
Pagi menjelang, awan biru yang cerah. Burung-burung diatas sana pun berterbangan. Suasana pagi yang cerah.
Tapi suasana pagi yang cerah tidak secerah suasana dikamar tempat Elena menginap. Erik yang baru keluar dari kamar mandi setelah memasuki tubuhnya, sudah tidak menemukan Elena lagi di dalam kamar.
Panik, Khawatir dan takut menjadi satu. Dia pun bergegas mengenakan pakaiannya, mengecek GPS ponsel miliknya yang menunjukkan keberadaan Elena. Semalam Erik memang telah mengaktifkan GPS di ponsel Elena supaya dia bisa mengetahui keberadaan Elena karena Erik tau Elena tidak akan menyerah untuk menemui Sameer.
"Untuk apa dia pergi ke sana?" tanya Erik pada dirinya sendiri saat melihat rute perjalanan Elena yang menunjukkan ke arah Cappadocia yang jaraknya cukup jauh dari kota Istanbul. Bahkan perjalanan kesana akan memakan waktu 12 jam.
"Ele. apa yang kamu lakukan di Cappadocia? Apa yang sebenarnya kamu rencanakan" gumam Erik seorang diri.
Erik segera turun ke lobby hotel, dia akan menyusul Elena. Erik takut terjadi sesuatu dengan Elena apalagi saat ini kondisi psikis Elena tengah tidak stabil.
...----------------...
Cappadocia memang salah satu tempat wisata yang menyajikan keindahan alam yang sangat mempesona. Cappadocia menyuguhkan pemandangan lembah, ngarai serta perbukitan yang mendominasi sebagian tempat wisata di Turki.
"Indah sekali Zauya" kata Humaira saat melihat Goreme sebuah kota unik yang bangunannya terbuat dari pahatan batu. Goreme pun juga dijadikan tempat tinggal warga lokal.
"Tidak sia-sia kita melakukan perjalanan selama 12 jam. Disini memang indah" puji Akbar menikmati udara segar pagi hari di kora Goreme. Akbar merentangkan tangannya menghirup secara perlahan udara segar di kotak Goreme.
"Ayo Kak kita naik balon udara! Kita lihat Cappadocia dari atas sana" ajak Elmir sudah sejak tadi menahan keinginannya untuk naik balon udara.
"Wah, boleh tuh!" sahut Sameer.
Akbar dan Elmir memilih masuk ke balon udara berdua, berpisah dengan Sameer dan Humaira untuk membiarkan mereka menikmati waktu berdua.
Pandangan kagum terpancar dari mata mereka. Melihat keindahan Cappadocia dari atas, terlihat semakin mempesona apalagi ditambah matahari yang baru saja terbit semakin menambah keindahan itu.
Memandangi Lembah dan bukti dengan latar belakang sunrise semakin menambah kesan indah. Senyuman terus mengembang dibibir mereka.
__ADS_1
"Dinda tidak pernah bosan mengatakan kalau Turki memang begitu indah" puji Humaira yang tidak pernah bisa lepas dari keindahan Turki. Humaira sudah jatuh cinta dengan Turki.
"Dan Zauya tidak akan bosan untuk mengajak Dinda menikmati keindahan Turki" timpal Sameer mengecup kening sang istri penuh kasih sayang.
"Terima kasih Zauya, telah memberikan kenangan indah untuk Dinda. Dinda sangat bahagia sekali" Humaira menyandarkan kepalanya di dada Sameer, membiarkan Sameer memeluknya serta mengelus perutnya.
"Kebahagiaan Dinda adalah prioritas bagi Zauya. Membuat Dinda tersenyum adalah hal yang selalu ingin Zauya lihat" Sameer menyandarkan dagunya di kepala Humaira, menikmati keindahan Cappadocia dari atas balon udara.
Puas berkeliling, mereka memutuskan untuk mengistirahatkan diri di salah satu pusat wisata kuliner di Cappadocia untuk memberi makan cacing di perut mereka yang sudah kelaparan.
"Zauya, Dinda mau kebab" tunjuk Humaira saat hidungnya mencium bau harum daging kebab yang dipanggang.
"Siap tuan putri" kata Sameer membawa Humaira menuju pedagang kaki lima yang menjual kebab.
Binar bahagia terlihat sekali dari wajah Humaira saat menyaksikan bagaimana pedagang kebab itu meracik kebab nya. Humaira sudah tidak sabar lagi ingin mencicipinya.
"Zauya, Dinda mau ke sana beli ice cream. Boleh?"
"Siap Zauya!" Humaira mengecup pipi Sameer sembari berlalu meninggalkan Sameer yang mengantri di penjual kebab yang sedang menyelesaikan masakannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Citttt.......
Brukkkk......
Terdengar bunyi tabrakan yang nyaring. Sameer segera mengalihkan pandangannya ke arah lokasi tempat tabrakan itu terjadi.
"Mbak Mai!" teriak Elmir.
Sameer yang mendengar Elmir meneriakkan nama Humaira segera berlari sekuat tenang dengan dua kebab di tangannya.
__ADS_1
Deg....
Seketika itu dua kebab yang berada ditangannya terjatuh. Tubuhnya kaku, jantungnya terpacu cepat, darah yang mengalir ditubuhnya serasa berhenti, wajahnya berubah pucat pasi. Wanitanya...tergeletak tak berdaya.
Di tatapnya wanita hamil yang bersimbah darah, kesadaran diri sudah tidak menguasai wanita hamil itu bahkan darah segar mengalir dari kepala dan bagian bawah wanita itu. Wanita hamil yang tak lain adalah Humaira.
"Sayang!" teriak Sameer menyangga kepala Humaira.
Tubuh Sameer bergetar hebat menyaksikan sang istri terkulai lemas tak berdaya. Air mata jatuh bercucuran. Sameer mengangkat wajahnya kesana kemari sampai pandangan matanya jatuh pada satu sosok wanita lagi yang tak lain adalah Elena yang posisinya juga sama seperti Humaira.
"Bar, mana ambulance?" tanya Sameer linglung.
"Sebentar lagi Sam. Kau harus kuat" Akbar meremas pundak Sameer menguatkan Sameer.
Air mata tidak mampu Sameer tahan lagi, air mata terus mengalir dari wajah tampannya. Dikecupnya kening sang istri beberapa kali, di dekapnya erat tubuh Humaira yang mulai melemah.
Tak berapa lama dua ambulance datang ke lokasi kejadian. Dua ambuoance itu membawa dua sosok wanita yang tengah berjuang untuk nyawa mereka serta nyawa bayi mereka.
Sameer tertunduk sedih, kemejanya sudah penuh darah. wajahnya terlihat kusut. Mama dan Papa yang baru tiba pun syok mendengar berita itu. Apalagi kini putri mereka tengah berjuang didalam ruang operasi.
"Mai!" ucap Mama Kirana lirih. Papa Ibram mendekap Mama Kirana erat, menenangkan sang istri yang terpukul dengan kecelakaan yang menimpa putri kesayangannya.
"Sayang, kamu harus bertahan. Zauya akan mati kalau kamu tidak mampu bertahan"
"Bertahanlah untuk Zauya sayang"
Sameer menarik rambutnya frustasi. Kecelakaan itu membuatnya begitu terpukul, apalagi dia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana darah segar menguasai tubuh istrinya. Istri yang sangat di cintainya.
"Zauya belum memberikan mu kebahagiaan sayang. Jadi kamu harus kuat. Maafkan Zauya sayang yang tidak bisa menjaga mu" rutuk Sameer dalam hati.
Langit biru yang cerah, tiba-tiba berubah mendung. Perlahan hujan turun membasahi bumi seakan bumi ikut merasakan kesedihan yang tengah di rasakan Sameer.
__ADS_1
...****************...