
Akhir dari penderitaan menghasilkan jiwa yang kuat karakter terkuat ditandai oleh bekas luka, Kepercayaan itu seperti jiwa, tak akan pernah kembali setelah hilang. Selesai meeting tinggallah Azam dan Ayasa di ruangan. Ayasa merasa ini kesempatannya untuk berbicara pada pria keras kepala itu.
Saat Azam hendak meninggalkan ruangan, Suara Ayasa menggema memenuhu ruangan yang kosong.
"Apa kamu tak ingin mendengar penjelasanku, sebentar saja..!"
Ucap Ayasa memohon. Azam membalik badan menatap wanita berhijab itu. pria itu memejamkanatanya, Seketika bayangan menyakitkan itu hadir dengan sendieinya.Sesungguhnya Pria
itu tak ingin mengulik masalalu. Entah kenapa rasa kecewa yang kuat terlalu lama menyarang di rongga dadanya. pria itu tersenyum sinis pada wanita yang menjadi sekretarisnya itu.
"Aku tak butuh penjelasanmu, Ay..!"
"Apa yangku lihat itulah kebenarannya..!"
Jawab Azam murka. Setelah berucap pria bermata hitam itu pergi meninggalkan Ayasa. Namun tangan Ayasa dengan sigap menarik lengan bajunya.
"Tunggu sebentar..!"
Mohon Aya pada Azam.
"Lepas...jangan sentuh saya..!"
Sergah Azam sembari menepis tangan Aya. Hingga gadis itu hampir terjungkal.Namun Aya tak peduli ia kekeh dengan kemauannya. Untuk menjelaskan apa yang harus Azam tau. Agar saat kepergiannya nanti tak ada penyesalan.
"Aku tidak perna melakukan perbuatan yang kamu tuduhkan..!"
__ADS_1
Ayasa berucap dengan mata berkaca kaca.
"Pembelaanmu takkan berguna untukku, siapa yang akan percaya padamu, mana mungkin seorang teman pria dengan mesranya membopongmu hingga kalian saling berdekatan di atas sofa..kalian benar benar menjijikkan..!"
Ucap Azam meluapkan luka yang bertahun tahun ia pendam sendiri.
"Cukup...! aku tak seburuk yang kamu pikirkan, tapi jika kamu masih ingin berfikir aku wanita seperti itu, itu hak kamu..!"
Dengan kasar Ayasa menyambar tangan Azam, lalu wanita itu menyerahkan flashdisk tepat di tapak tangan Azam.
"Jika sudah menonton salinan cctv itu di kost, kamu boleh menilaiku sesuka hatimu..!"
Ucap Ayasa dengan perasaan terluka. Bagai mana mungkin pria yang selalu ada di hatinya tak mempercayai dirinya sedikitpun. Ia lebih percaya dengan apa yang ia lihat. Dibanding kebenaran yang nyata. Ayasa berlalu meninggalkan pria keras kepala itu.
Di dalam video itu tampak jelas Reno tengah membopong Ayasa, lalu kakinya tersandung meja yang mengakibatkan Reno jatuh tepat di tubuh Ayasa. Berselang berapa menit datang ambulance, terlihat di sana ayasa ditandu dan di masukkan kedalam mobil ambulanc.Dengan hati yang tak terbaca Azam menatap langit langit di ruang aula, seolah di atas sana ada jawaban yang ia cari.
Pria itu menutup laptopnya dengan kasar, rasanya ia ingin mati saja, bagai mana bisa ia secerobah itu, tak mencari tau terlebih dahulu kebenarannya. Azam menyesal atas apa yang telah ia lakukan terhadap Ayasa. pria keras kepala itu akhirn mengejar Ayasa ke ruangannya.
"Maaf...bertahun tahun aku menyimpan prasangka buruk terhadapmu..!"
Azam berucap sembari menatap mata bening Ayasa. Ayasa tersenyum. Namun senyum itu serat dengan kepedihan.
"Aku sudah memaafkanmu mas...! jauh sebelum kamu meminta maaf padaku. Aku takut kepergianku nanti membawa rasa dendam, aku tak ingin seperti itu..!"
Ayasa berucap sembari menghapus air matanya.
__ADS_1
"Apa kamu akan pergi menghilang, meninggalkan aku lagi..seperti tahun-tahun yang berlalu.?"
Ucap Azam kesal.
"Tidak mas, akan lebih lama lagi..!"
"Maksud kamu apa Ay..?"
Azam mulai hawatir pada wanita di hadapannya.
Ayasa menengadahkan wajahnya guna menahan titikan air mata.
"Waktuku hanya tinggal sebentar mas. Aku terkena leukemia stadium 3. Saat Reno membopongku, itu awal aku terkena liokimia. Aku sengaja meninggalkan mu, berpamitanpun percumah karna kamu tak ingin aku ada dihadapanmu, hingga aku mendengar kabar jika kamu saat itu akan menikah dengan Hana. Hatiku hancur saat mendengar hal itu. Tapi aku lebih hancur ketia aku tau, kamu frustasi karna kepergian Hanan.
Hatiku rasa dicabik cabik, saat aku menyadari jika aku tak berarti di hidupmu. Aku pilih menjauh darimu, menjalani hidup dengan kisahku sendiri."
Aya terisak saat menceritakan kegundahan hatinya karna pria di hadapannya itu. Sementara Azam terdiam menyesali apa yang pernah terjadi. Begitu pahit jalan hidup Ayasa setelah kejadian itu. Ayasa adalah cinta pertama Azam di masa ia kuliah dulu, sebelum bertemu dengan Hana. Hampir dua belas tahun mereka tak pernah bertemu. Sementara usia Azam saat ini sudah menginjak usia tiga puluh enam tahun.
"Lalu apa alasanmu..! hadir kembali di hadapanku..?"
Tanya Azam ingin tahu.
"Alasanku hanya satu, disisa usiaku yang tak lama lagi, aku ingin berada di dekatmu. Walau kita hanya sebatas teman,sebatas atasan dan bawahan, hal itu sudah cukup membuat aku bahagia mas..!"
Ucap Ayasa berkata apa adanya.Azam kembali menatap Ayasa untuk mencari kebohongan namun ia tak menemukannya, Azam kembali dilema dengan perasaannya.
__ADS_1