
Sameer melangkah masuk kedalam rumah, Sameer yang penasaran dengan siapa Umi Iza berbincang memutuskan untuk menghampiri Umi Iza.
Di dapur Sameer melihat seorang wanita dengan setelan gamis dan tampak berbincang dengan Umi Iza sampai sebuah pertanyaan meluncur dari bibir wanita itu yang tak lain adalah Dona.
"Jangan melewati batas mu!" teriak Sameer yang berjalan menuju arah dapur.
Dona yang belum menyelesaikan kalimatnya mengalihkan tatapannya pada sosok Sameer yang sedang menatapnya tajam bak tatapan burung elang yang mengincar mangsanya.
"Sam, tidak perlu berteriak seperti itu," tegur Sang Umi. Mata Dona terlihat berkaca-kaca, teriakan Sameer cukup melukai hatinya.
"Dia sudah melewati batas Umi, untuk apa dia bertanya tentang istri ku? Apa itu penting bagi dia?" tanya Sameer tidak suka ada orang lain yang mengulik tentang kehidupan pribadinya.
Sejak awal Sameer memang tidak pernah menyukai sosok Dona. Dia hanya menganggap Dona sebagai rekan kerjanya tidak lebih, walaupun beberapa bulan ini Dona melakukan pendekatan secara intens pada orang tuanya maupun pada si kembar.
"Tenangkan diri mu Sam," Abi Ahmed yang baru datang dari belakang Sameer meremas pelan pundak Sameer, menenangkan Sameer yang terbawa emosi.
"Maafkan aku, kalau aku sudah lancang," cicit Dona.
Air mata pun mengalir dari kedua mata indah Dona. Ini pertama kalinya dia melihat Sameer semarah itu, meskipun dia sering mengganggu Sameer tapi baru kali ini dia benar-benar melihat kemarahan Sameer.
Sameer mendengus sebal segera berlalu dari hadapan mereka menuju lantai dua. Dona hanya memperhatikan kepergian Sameer dengan tatapan sendunya.
"Maafkan Sameer ya sayang," ucap Umi Iza mengelus punggung Dona.
"Ini memang salah Dona, Umi. Sudah lancang bertanya tentang hal pribadi Sameer, memang tidak seharusnya Dona melakukan itu," Dona menundukkan kepalanya mengakui kesalahannya.
"Jangan di ambil hati ya perkataan Sameer." Umi Iza menenangkan Dona.
"Sebaiknya Dona pulang Umi, Daddy pastinya juga sudah pulang," kata Dona mengambil tasnya.
"Kita makan malam bersama, tadi kan kamu sudah bantuin Umi masak."
Dona menggelengkan kepalanya sambil melemparkan senyumannya pada Umi Iza, walaupun itu senyuman yang penuh rasa kecewa atas sikap Sameer.
"Terima kasih Umi, lain kali saja,"
"Hati-hati ya," pesan Umi Iza menyayangkan kepergian Dona.
"Iya Umi," Dona mengangguk.
"Dona pamit, Abi," ujar Dona menyalami Abi Ahmed yang sedari tadi hanya terdiam menyaksikan kemarahan Sameer.
"Iya hati-hati, tidak usah dipikirkan ucapan Sameer."
__ADS_1
"Iya Abi, terima kasih. Assalamualaikum," ucap Dona.
"Waalaikumsalam," balas Umi Iza dan Abi Ahmed mengantarkan kepergian Dona.
Selepas kepergian Dona, Umi dan Abi saling pandang. Mereka sama-sama menggelengkan kepalanya. Mereka tidak menyangka Sameer yang tidak pernah berteriak ataupun membentak seorang wanita bisa melakukan itu pada Dona. Wanita yang jelas-jelas tidak melakukan sebuah kesalahan apapun.
...****************...
Usai makan malam, Sameer menghampiri si kembar dikamarnya. Senyuman terbit dibibir Sameer, rasa lelah karena seharian bekerja sirna sudah saat melihat tawa si kembar.
"Hy Dad," sapa mereka serempak menyambut Sameer dengan sebuah pelukan.
"Kalian sedang apa?" tanya Sameer memperhatikan kedua anaknya yang sibuk dengan mainannya.
"Zaf, mau kesana dulu Dad," pamit Zafran setelah mendapatkan anggukan dari sang Daddy.
"Za sedang mencoba mainan baru," Zafira menunjukkan barbie pemberian Dona pada sang Daddy.
"Mainan baru?"
"Eh..hem..ini mainan baru dari Aunty Dona."
"Aunty Dona?"
"Sayang, lain kali tidak perlu lagi menerima pemberian Aunty Dona," kata Sameer menatap intens Zafira.
"Memangnya kenapa Dad? Aunty Dona baik kok. Tidak pernah jahat pada Za."
"Daddy tau sayang, tapi apa Za tidak kasihan dengan Aunty Dona yang setiap bertemu Za selalu membawakan mainan."
Zafira mengetuk dagunya memikirkan perkataan Sameer, mencoba mencerna.
"Kasihan Dad, nanti uang Aunty Dona bisa habis ya."
"Nah, Za itu tau, lagipula Za juga tidak begitu butuh mainan kan? Mainan Za sepertinya juga sudah cukup banyak. Lain kali Za hanya perlu menerima sesuatu yang sesuai dengan kebutuhan Za. Za paham kan maksud Daddy?" tanya Sameer dengan pandangan mata tidak pernah lepas dari sosok Zafira gadis kecilnya yang memiliki kemiripan dengan Humaira dari mata serta senyumnya.
"Iya Dad, Za paham."
"Good girl!" Sameer mengecup kening Zafira sebelum beralih menghampiri Zafran yang duduk dibalkon kamarnya dengan sebuah buku cerita di pangkuannya.
"Hy boy!" sapa Sameer duduk disamping Zafran mengacak-acak rambut Zafran gemas.
"Hy Dad!" balas Zafran tersenyum.
__ADS_1
"Kamu sedang apa disini?" tanya Sameer memperhatikan sang putra.
"Melihat bintang, Zaf ingin teropong untuk melihat bintang," kata Zafran antusias.
"Teropong?" Sameer mengernyitkan dahinya.
"Iya Dad, Teropong bintang. Zaf ingin melihat indahnya bintang."
"Apa yang membuat Zaf ingin melihat bintang?" tanya Sameer menopang dagunya.
"Karena cahaya bintang seperti cahaya mata mommy," celetuk Zafran dengan pandangan mata yang tidak teralihkan dari indahnya malam yang penuh bintang.
"Cahaya mata Mommy?"
"Iya, Zaf melihat video saat Dad dan Mom menikah. Mom terlihat bahagia, dan I love my mom."
"Zaf dapat dari mana video itu?" tanya Sameer penuh selidik. Selama ini dirinya sama sekali belum pernah menunjukkan video penikahannya dulu pada kedua anaknya.
"Sorry Dad, Zaf melihat di ruang kerja Daddy. Maaf kalau Zaf lancang," ungkap Zafran menundukkan kepalanya merasa bersalah karena telah masuk kedalam ruang kerja sang Daddy tanpa izin.
"Hey...hey...kenapa harus minta maaf? Dad tidak pernah melarang kalian, hanya saja Dad memang belum menunjukkan kepada kalian," ujar Sameer merangkul pundak Zafran.
"Jadi Dad tidak marah?"
"Tidak sayang, kalian juga harus melihat Mommy kalian. Bagaimana wajah Mom? cantik?"
"Sangat cantik, sepertinya Mom sangat penyayang," tebak Zafran.
"Mom itu paket lengkap. cantik, baik, pinter masak dan sangat penyayang. Pasti kalau Mom ada diantara kita dan Dad memuji Mom. pasti wajah Mom langsung merah," Tutur Sameer terkekeh geli kala mengingat sosok Humaira.
Wajah Humaira akan langsung berubah merah setiap kali dia menggoda atau memuji sang istri. Salah satu momen sederhana yang tidak akan pernah dia lupakan seumur hidupnya. Sebuah moment yang sampai pada saat ingin hanya mampu dia kenang didalam hati serta pikirannya.
...****************...
Happy weekend ya...
Jangan lupa selalu jaga kesehatan!
🤗🤗🤗🤗
Jangan lupa KOMEN+LIKE+VOTE
Terima kasih 😙😍
__ADS_1