Dua Cincin Satu Cinta

Dua Cincin Satu Cinta
BAB 11


__ADS_3

Hoek...hoek...hoekk....


Gemercik air dan suara Humaira dikamar mandi membangunkan Sameer yang tengah tertidur lelap. Sameer segera bangkit menghampiri Humaira dikamar mandi. Raut wajah khawatir tampak jelas diwajahnya, Sameer memerhatikan sang istri terus memuntahkan cairan bening bahkan sampai Humaira mengeluarkan air mata.


"Sayang" ujar Sameer memijat tengkuk Humaira lembut.


"Zauya jangan disini, ada muntahan Dinda"


"Jangan pikirkan itu, sini duduk" Sameer mengangkat tubuh Humaira mendudukannya diatas kloset.


"Apa kamu sakit sayang? Seharusnya kemarin kamu makan sedikit saja, ini pasti karena kamu makan terlalu banyak" Sameer menangkup wajah Humaira yang pucat dan tubuhnya yang lemas


"Tidak Zauya bukan karena itu, sepertinya ini hanya masuk angin saja Zauya"


"Kau ingin muntah lagi?" Humaira menggelengkan kepalanya pelan sebagai jawaban atas pertanyaan Sameer.


"Baiklah ayo kita kembali keranjang, Zauya akan ambil minyak angin"


"Iya Zauya"


Sameer menggendong Humaira menuju ranjang, membaringkan tubuh Humaira yang sudah lemas tak berdaya.


Sameer mengoleskan minyak angin dengan telaten ke beberapa bagian tubuh Humaira untuk meredakan rasa mual, tak lupa dengan secangkir air hangat.


"Terima kasih Zauya"


"Istirahatlah"


Perlahan Humaira menutup matanya kembali ke alam mimpi. Sameer menatap wajah Humaira dengan tangan yang membelai rambut Humaira lembut sampai akhirnya Sameer ikut kembali tidur ke alam mimpi.


Pagi menjelang..


Humaira masih tertidur dengan selimut menutupi tubuhnya. Ia tambah pucat, bahkan tubuhnya tidak kuat untuk bangun. Sameer yang baru keluar dari kamar mandi, heran menatap sang istri yang masih tidur. Tidak biasanya Humaira belum bangun padahal waktu sudah menunjukkan pukul 07.00 pagi.


"Dinda" panggil Sameer membuka selimut yang menutup tubuh Humaira


"Zauya, Humaira pusing ingin muntah" keluh Humaira lemas sambil memijit pelipisnya, dengan sigap Sameer segera menggendong Humaira menuju kamar mandi. Didalam kamar mandi Humaira kembali memuntahkan cairan bening, Sameer tidak tega melihat wajah Humaira yang kesakitan.


"Kita ke rumah sakit ya sayang, nanti Zauya telpon Umi sama Abi biar ke sini"


"Tidak usah Zauya, maaf ya Dinda tidak bisa buat sarapan"


"Sudah ayo kita ke rumah sakit, Zauya khawatir sama keadaan Dinda"


"Dinda cuma pusing saja Zauya, nanti juga sudah baikan"


"Ya sudah tunggu sini, Zauya buat sarapan dulu untuk Dinda. Zauya tidak tenang kalau meninggalkan Dinda sendirian"


Humaira menganggukan kepalanya sebagai jawaban. Kepalanya terasa pusing dan badannya lemas bahkan hanya untuk duduk saja Humaira tidak mampu. Setiap kali ini duduk, pusing akan mendera dan mengharuskannya memuntahkan semua isi perutnya.


Sameer berlalu dari hadapan Humaira menuju dapur. Sameer menyiapkan sayur dan juga ikan, dengan telaten dan cekatan Sameer menyiapkan seluruh bahan masakan. Kali ini ia mengambil alih tugas Humaira untuk menyiapkan sarapan, Sameer tidak tega kalau membiarkan Humaira bangun apalagi dengan wajah yang pucat.

__ADS_1


"Dinda" Sameer duduk disamping Humaira meletakkan sarapan pagi di atas nakas samping ranjang.


"Sarapan dulu ya, Zauya suapi" Humaira menyandarkan tubuhnya di kelapa ranjang siap menerima suapan Sameer.


"Hari ini Dinda istirahat saja ya, tidak usah kemana-mana di rumah saja. Nanti Zauya usahakan pulang cepat, jangan ke toko dulu"


"Iya Zauya"


"Zauya langsung berangkat ya, ada meeting pagi ini" Sameer mengecup kening Humaira beranjak dari kamarnya menuju ke kantor.


Sebenarnya Sameer ingin menemani Humaira yang sedang sakit namun hari ini ia ada meeting penting yang tidak bisa di wakilkan, dan terpaksa ia membiarkan Humaira seorang diri di rumah.


***


Sepeninggal Sameer, Humaira kembali muntah mengeluarkan semua isi perutnya. Badannya juga lemas.


Drtt..drt..


Humaira mengambil ponselnya, dilayar ponselnya menunjukkan nama Umi Iza.


"Assalamualaikum Umi" sapa Humaira


"Wa'alaikumsalam Maira sayang, bagaimana keadaan mu? Tadi Sameer telpon Umi kalau kamu sedang tidak enak badan"


"Iya Umi, sejak semalam Humaira mual terus. Mungkin masuk angin Umi"


"Apa kamu sudah periksa ke dokter?"


"Belum Umi, mungkin Humaira hanya masuk angin saja"


"Test pack Umi?" tanya Humaira heran.


"Iya sayang, belilah test pack coba kamu tes. Insya Allah positif" Kata Umi Iza yang sangat yakin kalau menantunya tengah mengandung cucu pertamanya.


Humaira terdiam, matanya melirik kearah kalender dimana seharusnya ia sudah haid tapi itu sudah terlewat tiga minggu.


Senyum merekah menghiasi bibir Humaira, Humaira pikir mungkin apa yang dikatakan Umi Iza benar kalau ia seperti merasakan tanda awal orang hamil.


"Maira sayang...."panggil Umi Iza di seberang telpon membuyarkan lamunan Humaira.


"Iya Umi, sepertinya Humaira akan mencoba saran Umi karena seharusnya Humaira sudah haid tapi ini terlewat tiga minggu"


"Semoga saja ya sayang, Umi dan Abi pasti akan sangat bahagia kalau kamu mengandung cucu kami"


"Iya Umi, Umi jangan bilang kak Sameer dulu ya. Humaira ingin menjadikan ini kejutan" tutur Humaira antusias. Ia meraba perut ratanya, ia berharap kalau diperutnya ada malaikat kecil hasil buah cintanya bersama Sameer.


"Iya sayang, tenang saja Umi akan merahasiakan ini dari Sameer. Segera tes ya, nanti kalau memang positif segera hubungi Umi. Umi tidak sabar sayang"


Humaira tidak berhenti tersenyum bahagia. Semoga ini menjadi awal hubungan ia dan Sameer semakin dekat. Humaira berharap Sameer akan terus menjadikan ia prioritas utamanya apalagi sebentar lagi mereka akan dikaruniai seorang bayi yang akan melengkapi rumah tangga mereka. Harapan Humaira sangat besar dengan kehadiran bayinya ini.


***

__ADS_1


Ting...


Pintu lift terbuka.


Humaira bergegas keluar dari lift berjalan menuju ruangan Sameer. Kotak kecil berisi hasil USG dan test pack sudah ia bawa, ia ingin memberikan kotak itu sebagai kejutan untuk Sameer. Humaira tidak sabar bagaimana reaksi Sameer kalau mengetahui bahwa ia hamil. Humaira tau kalau Sameer sudah menanti seorang anak di tengah-tengah rumah tangga mereka.


"Tuan saya sudah menemukan nona Elena" ujar Doni asisten pribadi Sameer yang diberikan tugas untuk mencari keberadaan Elena.


"Dia ada dimana sekarang?"tanya Sameer bahagia. Sameer antusias mendengar Elena sudah di temukan, senyuman bahagia tidak lepas dari bibirnya.


"Selama ini nona Elena tinggal Di Belgia, dan baru kembali seminggu yang lalu"


"Belgia? Untuk apa dia ke sana?"


"Itu informasi yang belum saya cari tahu secara detail tuan"


"Baiklah, terus cari untuk apa dia pergi ke Belgia dan bersama siapa dia ke sana"


Humaira berdiri mematung didepan pintu ruangan Sameer, tanpa sengaja ia mendengar semua perbincangan mereka.


Humaira menatap nanar kotak kecil yang berada digenggamannya. Harapannya sudah pupus untuk memiliki Sameer seutuhnya. Sekelebat perbincangan mereka beberapa bulan yang lalu membayangi pikirannya.


Apa ini sudah waktunya ia harus merelakan Sameer menikah dengan Elena?. Menjadikan Elena madunya.


Air mata itu semakin mengalir deras membasahi wajahnya. Haruskah ia menyampaikan kehamilannya pada Sameer? Apa Sameer akan bahagia mendengar kehamilannya? apalagi kini ada berita yang lebih ditunggu Sameer. Yaitu kembalinya Elena. Gadis yang sampai saat ini masih mengisi seluruh hati suaminya.


Humaira melangkah gontai meninggalkan kantor Sameer. Kakinya terasa berat untuk melangkah. Dia masih belum siap kalau seandainya Sameer membawa Elena hadir di tengah kehidupannya yang mulai bahagia bersama Sameeer.


"Assalamualaikum Zauya" jawab Humaira mengangkat telpon dari Sameer


"Wa'alaikumsalam Dinda"


"Dinda mungkin hari ini Zauya tidak bisa pulang, ada keperluan penting yang harus Zauya urus"


"Urusan apa kalau Dinda boleh tau Zauya?" tanya Humaira memastikan. Humaira ingin mengetes kejujuran sang suami.


Humaira tau pasti Sameer ingin segera menemui Elena. Ada sedikit rasa sakit di hatinya mengetahui Sameer tidak jujur padanya.


"Nanti kalau urusannya sudah selesai Zauya pasti akan bercerita dengan Dinda, tunggu kabar dari Zauya saja" kata Sameer dengan nada bahagia. Sameer sungguh tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya kini. Ia tidak sabar bertemu kekasih hatinya.


"Baiklah Zauya, berapa lama Zauya pergi?"


"Mungkin sekitar tiga minggu Dinda"


"Baiklah Zauya, hati-hati ya. Jaga kesehatan Zauya, jangan lupa makan. Dinda sayang Zauya"


"Iya Dinda, malam ini Zauya langsung pergi ke Bogor"


Humaira mendudukan tubuhnya dibangku taman. Tangisnya pecah. Ia tidak bisa lagi menahan sesak di dada. Humaira terus memukul dadanya, ia merasa sudah tidak bisa bernapas dengan benar.


Hatinya sakit, seperti ada ribuan jarum yang menancap didadanya. Ia takut Sameer pergi dari sisinya? Ia takut kalau anaknya tidak bisa mendapatkan sosok seorang ayah, apa yang harus ia lakukan?

__ADS_1


"Doakan semoga Daddy bisa bahagia ya sayang, bahagia dengan orang yang Daddy cintai" katanya miris sambil mengelus lembut perutnya.


***


__ADS_2