Dua Cincin Satu Cinta

Dua Cincin Satu Cinta
Bab 38


__ADS_3

Kesan Mewah dengan ornamen gold menyambut kedatangan Humaira untuk pertama kalinya di apartemen mewah, yang sengaja Sameer beli untuk dijadikan tempat tinggal mereka selama di Turki.



(anggap saja itu siang hari 🤭)


Humaira melangkahkan kakinya ke arah jendela kaca besar yang memperlihatkan pemandangan kota Istanbul Turki saat siang hari. Senyuman manis merekah di bibir Humaira.


"Kamu suka sayang?" bisik Sameer memeluk Humaira dari belakang menyembunyikan kepalanya di ceruk leher Humaira.


"Suka Zauya, ini indah sekali"


"Zauya tau kalau kamu sangat menyukai keindahan kota seperti ini makanya Zauya memilih tempat ini sebagai tempat tinggal kita" kata Sameer masih betah dengan posisinya saat ini.


"Kapan Zauya membeli apartemen ini?"


"Beberapa hari yang lalu sebelum kedatangan kita ke sini, Zauya ingin menyiapkan tempat yang nyaman untuk kamu dan juga untuk baby twin" Sameer mengelus perut buncit Humaira.


"Mari kita ke kamar, Zauya akan menunjukkan kamar kita" Sameer memeluk pinggang Humaira. menuntun sang istri menuju kamar utama.


Memasuki kamar utama, dekorasi warna gold masih mendominasi ruangan itu yang dipadukan dengan bad cover yang berwarna ungu semakin menambah kesan mewah serta elegan.



Humaira mengelilingi kamar itu, menelisik setiap sudut kamar tidur utama. Pandangan matanya jatuh pada atap kaca, yang menampilkan keindahan langit yang sedang cerah apalagi saat malam datang atap kaca itu akan menunjukkan panorama malam yang indah berhias bulan dan bintang.


"Apa atapnya bisa ditutup Zauya?"


"Tentu saja sayang, atapnya bisa ditutup dengan remote" Sameer menunjukkan atap itu saat tertutup. Humaira menatapnya takjub.


"Zauya bolehkah Dinda berkeliling apartemen ini?" tanya Humaira antusias. Dia sudah tidak sabar ingin mengeksplore tempat tinggalnya yang baru.


"Tentu, tapi harus hati-hati ya. Zauya mau mandi"


"Jangan khawatir"


"Pergilah sayang" Sameer mengecup pipi Humaira. Humaira mengacungkan tangannya membentuk tanda 'OK'.


Langkah yang ceria, senyuman yang menawan. Humaira menyusuri setiap sudut apartemen itu. Dimulai dari ruang keluarga, ruang tamu. kamar tidur serta dapur yang telah terisi lengkap.


Semua dekorasi apartemen itu didominasi gold serta coklat. Semakin menambah kesan mewah dan elegan.


......................


Dinginnya udara malam yang menusuk tulang tidak menyurutkan langkah Humaira menyusuri indahnya Masjid Sultan Ahmed atau lebih dikenal dengan sebutan Blue Mosque.


Selepas sholat magrib di Masjid Sultan Ahmed, mata Humaira memancar penuh pesona menelisik keindahan interior masjid itu yang kental berwarna biru. Apalagi motif daun, bunga tulip serta bunga mawar yang menambah kesan Masjid Sultan Ahmed semakin indah.


"Ini indah sekali Zauya" Ungkap Humaira menatap takjub kubah Masjid Sultan Ahmed.


"Iya sayang, sangat indah"

__ADS_1


"Dinda rasanya betah berada disini, terasa damai dan tenang"


"Sayangnya tidak di izinkan untuk tidur disini sayang" kata Sameer


"Dasar Zauya ini, siapa juga yang akan tidur disini" sanggah Humaira mencubit perut Sameer gemas.


"Kamu ini suka sekali ya mencubit perut Zauya yang seksi ini"


"Huuuu.....!!" ejek Humaira menepuk perut Sameer beberapa kali membuat Sameer tertawa geli.


"Dasar Ibu hamil" Sameer mencubit kedua pipi Hunaifa gemas seraya memberikan kecupan di pipi Humaira.


"Semoga ini bisa menjadi awal kebahagian kita berdua ya sayang" Tandas Sameer meenggenggam tangan Humaira erat.


"Iya Zauya, menjadi awal kebahagiaan kita bersama baby twin" Humaira mengelus perutnya yang besar.


"Apa kamu ingin melahirkan disini?"


"He...em" Humaira mengangguk mantap. "Dinda ingin ditemani Mama dan Papa saat lahiran nanti. Bolehkan Zauya?" pungkas Humaira penuh harap.


"Tentu saja boleh sayang, asal kamu bahagia"


"Terima kasih ya Zauya" Humaira memeluk Sameer sebagai rasa terima kasihnya.


"Sama-sama sayang" Sameer membalas pelukan Sameer erat.


"Oh ya Zauya, setelah ini kita pergi kerumah Mama dan Papa ya"


****


Sepanjang perjalanan menuju rumah keluarga Ibram, pandangan mata Humaira tidak lepas dari jendela mobil.


Dia menikmati setiap perjalanannya yang menyuguhkan keindahan malam kota Istanbul. Senyuman manis tak hentinya tersungging dari bibir Humaira.


Sameer yang mengemudikan mobilnya sesekali melirik sang istri yang tampak asik menikmati perjalanannya tanpa sedikit pun mengalihkan perhatiannya. Bahkan sosok Sameer yang tampan telah tergantikan dengan keindahan malam kota istanbul.


"Assalamualaikum" sapa Humaira memasuki kediaman keluarganya.


"Wa'alaikumsalam" balas Mama dan Papa Humaira menyambut kedatangan mereka.


"Sayang, akhirnya datang juga bagaimana kabar mu?" Mama Kirana memeluk Humaira untuk melepas rasa rindunya pada putri semata wayangnya.


"Alhamdulillah baik Ma"


"Kandungan mu sudah besar sekali. cucu Mama sehat kan?" Mama Kirana mengelus perut Humaira yang sudah mulai membesar.


"Alhamdulillah mereka sehat Ma" jawab Sameer mengecup punggung tangan Mama Kirana dan Papa Ibram bergantian.


"Ayo masuk, pasti kalian lelah kan" Papa Ibram merangkul pundak Sameer mengiring mereka menuju sofa.


"Elmir sama Gus Akbar kemana Pa, Ma?"

__ADS_1


"Sejak Akbar tiba tadi siang, mereka sudah pergi katanya mau bersenang-senang. Entahlah Mama juga tidak paham mereka pergi kemana"


"Apa kalian sudah makan malam?" tanya Papa Ibram


"Sebelum kesini tadi kita sudah makan malam, Pa" jawab Sameer


"Apa kalian akan menginap disini?" tanya Papa Ibram.


Humaira melemparkan tatapannya, meminta persetujuan Sameer untuk menginap dirumah orang tuanya. Sameer hanya menyunggingkan senyumnya sebagai jawaban.


"Iya Pa, Kita akan menginap disini. Lagi pula Mai masih rindu dengan Mama dan Papa" kata Humaira antusias.


"Ya sudah kalian istrahat saja dulu ya, biar besok pagi bisa fresh" saran Mama Kirana.


Setelah mereka berbincang-bincang santai sambil melepas rindu. Mama Kirana mengantarkan mereka menuju kamar yang akan mereka tempati selama mereka menginap di kediaman keluarga Ibram.


......................


Pagi yang indah dilangit Istanbul. Sejak pagi Humaira sudah membangunkan Sameer, dia ingin jalan-jalan menikmati suasana pagi Istanbul. Dia ingin pergi ke taman Emirgan yang menyuguhkan keindahan bunga tulip.


"Zauya, ayo kita pergi ke taman Emirgan!" rengek Humaira bergelayut manja di lengan Sameer.


"Sayang, ini kan masih pagi. Taman Emirgan belum di buka jam segini"


"Tapi Dinda ingin kesana Zauya" kekeh Humaira masih dengan aksinya yang merengek.


"Sayang, kita pergi ke taman lain aja ya. Kita jalan-jalan pagi" bujuk Sameer.


"Tapi ini baby kita yang mau Zauya" kata Humaira menggunakan sang anak dalam kandungannya sebagai kelemehan Sameer, supaya Sameer mau menuruti keinginannya.


"Itu hanya nafsu kamu saja yang ingin seperti itu, sekarang kita jalan-jalan di sekitar sini saja. Udaranya masih segar sayang" bujuk Sameer membelai kepala sang istri.


Akhirnya setelah berhasil membujuk Humaira meski harus diakhiri dengan bibir cemberutnya, mereka memutuskan untuk jalan-jalan pagi di dekat rumah.


Taman yang mereka datangi pun cukup ramai pengujung, yang juga sedang melakukan olahraga pagi. Udara yang masih segar serta suasana yang sejuk membuat orang-orang betah berlama-lama menikmati pagi hari di taman.


"Segar sekali Zauya" senyum Humaira menghirup oksigen sebanyak mungkin dan melepaskan karbon dioksida secara perlahan.


"Jalan kaki juga cukup baik untuk kondisi kandungan kamu sayang, nantinya bisa memperlancar proses melahirkan" jelas Sameer


"Iya Zauya, aku baca dari buku pun seperti itu. Apalagi kalau bertelanjang kaki. Itu akan lebih sehat"


"Sini biar Zauya yang bawa sepatunya. kamu lepas saja" Sameer mendudukan Humaira disalah satu bangku. Sameer membuka sepatu Humaira membiarkan Humaira bertelanjang kaki.


"Sehat ya sayang anak Daddy. Daddy sayang kalian" ucap Sameer mengelus perut Humaira serta memberikan ciuman di perut Humaira.


Humaira membelai rambut Sameer lembut, dia bahagia mendengar Sameer menyayangi bayi yang sedang di kandungnya.


Pikiran negatif yang dulu pernah terlintas di pikirannya sama sekali tidak sesuai dengan kenyataannya yang ada saat ini.


Dulu dia pikir Sameer tidak akan menerima bayi yang dia kandung, tapi ternyata semua itu salah. Bahkan setiap malam Sameer selalu menyapa baby twin serta membacakan surat yusuf dan surat Maryam. Kegiatan seperti itu sudah seperti rutinitas bagi Sameer.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2