Dua Cincin Satu Cinta

Dua Cincin Satu Cinta
DT ~ 23


__ADS_3

Setiap jam makan siang Senja memilih untuk duduk seorang diri di Taman Kantor. Dia menyukai taman kantor yang tertata rapi, serta tanaman hias dan bunga yang bermekaran membuatnya merasa lebih tenang.


Senyuman manis terbit di bibirnya, sesekali tatapannya kosong. Pikirannya setiap saat terus berkelana memikirkan sang suami yang tidak kunjung bangun dari tidur panjangnya. Dia merindukan pria itu, dia merindukan perlakuan lembut pria itu yang tak lain adalah suaminya. Suami yang sangat dia cintai.


"Mommy!" teriak seorang gadis kecil berlari ke arah Senja, seketika itu juga membuyarkan lamunan Senja.


"Mommy Za rindu," Zafira berhambur memeluk Senja, membuat Senja terkejut sekaligus merasa bingung tiba-tiba di peluk anak kecil yang memanggilnya dengan sebutan Mommy.


"Assalamualaikum sayang," sapa Senja mensejajarkan tubuhnya menatap Zafira.


"Waalaikumsalam Mommy."


"Siapa nama kamu?" tanya Senja mengelus wajah Zafira lembut.


"Zafira Nura Bariq."


"Nama yang sangat cantik seperti kamu," puji Senja.


"Mommy juga cantik," Zafira mengelus pipi Senja penuh rasa kagum. Ada tatapan penuh kerinduan dari sepasang mata polos gadis kecil itu.


"Boleh Za cium Mommy?" tanya Zafira mengedipkan kedua matanya lucu.


Senja tergelak sembari menganggukan kepalanya menyetujui permintaan Zafira yang ingin menciumnya.


Cup..!


Zafira mendaratkan kecupan manis di kedua pipi Senja.


"Zafira!" teriak Sameer seketika menghentikan langkahnya saat mendapati sang putri tengah membelai lembut wajah Senja dan memberikan kecupan di kedua pipi wanita itu.


Hati Sameer merasa teriris menyaksikan moment itu, Sameer sadar putri kecilnya merindukan sosok seorang Ibu. Rasa bersalahnya semakin menyeruak dalam mengores hatinya, Sameer merasa sangat bersalah dengan apa yang terjadi pada Humaira.


Kalau bukan karena dirinya, Humaira tidak akan mengalami kecelakaan. Humaira pasti akan merawat kedua malaikat kecil mereka penuh kasih sayang.


"Daddy," sapa Zafira tersenyum menatap Sameer, Sameer pun membalas senyuman putri kecilnya.


"Mommy ada disini, Dad. Daddy tidak ingin memeluk Mommy?" tanya Zafira.


Senja menundukkan pandangannya, dia tidak berani menatap Sameer. Dia tahu kalau pria yang berdiri di hadapannya merupakan pimpinan perusahaan tempatnya bekerja.


"Tidak sayang," kata Sameer mendekati Zafira mengelus lembut kepala Zafira.


"Kenapa tidak?" tanya Zafira masih tidak paham mengapa sang Daddy tidak mau memeluk Mommy.


Sameer mengaruk kepalanya salah tingkah, dia tidak tahu bagaimana harus menjelaskan kepada putrinya.


"Sayang, boleh tante tanya?" tanya Senja mengalihkan pertanyaan Zafira.

__ADS_1


"Boleh," Zafira mengangguk pasti.


"Kenapa Zafira manggil tante dengan sebutan Mommy?" tanya Senja yang sampai saat ini tidak mengerti mengapa gadis kecil itu memanggilnya Mommy.


"Karena mirip Mommy Za," jawab Zafira polos.


"Mirip?"


"He..em..sangat mirip."


"Daddy boleh pinjam ponsel?" tanya Zafira pada sang Daddy yang masih terdiam melihat interaksi Senja dan Zafira.


Sameer memberikan ponselnya pada Zafira. Zafira pun dengan cekatan membuka ponsel milik Sameer dan menunjukkan sebuah foto.


"Ini foto Mommy dan Daddy," Zafira menunjukan foto Sameer yang memeluk Humaira dari belakang.


Seketika Senja menutup mulutnya tidak percaya. Wajahnya memang benar-benar mirip, Senja tidak menyangka ada orang yang wajahnya begitu mirip dengannya. Senja terdiam memperhatikan foto itu, lidahnya kelu, dia tidak tahu harus berkata apa tentang foto itu.


"Ini Mommy, Za?" tanya Senja masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat.


"Iya, Apa boleh Za manggil tante dengan sebutan Mommy?" tanya Zafira


"Mommy Zafira kemana memangnya?" tanya Senja.


"Mommy Za sudah pergi ke surga sama Allah sejak Za sama Abang Zaf masih bayi," jawab Zafira sendu.


"Zafira boleh memanggil tante dengan sebutan Mommy," kata Senja akhirnya mengizinkan Zafira memanggilnya Mommy.


Senja sendiri juga telah merindukan sosok seorang malaikat kecil di tengah-tengah kehidupan rumah tangganya. Selama hampir lima tahun dia membina rumah tangga bersama Havid suaminya, dia belum di karuniai malaikat kecil yang akan menjadi pelipur dirinya di kala senang maupun sedih.


"Mommy, Za rindu sekali dengan Mommy," Zafira memeluk Senja erat menyalurkan rasa rindu pada sosok seorang ibu yang bahkan tidak pernah ditemuinya sejak dia kecil.


"Mommy juga rindu Za," balas Senja memeluk Zafira erat, membelai lembut kepala Zafira.


Sameer yang menyaksikan itu semua memalingkan wajahnya, matanya berkaca-kaca. Lidahnya kelu, dadanya terasa sesak. Andaikan dia di izinkan, dia pun ingin memeluk Senja, ingin mengecup kening Senja wanita yang sangat mirip dengan mendiang istrinya.


Jauh didalam lubuk hatinya yang terdalam, dia sangat merindukan Humaira. Humaira nya yang penuh kasih, Humaira nya yang selalu lembut dengan senyuman yang manis.


...******...


Semenjak pertemuan Zafira dengan Senja di taman, Zafira sama sekali tidak mau lepas dari gendongan Senja. Zafira merangkul erat leher Senja, menyandarkan kepalanya di bahu Senja.


"Za sayang, sini gendong Daddy saja ya. Kasihan Mommy," tutur Sameer merasa kasihan melihat Senja yang kepayahan menggendong tubuh Zafira.


"Za tidak mau Dad, Za masih rindu Mommy," rengek Zafira tidak ingin lepas dari Senja.


"Daddy tahu sayang, tapi biarkan Daddy mengendong Za. Nanti kita ajak Mommy keruangan Daddy bertemu Nenek dan juga Abang Zaf," bujuk Sameer.

__ADS_1


"Tidak apa-apa Tuan biar saya gendong saja," kata Senja merasa tidak keberatan dengan sikap manja Zafira.


Sameer menghela nafas besar membiarkan Senja mengendong Zafira sampai kelantai atas tempat ruangannya berada.


Ting...!


Lift itu berhenti tepat di lantai atas. Sameer membiarkan Senja keluar terlebih dahulu, dia lebih memilih untuk berjalan di belakang Senja.


"Assalamualaikum," sapa Senja memasuki ruangan Sameer masih dengan Zafira yang berada di gendongannya.


"Waalaikumsalam," jawab Umi Iza menyambut kedatangan Senja. Binar kebahagiaan terpancar jelas dari mata Umi Iza.


Akhirnya dia bisa melihat secara langsung wanita yang mirip Humaira. Umi Iza tidak menyangka ada orang yang begitu mirip dengan Humaira, bagai pinang dibelah dua. Tidak ada perbedaannya sama sekali.


"Bolehkah Umi memeluk kamu?" tanya Umi Iza tidak bisa menahan lagi rasa kerinduannya.


"Boleh Nyonya," Senja mengangguk mengiyakan permintaan Umi Iza.


"Panggil Umi saja jangan Nyonya, panggilan itu terlalu berlebihan," tolak Umi Iza.


"Itu tidak sopan Nyonya."


"Itu sangat sopan, Senja," Umi Iza memeluk Senja erat, menyalurkan kerinduan yang selama ini terpendam dalam.


"Umi sangat bahagia bisa berjumpa sama kamu," bisik Umi Iza tepat di telinga Senja.


Di sisi lain Zafran terus memperhatikan wanita yang mirip sang Mommy. Tidak ada pergerakan dari tubuh kecilnya, dia hanya terus memperhatikan interaksi yang terjadi antara sang Nenek dan Senja.


...*****...


JANGAN LUPA YA


๐Ÿคญ LIKE


๐Ÿคญ KOMEN


๐Ÿคญ VOTE


Sebenernya siapa sih Senja itu?


Sebenernya siapa sih Havid itu?


Gimana ya perasaan Zafran?


Apa dia bakalan bisa terima Senja?


Makasih semua untuk kritik dan sarannya๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜

__ADS_1


__ADS_2