
"Sam"
"Jangan pernah kau membentak istri ku, kau tidak berhak melakukan itu. Seharusnya yang disalahkan dalam hal ini adalah diri mu. Selama ini kau telah membohongi ku"
"Zauya" Humaira menahan Sameer untuk tidak meneruskan perkataannya.
Sameer mengabaikan permintaan Humaira, ia sudah terlanjur kecewa dengan kebohongan yang telah Elena buat.
"Membohongi? Sejak kapan aku membohongi mu Sam? Aku tidak pernah bohong pada mu" Elena menggelengkan kepalanya menolak tuduhan Sameer.
Humaira yang tidak tau apa yang sedang terjadi, hanya diam memperhatikan mereka berdua.
"Aku mencintaimu dengan tulus Ele, aku menyayangi mu sampai aku rela merintis karir ku dari bawah. Demi membuat mu bangga dengan hasil kerja keras ku. Tapi nyatanya kau meninggalkan ku setelah orang tua mu menjodohkan mu dengan Erik, pria yang lebih kaya dari ku dan kau meninggalkan ku hanya karena sebuah harta." Sameer menundukkan kepala.
Ia kecewa wanita yang ia cintai dengan sangat tulus rela meninggalkannya hanya demi sebuah harta.
"Sam, aku.."
Sameer mengangkat tangannya tidak mengizinkan Elena menyela perkataannya. Ia ingin mengungkapkan segala kenyataan yang selama ini disembunyikan Elena.
"Kau kembali ke Indonesia karena Erik selingkuh dengan sekertarisnya dan kau meminta cerai pada Erik tapi Erik mengagalkan keputusan cerai itu. Secara hukum maupun agama kau masih menjadi istri Erik, selama ini kau begitu banyak membohongi ku Ele padahal perasaan ku sangat tulus pada mu"
Dada Sameer terasa sesak. Humaira masih diam bergeming mendengar kenyataan demi kenyataan tentang rumitnya hubungan Sameer dengan madunya.
"Apa salah ku Ele sehingga kau membohongi ku sejauh ini? Apa perasaan mu dulu juga bohong Ele? Apa sejak dulu kau memang tidak pernah mencintai ku?" tanya Sameer pandangan mata yang syarat akan luka.
Elena terdiam, lidahnya kelu tidak mampu mengeluarkan suara. Ia tidak sanggup menyanggah semua perkataan Sameer.
"Demi meraih mu kembali, aku tega menyakiti istri ku, anak ku serta kedua orang tua ku. Aku menyakiti mereka hanya demi diri mu yang bahkan tidak bisa menghargai perasaan orang lain" kata Sameer lemah.
Prok...prok...prok
"Drama yang mengharukan" tutur Erik menerobos masuk ke dalam kamar rawat Elena.
"Pergi kau!" teriak Elena penuh kebencian.
"Sayang jangan takut seperti itu, kasihan baby kita" rayu Erik mengecup kening Elena.
__ADS_1
"Sam, usir dia" pinta Elena menunjuk Erik.
"Sam kenapa kau diam saja? Aku takut Sam" isak Elena menggoyangkan lengan Sameer meminta perlindungan pada Sameer. Sameer hanya menatapnya nanar.
Dulu mungkin ia akan iba melihat posisi Elena, tapi saat ini rasa ibanya terhadap Elena lenyap begitu saja tergantikan dengan rasa kecewa.
"Sayang, aku tidak akan menyakiti mu. Aku begitu mencintai mu apalagi ada anak kita"
"Tidak, aku tidak mau punya anak lagi dari mu. Aku benci pada mu Rik, pergilah biarkan aku tenang" Elena menangkupkan kedua tangannya memohon pada Erik.
"Apa kau bilang tidak mau? Jangan mencoba untuk menyentuh anak ku Elena" bentak Erik tepat ditelinga Elena. Elena berjengkit menutup sebelah telinganya.
"Tidak!, ini anak ku dan Sameer" tolak Elena menggelengkan kepalanya.
"Apa kau tidak ingat? pergumpulan panas kita Lena? Kita berhubungan bukan hanya sekali" tegas Erik. Elena menutup telinganya, air mata terus mengalir dari matanya.
"Kalau memang ini anak mu. Aku akan mengugurkan janin ini, aku tidak mau punya anak dari pria brengsek seperti mu. Sudah cukup dulu aku menderita, tidak untuk sekarang"
Elena memukul-mukul perutnya. Ia tidak ingin mengandung benih dari pria yang sangat ia benci.
"Elena hentikan!" teriak Erik memegang kedua tangan Elena erat.
"Cukup!" teriak Sameer tidak tahan. Kepala Sameer semakin terasa pening melihat perdebatan sepasang suami istri itu.
"Mulai saat ini dan detik ini aku menalak mu Elena Samantha, kita sudah tidak ada hubungan apapun. Baik hubungan sebagai pasangan hidup maupun sebagai kenalan" kata Sameer tegas.
"Tidak Sam, aku tidak ingin bercerai dari mu. Aku sangat mencintai mu Sam. Jangan tinggalkan aku Sam" mohon Elena meminta belas kasihan Sameer.
"Kau pun sudah memiliki suami, dan sebentar lagi kau akan memiliki anak. Tenang saja sebentar lagi Doni akan mengirimkan surat cerainya. Dan aku semakin yakin kalau janin itu bukan DARAH DAGING KU"
Sameer melangkah dengan pasti meninggalkan ruang rawat Elena tak lupa ia menggenggam erat tangan Humaira.
"Sam, aku tidak mau bercerai dari mu" tangis Elena meraung.
"Aku mencintai mu Sam, jangan tinggalkan aku" teriak Elena kencang.
Ia tidak terima Sameer menceraikannya. Ia mencintai Sameer, perhatian dan kepedulian Sameer telah mengetuk pintu hati terdalamnya. Membuat benih-benih cinta tertanam dihatinya.
__ADS_1
Erik menatap Elena dengan pandangan terluka. Wanita yang ia perjuangkan tengah menangisi pria lain.
"Semua ini salah mu, aku harus kehilangan Sameer"
"Aku tidak pernah membuat mu kehilangan Sameer, tapi diri mu sendiri yang membuat Sameer meninggalkan mu. Bukankah ini balasannya atas sikap mu dulu?" Kata Erik membalik ucapan Elena. Elena mengacak rambutnya frustasi.
"Pergilah!, aku tidak butuh kau di sisi ku"
"Tapi anak ku butuh aku sebagai ayahnya, aku tidak perduli dengan mu. Kalau kau mencoba menyakiti anak ku, lihat apa yang akan aku lakukan pada mu. Sudah cukup kau meninggalkan Sabrina demi keegoisan mu" tutur Erik berlalu meninggalkan Elena seorang diri.
'Sabrina'
Mendengar nama itu, tangis Elena pecah. Sabrina anak sulungnya yang berusia dua tahun, anak pertamanya dengan Erik.
Ia sungguh menyesal dan melupakan kalau di hidupnya masih ada Sabrina. Sabrina gadis kecilnya yang menjadi sumber kebahagiaannya. Gadis kecilnya yang ia tinggalkan demi keegoisannya sendiri dan melarikan diri dari luka hatinya terhadap Erik.
***
Flash Back
"Apakah ini benar?" tanya Sameer mengacak rambutnya frustasi. Kenyataan tentang Elena yang semakin menyakitkan.
"Itulah kesalahan terfatal yang kau lakukan. Kau sungguh bodoh Sam, percuma kau sekolah keluar negeri kalau otak mu tidak bisa bekerja dengan baik" kata Akbar tajam tanpa memperdulikan Sameer yang terlihat begitu frustasi.
"Selain Elena meninggalkan mu karena dia memilih Erik, karena ia juga hamil anak Erik pada saat itu. Namanya Sabrina usianya dua tahun. Elena meninggalkan Sabrina karena saat itu Elena marah dengan perbuatan Erik yang selingkuh dengan sekertarisnya" jelas Damar.
Mereka bertiga memang telah menyelidiki motif sesungguhnya Elena kembali ke Indonesia. Terlepas dari itu, mereka juga mengabulkan permintaan orang tua Sameer yang ingin agar Sameer membuka mata dan hatinya kalau Elena bukanlah pilihan yang tepat.
"Kenapa kalian baru memberitahu ku sekarang?" Sameer mengerang kesal
"Apa kau pernah mendengarkan penjelasan kami? Saat kau meminta kami ke Bogor untuk menjadi saksi pernikahan kalian, saat itu juga kami ingin menjelaskan semuanya tapi hati mu sudah tertutup oleh cinta bodoh mu itu" tutur Hasan
"Kau bahkan memukul ku, dan inilah sekarang kenyataannya. Kau beruntung memiliki Humaira yang sabar menghadapi keegoisan mu" timpal Akbar
"Kau harus memperbaiki semuanya sebelum Humaira meninggalkan mu, minta maaflah pada Humaira dan orang tua mu sebelum semua terlambat" saran Damar. Sameer mengangguk lemah.
Flashback End
__ADS_1
***