DOSEN GRAY

DOSEN GRAY
BAB 12


__ADS_3


Bersabarlah dengan apa yang kita impikan, seiring berjalannya waktu, impian itu akan menjadi satu kenyataan. Tetaplah berjalan dengan keyakinan dan teruslah melangkah dengan keikhlasan. Jangan lelah dengan harapan manismu.


Suatu saat kita akan sampai di tempat pijakan yang akan memperlihatkan buah dari kesabaran yang telah kita perjuangkan.


Mentari tak lagi pancaran sinar yang merona, sehingga langit senja hanya menyuguhkan semburat jingga yang terpampang di langit liar.



Ata termangu, di jendela kaca netrannya menatap langit seolah pandangannya mampu menggambarkan luka yang tak kasat mata. Sesekali ia tarik nafasnya dalam, agar lukanya ikut tetbang bersama angin saat nafas itu ia lepaskan.


"Apa aku terlalu egois? memaksakan kehendakku sendiri, haruskah aku melepasnya? dia tak bahagia bersamaku!"


Ata terus bergulat dengan hati dan perasaannya.


Tubuhnya terduduk di lantai, sungguh hatinya bimbang saat ini. Terlihat dari netranya yang menatap jauh entah kemana, wajah yang kusut, rambut awut-awutan. Benar-benar dosen tampan itu terlihat nelangsa.



Ia genggam benda pipih di tanganya, yang di dalam benda pipih itu dapat menyuguhkan foto seorang gadis cantik penyebab galaunya hati si dosen tampan.


Puas dengan pergolakan hati, akhirnya ia bangkit melangkah ke kamar mandi untuk sekedar menyegarkan dirinya. Tak lama Azam menghubunginya.


"Assalamualaikum, Ada apa Zam?"


"Waalaikumsalam. Ta, bisa temani gue sebentar?"


"Gue lagi males keluar Zam" Jawab Ata jujur.


"Heem, okelah kalau gitu, lo di rumahkan, Ta?"


"Iya, gue di rumah"


"Sip. Gue ke sana sekarang" Setelah sambungan telpon terputus, Azam bergegas menuju rumah sahabatnya.


"Lo mau minum apa Zam?"


Tanya Ata setelah mereka duduk.


"Apa aja, yang penting bisa di minum" Jawab Azam sungguhan.


Ata ke belakamg menuju kulkas, ia ambil dua buah minuman kaleng, sekaligus cemilannya.


"Tumben lo, diajak keluar ogah-ogahan, kenapa lo?" Tanya Azam heran. Ata duduk di kursi sembari merebahkan punggungnya. Ia raup wajahnya kasar.


"Gue bingung Zam. Apa gue mundur aja ya, kasihan My. Dia gak cinta dama gue Zam"


Mendengar ucapan sahabatnya, Azam terdiam sejenak.


"Gue gak setuju jika nanti adek gue satu-satunya jatuh di tangan orang yang salah. Sabar aja, gue yakin kok gak butuh waktu lama lo bisa dapetin hati tu bocah."


Ata kembali memejamkan matanya.


"Ternyata jinakin hati wanita itu sulit ya Zam?"


Ucap Ata frustasi.


"Lo sih, kuliah aja jauh-jauh. Naklukin perusahaan besar lo jago. Giliran urusan perempuan lo nyerah."


Ejek Azam geram.

__ADS_1


"Itu udah beda hal onet. Lo tau kan, seumur-umur gue cuma dekat sama adek lo, itupun waktu My madih bocah."


Protes Ata tak terima. Azam terbahak melihat wajah kusut sahabatnya itu.


"Terus buat spa. Lo tahani tu hati lo bertahun-tahun, terus sekarang lo malah nyerah, rezeki udah di depan mata Ta! tapi kasian juga ya lo. yang diperjuangkan kagak peka dari dulu. Tapi itu bocah beneran lupa ama lo Ta. Dia gak inget lo itu siapa, Coba lo jujur sapa My yang sebenarnya, pasti tu bocah langsung jatuh cinta sama lo"


"Aah belom tentu Zan, soalnya My lagi deket sama kakak tingkatnya."


"Ho ho ho. Serius lo. Terus lo gak cemburu?"


Azam semakin kepo dengan kisah sahabatnya.


"Lo pikir sendirilah menurut lo gi mana?"


Azam kembali terbahak.


"Gilak. Ternyata orang seganteng lo masih kenak tikung bro"


"Ngejek terus lo, mentang-mentang kisah cinta lo mulus kayak jalan tol"


Ucap kesal Ata pada Azam.


"Ya iya dong, Lo kan tau gue ini siapa Ta?"


Ata tersenyum melihat tingkat kepercayaan diri sahabatnya yang melampaui batas.


"Bentar Ta. Calon binik lo nelpon,"


Ucap Azam memberi tau. Di sebrang sana My berbaring sembari menunggu telponnya diangkat mas Azamnya. Setelah tersambung My dengan semangat bertanya pada Azam.



"Halo dek. ada apa?"


"Mas lagi di luar, ada yang di urus sebentar, ada apa?"


"Mas sibuk ya?"


"Gak, ni lagi ngobrol-ngobrol aja di rumah temen"


"ada apa sih dek?"


Tanya Azam penasaran.


"Anum mas, mau nanya tentang rekan bisnis mas itu, si dosen gendeng"


Ucap My asal.


Azam seketika berbisik pada Ata, untuk memberitau dan akhirnya si dosen penasaran, meninta Azam untuk mengaktifkan sepeker henpon Azam, agar dirinya bisa mendengar percakapan si calon istri. Setelah aktif Azam kembali ngobror dengan sang adik.


"Huuus, gak boleh ngomong gitu dek. Emang kamu mau nanya soal apa tentang calon suami lo?"


"Pak ata itu gimana sih mas orangnya?"


Tanya My ingin tau.


"Baik, tanggung jawab,penyayang lembut sama perempuan, yang pasti dia setia dek. Sangat recomended untuk dijadikan seorang suami"


Ucap Azam sungguhan. Ata tersenyum mendengar obrolan adik kakak itu.


"Kok, mas malah belain diasih, Tapi dia gak sebaik yang mas bilang lo, di kampus dia gak lembut, orangnya kejam plus galak"

__ADS_1


Ata yang mendengar ucapan calon istri seketika menyipit. Begitupun dengan Azam, pria itu langsung menatap tajam ke arah sahabatnya itu, menuntut jawaban.


"Ah masak sih dek, emang kamu pernah diapain sama si Ata?"


Azam mencoba menggali akar permasalahan antara adik dan sahabatnya.


"Gila ya mas, waktu itu aja aku di jedotin pintu. Terus itu temen bisnis mas, hobinya nyiksa aku kalau di kampus, masak waktu pertama dia baru ngajar aja, adek udah dihukum, pokoknya adek gak suka sama itu dosen. Tapi kok bisa-bisanyasih kalian semua pada percaya sama tampang polos si Katak-Katak itu!, Apa ini semua rencana kalian, untuk mempelancar bisnis kalian bertiga?"


My dengan semangatnya berceloteh tentang si dosen, gadis itu tak menyadari jika orang yang menjadi topik obrolan ikut mendengar semua ucapannya.


"Loh. Kok katak sidek, Ata namanya. Bukan Katak"


"Hahaha. Biarin tampang polosnya cocok tu kayak Katak"


My terpingkal merasa senang mengejek dosennya.


"Mas pulang jam berapa?"


"Ini bentar lagi pulang!"


"Ooo. Ya udah de adek ngantuk mau bobok. Ceritanya besok lagi. Daaa. masku sayang!"


My mematikan sambungan telponnya tanpa menunggu lama mata gadis itu sudah terpejam cantik.


Azam melirik sahabatnya yang tengah menyandarkan kepalanya di sandaran kursi.


"Lo apain adek gue, sampe itu bocah sebel akut sama lo?"


Ata melirik Azam sejenak.


"Gak ada sih, cuma gue hukum suruh bantu gue ngetik materi, gara-garanya tu bocah gak perhatiin gue Zam, adek lo di kelas hobi main game cacing, ya timbul niat jahil gue ngerjain dia, maksud gue sih biar bisa deket sama My, eh taunya itu calon bini malah kesel, sampai-sampai anggap gue musuh bebuyutannya"


Azam terbengong mendengar ucapan polos sahabatnya. Azam gak habis pikir ternyata sumbernya hanya masalah sepele.


"Jadi ceritanya lo salah perhitungan Ta?"


"Ya bisa dibilang begitu"


Azam tertawa sembari menepuk jidatnya, ya Allah. Kenapa trik lo gak main sih Ta!"


"Tau ah. Adek lo aja tu yang sensian, gak peka kalau gue lagi curi perhatian"


Ucap Ata membela diri. Azam terbahak mendengar kekonyolan sahabatnya.


"Terus soal My ke jedot pintu itu gimana ceritanya?" Ata tersenyum sekilas, sebelum menjabab pertanyaan calon kakak iparnya.


"Sebenarnya gue kesal, lihat itu bocah pagi-pagi udah suap-suapan roti di tempat umum, sama si Dodot-dodot itu, Jadi waktu gue jalan masuk kelas gue duluan, gak tau kalau itu bocah ngintil di belakang gue. Begitu gue masuk, pintu langsung gue tutup, eeh ternyata jidat My nemplok tepat di daun pintu"


"Ooo jadi ujung-ujungnya karna lo cemburu. Ta?" Ata tersenyum.


"Sepertinya gitu" Mereka asik ngobrol, hingga Azam lupa tujuan awalnya kerumah Ata.


"Ih gila, udah jam sebelal malam aja Ta, padahal gue ke rumah lo mau ngajakin ngegame. Gue pulang dulu deh dah malam, lain kali kita ngegame bareng di rumah gue ya!"


"Sip. Hati-hati di jalan. Salam untuk calon bini gue yang cantik"


"Sip. Gue balik"


Azam mulai menaiki mobilnya, meninggalkan pelataran rumah Ata. Setelah kepulangan Azam.Ata tersenyum mengingat obrolan mahasiswinya dengan sang kakak.


__ADS_1


"Ya Allah dek, kamu gak berubah masih sama tetap gemesin. Eeem jadi gak sabar nunggu pagi, ngampus terus ketemu calon istri si mata belo" Ucapnya dalam hati. Karna rasa bahagiasnnya ia lupa dengan niatnya yang ingin menyerah.


Ata terus berhayal membayangkan kecantikan calon istrinya, sembari rebahan di kursi. Benar-benar itu pak dosen sudah jadi bucin.


__ADS_2