
Mobil yang Umi Iza tumpangi mulai melaju perlahan meninggalkan sekolah si kembar. Saat mobil itu berjalan cukup jauh dari area sekolah si kembar. Pandangan matanya menangkap sosok wanita yang tidak asing bagi Umi Iza.
"Humaira!" seru Umi Iza membuka kaca mobil berteriak memanggil nama Humaira.
"Pak, berhenti!" perintah Umi Iza memukul kursi kemudi pelan.
Setelah mobil itu berhenti, Umi Iza bergegas turun dari mobilnya. Pandangan matanya terus saja mengikuti sosok Humaira yang mulai berjalan menjauh di seberang jalan.
Padatnya jalan pagi itu membuat Umi Iza kesusahan untuk menyebrang. Sesaat setelah jalan mulai agak lenggang, tidak menunggu waktu lama Umi Iza bergegas berlari kecil untuk mengejar wanita itu. Dia ingin memastikan sendiri itu Humaira atau bukan.
"Humaira!" teriak Umi Iza dengan suara tuanya.
"Humaira, tunggu!" teriak Umi Iza sekali lagi berlari mengejar wanita itu tapi kaki tuanya tidak mampu mengejar wanita itu yang pada akhirnya membuatnya kehilangan jejak, raut kecewa serta rasa penasaran tampak jelas terlihat. Dia berharap kalau wanita itu sungguh Humaira, walaupun itu akan mustahil terjadi tapi apa salahnya kalau dia berharap.
"Nyonya!" panggil Mang asep sang supir menghampiri Umi Iza yang terlihat kelelahan sambil mengatur nafasnya.
"Mang, apa saya salah lihat?" tanya Umi Iza mengusap peluhnya.
"Saya rasa tidak nyonya, wanita tadi memang mirip nyonya muda," kata Mang Asep yang melihat dengan mata kepalanya sendiri kalau wanita yang dikejar sang majikan memang mirip dengan almarhumah nyonya mudanya.
...****************...
Setibanya dirumah Umi Iza segera menuju ke dapur mengambil segelas air. Umi Iza menghembuskan nafas berat. Kejadian tadi di dekat sekolah si kembar masih mengganggu pikiran Umi Iza, rasa penasaran semakin menguasai dirinya.
__ADS_1
"Umi baru pulang?" tanya Sameer yang baru turun dari lantai dua lengkap dengan setelan jas serta tas kerjanya.
"Iya Sam, dan kamu baru mau berangkat,"
"Iya Umi, Sam ada pertemuan dengan Pak Albert," kata Sameer duduk di samping Umi Iza.
"Abi mu mana?" tanya Umi Iza
"Mungkin masih di belakang sama Mang Ujang." Umi Iza hanya menganggukan kepalanya mengiyakan.
"Umi kenapa wajahnya kusut begitu?"
"Sam, kalau Umi bicara ini apa kamu akan percaya?" Umi Iza sesekali memijit pelipisnya. Umi Iza masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat pagi ini.
"Bicara apa Umi?" Sameer mengernyitkan dahinya menatap penasaran.
Seketika Sameer terdiam, tubuhnya mendadak terpaku, lidahnya sesaat kelu. Logikanya menyangkal apa yang Umi Iza katakan.
"Umi seharusnya tahu kalau orang yang sudah meninggal itu tidak akan bisa kembali hidup. Mungkin itu hanya halusinasi Umi saja," kata Sameer tak acuh.
"Tapi Sam, Umi tidak berhalusinasi."
"Maafkan kalau Sam tidak percaya dengan apa yang Umi bicarakan karena bagi Sam itu sangat mustahil terjadi."
__ADS_1
"Umi paham kalau hal itu mustahil terjadi, tapi apa salahnya kita membuktikannya sendiri," tutur Umi Iza kekeh.
"Membuktikan dengan cara seperti apa? Membongkar makam Humaira?" tanya Sameer menatap Umi Iza sendu. Umi Iza membulatkan matanya terkejut.
"Bukan begitu Sam, Umi tidak meminta itu. Umi hanya meminta untuk bertemu kembali dengan wanita itu," pinta Umi Iza penuh permohonan pada Sameer. Dia ingin Sameer percaya dengan apa yang ia lihat.
"Kalau sudah bertemu, Umi akan bagaimana?" tanya Sameer sarkas. Umi Iza terdiam, menundukkan kepalanya.
"Menikahkan kalian," gumam Umi Iza lirih. Gumaman yang masih mampu Sameer tangkap dengan kedua telinganya.
"Sekalipun wanita itu mirip dengan Humaira, belum tentu sifat dan kepribadiannya akan seperti Humaira. Istri ku tidak akan tergantikan, Umi. Tahan keinginan Umi untuk memiliki menantu lagi," tutur Sameer berlalu meninggalkan Umi Iza yang masih terdiam dengan semua penuturan Sameer.
Ia hanya merasakan perasaan bahagia bisa bertemu dengan wanita yang mirip dengan Humaira. Ia sangat berharap kalau wanita itu bisa menikah dengan Sameer, bisa membuat Sameer menjadi seperti sosok yang dulu. Ceria dan penuh senyuman, bukan seperti sekarang ini.
Sejak meninggalnya Humaira, Sameer memang seperti pria yang anti sekali dengan seorang wanita. Banyak undangan kencan dari rekan bisnisnya tapi tidak pernah sekali pun Sameer menerima undangan itu. Saat ini hidupnya hanya untuk si kembar, si Kembar sudah cukup membuat hari-harinya bahagia dan penuh warna.
...****************...
rules wajib ya
KOMEN + LIKE
Insya Allah dalam waktu dekat aku bakalan lebih rajin buat Up.
__ADS_1
Selalu kasih aku semangat dengan KOMEN+LIKE+VOTE kalian ya.
Terima kasih semuanya 🤗😘