
Jangan lupa dukung terus karya ku yaa!!!
• LIKE
• KOMEN
• RATE 🌟🌟🌟🌟🌟
• VOTE seikhlasnya
Dukungan kalian sangat berarti untuk ku
Terima kasih readers
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Apa yang membawa kalian kemarin?" tanya Umi Iza mengelus perut Humaira yang sudah terlihat besar.
"Sameer ingin berbicara dengan Umi dan Abi"
"Apa yang ingin kau sampaikan Sam?" tanya Abi menunggu Sameer mengungkapkan semua isi hatinya.
"Selain permintaan maaf. Sameer juga telah menalak Elena"
Abi Ahmed dan Umi Iza saling berpandangan. Mereka tidak menyangka kalau Sameer akan mentalak Elena, karena setahu mereka Sameer begitu mencintai Elena.
"Sameer telah melakukan sebuah kesalahan yang besar Umi..Abi. Maafkan Sameer karena telah salah melangkah, Maafkan Sameer yang tidak mendengarkan Abi dan Umi" Sameer tertunduk malu akan segala kesalahan yang telah di perbuatnya selama ini.
"Kami sudah memaafkan mu Nak, mulai sekarang perbaiki segala kesalahan yang telah kamu perbuat dan bangunlah rumah tangga yang sakinah, mawadah dan warohmah" Abi Ahmed menepuk pundak Sameer.
"Insya Allah besok Sameer akan mengajak Humaira pergi ke Turki mengunjungi Mama dan Papa"
"Tapi kan Humaira sedang hamil besar Sam, apa itu tidak masalah?" tanya Umi Iza mengawatirkan keadaan Humaira yang hamil besar.
"Tadi sebelum kesini kami sudah konsultasi dengan dokter, Umi dan Alhamdulillah itu tidak masalah" senyum Humaira meremas tangan Umi Iza lembut.
"Baiklah kalau itu keputusan kalian. Jaga diri kalian dan jaga bayi kalian baik-baik" pesan Abi Ahmed
"Itu pasti Abi" kata Sameer
"Oh ya..apa kalian sudah tau jenis kelamin bayinya?" tanya Umi Iza penasaran.
"Insya allah Laki-laki dan perempuan Umi" jawab Humaira senang.
"Alhamdulillah, langsung dapat sepasang" ucap Umi Iza penuh rasa syukur. Dipeluknya Humaira, di ciumnya seluruh wajah Humaira. Hati Sameer terasa damai melihat kasih sayang Umi yang tulus pada Humaira.
***
Hiruk pikuk suasana di bandara begitu padat dan sibuk, silih berganti para penumpang keluar masuk bandara.
Suara pemberitahuan pun tidak berhenti terdengar diseluruh penjuru bandara.
"Sayang, jaga diri ya disana" pesan Umi Iza memeluk Humaira
"Iya Umi, Umi dan Abi apa tidak mau ikut kami ke Turki?" tanya Humaira
__ADS_1
"Tidak sayang, Abi banyak urusan diperusahaan" jelas Sang Abi memeluk Humaira dan Sameer secara bergantian.
"Sam, jaga Humaira dan anak kalian baik-baik. Tunjukkan pada Umi kalau kau sudah berubah" Umi Iza menepuk punggung tangan Sameer. Sameer mengangguk mengiyakan seraya memeluk Umi Iza.
"Jadi suami yang bertanggung jawab, dan jangan membuat kesalahan untuk kedua kalinya" pesan Sang Abi menepuk punggung Sameer.
"Terima kasih Umi, Abi. Sudah mau memaafkan Sameer. Sameer berjanji akan menjaga istri dan anak Sameer dengan baik"
"Oh ya sampaikan salam Abi untuk Ibram dan Kirana" pesan Abi Ahmed.
"Iya Abi, akan Mai sampaikan kepada Mama dan Papa"
Seorang pria bertubuh tegap berkemeja putih, tak lupa kacamata hitam bertengger di hidung macungnya seraya berlari kecil menuju Humaira.
"Mai!" teriak Akbar mengulas senyum menawannya. Sameer memicingkan matanya, Sameer merasa heran Akbar berada di bandara padahal tidak ada satu pun sahabatnya yang ia beri tau tentang kepergiannya ke Turki.
"Untuk apa kau ke sini?" tanya Sameer sinis
"Buat ketemu ibu mertua di Turki, Memangnya kenapa?" tantang Akbar menunjukan paspor beserta tiket pesawatnya.
"Ibu mertua? Sejak kapan kau menikah?"
Sameer masih dengan tatapan sinisnya. Ia nampak tidak menyukai kehadiran Akbar diantara ia dan Humaira.
"CALON IBU MERTUA!, kenapa kau jadi banyak tanya sih? Heran!"
"Cih...apa kau mengikuti ku?" tuduh Sameer
"Dasar kau percaya diri sekali. aku kan mau ikut Humaira. Iya kan sayang" Goda Akbar mengerlingkan sebelah matanya. Humaira menundukkan pandangannya, menutupi wajahnya yang bersemu merah.
"Umi, Abi, Akbar ke sana dulu ya. Sepertinya ada yang sudah terbakar. Huuu...panas sekali"
Akbar mengibaskan tangannya seolah-olah kepanasan. Humaira menggelengkan kepala dengan sikap Akbar yang suka menggodanya di depan Sameer.
"Kau ini suka sekali membuat Sameer marah" Umi Iza memukul lengan Akbar.
"Itu hobby baru Umi" gelak Akbar tertawa senang.
"Manusia kurang kerjaan ya seperti mu itu" cibir Sameer.
"Biar, yang penting aku setia" sindir Akbar mengacungkan jempolnya ke bawah. "Ketemu di pesawat ya Humaira sayang" kata Akbar mengusap kepala Humaira.
"Akbar..!" Sameer menggeram marah.
Akbar tergelak keras seraya berlalu meninggalkan mereka setelah berpamitan kepada Umi dan Abi yang sudah ia anggap seperti orang tuanya sendiri.
"Kenapa kamu punya kakak seperti itu?" tanya Sameer masih merasa kesal.
"Zauya aneh sekali. masak cemburu sama saudara ipar sendiri"
"Cih...aku tidak ikhlas bersaudara dengan dia"
Umi dan Abi hanya tertawa melihat kecemburuan Sameer. Kini mereka semakin yakin kalau cinta Sameer tulus untuk Humaira.
***
__ADS_1
Turki
Perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan telah mereka lewati. Sameer menggandeng tangan Humaira posesif melangkah menuju lobby bandara, disana sudah ada Syarif supir pribadi keluarga Humaira yang khusus datang untuk menjemput mereka.
Akbar yang juga ikut dalam perjalanan mereka tampak sudah bersandar dipintu mobil yang akan di tumpangi Humaira dan Sameer.
"Aishh...kalian lama sekali" keluh Akbar
"Kenapa kau disini?" tanya Sameer heran
"Tentu saja aku menunggu kalian, aku akan pulang ke rumah" jawab Akbar. Sameer melemparkan tatapan sinisnya.
"Kenapa dengan mata mu itu? Apa kau lupa aku ini kakak ipar mu, jadi kau harus hormat pada ku?"
"Dasar manusia gila hormat" cibir Sameer.
"Kau pulanglah dulu, aku ingin membawa Humaira ke apartement"
"Hey...kau durhaka sekali, seharusnya kau menemui Mama dan Papa dulu"
"Kau jangan banyak bicara"
Sameer mendorong Akbar masuk ke kuris depan bersebelahan dengan Syarif. Sedangkan Sameer dan Humaira duduk dikursi penumpang.
Sepanjang perjalanan menuju apartement milik Sameer, berdebatan sengit terus terjadi diantara Akbar dan Sameer. Mereka terus berdebat dari hal-hal kecil yang tidak seharusnya mereka perdebatkan, membuat Humaira yang duduk diantara mereka tidak tahan mendengarnya.
"Nanti aku akan menelfon Mama dan Papa, kau itu tidak usah cerewet Bar. Telinga ku panas rasanya mendengar kau terus mengoceh"
"Kau itu seharusnya menemui Mama dan Papa terlebih dahulu baru kau pulang ke apartemen mu. Kau tidak punya etika ya"
"Istri dan Anak ku butuh ketenangan. Kalau aku membawanya pulang bersama mu, aku yakin tidak akan tenang apalagi mendengar suara mu itu"
"Astaga kalian ini bisa tidak berhenti. aku merasa terganggu sekali" keluh Humaira
"Mai, kenapa kau mau dengan dia? Tinggalkan saja dia, cari pangeran Turki" saran Akbar. Sameer pun memukul kepala Akbar dengan gulungan korban.
"Auwww..." Akbar mengelus kepalanya.
"Diam dan jangan banyak komentar" tegas Sameer emosi.
"Cih...tau begitu aku tidak akan merestui kalian"
"Adik mu itu sudah jatuh cinta pada ku, kalau kau tidak merestui dia. Kau sama saja menjadi kakak yang kejam karena membuat adik mu patah hati" terang Sameer.
Humaira yang mendengar ocehan Sameer tidak bisa menahan rona wajahnya yang berubah merah merona. Ia merasa malu, dan dia pun tidak percaya kalau Sameer sudah lebih dulu tahu mengenai perasaannya.
"Zauya.." ujar Humaira menatap tajam Sameer. Sameer yang melihat tatapan tajam sang istri untuk pertama kalinya langsung menciut.
"Aduh...sayang mata mu indah sekali" rayu Sameer membelai wajah Humaira.
"Lihatkan siapa yang mulutnya tidak bisa di rem" kata Akbar menunjuk Sameer. "Mai, saran ku kamu pulang kerumah biarkan dia tinggal sendiri di apartemen" kata Akbar.
"Sayang, jangan dengarkan kakak mu yang laknat itu. Kita pulang ke apartemen ya" Sameer merangkul pundak Humaira.
"Dasar bucin!"
__ADS_1
****