DOSEN GRAY

DOSEN GRAY
BAB 63


__ADS_3


Senja mulai hadir menyambut gelapnya alam. Tampak cahaya mulai meremang. Melisa segera bergegas menutup jendela kaca. Dengan tangan yang tanpak mulai keriput itu, ia tarik setiap ikatan tirai-tirai hingga tertutup rapat. Melisa berjalan menghampiri putranya yang sedari tadi asyik dengan pekerjannya. Empat bulan terakhir ini putranya itu gila kerja, namun terlihat semakin parah satu bulan terakhir. Putranya itu selalu melewatkan waktu istirahat dan makannya.


"Mas, mama lihat sedari tadi kamu gak ada makan, apa dengan pekerjaanmu itu kamu sudah cukup kenyang?"


Ucap Melisa menyindir putranya.


"Iya ma, sebentar lagi selesai"


Ucap Azam lembut. Melisa hanya bisa geleng kepala melihat tingkah putranya. Adzan mulai berkumandang suara muadzin terdengar merdu, saling bersahut-sahutan.


Melisa segera mengambil air wudhu begitupun dengan Haris. Lama mereka menunggu putra mereka untuk shalat berjamaah namun sosok yang ditunggu tak kunjung terlihat batang hidungnya.


Dengan memakai mukena, Akhirnya Melisa menghampiri putranya ke ruang kerja.


"Masya Allah nak, kamu belum juga mandi. Ini kok malah tiduran di meja kerja? Ayo bangun! dudah adzan magrib"


Ucap Melisa heran.


"Astagfirullah, maaf ma. Azam ketiduran"


Dengan bergegas pria itu bangkit dari kursinya. Setelah selesai mandi dan shalat berjamaah, mereka berkumpul di meja makan, untuk mensejahterakan penduduk tengah.


"Haris dengan lahapnya menikmati olahan sang istri. Sementara Azam terlihat enggan untuk makan"


"Mas, apa masakan mama gak enak?"


Tanya Melisa menyelidik. Azam tergagap mendengar pertanyaan mamanya itu.


"Oh, enak kok ma! Hanya saja perut Azam masih terasa kenyang"


Jawab Azam tak enak hati.


"Kamu itu mas, jangan memforsir tubuhmu untuk terus berkerja, papa perhatikan akhir-akhir ini, kamu terlalu gila kerja. Kamu gak lupa dengan kesehatanmu kan Mas?"


Ucap Haris sembari menatap putranya. Sementara Azam hanya tersenyum menanggapi ucapan papanya.


"Kamu dengar papa Zam?"


Sahut Melisa.


"Iya ma dengar"


"Kalau gitu ayo! makan yang banyak"


Pinta Melisa pada putranya. Dengan tak enak hati, akhirnya pria itu menghabiskan makannya. Malam berlalu jam menunjukkan pukul tiga dini hari, Melisa dan hari terbangun hendak melaksanakan shalat sunah tahajud. Namun wanita paruh baya itu melihat heran, ternyata ruang kerja putranya madih terlihat terang. Akhirnya usai shalat tahajud Melisa mendekat ke arah ruang kerja putranya.


"Masya Allah, Azam! kamu belum tidur? kamu gak lihat ini jam berapa?"


Omel Melisa mulai terdengar. Azam terkejut menatap ke arah pintu.


"Mama, ini sebentar lagi Azam tidur kok, ma!"


"Gak ada sebentar lagi, tidur sekarang. Mas!"


Ucap Melisa tegas, Azam menurut akhirnya pria itu meninggalkan ruang kerja. Melisa terduduk melihat cangkir bekas kopi, ia lihat di tong sampah ternyata putranya itu sudah meminum kopi instan bergelas-gelas. Melisa duduk terdiam sembari memegangi cangkir kopi bekas putranya itu, air mata Melisa kembali mengalir melihat perubahan putranya. Wanita paruh baya itu tak tau harus berbuat apa, ia serba salah ia tak ingin menyakiti putrinya, namun ia lupa ia telah merobek hati sang putranya, hingga sedalam itu.


Melisa bangkit dari ruang kerja Azam, ia tubruk pundak suaminya, wanita itu menangis sejadi-jadinya.


"Kamu kenapa lagi, ma?"


Tanya haris sembari memeluk sang istri penuh kehawatiran.


"Pa, Azam banyak sekali minum kopi. Mama hawatir, pa?"


Seketika Haris menatap sang istri.


"Jangan hawatir, putramu anak yang kuat. Dia tidak akan sakit hanya karna minum banyak kopi"


Jawab Haris menenangkan Melisa.


"Tapi pa.."


"Sudah tidurlah, waktu masih terlalu pagi"


Jawab Haris mengalihkan pembicaraan. Sementara di kamar yang lain Azam dengan khusuknya memanjatkan doa terbaiknya untuk orang-orang yang sangat ia cintai. Usai shalat sunah, mata pria itu tak kunjung terpejam, akhirnya pria lajang itu meraih Al quran, untuk mencari ketenangan hati. Dengan suara lirih ia baca setiap ayatnya dengan khusuk.


Ternyata meski dengan suara lirihpun, suara itu masih mampu menerobos masuk ke indra pendengaran Melisa. Dengan tidur membelakangi suaminya, ibu dua anak itu tak henti-hentinya meneteskan air mata. Sungguh ia merasa bersalah pada putranya itu. Ia tau bagaimana putranya menahan kekecewaan, wanita paruh baya itu tau akan kesakitan putranya. Hanya saja putranya itu selalu memperlihatkan jika dia baik-baik saja.


Pagi mulai datang, mentari mulai membuka tirai-tirai lagit untuk memancarkan cahaya abadinya.


My berjalan menuruni anak tangga, tangannya sambil menyepol rambutnya ke atas, dengan gesitnya ibu muda itu membereskan rumah, sebelum putranya bangun, sementara Ata tak mau kalah. Pria itu juga tengah menyiram tanaman dan membersihkan kolam renang dari sampah daun yang berguguran. Setelah beres semuanya My mulai memanggil sang suami.


"Mas, ayo sarapan dulu. Ini keburu dingin milonya"


Ucap My pada Ata


"Iya, sayang sebentar lagi"


Jawab Ata sembari memungut dedaunan di dalam kolam.

__ADS_1


Setelah beres, Ata bergegas menuju ke meja makan. Ia seruput milo hangat hasil racikan sang istri.


"Hari ini kamu kuliah dek?"


Tanya Ata lembut


"Iya mas, cuma sebentar kok. Hanya satu mata kuliah aja"


Jawab My sembari menyendok nasi untuk sang suami.


"Nanti mas antar kamu dulu, abis itu mas lanjut ke kantor ya, sayang"


"Gak usah mas, My berangkat bareng Klara aja"


Tolak My, sembari membenahi dasi sang suami.


"Gak boleh, mas maunya kita pergi bareng"


jawab Ata lembut. My tersenyum, ternyata suaminya itu selalu romantis meski dengan hal kecil.


"Iya deh"


Sahut My, sembari mengecup pipi berjambang Ata Herlambang.


Sampai di kampus My, Klara dan Sasa berjalan hendak menuju kelas, saat di pertigaan koridor, tanpa My sadari Oliv melintas di hadapan mereka, Buk dosen itu mengembangkan senyumnya tampa dimimta, senyuman itu sangat manis. Terang saja mereka terkejut, namun mereka tetap membalas senyum ibu dosen itu sembari sedikit membungku tanda hormat mereka. Namun tidak dengan My, ibu muda itu hanya diam menatap sekilas Oliv.


"My, kok buk oliv sekarang kurus banget ya. Apa dia sakit?"


Tanya Klara penasaran. My tak menjawab, ia hanya mengangkat bahunya saja dengan tak open.


"Kayaknya iya deh Kl, buk Oliv sakit"


Jawab Sasa ikut penasaran.


"Udah ah, bukan urusan kita"


Jawab My tak suka.


"Tapi My..! itu buk Oliv beneran beda lo, mukanya tirus banget sampe matanya berkantong, apa kamu gak ada rasa iba sedikitpun dengan dia?"


Ucap sasa asal. My sekilas menatap Sasa lalu dengan lantangnya ibu muda itu berujar.


"Apa kamu pikir, dia ada memperdulikan perasaanku, waktu dia ingin merusak rumah tanggaku,Gak usah drama deh Sa"


Jawab My kesal. Sasa terkejut dengan jawaban sahabatnya itu.


"Maaf, My. Kenapa kamu segitu marahnya, aku hanya... "


Pinta My tegas. Sebenarnya ada rasa gelisah di hati My. Hanya saja ia tak ingin perduli.


"Oke. Maaf!"


Jawab Sasa sembari merangkul bahu sahabatnya. Selesai kuliah My meluncur ke rumah Melisa. Di sana terlihat wanita paruh baya itu tengah duduk di teras rumah sedang menggendong cucu kesayangannya.


"Nah tu, mama Zain udah pulang sayang"


Ucap Melisa pada cucunya.


"Mama.. mama..!" Oceh Zain riang.


"Iya sayang, mama pulang"


Sahut My pada putranya.


"Kok cepat pulangnya, My?"


"Iya ma, cuma satu mata kuliah aja"


Jawab My sembari meraih Zain untuk ia gendong.


"Yuk, masuk. Mama buat semur kesukaan kalian loh"


Ucap Melisa semangat. My masuk menuju meja makan.


"Wah, banyak banget ma masaknya"


Tanya My heran.


"Iya My, rencana mama mau minta tolong kamu, untuk mengantarkan makan siang untuk anak-anak mama di kantor, kamu maukan, nak?"


Tanya Melisa penuh harap.


"Wah dengan senang hati, ma"


Sahut My tulus. Mobil melaju membawa My ke tempat suaminya kerja. Sampai di kantor semua staf menyapanya dengan ramah.


"Selamat siang mbak, ada yang bisa saya bantu?"


Tanya salah satu mbak cantik yang mengenakan hijab coklat itu. Yang My tak tau siap namanya.


"Siang, apa pak Atanya ada?"

__ADS_1


Tanya My ramah.


"Ada mbak, apa sebelumnya mbak sudah membuat janji dengan beliau?"


Tanya mbak itu lagi dengan sopan. My tersenyum dengan ramah.


"Saya istrinya, mbak! saya mau antar makan siang untuk bapak"


Ucap My menjelaskan. Seketika itu wajah mbak berhijab itu pucat tak berdarah.


"Maafkan atas kelancangan saya, buk. Saya benar-benar tidak tau"


Ucap wanita cantik itu. My menyipit, menatap heran pada mbak berhijab di hadapannya.


"Gak papa, jangan takut. Mbak baru ya kerja di sini?"


Tanya My penasaran.


"Iya bu, saya baru berapa minggu kerja di sini"


Jawabnya sopan. My mangut-mangut sembari terus memperhatikan, karyawan baru suaminya itu.


"Bapak ada?"


Tanya My lagi.


"Ada bu, bapak di lantai atas. Mari saya antar"


ucap Mbak cantik itu menawarkan diri. My kembali tersenyum.


"Terima kasih. Saya bisa sendiri."


Tolak My sopan. Lalu ia berjalan meninggalkan wanita itu.


"Assalamualaikum"


Ucap My sembari mendorong pintu.


"Waalaikumsalam."


Sahut Ata lembut.


"Loh..! tumben ke sini?"


Tanya Ata sembari menyambut istrinya.


"Iya, mama minta My untuk mengantar bekal makan siang mas dan mas Azam."


Sahut My sembari mengangkat tempat bekalnya. Ata tak sabar ia panggil Azam segera. Setelah itu mereka berkumpul di ruang kerja Ata, untuk melahap bekal yang di bawa My.


"Loh, mas Azam kok makannya sikit banget, ini mama masakin khusus buat kalian lo"


Ucap My sedikit manyun. My melihat pergerakan tubuh masnya, ia sadar ada yang tak beres dengan kakak satu-satunya itu. My segera mendekati Azam. My menunduk untuk memeriksa tubuh Azam.


"Kamu kenapa mas?"


Tanya My mulai hawatir. Ia pegang tubuh masnya itu, My semakin terkejut ternyata masnya itu mengeluarkan keringat dingin.


"Kamu kenapa mas"


Tanya My kedua kalinya. Ata mendekat ikut memeriksa Azam.


"Ya Allah mas, badanmu dingin sekali"


Ucap Ata terkejut.


"Kita harus bawa mas Azam kerumah sakit, sekarang"


ucap Ata memerintah.


"Gak usah, aku gak papa"


Ucap Azam menenangkan adik dan sahabatnya itu


"Gak papa gimana, gue yakin ini pasti lambung lo bermasalah lagi, akhir-akhir ini gue perhatikan, lo sering minum kopi, porsi kerja lo juga menggila. jadwal makan lo juga berantakan"


Omel Ata pada sahabatnya itu.


"Tenanglah, gue gak papa"


Ucap Azam lagi.


Tanpa menunggu jawaban Azam. Ata dan My membawa Azam ke rumah sakit. Di perjalanan Pria itu terus meringkuk menahan bagian perutnya, keringat dingin terus mengalir dari kening Azam. My semakin hawatir. Sesampainya di rumah sakit akhirnya Azam tak sadarkan diri. My menjerit, ia takut terjadi sesuatu pada mas Azamnya.


"Mas Azam, banguuuuun"


Pekik My tak sadar. Ata merangkul bahu My untuk menenangkannya.


"Tenanglah, berdoa untuk Mas Azam"


Ucapnya lembut. Ata terus memeluk istrinya. Sembari menelpon mertuanya. Setelah mendapat kabar, Melisa dan Haris segera menyusul ke rumah sakit. Hati Mereka gelisah, mereka hanya mampu berdoa dan mondar-mandir di depan pintu UGD.

__ADS_1


__ADS_2