DOSEN GRAY

DOSEN GRAY
BAB 22


__ADS_3

Aku kira awan itu akan kuat menahan beban yang ia terima, ternyata salah. Kali ini ia telah mengutarakan kesedihan bersama dengan kenangan yang sebenarnya tak pernah ingin ia lupakan.



My duduk termangu di depan meja belajar. Angannya jauh menerawang, siluit senja membawa kisah tentang dirinya dan kenangan masa indahnya yang tak tergapai, ia paksakan kenangan itu untuk pergi memuai bersama awan yang terbang tertiup angin.


Dia tak lagi gadis belia, saat ini ia seorang wanita bersuami, dimana ia harus relakan waktu, tenaga pikiran hanya untuk menyempurnakan ikatan pernikahan.


Matanya mulai mengabur, titik bening mulai mengalir tanda ia merelakan, menginkhlaskan kisahnya iya pendam dalam dalam. Saat ini hanya satu yang ia tau, My harus belajar menerima Ata sebagai imamnya.


Saat tangan My terus menggores tinta di atas kertas, Ata hadir menemaniya tanpa gadis itu tau. Ia bawakan secangkir milo hangat untuk menemani gadisnya belajar.


"Sudah selesai?"


Tanya Ata lembut. My menoleh kebelakang.


"Bapak, belum tidur?"


Tanya gadis itu kaget.


"Saya gak bisa tidur, sepertinya saya sudah terbiasa tidur ditemani, kamu."


My kembali menoleh ke arah dosennya itu.


"Kok bisa?" ucap My heran


"Heem. Saya juga gak tau kenapa. Ini milo hangat untukmu, minumlah"


"Bapak buatin untuk saya,?"


"Heem" gumam Ata, sembari meletakkan secangkir milo hangat di atas meja belajar My.



"Terima kasih, harusnya bapak gak perlu repot-repot, membuatkan saya milo. Saya bisa buat sendiri" Ucap My lembut. Ata mendekat, menarik satu kursi agar lebih dekat dengan mahasiswinya itu.

__ADS_1


"saya gak ngerasa direpotkan, mana tugasmu. Apa ada yang sulit?" tanya Ata serius.


"Iya, saya kurang paham dengan pembuatan tabel bisnis." Ucap My jujur. Ata duduk semakin dekat, agar My mudah memperhatikan penjelasannya.


"Masih ingat geguaan businss plan"


"Masih yang empat itu kan pak"


"Nah iya, yang waktu saya tanya kamu ngeyel itu" Ucap Ata sepontan. My meringis sembari garuk-garuk kepalannya yang tak gatal.



"Coba kamu perhatikan" Pinta Ata serius. My manut kayak kebo dicucuk hidungnya. Matanya terus memperhatikan gerak tanggam dosennya yang tengah mencoret-coret buku My sembari menerangkan.


"Nah, coba kamu lihat ini, untuk menciptakan ide bisnis dibuat ke dalam businss plan, perlu dibuat terlebih dahulu ‘pengujian’ apakah ide tersebut valid atau tidak. Alur pengujiannya digambarkan seperti ini"


Dengan lihai Ata mecoret buku My. My terkesima dengan penjelasan suaminya itu



"Ya paham" jawab My pelan.


"Yasudah, kamu selesaikan. Setelah itu kita tidur" Ajak Ata, sembari mengelus kepala gadis yang tengah menekuni tugasnya.


Setelah kepergian Ata, pikiran My kembali tak konsen, ia malah memikirkan perasaannya sat ini, "Mungkin aku memang harus belajar berdamai dengan hatiku, agar aku bisa merasa nyaman hidup berdampingan dengan pak Ata, toh dia bukan orang yang jahat, sepertinya pak Ata memang tulu, menjadikanku sebagai teman hidupnya. Dia juga baik,"


Batin My gelisah.


"Ah entahlah, aku pusing" ocehnya frustasi. Akhirnya My menutup buku tugas. ia matikan laptopnya. Kemudian gadis itu berjalan menuju kamar mereka.


Disana terlihat pak dosennya itu tengah bersandar di kepala ranjang, sembari berselonjor kaki, di atas pahanya bertengger laptop yang masih menyala, pria itu fokus dengan pekerjaannya.


Setelah terdengar pintu tertutup, Ata mengangkat pandangannya, ke arah My. Dengan cepat pria itu mematikan laptopnya, untuk menyudahi pekerjaan. Setelah itu Ata memanggil My untuk mendekat.


"Kemarilah" Ata menepuk bagian tempat tidur yang masih terlihat kosong dan lapang.

__ADS_1


Perlahan gadis itu mendekat, mulai menaiki ranjang mereka. My ikut duduk bersandar seperti apa yang di lakukan dosennya.


Mereka berbincang, mulai dari persoalan mereka di kampus, soal gosip itu. Hingga kepembahasan hubungan mereka.


"Pak, bagaimana jika nanti rekan bapak dan seluruh mahasiswa tau kalau saya istri bapak. Saya gak mau mereka nantinya beranggapan, jika nilai-nila saya karna pengaruh dari bapak."


Ata menyipit mendengar pernyataan mahasiswi yang sekaligus merangkap sebagai istrinya itu. Sebelum menjawab, Pria itu menarik tangan My agar posisi mereka berdekatan.


"Kamu gak perlu hawatir, saya akan menghandle semua itu." ucap Ata lembut.


Sembari membawa My kedalam pelukannya, kepala My, Ata rebahkan tepat di dadanya. Tubuh My kaku, serasa tak bisa bergerak. Sementara pak dosen itu dengan santainya, memeluk tubuh My sembari mengusap-ngusap surai halus milik mahasiswinya.


Tangan besar Ata, terus meresapi kelembutan surai halus selembut sutra milik My. Sesekali hidung pak dosen menghirup dalam wangi sampo, yang menguar dari kulit kepala istrinya itu.


Ketegangan dari dalam diri My, perlahan hilang, digantikan rasa nyaman di setiap elusan yang diberikan dari tangan besar Ata. Hingga gadis itu tak sadar matanya mulai terpejam cantik, hanyut terbuai mimpi indahnya dalam pelukan pak dosen.


Saat pagi, mata belo My mulai tercelang. Gadis itu terbangun karna napasnya terasa sesak, seperti terhimpit beban berat. Saat mata My terbuka sempurna, alangkah terkejutnya gadis itu, terang saja berat karna bukan tangan Ata yang melingkar cantik, tapi kaki Atalah yang tengah melilit tubuh My seperti ular piton. Dengan susah payah gadis itu menyingkirkan kaki panjang nan berat, tapi tak kunjumg berhasil.


Pria itu semakin melilitkan kakinya dan melingkarkan tangannya tepat di pinggang My. My dibuat persis seperti guling. Akhirnya My menyerah dengan usahanya. Mata besar itu meneliti wajah pakdosennya itu dengam seksama. Ia terus menatap wajah tampan, yang rahangngnya dipenuhi jambang.


Tubuh My serasa membeku saat mata gadis itu menangkap sesuatu, di wajah putih dosennya. Tangan mungil My mulai terangkat hendak meraba sesuatu itu, untuk sekedar memastikan, Saat tangan halus My mulai menyentuh tanda yang ada di bagian wajah dosennya di sebelah kiri atas, tepatnya dekat dengan alis tebal pak Ata.


Mata hitam itu termuka sempurna, Ata bingung melihat tangan mahasiswinya bertengger cantik di pipi sebelah kiri, seolah tangan gadis itu tengah meraba rahang kokoh miliknya.


"Pagi" Sapa Ata, dengan suara serak khas orang bangun tidur.


Seketika My terjengit kaget, tangannya yang masih tertempel cantik di rahang Ata, seketia ia tarik cepat.


"Kenapa,?" Tanya Ata bingung.


"Bapak, udah bangun?" My balik bertanya.


"Maaf. Tadi saya berniat bangunin bapak, kaki bapak menimpa badan saya, ucap My dusta.


Seketika pria itu menatap kakinya yang memang masih nangkring cantik di tubuh My.

__ADS_1


"Ooh. Maaf gak sadar, habis tidurnya pules banget" Jelasnya merasa tak enak pada My. Pria itu takut disebut ingkar janji. Karna sudah leluasa menyentuh tubuh mahasiswinya tanpa batas kesadarannya.


__ADS_2