
Hujan menyapa bumi, seolah alam peka, akan keadaan. Mobil melaju membelah derasnya air hujan. My memejamkan matanya sembari berdoa memanjatkan pengharapan pada sang ilahi robbi.
Tak hanya My, pria berwajah tampan itupun tak lupa merafalkan doa pada sang maha pembolak balik hati. Usai berdoa, Ata melirik gadis yang dengan asyik menatap jalanan yang diguyur air hujan. Bibirnya melengkung, sepertinya gadis berparas ayu itu tengah membayangkan sesuatu.
Dengan jahilnya Ata, membuyarkan khayalan si gadis belia.
"Senyum-senyum sendiri, kamu lagi bayangin apa? lagi bayangin kita sedang main hujan-hujanan, terus kejar-kejaran, jatuh berguling-guling di atas rerumputan, gitu?"
My melirik aneh, ke orang di sebelahnya itu.
"Iiih apaan. Bapak pikir, bapak artis India"
Ata tertawa, melihat ekspresi My yang menatap dirinya aneh.
"Biasa aja wajahnya, gak usah seperti itu juga lihatin sayanya"
Ucap Ata salah tingkah.
"Saya heran aja, dari mana bapak punya pemikiran seperti itu, bayangin saya kehujanaan bareng bapak aja, saya udah geli sendiri, Hiiiii serem" Ucap My sembari bergidik ngeri.
"Ya terus kenapa kamu, senyum-senyum sendiri?"
"Suka-suka saya dong, kenapa bapak yang sewot. Heran saya, gak bisa banget lihat orang senang."
"Halah, palingan kamu sedang bayangi mas bammu itu, yang senengnya main ujan-ujanan"
Sepontan My menoleh ke arah dosennya, gadis itu menatap pria yang tengah memainkan stir mobil.
"Sok tau, kayak bapak tau aja sama mas Bam"
Ata tertawa mencemeeh mahasiswinya.
"Kalau saya tau, kamu mau ngasih saya apa?"
"Ngasih bapak tabokan bolak-balik sepuluh kali"
Ucap My asal.
Ata mengacak rambut My gemes.
"Hiih, apaan sih pak"
Ata tak menggubris, pria itu terus tersenyum.
"Kamu senang dengan hujan?" tanya Ata ingin tau. My menganggukkan kepalanya.
"Apa yang kamu suka dari hujan?" tanya Ata penasaran.
"Entahlah, yang aku tau jika turun hujan, Allah akan lebih cepat mengabulkan doa kita, tapi hingga sekarang Allah belum mengabulkan doa-doa saya!"
Gadis itu seketika murung, menatap rintik hujan yang membawanya ke rasa rindu yang sulit gadis itu lukiskan. Ata melirink ke arah gadis ayu itu,
"Kamu sedang merindukan seseoramg?" tanya Ata lembut. My tersenyum getir.
"Mungkin" Jawabnya lirih.
"Kok mungkin?"
"Entahlah. Kami dekat namun, waktu itu kami masih kecil, mungkin dia sudah tak mengingatku, atau bisa jadi sekarang dia sudah menikah dan punya anak"
Ucap My murung.
Ata menatap netra bening gadis belia itu lagi. Hanya untuk memastikan sesuatu dalam benaknya.
"Kenapa kamu yakin jika dia sudah menikah?"
My melirik Ata sekilas.
"Bapak kepo" sahut My judes
"Gak kepo cuma pengen tau aja"
Ucap Ata sambil tertawa.
__ADS_1
"Kamu belum jawab, Kenapa kamu yakin jika dia sudah menikah?"
Pria itu ngotot ingin tau jawaban My.
"Karna memang usia kami terpaut jauh"
Ata tetsenyum simpul, kearah mahasiseinya.
"Apa yang membuatmu, terkesan padanya?"
"Heem.?" Jawab My sembari melamun. Ata kembali mengulang pertanyaannya.
"Apa yang membuatmu, terkesan padanya?"
"Eeem. Mas bam itu orangnya, baik, lembut, penyayang. Selama ini saya belum perna menemukan orang sebaik dia. Gak kayak bapak menyebalkan"
"Kalau misalnya mas Bammu itu saya, gimana?"
Ata semakin penasaran. Ia tetus menggoda gadisnya. Seketika My memutar bola matanya males. Gadis itu semakin males ngeladeni dosennya yang semakin terlihat halu.
"Kok diam? gak suka kalau saya yang jadi mas Bammu?"
"Lama-lama bapak kebanyakan halunya ya. Udah nyebelin, banyak ngarepnya lagi."
Ucap My kembali judes. Ata tertawa geli melihat kekesalan My.
"Ah, saya gak seperti itu. Kamu aja, yang nilai saya seburuk itu. My"
"Memang buktinya kayak gitu kok"
Sahut My cepat.
"Itu karna kamu belum kenal saya"
"Gak kenal gimana, orang tiap hari ketemu. Tapi bapak tetap aja ngeselin"
"Itu karna kamu gak kenal saya" ucap Ata benar adanya.
"Mau kenalan ulang sama saya?"
tawar Ata serius. My menatap aneh pada dosennya. Jika dosennya seperti ini terus, bisa-bisa kepala My bisa pecah amburadul.
"Gak nyesel, nanti kamu?" Ledek Ata jahil.
"Apaansih pak, lama-lama bapak jadi aneh"
Ucap My sewot.
"Ya mana tau saya orang yang kamu tunggu-tunggu itu" Seketika My memutar bola matanya jengah.
Tanpa mereka sadari, mobil telah membawa mereka tepat di halaman rumah My.
Gadis itu dengan segera membuka pintu mobil. Buru-buru turun ninggali pak Ata.
Terlihat di sana Melisa tengah duduk santai di teras rumah, dengan ditemani seutas tali dan jarum pengait di tangannya. Untuk merajut tas pesanan butik tante Luna.
"Assalamualaikum ma!" My mencium tangan Melisa sembari mengucap salam.
"Waalaikumsalam. Kok anak mama pulangnya sore banget, sayang?"
"Iya ma, ngerjain tugas"
My jawab sambil nyengir kuda, gadis itu malu mau jujur, karna ada dosennya tepat disamping My. Gadis itu malas di buli pak dosen yang menyebalkan.
"Ayok masuk nak Ata!" Ajak Melisa pada calon mantunya.
"Iya tan" jawab Ata sembari masuk, ia juga malas mau pulang, hujan masih cukup lebat.
"My, buatkan masmu kopi hangat"
Perintah Melisa pada putrinya.
"Pak ata, bukan masku ma. Dia dosen My"
__ADS_1
Ata tersenyum melihat tingkah calon istrinya itu.
"Dosen kalau di kampus, di rumah dia masmu!"
Jawab Melisa tegas.
"Ogah, punya mas kayak pak Ata, nyebelin. Ma"
Melisa geleng kepala lihat putrinya itu.
"Yang sopan dek, sama calon suami" Melisa tak lupa mengingatkan putri bontotnya.
My, berjalan menuju ruang tengah sembari membawa nampan yang berisi secangkir kopi. Dengan malas-malesan, My meletakkan kopi di atas meja.
My hendak ke kamar, Melisa sudah terlebih dahulu bertitah.
"Duduk My, temani masmu ngobrol"
Mendengar perintah Melisa, Ata merasa menang. Senyumnya terbit dari bibir merah, pria yang berjambang itu.
"Ma, My ngantuk" rengek My manja.
"Ya Allah nak. Pulang telat gara-gara tidur di kampus, sekarang masih sambat ngantuk lagi, itu mata terbuat dari apa sih My?"
Geram Melisa pada putrinya.
My menatap kearah Ata, Matanya melotot lebar.
"Uuh sial, ternyata dia udah ngasih tau mama, kalau aku ketiduran di perpus"
Batin My mendumel.
"Ta, tante tinggal ya. Tante harus nyiapin pesanan tas rajut untuk butik tante Luna, besok mau di ambil soalnya"
Pamit Melisa pada calon mantu.
"Iya tan, silahkan. Ada My juga yang nemani saya" Ata melirik My sekilas, sibocah mencibirkan bibirnya ke arah Ata.
"Bapak mau ikut gak, saya mau nonton. Bosen di sini gak ada yang dilihay."
Keluh My sembari beranjak.
"Kamu bisa lihatin saya biar gak bosan."
Ucap Ata santai, sembari membuntuti gadis di depannya.
"Ogah" Ucap My cepat
Mereka duduk di karpet, My membuka laptopnya, gadis itu mulai mencari film yang cocok untuk ia tonton dicuaca hujan seperti ini. Mereka duduk berdampingan, Ata dengan nyamannya berselonjor kaki. Sementara My duduk dengan kaki ia tekuk. Mata gadis itu fokus ke layar laptop.
Tanpa My sadari, ia saat ini sudah mulai terbiasa berdekatan dengan pak dosennya. Aktivitas merekalah yang membuat mereka semakin dekat. Hanya saja mereka masih seperti anjing dan kucing yang sering berseteru, meributkan hal-hal kecil.
"Ih kok bapak duduknya makin nempel-nempel ke saya sih, geseran dikit di sebelah sana masih lebar" Tunjuk My mengusir.
"Disana memang lebar, tapi saya gak kelihatan filmnya. Layar laptopmu kecil. My"
"Alasan. Bilang aja mau dekat sama saya"
Cibir My males.
"Deket-dekat calon istrikan gak papa dek, lagian hujan dingin"
Ucap Ata ngarep. My nyelegos tak menanggapi.
Hampir tiga puluh menit mereka nonton, gadis di sebelahnya ternya sudah tidur pulas. Tanpa gadis itu sadari kepalanya bertengger manis di bahu Ata, Ata yang jahil segera menyambar henponnya untuk memoto mereka berdua.
Pria itu juga tak melewatkan kesempatan, untuk mengecup kening, sekaligus ia mencuri kecupan di bibir mungil My. Puas dengan tingkah ninjanya. Ata mebaringkan My di atas karpet, pria itu dengan sayang mengelus surai halus gadisnya, kemudian ia pasangkan selimut lembut berwarna putih.
__ADS_1
Ata tak bosan terus menatap sekedar menikmati paras ayu calon istri impiannya.
Bibir pria itu melengkung lebar. Tangannya dengan apik ia letakkan untuk membelai kepala gadis yang keras kepala di hadapannya.