
Assalamualaikum pembac tercinta. "DOSEN GRAY" hadir kembali di episode 7. Jangan lupa like,komen n votenya ya. Karna dukungan kalian sangat berarti untuk saya, terima kasih pembaca budiman๐๐๐
Angin pantai terus berhembus. Menerpa surai halus milik My. Surai panjang itu terus melambai-lambai,hingga menutup sebagian wajahnya. Tangan Ata bergerak hendak merapikan surai halus itu. Namun dengan gerakan refleks gadis itu memundurkan kepalanya. Sembari menatap tajam ke arah dosennya.
"Bapak. Maungapain?." Ceplos gadis itu jutek. Sembari menajamkan pandangannya.
"Itu, rambut kamu!" Tunjuk dosen ganteng itu memasang wajah datar.
"Saya bisa merapikannya sendiri!." Jawab My sembari membenahi ikatan rambutnya.
"Oke.!" Ucap Ata dingin. Lalu bangkit dari kursinya, berjalan meninggalkan My yang terbengong.
"Uuh dasar, dosen aneh!" grutu My kesal.
Sampai di mobil. Pria itu telah duduk manis, di kursi pengemudi.
"Bapak. Marah?" Tanya My tak enak. Ata menatap gadis di sebelahnya sekilas.
"Marah untuk hal apa?" tanya balik Ata, pada My.
"Karna, saya gak izini bapak benerin rambut saya." Ucap My santai. Seketika pria itu tertawa.
"Saya suka gaya kamu." Ucap Ata, yang terdengar aneh di telinga gadis itu.
"Maksud bapak?" Ata kembali tertawa, sembari mengacak rambut gadis delapan belas tahun di sampingnya.
My yang diperlakukan sedemikian, hanya diam menahan nafasnya. Baru kali ini ada seorang pria, yang berani menyentuhnya, selain papa dan mas Azamnya.
"Kamu beneran lupa sama saya, My?" Tanya Ata,sembari menatap lurus jalanan. My yang ditanya seketika menoleh, menatap lekat wajah dosennya.
"Maksudnya?"
"Beneran gak inget, apa pura-pura lupa?" Tanya Ata memastikan.
"Beneran. Pak! saya gak paham,maksud bapak."
Ata mengernyitkan keningnya, menatap wajah gadis di sebelahnya.
"Kalau insiden baju Bali di caffe. Inget?" Ucap Ata, sambil tertawa. Sepontan mata My membola.
"Hah. Jadi yang nabrak saya di caffe waktu itu. Bapak?" Ucap My syok.
"Heem! " Gumam Ata, sambil tersenyum.
"Kamu tampak cantik mengenakan pakaian adat Bali" Puji Ata jujur. My seketika menutup wajahnya, gadis itu tampak malu,mengingat kembennya yang merosot.
"Kenapa. Malu?" Tanya Ata jahil. Seketika wajah gadis itu panas karna merona,
Ata kembali, Tertawa sembari mengacak surai halus mahasiswinya.
"Udah, gak usah malu, Biasanya juga kamu malu-maluin dek." Ucap Ata mengingatkan gadis manja di sebelahnya.
My menoleh. "Apaan, jangan ngaco deh pak! "Ata tak menjawab. Pria itu tersenyum misterius.
__ADS_1
Melihat tingkah dosennya, My makin bingung. "Kenapa dosennya memanggilnya dengan sebutan adek! " Batin My aneh.
Gadis itu, tak menjawab. Namun, gadis itu terus membuka galeri dan menggulir layar henpon milik dosennya.
Seketika mata gadis itu membola. Kenapa fotonya berserak di layar henpon dosennya. Bahkan, semua foto yang ada di instagramnya ada semua di layar pipih ini.
My melirik curiga pada pria di sampingnya.
Namun gadis itu masih tetap menggulir layar datar, My semakin melotot, saat melihat foto dirinya yang tengah mengenakan baju adat bali kala itu.
"Apa maksudnya ini pak? kenapa bapak banyak menyimpan foto-foto saya? bapak penguntit ya"Ucap My curiga.
"Kenapa, ada masalah?"Jawab Ata enteng.
"Tentu saja, karna bapak sudah mengambilnya tanpa seizin saya." Dengan kesal My melempar henpon Ata keatas pangkuan dosennya itu. Gadis itu makin ngeri dengan dosen satu ini. Melihat kemarahan My, Ata hanya tersenyum. Karna masih tiga puluh menit perjalanan akhirnya mata belo itu mulai sayu menahan kantuk. Tak menunggu lama My sudah terlelap dengan sempurna.
Mata elang itu sesekali melirik kearah tubuh yang terkulai. Ata tersenyum manis, sembari bergumam.
"Dek-dek, kenapasih kamu terus aja judesin mas" Ata dengan gemas mengacak puncak kepala mahasiswinya. Setelah Ata memarkirkan mobilnya di pelataran rumah My. Pria itu dengan susah payah membangunkan mahasiswinya.
"My bangun. Kita sudah sampai" Ucap Ata mencoba membangunkan adik dari sahabatnya. Putus asa dengan usahannya. Akhirnya Ata turun dari mobil berjalasn sendiri menuju kediaman sahabatnya.
"Assalamualaikum" Ucap Ata sembari mengetuk pintu berwarna hitam di hadapanya. Tak lama keluar sosok wanita paruh baya yang terlihat masih sangat ayu itu.
"Loh nak Ata. Ada apa?"
"Anu tan, saya mau antar My. Tapi Mynya tidur di mobil saya, saya sudah berusaha bangunin tapi sepertinya tidurnya pulas banget."
Ucap Ata menjelaska. Melisa tersenyum kearah anak sahabatnya itu.
"Ayo, biar tante bangunkan" Ajak Melisa pada Ata.
"Itu air untuk apa tan?" Tanya Ata heran.
"Ya untuk nyiram My, biar bangun" Jawab Melisa santai.
"Jangan tan kasihan. Biar saya bopong aja"
"Tapi Ta, My itu berat lo. Azam aja sering ngeluh kalau tante suruh bopong itu bocah"
"Gak papa Tan, Insya Allah kuat"
Ata dengan hati-hati membopong mahasiswinya. Baru hendak bertanya tante Melisa sudah menginstruksikan agar anak bontotnya di antar ke kamarnya saja.
"Kalau tidak merepotkan, langsung bawa ke kamarnya saja Ta" Pinta Melisa lembut.
"Baik tan" Ata dengan langkah lebarnya membopong My menaiki anak tangga untuk menuju kamar sang dadis. Sampai di kamar dengan hati-hati dosen ganteng itu meletakkan mahasiswinya.
Setelah My dibaringkan, Ata tak lantas keluar dari kamar My. Pria itu mengedarkan pandangannya sejenak. Seketika netra pria itu menagkap sebuah objek yang membuat bibirnya melengkung.
Di sana di meja belajarnya terpajang foto lawas yang dihiasi pigura berbunga anggrek. Ternyata gadisnya masih menyimpan foto mereka saat kecil. Di foto terlihat bocah lelaki yang tengah memangku gadis kecil yang sangat manis dan menggemaskan. Setelah puas menelisik ruangan bernuansa abu-abu itu, barulah Ata keluar meninggalkan mahasiswinya.
Sampai di bawah Ata langsung berpamitan pulang pada tante Melisa.
"Tan, saya pamit pulang dulu"
__ADS_1
"Loh, gak nunggu Azam Ta?"
"Gaklah tan, Ata masih ada keperluan. Salam aja buat Azam ya tan" Ucap Ata sopan.
"Ya deh, kalau gitu. Hati-hati di jalan ya nak Ata"
"Iya tan. Assalamualaikum" Ucap Ata sembari berlalu.
"Waalaikumsalam" Jawab Melisa sembari menutup pintu rumahnya.
Setelah kepulangan Ata, Melisa kembali melanjutkan kegiatan merajutnya, hingga tak terasa senja telah menjemput kegelapan. Melisa menyimpan kembali hasil karyanya yang belum selesai. Ibu paruh baya itu berjalan menuju anak tangga, batinnya gemas pada si anak bontot, yang sedari siang belum pulang dari tidurnya.
"Ya Allah dek bangun dong! udah jam berapa ini?" My bergerak tak nyaman karna dirasa wajahnya terkena tempias hujan.
"Iiih. Kok kamar aku bocor sih ma? lihat ni muka My jadi basah!" ucap My ngelantur efek nyawa yang belum kumpul.
"Hujan apaan. Mama yang nyipratin kamu pake air, kamu itu kalau tidur kayak koala. Gak malu kamu sama dosenmu itu. Sampai harus bopong kamu ke kamar"
Mendengar ucapan Melisa, My seketika terduduk dan mata belonya membola menatap tak percaya pada mamanya.
"Yang bener ma. Pak Ata yang angkat aku ke kamar?"
"Terus menurut kamu, mama gitu yang bopong kamu ke kamar?"
My merasa malu, gadis itu menutupi wajahnya menggunakan bantal.
"Kenapa mama gak bangunin akusih? Akukan jadi malu sama tu dosen songong"
Seketika Melisa melotot ke arah anak bontotnya.
"Mama udah coba bangunin kamu dek, dasar kamunya aja kalau tidur kayak kebo mati. Bahkan mama udah bawain kamu air satu gayung untuk nyiram kamu. Tapi sayang dosenmu itu terlalu baik, dia gak mau mahasiswinya disiram pake air"
My seketika mati kutu mendengar penjelasan ibunya.
"Ih mama. Kenapa harus bawa airsih kan aku jadi malu ma!"
"Halah gaya kamu dek, biasanya juga kamu malu-maluin. Tu buktinya tidur di mobil orang susah dibangunin, ya sudah mandi sama mama tunggu kamu di bawah. Jangan lupa shalat magrib"
Puas ngomelin putrinya Melisa turun ke bawah. Sementara My gak habis pikir dengan tingkahnya. Gadis itu merasa malu, rasanya ia ingin tenggelam saja di lautan, agar tak bertemu dengan dosennya itu.
"Ya Allah. Habislah aku. Aku yakin itu pak Ata makin nindas aku nantinya, karna insiden ini. Puas dia megang kartuku. Jangan-jangan tadi tidurku ngences di mobilnya pak Ata. Atau, jangan- jangan mulutku mangap. Ya Allah. Aku maluuuu!"
My mulai kelimpungan membayangkan nasibnya.
"Dek buruan turun!"
"Iya ma. Bentar!"
"Lihat ni sapa yang datang" Ucap Melisa jejeritan memanggil putrinya.
"Sapasih malam-malam gini bertamu, gak tau waktu kalia tu orang"
Dengan wajah cemberut gadis itu terus menggerutu sembari menuruni anak tangga. Seketika matanya membulat menatap sosok tegap yang membelakanginya, yang terlihat duduk santai sembari ngobror dengan Melisa.
__ADS_1