DOSEN GRAY

DOSEN GRAY
iBAB 29


__ADS_3


Aku selalu menunggu hatinya, walau aku tau, dia tak memintaku untuk menunggu.


Aku selalu mengharapkannya walau ia abaikan rasaitu.


Karna aku tau bahwa kamu adalah salah satu alasan mengapa aku rela tetap menunggu dan bertahan.


Tidak ada yang lebih indah dari dua raga yang saling menjaga.


Tidak harus tau namun saling menunggu.


Tidak perlu memberi tau namun namamu namaku selalu terselip dalam setiap munajat kami. Kami akan tetap sabar menunggu sampai waktu tak izinkan kita bersatu.


Cuaca yang cukup dingin mampu. meninmbulkan rasa gerah AC tak cukup mampu membuat pria itu tak kelimpungan. Gerah yang Ata rasakan bukan gerah biasa, ada sesuatu yang mengusik dalam diri pria berparas tampan itu.



Akhirnya di tengah malam buta Ata bangun dari atas pembaringan, mengguyur tubuhnya dengan air yang sangat dingin. Agar apa-apa yang bercokol di benaknya, lenyap ikut guyuran air. Usai mandi ternyata pikiran kotornya masih saja bersarang di dalam kepalanya.


Ia tak habis akal, ia ambil air wudu ia tunaikan shalat tahajud, selesai tahajud pria itu membuka mushaf Al Quran. Ia lantunkan ayat demi ayat hingga dalam diri pria itu mendapat ketenangan jiwa.



Sayup-sayup lantunan ayat suci Al Quran menerobos masuk ke gendang telinga My.


Perlahan My membuka sedikit demi sedikit kelopak matanya. Ternyata sumber suara itu ia dapat dari bibir suaminya.


Ada jiwa yang tenang saat indra pendengarannya menerima bacaan ayat suci Al Quran yang dilantunkan dosennya itu. Ternyata tak hanya fasih dalam membaca setiap huruf-hurufnya namun juga suara pria itu sangat merdu.



Saat Ata menyudahi bacaan Al Qurannya, My segera memejamkan mata, gadis itu pura-pura masih terlelap. Setelah lima menit My tunggu, mamun belum ada pergerakan di ranjangnya, ia buka matanya sedikit, kemudian ia intip suaminya dari cela matanya, ternyata pria itu telah membaringkan tubuhnya di atas sofa.



Hati My gelisah, timbul pertanyaan-pertannyaan dalam batinnya. Apakah pak Ata marah, atas penolakkannya tadi siang. Batinnya terus berkecamuk akan pertanyaan yang ia sendiri tak tau jawanannya.


Tidak My pungkiri, bawasannya ia mulai memasuki zona nyaman saat berada di dekat suaminya. Bahkan perasaan ada yg hilang timbul di hatinya saat tubuh kekar itu tak berada di sebelahnya saat tidur.


Bahkan perlakuan lembut suaminya telah merasuk dalam jiwanya, seperti kecupan lembut di pipi, di kening, dan belayan halus di kepalanya, itu sudah menjadi candu untuk gadis delapan belas tahun itu. Tapi sayang bocah itu gengsi mengakuinya.


My bangkit dari ranjang, ia mendekati sofa dimana suaminya itu tertidur. Jemari lentik My, mengelus lembut rambut ikal suaminya, kemudian tak lupa gadis itu memberanikan diri menyematkan kecupan lumbut di kening putih sang suami


"Maaf, jika sikap saya tadi keterlaluan, ini saya ganti" bisik My lirih, Sebelum bangkit My kembali memberanikan dirinya mengecup sekilas bibir Ata yang terkatup, sebagai permintaan maafnya. Namun tanpa gadis itu sadari netra hitam itu tercelang sempurna.



My bangkit dari jongkoknya, ia hendak kembali ke atas tempat tidur, namun tangan besar itu seketika menyambar pergelangan tangan istrinya. Ternyata pak dosennya itu hanya sekedar memejamkan mata, ia tak benar-benar tidur.


My terjengit kaget, seketika wajahnya memanas.


"Ya Tuhan, Ternyata pak ata gak tidur"


My mulai mengutukki kebodohan yang barusan ia lakukan.


"Mau kemana?"


"Heeem. Mau.."


Jawab My gugup. Ata tak menggubris pria itu terus menarik tangan istrinya, hingga gadis itu jatuh terduduk tepat di sofa. Ata mengapit tubuh langsing Meylin ia rebahkan tepat di sampingnya.


"Tanggung jawab, kamu sudah bangunkan singa tidur."


Bisik Ata tepat di daun telinga gadisnya.


"Bapak pura-pura tidur?"


"Saya gak pura-pura, memang niat saya mau tidur"


"Bapak nyebelin, sayakan malu"


Ata tertawa terpingkal.

__ADS_1


"Kamu lucu, malu bilang-bilang. Gak usah malu, saya suka dengan apa yang barusan kamu lakukan. Sering-sering juga gak papa."


Ledek ata jahil.


"Tidurlah, masih larut malam" Ucap Ata lembit


"Tapi pak, di sini sempit"


Protes My.


"Gak papa, saya suka yang sempit bisa semakin dekat sama kamu"


Ucapnya jahil.


"Apaansih pak"


"Ata tak menyahut pria itu temgah meresapi kedekatan dirimya dengan My"


"Bapak ngapain tidur di sofa?"


Tanya My penasaran. Ata tersenyum sebelum menjawab pertanyaan gadisnya.


"Menurutmu?"


"Saya gak tau, Makanya saya nanya bapak"


"Saya jadi insomnia tidur dekat kamu."


Jawab Ata jujur


"Lah kenapa?"


Tanya My dengan polosnya.


"Tubuhmu terlalu menggoda My. Saya pria normal. Kamu mau tiba-tiba saya terkam?"


Ucap Ata frontal. My terkejut atas akuan pak dosennya barusan.



"Bapak gak minta sekarangkan?"


Tanya My takut.


"Emang kamu sudah siap, jika saya mau sekarang?"


My menggeleng cepat. Ata menarik nafasnya dalam.


"Bapak marah?"


Ata menatap wajah My lekat-lekat.


"Kenapa saya harus marah, saya juga ingim melakukannya berdasarkan rasa suka sama suka, bukan karna terpaksa atu karna faktor yang lain, karna itu ritual sakral untuk pasangan suami istri yang baru melakukannya."


"Jadi. Bapak masih sabar nunggu saya siap?"


"Apa yang gak untuk kamu, saya mencintai kamu itu tulus karna Allah, bukan karna nafsu saya"


My terkesima mendengar jawanan suaminya.


My menatap manik hitam milik suaminya.


Kemudiam kepalanya ia surukkan di dada bidang Ata Herlambang.


"Paaak"


"Heem"


jawab Ata singkat, sembari memejamkan matanya, sepertinya pria itu mulai ngantuk.


"Paaak"


Panggil My lagi"

__ADS_1


"Iya, ada apa Myyy?"


"Ajari saya jatuh cinta, saya ingin belajar mencintai bapak dengan tulus."


Seketika mata yang mulai layu tercelang sempurna.


"Kamu serius My? bagaimana dengan mas Bammu?." Ucap Ata ingin memastikan.


My menggeleng.


"Dia bukan siapa-siapa saya, saya sudah membuang jauh, perasaan haram itu, saya ingin mencintai yang halal, pak?"


Wajah Ata seketika sumringah.


"Terima kasih, kamu telah belajar mencintai saya. Tapi sebenarnya kamu tak perlu lelakukan apapun My, karna saya tau dari dasar hatimu yang paling dalam itu, kamu jauh mencintai saya, bahkan cinta kamu itu lebih nesar dibandin cinta yang saya miliki"


Ucap Ata sungguhan. My menyipit menatap heran ke dosennya.


"Bapak mulai gombal, saya sebal kalau digombali bapak terus."


Ucap My tak suka. Ata gemes lihat istrinya, ia cubit pipi putih itu dengan penuh cinta.



"Saya gak gombal, karna memang saya tau tentang perasaanmu. Maka dari itu saya pilih kamu jadi istri saya"


Ucap Ata mantap.


"Emang bapak cenayang yang bisa tau isi hati saya?"


Jawab My tak percaya.


"Mengetahui cinta sejatinya itu gak harus jadi cenayang, My. Kita bisa merasakan dari getaran hati kita sendiri. Kamu aja yang terlalu acuh dengan insting kamu"


"Masaksih?"


"Heem. Coba sekarang kamu ingat, apa yang kamu rasakan saat kamu berdekatan dengan saya?"


"Nyaman"


Ucap My singkat.


"Apa kamu gak bisa mengartikan kenyamananmu itu? sekarang saya tanya, kamu nyaman dekat sahabatmu?"


"Nyaman?"


jawab My cepat.


"jika kamu tidak duduk berdekatan dengannya, apa yang kamu rasakan?"


"Gak ada, biasa aja."


"Sekarang saya mau tanya lagi, coba kamu jawab dengan jujur. Apa perasaanmu saat saya tidak tidur di sebelahmu seperti tadi?"


My menatap wajah pak dosennya. Ia ragu ingin menjawab, My terlalu gengsi.


"Kok diam?"


My meringis kemudian menunduk.


"Saya gak suka tidur tanpa bapak, seperti ada yang hilang saat itu."


"Kamu tau itu artinya apa?"


My kembali diam tak.


"Itu artinya, perasaan kamu sama seperti apa yang saya rasakan, kamu mencintai saya tapi kamu sangkal hal itu"



My terus diam, ia berpikir dalam diamnya. Batinnya terus bertanya, benarkah ia telah jatuh cinta pada dosennya itu. Entahlah My masih belum yakin.


"Sudah, jangan banyak mikir. Tidurlah waktu masih terlalu dini untuk kita bangun"

__ADS_1


Ata kembali merapatkan tubuhnya, memeluk erat tubuh hangat yang memberikan desiran baru disetiap aliran darah pria dewasa itu.


My mulai mencari posisi nyamannya dalam dekapan hangat pak dosen. Ia surukkan wajah ayunya tepat di dada bidag Ata Herlambang.


__ADS_2