sudah kalau begitu masuklah, sebentar lagi kuliah akan segera di mulai. My mengangguk, sembari mengemasi laptop dan alat tulisnya.


Baru dua langkah My meninggalkkan ruangan dosennya, My dikejutkan oleh suara bariton yang menyapanya.


"My tunggu!"


Suara bariton itu menggema memenuhi indra pendengarannya. My menghentikan langkahnya, menoleh ke sumber suara.


panggil My, Dodit menggembangkan seulas senyum kepada My.


"Mau ke kelaskan? bareng ya."


Pinta Dodit pada gadis ayu itu, My mengangguk, mereka berjalan beriringan.



Hingga mereka sampai di depan kelas My. Sebelum Dodit menuju kelasnya, pria itu berhenti sejenak, hanya untuk sekedar memberi semangat pagi pada adek tingkatnya.


"Belajar yang benar, jangan ngobrol aja di kelas. O ya. Nanti pulang bareng kakak ya."


Pimta Dodit lembit. My mengembangkan senyumnya yang sangat manis.


"Makasih kak. Tapi maaf, My gak bisa pulang bareng kak Dodit, My udah ada janji pulang bareng teman"


Tolak My lembut, agar kakak tingkatnya itu tak merasa kecewa.


"Wah, kakak terlambat ya, ternyata udah ada yang satu langkah lebih cepat dari kakak."


My kembali tersenyum menanggapinya.


Dodit. Yang gemas melihat senyum manis, adik tingkatnya, dengan sengaja mengacak rambut My yang tergerai.


"Ya udah kalau gitu kakak kekelas dulu ya!"


Pamit Dodi, tak lupa tangan besar itu hendak mengacak rambut My lagi, tapi pergerakan tangan Dodit, menggantung di atas anggin.


Deheman keras salah satu dosennya lah yang menggagalkan tindakan Dodit.


"Eeeh. Pak Ata, pagi pak! "


Sapa Dodit tak enak.


__ADS_1


"Singkirkan tanganmu saya mau lewat"


perintah Ata datar, sembari menatap tajam tangan Dodit yang masih menggantung dekat kepala istrinya. Seketika pria itu menarik tangannya cepat.


"Maaf pak."


Ucap dodit, sambil melangkah mundur memberi jalan pada Dosennya itu. Ata melangkah masuk ke kelas My. Sembari berucap dengan nada yang sangat datat.


"Kalau kamu, masih mau ngobrol di sini saya tutup pintunya"


Ucap Ata memperingati mahasiswi sekaligus itrinya itu. Seketika My langsung berjalan membuntuti pak dosennya.


Pagi ini mood Ata rusak, akibat pemandanngan yang tak ia sukai, Ternyata semenjak My meninggalkan ruangannya, dosen itu memperhatikan tingkah istrinya dari jendela ruangannya yg terlihat gelap dari luar.


Ata mulai membuka perkuliahan dengan salam, tak lupa dosen intu memberi motifasi terlebih dahulu sebelum membahas mata kuliah yang pria itu ajarkan.


Setelah panjang lebar menerangkkan materi, Ata menutup perjumpaan.


"Oke, kumpulkan tugas minggu lalu, jangan lupa tugas hari ini kalian kirim ke email saya"


Selesai mengingatkan maha siswanya, Ata keluar kelas.



Di dalam kelas, sepanjang mata kuliah pak Ata, My tertunduk karna gadis itu tau, dosennya itu tengah marah padannya. Gadis itu sedang malas berdebat, lebihbaik ia menghindar, dari tatapan elang suaminya.


"My, kok dari tadi lo diam aja di kelas, ada spa? terus satu lagi, dari awal masuk kelas gue perhatiin, pak Ata ngeliatin lo mulu, dengan tatapan yang gak terbacs. Lo ada masalah lagi sama tu dosen? "


Tanya Sasa heran. Kening My berkerut, ia tak sadar jika sahabatnya itu ternysta memperhatikan mereka sampai sedtail itu.


"Masaksih. perasaan lo aja kali Sa. Gue gak ada masalah kok sama pak Ata"


Dusta My pada Sasa. Mereka terus berjalan meninggalkan kelas, sampai di koridor mereka berpisah.


My duduk di kursi tunggu sembari main henpon. Baru gadis itu hendak main game panggilan telpon dari Dosen Gray masuk.


"Iya, pak? "


"Tunggi saya lima menit lagi, saya sedang koreksi sebentar"


Pinta Ata, pada My.


"Iya, Saya tunggu di mobil"


Jawab My pelan, agar tak terdengar mahasiswa yang lain.


My berjalan menuju parkiran khusus dosen.


Di sana sepi My dengan mudah memasuki mobil suaminya. Seperti biasa kunci mobil selalu gadis itu yang pegang.


Setelah lima menit menunggu pak dosennya, mata My mulai ngantuk, akhirnya gadis itu tertidur dalam mobil. Ata masuk ke mobilnya, pria itu melihat posisi tidur My yang kurang nyaman. Sebelum jalan, Ata membenarkan posisi tidur istrinya, ia turunkan joknya sedikit rebahan agar, gadisnya lebih nyaman tidurnya.


Ata usap pipi My yang putih itu dengan ibu jarinya, perlahan ia kecup pipi dan kening tak lupa ia melewatkan bibir basah milik My, ia kecup lembut bibir mungil gadisnya, setelah puas melakukan ninja ciuman, barulah Ata menjalankan mobilnya, menuju rummah mereka.


Sampai di rumah, My masih pulas dari tidurnya, Ata bopong dadis itu pelan-pelan agar gadis kecilnya tak terjaga. Kemudian Ata tutup pintu mobilnya itu dengan sebelah kaki jenjangnya.


Mobok Rum, yang melihat majikannya baru pulang segera ia membukakan pitu rumah.


"Mbok. tolong ambilkan tas laptop saya dan tas My di mobil, ini kuncinya, sekalian dikunci ya mbok mobilnya! nati taruh aja di ruang kerja saya"


Pimta Ata sopan pada ARTnya.


"Baik pak, "


Mbok Rum dengan cepat menjalankan tugas dari majikannya itu. Di kamar Ata membaringkan istrinya dengan penuh kelembutan. Ia buka sepatu yang masih melekat di kaki My yang putih nan halus itu.


Ata tak bosan menikmati paras syu istrinya yang baru seminggi ia nikahi.



Perlahan pria itu ikut rebahan di sebelah istrinya, Mata Ata, mulai terpejam, tangannya melingkar apik di pinggang langsing istrinya, ia peluk erat tubuh hangat, yang terlalu sempurna, mampu mengusik naluri kelaki-lakiannya.


Mereka masih terlelap, menghabiskan waktu tidur siang. My tampak nyaman tidur dalam pelukan pak dosen.

__ADS_1


__ADS_2