
Suami bagaikan sinar dalam kehidupan. Yang terus memancarkan cahaya, dalam setiap nadi ikatan pernikahan. Ia bagaikan tangan Tuhan yang mampu memberikan kedamaian, maka dari itu, jangan pernah meletakan kebahagiaan ditangan orang lain, karena kebahagiaan yang hakiki tergantung dari diri dan imajinasi kita, karna meraih kebahagiaan itu tak harus selalu sempurna, sebab ketidaksempurnaan adalah sebuah keindahan dalam hubungan yang mampu menciptakan kebahagiaan.
Itulah kesempurnaan yang My rasakan. Kekurangan suaminya ia jadikan sebagai kesempurnaan yang akhirnya mereka mampu mendulang indahnya kebahagiaan.
My berjalan dengan memegang sebelah pinggangnya, dengan perut yang membuncit My tetap menyiapkan sarapan dan keperluan sang suami, ia siapkan baju koko sang suami untuk menunaikan ibadah shalat iduladha di tempatnya bermukim.
Mereka berjalan beriringan menuju masjid, tampak dari rona wajah mereka kebahagiaan yang terpancar sempurna, Ata terus menggandeng tangan istrinya hingga di pelataran masjid, mereka berpisah di tempat mengambilan air wudhu.
Usai dari masjid, mereka bertandang kerumah mama Melisa, saat di mobil My tampak gelisah, gadis cantik itu bolak-balik membenarkan posisi duduknya sesekali My tampak meringis mengelus-elus perut buncitnya. Ata yang melihat itu ikut mengulurkan tangannya mengusap perut buncit sang istri.
"Kenapa sayang, kram lagi ya?"
Tanya Ata menatap kasihan pada sang istri.
My menggeleng.
"Gak kram mas, gak tau ini kok rasanya mules rasa mau bab, tapi pinggangnya panas banget mas."
Rengek My sembari meremas jemari suaminya yang makin tampak bingung. Keringat My mulai tampak keluar di kening.
"Jadi gimana ini, kita mau ke rumah mama apa ke dokter sayang?"
Tanya Ata makin bingung.
"Ke rumah mama aja mas, bentar lagi juga nyampe"
Sesampainya di rumah mama Melisa, My sudah tak kuatlagi untuk turn dari Mobil.
"Mas, ini gimana perut adek makin sakit"
Pekik My gak karuan. Ata berlari kedalam rumah memanggil Melisa mama mertuanya.
"Ma..ma! itu kenapa My perutnya sakit?"
Ucap Ata panik.
"Sakit gimana Ta?"
Melisa berlari melihat putrinya di dalam mobil.
"Ya Allah Ata, istrimu ini mau lahiran, ayo buruan di bawa ke rumah sakit"
Perintah Melisa cepat. Ata memutar balik mobilnya, akhirnya mereka sampai di klinik bersalin tempat dokter Manda.
My masuk ruang pemeriksaan. Dokter Manda mulai memeriksa jalan bayi, ternyata masih bukaan lima.
"Bagaimana istri saya dok?"
Tanya Ata hawatir.
"Alhamdulillah, bukaanya bagus. Kita tunggu sebentar sampai bukaannya sempurna hingga bukaan sepuluh."
Ucap Dokter Manda lembut.
__ADS_1
Ata kembali mendekati sang istri, ia genggaman tangan My untuk memberi kekuatan pada sang istri tercinta.
"Sakit mas!"
Rengek My manja. Ata mendekatkan wajahnya tepat di daun telinga My, pria itu berbisik lembut pada sang istri.
"Iya mas tau itu sakit. Bawa zikir dalam hati, jangan jejeritan malu sama mama, kemarinkan kita buatnya diem-diem, kalau lagi sakit bayangin aja pas kita legi nyetak si dedek!"
My nyengir malu.
"Mas tu ya, keadaan genting gini masih bisa ledekin adek"
Ata tersenyum sembari mengecup kening istrinya. Dokter Amanda tersenyum melihat kemesraan sepasang suami istri itu.
"Ayo ibuk, maaf saya priksa lagi ya."
Ucap dokter Amanda.
"Bagaimana dok?"
Tanya Ata ingin tau perkembangan sang istri.
"Alhamdulillah pembukaannya sudah lengkap"
Jawab dokter Amanda. My mulai gelisah keringatnya semakin bercucuran membasahi kening. Ata terus melafalkan doa terbaik untuk sang istri dan si buah hati. Tak lama setelah My mengikuti semua intruksi sang dokter akhirnya My mengejan panjang dengan mencengram kedua lengan sang suami.
Setelah terdengar suara tangisan bayi mungil yang masih berlumur darah, di gendongan dokter Manda, semua berucap syukur.
"Alhamdulillah ya Allah"
Ucap Ata bahagia. My tersenyum menatap sang suami, sementara pria yang disenyumi menangis, mengecup sayang kening sang istri.
Bisik Ata terisak. My meremas tangan Ata dengan sayang.
"Terima kasih mas"
Ucap My tersenyum bahagia sembari menghapus air yang merembas di sudut mata pria tersayang. Ata bangkit dari posisinya berdiri, pria itu pergi untuk berwudu guna mengazankan si buah hati. Seperti yang Rasulullah lakukan.
Abu Rafi’ radhiallahu ‘anhu berkisah,
“Aku menyaksikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengumandangkan azan seperti azan untuk shalat di telinga al-Hasan bin Ali ketika dilahirkan Fathimah.”
Tak hanya itu, Rasulullah juga bersabdah ia pernah menjelaskan :
“Setiap anak yang dilahirkan telah membawa fitrah beragama (perasaan percaya kepada Allah), maka kedua orang tuanyalah yang menjadikan anak tersebut Yahudi, Nasrani, Majusi, atau ia masuk ke dalam Islam.” (HR. Bukhari).
Dalam hadits ini Ata berpegang teguh, karna Rasulullah menegaskan bahwa setiap anak yang lahir ke dunia ini secara fitrah sudah membawa potensi keimanan kepada Allah.
Maka tidak Ata ragukan, kelak melalui tangannya dan tangan istrinya ia akan cetak buah hatinya agar tumbuh besar dengan landasan iman yang kuat, dan akhlak yang mulia. Jika memang sejak awal setiap anak yang terlahir sudah membawa fitrah keimanan, maka tugasnya sebagai orang tua adalah menjaga fitrah yang telah Allah titipkan. Dengan cara memberikan Pendidikan tauhid dan akidah Islam pada anak-anak mereka sejak dini.
Melisa tersenyum haru melihat kehebatan sang putri tercinta, karna telah mampu berjuang untuk memberinya cucu yang sempurna dalam keluarga mereka.
Sungguh sempurna kebahagiaan yang Allah berikan, Selain Ata Herlambang diberi kesembuhan, pria itupun diberi amanah dari sang maha kuasa untuk merawat dan mendidik buah hatinya bersama istri tercinta.
Setelah dua hari pemulihan akhirnya My sudah diperbolehkan pulang, tak lupa mereka melaksanakan akikah untuk putranya tercinta.
"Lihat sayang, anak kita ganteng seperti mas"
__ADS_1
Ucap My sembari memberi Asi pada Zain Herlambang. Ata tersenyum sambil terus menoel-noel pipi merah si bayi.
"Kalau gantengnya itu udah keturunan sayang"
Jawab Ata sembari meledek sang istri. My mencibir sembari menarik hidung mancung sang suami. Lengkap sudah kebahagiaan Keluarga Haris dan Herlambang mereka mendapat penerus pertama dari putra putrinya.
Tak terasa Zain sudah delapan bulan. Pertumbuhannya begitu sempurna. Karna My selalu memberi Asi eksklusif dan makanan penunjang yang tinggi nutrisi. My saat ini tengah sibuk membuat bubur tim. Zain menangis di gendongan Ata.
"Sayang, ini zain udah haus, sini biar mas lanjutin buat timnya"
Ucap Ata lembut.
"Iya mas, bentar lagi selesai kok."
Setelah selesai My cuci tangan dan mengambil alih putranya dari gendongan sang suami.
My dengan sayang memberi Asi namun si dedek dengan jahilnya menggigit.
"Ya Allah, sakitnya"
pekik My meringis. Seketika My menaruh Zain ke atas tempat tidur.
"Loh kok Zainnya di biarin nangis sayang?"
Tanya Ata heran sembari membawa buah hatinya kedalam gendongannya.
"Sakit mas, Zain gigit terus. Adek gak mau, kasih asi lagi, lanjutin susu formula aja ya"
Ucap My sembari meringis. Ata menatap istrinya heran.
"Sayang jangan ngomong kayak gitu, gak baik sayang, Zain baru delapan bulan. Ikuti aturan Allah dek. Seperti dalam surah Al Baqarah
وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلَادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ
“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan.” (QS. Al-Baqarah: 233)
My terdiam, belum menjawab. Ia masih trauma dengan rasa sakit yang ia rasakan.
"Tapi sakit mas, dua tahun bukannya sebentar"
Jawab My kekeh.
"Sayang, sekarang kamu bisa pilih. Sakit di gigit Zain atau sakit karna dicabik-cabik ular yang ganas di akhirat? Rasulullah sudah memberikan gambaran dalam hadisnya, bagi wanita yang tak mau menyusui anaknya , seperti yang diriwayatkan dalam hadits"
ثُمَّ انْطَلَقَ بِي فَإِذَا بِنِسَاءٍ تَنْهَشُ ثَدْيَهُنَّ الْحَيَّاتُ, قُلْتُ: مَا بَالُ هَؤُلَاءِ؟ قِيلَ: هَؤُلَاءِ اللَّاتِي يَمْنَعْنَ أَوْلَادَهُنَّ أَلْبَانَهُنَّ
“Kemudian Malaikat itu mengajakku melanjutkan perjalanan, tiba-tiba aku melihat beberapa wanita yang payudaranya dicabik-cabik ular yang ganas. Aku bertanya: ‘Kenapa mereka?’ Malaikat itu menjawab: ‘Mereka adalah para wanita yang tidak mau menyusui anak-anaknya (tanpa alasan syar’i)’.”
(HR. Ibnu Hibban dalam shahihnya 7491, Ibnu Khuzaimah 1986, dan Syaikh Muqbil rahimahullah dalam Al-Jami’ush Shahih menyatakan: “Ini hadits shahih dari Abu Umamah Al-Bahili radhiyallahu ‘anhu.” Hadis ini juga dinilai shahih oleh Imam Al-Albani).
Jelas Ata lembut, sembari merangkul bahu istrinya.
"Tapi My takut mas, sakit!"
__ADS_1
"Kalau takut digigit, kita bisa kompa asinya nanti mas bantu ya"
My menatap Ata, lalu mengangguk. Ia peluk sang istri penuh cinta, Ia tau istrinya wanita yang luar biasa.