DOSEN GRAY

DOSEN GRAY
BAB 28


__ADS_3


Jadilah seorang lelaki berwibawa di hadapan wanita, yang tahu kapan harus diam dan kapan harus berbicara. Seorang pria sejati dinilai bukan dari bagaimana penampilannya. Apa yang lebih penting adalah bagaimana ia bersikap.



Setelah mobil terparkir rapi di garasi, Ata turun dengan menenteng tas kerjanya. Ia lihat gadisnya masih setia duduk di dalam mobil. Wajahnya masih di tekuk seperti tisu yang sudah kusut.


"Mau sampai kapan kamu di situ?"


Ucap Ata mengingatkan. My melirik pak dosenny.


"Mau turun, apa mau saya kunciin di mobil?"


Ucap Ata lembut.


Dengan kesal akhirnya gadis itu turun, dengan menutup pintu sedikit kuat.


Setelah gadis itu turun barulah Ata berjalan memasuki rumah. Mbok Rum, dengan sigap meraih tas yang di tenteng Ata. Namum pria itu tak memberikannya.


"Mari Den, tasnya saya bawakan"


pinta simbok sopan.


"Gak usah mbok, terima kasih. Biar saya bawa sendiri aja."


Ata berlalu menaiki tangga menuju kamarnya. My membuntutinya di belakang.


"Bisa tolong, taruh ini ke ruang kerja!"


Ata sengaja meminta tolong pada My, pria itu tengah memperbaiki komunikasinya, dengan sang istri.


My meraih tas dosennya tanpa berucap. Setelah meraih tas dari tangan Ata, My ngeloyor pergi menuju ruang kerja suaminya.



Ata yang melihat sikap My yang perajuk geleng kepala, pria itu sedikit menghela nafasnya, untuk menghalau rasa penat yang mulai merasuki. Ata masuk ke kamar, pria itu tak langsung beristirahat, ia menuju kamar mandi membersihkan tubuhnya agar pikirannya jernih, untuk menghadapi istrinya nanti.


Saat keluar dari kamar mandi, ternyata My sudah menyiapkan pakaian santai untuknya.


Bibir pria itu melengkung, ternyata istrinya itu meskipun sedang marah namun tak melupakan tanggung jawabnya sebagai istri.


"Terima kasih"


Ucap Ata tulus. Namun My pura-pura tak mendengar, gadis itu terus sibuk dengan benda pipih di tangannya. Ata mendekat, ikut duduk di sofa tepat di sebelah gadisnya.



"Kamu masih marah, Heem?"


My menatap Ata dengan wajah males.


"Terus, saya harus senang gitu, dengan sikap bapak tadi?"


Ata menyipit, menanggapi ucapan mahasiswinya.

__ADS_1


"Kamu tau, kenapa saya melakukan itu? saya bukan mau pamer kemesraan di depan teman-temanmu, saya hanya ingin kamu mengerti, posisi kamu saat ini. Kamu istri saya, Maylin."


"Tapi pak, tindakan bapak itu membuat semua mahasiswa berpikir yang tidak-tidak tentang kita, saya gak mau itu. Saya gak suka jadi bahan gosip dan jadi bahan olok-olokan mereka"


"Baik, saya faham akan kehawatiran kamu, tapi untuk apa kamu memusingkan


penghakiman orang lain, atas penilaian mereka sendiri?, Harusnya bukan itu yang kamu takuti. My!"


"Maksud bapak?"


Ata semakin mendekat, kemudian ia raih kedua bahu isyrinya untuk menghadap kearah Ata. Saat ini posisi mereka duduk saling berhadapan.


"Begini, saat seorang istri disentuh, ditatap oleh laki-laki lain, dengan tatapan


mengagumi, bahkan saya tau pria itu tengah jatuh cinta dengan istri saya. Apa saya harus diam? dalam hal ini saya gak takut dengan penilaian orang, yang saya takuti hanya penghakiman Allah, ketika saya dimintai pertanggung jawaban atas dirikamu"


My terdiam, egonya masih menguasai hatinya. Ia masih menyangkal ucapan dosennya.


"Tapi saya tidak mempunyai perasaan apapun dengan kak dodit" sangkal My ketus.


"Walaupun, My. Tetap saja Allah melarang pria dan wanita yang bukan mahromnya duduk berdekatan, apa lagi pria itu sempat mempunyai niat untuk menyentuh diri kamu"


"Tapi tetap saja, sikap bapak tadi berlebihan"


Ata tersenyum, menatap manik hitam istrinya.


"Kamu tau. Seorang pria itu akan memperlihatkan siapa dirinya, dari caranya menyetir dan ketika dipepet kendaraan lain. Saya rasa kamu paham dengan ucapan saya"


"Bapak cemburu, dengan kak dodit?"


"Kamu tau My? Kamu itu istri saya, suka atau tidak kamu terhadap saya, cinta ataupun tidak kamu kepada saya. saya tetap suami kamu. Wajib hukumnya bagi saya sebagai suami memiliki rasa cemburu kepada istrinya, karena ada sebuah hadits yang mengancam seorang suami atau kepala keluarga yang tidak mempunyai rasa cemburu terhadap istrinya."


"Tiga gologan yang tidak akan masuk syurga dan Allah tidak akan melihat mereka pada hari kiamat, orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, perempuan yang menyerupai laki-laki, dan dayuts.” (HR. Nasa’i 5 :80-81; Hakim 1: 72, 4 : 146, Baihaqi 10 : 226 dan Ahmad 2 : 134).


"Kamu tau, dayuts itu apa. My? orang yang tidak cemburu terhadap istrinya. Di dalam agama kita, seorang suami dituntut untuk memiliki ghirah atau rasa cemburu kepada istrinya, sehingga ia tidak menghadapkan istrinya kepada perkara yang mengikis rasa malu dan mengeluarkannya dari kemuliaan.


Bahkan Sa’ad bin ‘Ubadah radhiyallahu ‘anhu pernah berkata dalam mengungkapkan kecemburuan terhadap istrinya:


“Seandainya aku melihat seorang laki-laki bersama istriku niscaya aku akan memukul laki-laki itu dengan pedang."


"Lalu, apakah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mencelanya, tentang cemburunya Sa'ad? tidak My. bahkan beliau berkata:


“Apakah kalian merasa heran dengan cemburunya Sa ad? Sungguh aku lebih cemburu daripada Sa ad dan Allah lebih cemburu daripadaku.” (Shahih, HR. Al-Bukhari, dalam kitab An Nikah, bab “Al-Ghairah” dan Muslim no. 1499)


"Jadi bagaimana menurutmu, apa tindakan saya tadi berlebihan, My? "


My terdiam, ia alihkan pandangannya dari tatapan dosennya itu.


"Coba kamu lihat sekarang, bukankah banyak kita jumpai fenomena di mana seorang suami tidak lagi merasa berat hati bila melihat istrinya keluar rumah, berdandan lengkap dengan beraneka polesan make-up di wajah. bahkan Sang istri datang ke pesta, ke pusat perbelanjaan, ataupun ke tempat kerja hanya dengan pakaian ‘sekedarnya’ yang memperlihatkan auratnya. Tak cuma itu, keluarnya istri dari rumah pun seringkali hanya ditemani sopir pribadinya. Padahal sebenarnya, pada setiap inci tubuh wanita itu adalah tempatnya fitnah. Apa kamu mau My. saya menjadi suami dayust seperti itu?"


My mulai gelisah di tempat duduknya. Ia sandarkan kepalanya pada sandaran sofa. Matanya ia pejamkan sejenak, gadis itu tampak serba salah.


"Sudah, jangan terlalu kamu pikirkan. Yang penting kamu sudah tau alasan kenapa saya bersikap seperti itu"


Ata meraih kepala My lalu peria itu mengecup kening istrinya.

__ADS_1


"Istirahatlah, kamu tampak lelah."


Pinta Ata pada istri tercinta. Ata bangkit dari duduknya, ia berjalan menuju pintu, namun seketika langkahnya terhenti. Tubuhnya terasa berat, karna ada sesuatu yang menahan tubuhnya.



Ternyata My memeluk pria itu dari belakang.


"Bapak mau memaafkan saya? " My terisak di punggung suaminya. Perlahan Ata berputar membalik badan. Ia bingkai wajah ayu yang di basahi air mata itu.


Ia kecup kedua kelopak mata indah milik istrinya. Mata mereka saling beradu, menatap jauh ke dasar kholbu. Ata berbisik.


"Jangan menangis, saya sudah memaafkanmu"


Bisikan itu terdengar lembut, Tepat di depepan wajah ayu My.


Akhirnya Ata mengurungkan niatnya untuk turun ke bawah.



Ia gandeng tangan istrinya menuju ranjang,


"Istirahatlah, matamu terlihat lelah."


My mengangguk mengindahkan ajakan suami.



Ata bawa istrinya rebahan di atas pangkuannya, sementara tangan besarnya itu ia gunakan untuk membelai lembut kepala sang istri. Timbul di hati My rasa nyaman yang begitu hakiki. Rasanya ia pernah merasakan kenyamanan persis seperti yang ia rasakan saat ini.


"Paaak"


panggil My manja.


"Heem"


Jawab Ata hanya bergumam


"kenapa bapak sabar menerima perlakuan saya, yang di luar batas?"


Tak lupa pria itu mengembangkan senyuman, sebelum menjawab pertanyaan istrinya.


"Karna bagi saya, pria sejati itu akan bisa menempatkan sikap dengan begitu baik, terutama ketika ia diharuskan mengambil sikap dalam menghadapi masalahnya. karna itu sangat penting dalam menjalani suatu hubungan"


My mendongakkan kepalanya menatap sang suami. Gadis itu tersenyum, sungguh gadis itu merasa nyaman dengan sikap suaminya yang bisa ngemong gadis manja seperti dirinya.


Atapun terus menatap wajah istrinya, tiba-tiba naluri kelaki-lakiannya bangkit tak bisa ia kendalikan. Perlahan wajah tampan itu menipiskan jarak, wajahnya terus mendekat, dengan jantung yang berdetak semakin menggila Ata meraup bibir kekasih hatinya itu dengan lembut.



My terkejut, tangan gadis itu seketika menjauhkan wajah dosennya, sehingga tautan lembut itu terlepas dengan terpaksa.


"Apa yang bapak lakukan?"


Ucap My gugup. Ata tak menjawab. Pria itu menatap My dengan penuh rasa kecewa.

__ADS_1


Ia pejamkan matanya perlahan. Untuk sekedar menetralkan rasa yang entahlah ia srndiri tak mampu menggambarkannya.


__ADS_2