Dua Cincin Satu Cinta

Dua Cincin Satu Cinta
DT ~ 2


__ADS_3


Bangunan yang berdiri kokoh terkesan begitu mewah, serta desain interior yang artistik. Sameer keluar dari mobil sedan Porsche Panamera Turbo S E-Hybrid Executive kesayangannya yang selalu setia menemaninya setiap saat dia ke kantor.


Henry sang asisten pribadi membukakan pintu kemudi tempat Sameer duduk. Sameer memang sudah terbiasa mengemudikan mobilnya seorang diri, dia jarang sekali menggunakan jasa seorang supir. Henry membungkukkan tubuhnya memberi salam hormat pada sang CEO yang baru menginjakkan kaki di loby kantor.


Langkah kakinya menapak tepat di lobby kantor, seluruh pasang mata karyawan mengalihkan perhatiannya pada sosok CEO HS Group.


Seluruh karyawan menyambut kedatangan Sameer dengan senyuman sambil membungkukkan tubuh sebagai tanda hormat pada sang pimpinan perusahaan.


Sameer pun membalasnya dengan tersenyum tipis seraya berlalu masuk ke dalam lift yang akan membawanya menuju lantai 20 tempat dimana ruangannya berada.


Menginjakkan kaki di lantai 20, Sameer disambut oleh Jenny sekertarisnya. Jenny memberikan senyuman ramah pada sang CEO yang baru tiba di kantor.


"Selamat Pagi Mr. Sam!," sapa Jenny menyunggingkan senyumannya.


"Pagi Jen," balas Sameer tersenyum.


Sameer pun berjalan menuju kearah ruangannya, langkahnya tiba-tiba berhenti tepat di meja kerja Jenny. Pandangan matanya menyapu seluruh meja kerja Jenny yang terlihat berantakan dengan beberapa tumpukan kado serta bunga yang di kirim penggemarnya setiap harinya.


"Apa yang harus saya lakukan sir?," tanya Jenny pada Sameer.


Sameer menggaruk keningnya. Dia merasa sangat heran dengan orang yang mengirimkan kado ke kantornya.


Aksi mereka untuk mengirimkan kado itu terus saja berlangsung sejak tiga tahun lalu. Sejak seluruh orang mengetahui statusnya sebagai seorang single Daddy, bahkan Sameer pernah menolak pemberian mereka secara langsung tapi semua itu rasa tidak berdampak apapun pada mereka. Mereka masih tetap mengirimkan kado pada Sameer. Jadi Sameer hanya membiarkan saja aksi mereka yang diluar nalar itu.


"Seperti biasa Jen," jawab Sameer tegas dan segera masuk kedalam ruangannya.


Jenny menghembuskan nafas lelahnya. Jenny sudah merasa bosan menerima hadiah itu bahkan dulu saat pertama kali hal itu terjadi, dia pernah membawa seluruh kado itu pulang kerumahnya.


Awalnya dia merasakan antusias menerima kado itu, tapi semakin lama dia merasakan jenuh sampai akhirnya setiap kado yang datang dia akan membagikannya ke beberapa karyawan.


Bahkan pernah ada yang mengirimkan jam tangan mewah yang harganya terkadang membuat Jenny merasa menciut. Jenny pun sampai mengembalikan semua barang-barang mewah itu ke pemiliknya karena Jenny tahu sang bos tidak akan mau menerima barang-barang itu.


"Biarkan nanti cleaning service yang membereskan, sekarang masuklah," kata Henry berlalu mengikuti Sameer masuk kedalam ruangan setelah mendapat anggukkan dari Jenny.


Jenny segera menyusul Henry yang sudah lebih dulu masuk kedalam ruangan Sameer tak lupa Jenny membawa agenda kerjanya.


"Hari ini apa jadwalnya Jen?," tanya Sameer menopang dagunya menunggu Jenny membacakan jadwal kerjanya hari ini.


"Jam 9 ada meeting dengan Pak Dimas dan Pak Hasan. Untuk jam makan siang ada Pak Akbar yang ingin bertemu dengan anda. Setelah jam makan siang ada meeting dengan Mr. Albert serta Pak Herman untuk proyek di Swiss," jelas Jenny.


Sameer menganggukan kepalanya mendengarkan Jenny mengatakan semua jadwalnya hari ini. Jadwalnya sungguh padat seharian ini, itu artinya dia tidak akan bisa menjemput kedua anaknya di sekolah.


"Oh..ya Jen, kapan Akbar menelfon?."

__ADS_1


"Kemarin sore setelah anda pulang, Sir."


"Ok!, sampaikan padanya aku akan menemuinya."


"Baik, Sir." Jenny mengundurkan diri meninggalkan ruangan Sameer.


"Apa semua berkas-berkas untuk meeting hari ini sudah selesai semua?."


"Sudah Tuan." jawab Henry menyiapkan semua berkas dokumen untuk meeting mereka hari ini.


...****************...


Seusai meeting bersama Damar yang menjabat sebagai CFO (Chief Financial Officer) dan Hasan sebagai CMO (Chief Marketing Officer), Sameer mengajak mereka berdua untuk bertemu Akbar. Sameer memang sengaja menarik kedua sahabatnya untuk bergabung di perusahaannya karena dia cukup percaya dengan kemampuan mereka dalam kedua bidang itu.


Sameer pun mengajak Damar serta Hasan untuk makan siang bersama Akbar, semenjak dua tahun lalu mereka memang belum pernah bertemu lagi dengan Akbar, apalagi sekarang ini mereka memiliki kesibukan masing-masing. Lagipula mantan kakak ipar sekaligus sahabatnya itu lebih memilih untuk menetap di Turki membantu perusahaan sang Papa.


"Hi whats up bro!" sapa Damar menepuk pundak Akbar. Akbar yang terkejut segera berdiri menyapa sahabatnya dengan sebuah pelukan.


"Seperti yang kamu lihat, aku masih tampan," kelakar Akbar yang mendapatkan hadiah pukulan di kepalanya oleh Sameer.


"Sialan kau Sam!" umpat Akbar mengelus kepalanya yang sakit. Mereka tertawa seraya mengambil tempat duduk yang masih kosong.


"Ada angin apa kau kembali?," tanya Sameer to the point tanpa ada basa basi.


"Astaga...apa kau tidak ingin berbasa basi dengan ku?," tanya Akbar menatap sinis pada Sameer yang memang telah berubah banyak sejak lima tahun lalu.


"Kalian kalau bertemu selalu saja bertengkar," kata Hasan yang sedari tadi hanya menjadi seorang penonton.


"Aku akan menikah," ucap Akbar menyandarkan punggungnya di sofa.


Mereka bertiga saling memandang penuh keheranan. Mendengar keinginan Akbar untuk menikah seperti serasa mimpi karena mereka cukup tahu Akbar adalah salah satu sahabat mereka yang tidak tertarik dan tidak ingin memiliki ikatan dalam sebuah pernikahan. Apalagi setelah ditelisik dari masa lalunya yang kelam.


"Apa kau yakin?," Damar menatap Akbar serius. Akbar menghela nafas panjang.


"Yakin, upaya apapun sudah ku lakukan untuk tidak terikat dalam ikatan kramat itu tapi tetap saja takdir membawa ku kesana,"


"Siapa gadis itu?," tanya Sameer menyesap kopi hitam yang tersaji diatas meja.


"Santri di pondok Abi," celetuk Akbar.


"Apa????," kata mereka serempak. Bahkan Sameer langsung meletakkan begitu saja cangkir kopinya.


"Kau sehat?," Hasan memegang kening Akbar.


"Sialan kau!," Akbar menepis tangan Hasan dari keningnya.

__ADS_1


"Aku tidak menyangka kalau kau akan menikah dengan seorang santri. Apa kau di jodohkan?," tanya Damar menatap Akbar serius.


"Tidak! Itu pilihan ku sendiri," putus Akbar menyeruput jus jambu pesanannya.


Mereka bertiga mengangguk mengiyakan keinginan Akbar untuk menikah. Mereka pun juga sangat bahagia karena akhirnya sahabat mereka dengan yakin dan mantap untuk melangkah ke jenjang pernikahan.


"Kalau kau kapan Sam?" tanya Akbar mengalihkan perhatiannya pada Sameer yang tengah menikmati pastanya.


"Kapan-kapan," jawab Sameer asal.


"Kau harus move on," Akbar mengenggam pundak Sameer erat.


"Jangan bicara tentang move on. itu belum masuk kedalam kamus ku dan jangan bicarakan aku, tentang ku telah selesai," kata Sameer.


"Aku rasa Akbar benar, Sam," timpal Damar


"Zafran dan Zafira sudah cukup untuk ku, aku tidak butuh yang lain," kata Sameer mantap.


Suasana yang tadinya ceria mendadak berubah mendung. perubahan wajah pun terlihat dari Sameer. Pembahasan mengenai kehidupan asmaranya memang cukup sensitif.


"Aku sudah selesai. aku akan kembali dulu,"


Setelah mengusap mulutnya dengan tisu. Sameer bangkit dari tempat duduknya berlalu meninggalkan ketiga sahabatnya.


Akbar mengacak-acak rambutnya. Dia merasa bersalah telah membuat sahabatnya kembali bersedih.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


CFO (Chief Financial Officer) tugasnya orang yang bertanggung jawab tentang laporan keuangan sebuah perusahaan dan pengembangan sumber daya manusia.


CMO (Chief Marketing Officer) tugasnya orang yang bertanggung jawab melakukan riset pasar dan merancang strategi pemasaran.


√ LIKE


√ KOMEN


√ RATE 🌟🌟🌟🌟🌟


√ VOTE


terima kasih 😘


...----------------...


# Kalau menurut kalian, Sameer di berikan jodoh baru gk ya di season ke dua?

__ADS_1


Atau dia tetep jadi single daddy? Menurut kalian gimana?


KOMEN YA 👇🏻👇🏻


__ADS_2