
"Kak..." Panggil Humaira mengelus lembut dada Sameer.
"Kenapa sayang?" tanya Sameer masih memeluk Humaira erat
"Apa Humaira boleh meminta sesuatu?"
"Mau meminta apa?"
"Tapi kakak janji tidak akan meledek Humaira" Humaira mendongak menatap wajah tampan Sameer. Sameer membalasnya dengan senyuman.
"Mulai hari ini kakak harus memanggil ku Dinda, dan aku akan memanggil mu Zauya"
Sameer mengernyitkan dahinya mendengar permintaan Humaira yang dirasanya sangat aneh.
"Dinda? Zauya? Apa itu?" kekeh Sameer geli. Panggilan itu terdengar cukup konyol di telinga Sameer.
"Ikh. .kakak ini masak tidak tau sih? Kakak ini kuno sekali" sebal Humaira mengerucutkan bibirnya.
Sameer terkekeh kecil, ia sama sekali tidak paham maksud permintaan Humaira.
"Kakak jangan tertawa, itu namanya panggilan sayang. Kakak harus memanggilku Dinda dan aku akan memanggil kakak Zauya. Zauya itu dari Zauji, aku ganti Zauya biar terdengar manis dan lucu" kata Humaira memberi alasan.
Sameer kembali tertawa geli mendengar permintaan Humaira yang terdengar ke kanakan baginya. Ia rasa istrinya unik dan sedikit konyol.
"Dasar anak kecil" Sameer mengacak rambut Humaira gemas.
"Zauya mau kan?"
"Baiklah dinda" Sameer tersenyum menyetujui permintaan ke kanakan Humaira.
"Makasih Zauya"
Cup
Cup
Cup
Humaira mendapatkan ciuman diwajah Sameer, membuat Sameer tidak bisa menahan geli dan akhirnya tertawa. Tawa lepas penuh kebahagiaan.
Sungguh sebuah momen yang begitu hangat dan penuh tawa yang tercipta diantara mereka berdua.
Kebahagiaan jelas sangat terpancar diwajah keduanya, walaupun awal dari pernikahan mereka karena sebuah keterpaksaan.
***
"Dinda, hari ini kita kembali ke rumah Papa tidak masalahkan?" tanya Sameer yang baru saja keluar dari kamar mandi seraya menggosok rambutnya yang basah.
"Tidak apa-apa Zauya, lagipula Dinda juga jarang sekali bertemu mereka jadi Dinda mau menghabiskan waktu sedikit lebih lama bersama mereka" tutur Humaira membereskan beberapa baju.
Siang ini mereka sudah siap meninggalkan hotel untuk kembali ke rumah Papa Ibram.
Untuk sementara waktu mereka berdua akan menghabiskan waktu di Jogja sebelum kembali ke Bandung untuk menyusul orang tua Sameer yang lebih dulu kembali ke sana.
Sameer pun mengendarai mobilnya melintasi jalanan kota Jogja, kota yang ramah dengan adat khas jawa yang masih cukup kental dirasakan.
Humaira sesekali mencuri pandang, memperhatikan Sameer yang duduk di balik kemudi. Sameer yang merasa diperhatikan, melemparkan senyuman termanisnya sembari menggenggam tangan Humaira memberikan kecupan.
"Zauya tau kalau Zauya ini tampan, jadi jangan di lihat terus nanti kamu diabetes" canda Sameer mengerlingkan sebelah matanya. Humaira terkekeh.
"Sejak kapan Zauya pandai merayu?"
"Sejak beberapa hari yang lalu Zauya menikahi gadis manja"
"Ish...dasar ya Zauya ini, suka sekali bilang Dinda manja"
__ADS_1
"Memang seperti itu kenyataannya sayang" Sameer mengelus lembut kepala Humaira.
Satu jam perjalanan dari hotel menuju rumah Papa Ibram, akhirnya mereka tiba disana. Mama Karina menyambut kedatangan mereka, mempersilahkan mereka berdua untuk istirahat.
****
Malam datang, matahari yang terik berganti kemerlap indahnya bulan dan bintang dengan cahayanya yang cantik.
Mereka semua berkumpul di halaman belakang, Merayakan pesta kecil untuk pernikahan Humaira dan Sameer sekaligus reuni berkumpulnya keluarga mereka sebab sangat jarang mereka bisa berkumpul seperti sekarang ini.
Pesta barbecue menjadi acara perayaan itu. Elmir sibuk memanggang daging, sedangkan Mama Kirana dan Humaira menyiapkan perjamuan untuk mereka nikmati. Dilain sisi terlihat Papa Ibram dan Sameer yang sedang berbincang.
"Sameer sekarang kamu sudah menjadi suami Humaira, apa Papa bisa meminta sesuatu pada mu?" tanya Papa Ibram sembari menyeruput segelas kopi yang masih mengepulkan asap.
"Apa itu Pa? Insya Allah Sameer akan mengabulkan"
"Ini adalah sebuah permintaan dari orang tua yang cinta dan terlalu khawatir akan anaknya. Papa meminta jagalah Humaira sebagaimana kami menjaganya, jaga hati dan perasaannya seperti kami menjaganya dan bimbing dia dengan baik. Sekarang tanggung jawab Papa sudah selesai dan kamu yang harus menggantikan peran Papa dan Mama" kata Papa Ibram menatap Sameer hangat.
Melepas seorang anak perempuan untuk diserahkan kepada seorang pria adalah keputusan yang cukup berat bagi Papa Ibram. Humaira adalah cintanya, cintanya seorang ayah pada anak perempuannya. Papa Ibram berharap Sameer bisa menjaga Humaira. Harapan terbesarnya kini hanya Sameer untuk menjaga Humaira putri satu-satunya.
"Insya Allah Sameer akan menjaga Humaira sebagaimana Papa dan Mama menjaga Humaira, Sameer memang tidak bisa menjanjikan apapun kepada Papa dan Mama tapi Insya Allah Sameer akan berusaha untuk melakukan yang terbaik" ucap Sameer tulus
Papa menepuk pundak Sameer pelan seraya tersenyum.
"Kalau suatu saat nanti kamu sudah tidak mencintai Humaira jangan sakiti dia, kembalikan lah kepada kami. Jangan biarkan setetes air mata jatuh karena saat hal itu terjadi Papa yang akan mengambilnya sendiri"
"Insya Allah Sameer tidak akan mengembalikan Humaira Pa karena kini Humaira adalah istri Sameer, milik Sameer" Janji Sameer kepada orang tua Humaira sekaligus kepada dirinya sendiri
Sameer tau ia belum bisa memberikan seluruh hatinya untuk Humaira, tapi Sameer mencoba untuk menerima Humaira. Menerima Humaira menjadi pendamping hidupnya.
Walaupun suatu saat nanti Elena akan kembali ke kehidupannya, Sameer tidak akan meninggalkan Humaira. Akan tetap menggenggam tangan Humaira.
Papa tersenyum menganggukan kepalanya mendengar janji Sameer, ada rasa lega di hatinya. Papa Ibram sendiri tau bagaimana Sameer yang begitu mencintai kekasihnya terdahulu, Papa Ibram juga takut kalau Sameer tidak bisa menerima Humaira tapi kini setelah mendengar jawaban dan janji yang Sameer memberikan, membawa kelegaan tersendiri dihatinya untuk melepas Humaira seutuhnya.
Seutuhnya menjadi bagian dari diri Sameer.
***
"Ma, Pa, mungkin nanti Sameer akan mengajak Humaira pergi ke pantai parangtritis menginap beberapa hari disana"
"Zauya kok tidak bilang kalau akan pergi kesana?" tanya Humaira menyuapkan sepotong sandwich kedalam mulutnya.
"Ini memang tidak ada dalam rencana sayang, tapi tidak masalahkah. sekalian menikmati suasana pantai" Humaira mengangguk mengiyakan.
"Tidak apa-apa, kalian memang butuh waktu berdua. Mama paham bagaimana pengantin baru itu" ujar Mama Kirana memahami keinginan Sameer yang ini menghabiskan waktu berdua sebelum kembali menjalankan kesibukan diperusahaan.
"Lagi pula besok Papa dan Mama akan langsung kembali ke Turki" timpal Papa Ibram
"Kenapa cepat sekali Pa?" tanya Humaira sedikit terkejut dengan keputusan kedua orang tuanya yang memutuskan kembali ke Turki lebih cepat.
"Papa tidak bisa terlalu lama meninggalkan pekerjaan disana sayang" kata Sang Papa mengelus tangan Humaira lembut.
Raut kecewa jelas terpancar diwajah Humaira. Humaira cukup kecewa dengan keputusan kedua orang tua yang memilih segera kembali ke Turki, sebab jarang sekali mereka menghabiskan waktu bersama seperti ini.
"Kenapa kau cemberut begitu? Nanti kita juga bisa ke Turki" kata Sameer menenangkan Humaira, Sameer tau kalau kini istrinya sedang dilanda kecewa.
"Iya sayang, nanti kamu bisa berkunjung ke sana sekaligus bulan madu" kata sang Mama menenangkan Humaira.
Mereka sendiri juga enggan untuk kembali ke Turki, masih ingin menghabiskan waktu lebih lama bersama putri kesayangan mereka tapi segala pekerjaan sudah menanti.
"Baiklah" Humaira mengangguk pasrah, mesti jauh didalam hatinya masih meninggalkan rasa kecewa.
"Mungkin kami tidak bisa mengantarkan Mama dan Papa ke bandara, tapi kami berharap kalian bisa pulang dengan selamat. kabari kami kalau sudah tiba" tutur Sameer
"Tentu Sam. kalian nikmati saja waktu kalian. Kami akan berdoa untuk kebahagiaan kalian berdua" kata Papa Ibram.
__ADS_1
***
Semilir angin pantai berhembus, hambaran laut biru pantai parangtritis menyambut kedatangan Sameer dan Humaira. Senyum cerah tersungging dari bibir Humaira, langkahnya perlahan tapi pasti menuju bibir pantai. Dia sudah tidak sabar menginjakkan kakimya untuk menyentuh pasti pantai, bahkan dia melupakan Sameer yang masih tertinggal di belakangnya.
Humaira merentangkan tangannya, mengedahkan kepalanya ke atas memandang langit yang mulai berganti warna menjadi jingga. Dia membiarkan hijab dan gamisnya bertebrangan mengikuti arah angin berhembus.
Sepasang tangan kekar melingkar di pinggang Humaira, memeluk erat tubuh itu dari belakang. Senyuman pun Sameer tampilkan tak kala melihat sang istri yang tengah menikmati keindahan pantai parangtritis.
"Aku cemburu dengan pantai" bisik Sameer
Humaira menundukan kepalanya, menggenggam tangan Sameer yang masih setia memeluk pinggangannya.
"Dinda baru dengar ada orang cemburu dengan pantai" Humaira tersenyum kecil
"Bagaimana tidak cemburu, setelah turun dari mobil kamu berjalan menuju pantai seorang diri bahkan tidak mengajak suami mu yang tampan ini" keluh Sameer tidak terima perhatian Humaira teralihkan. Humaira membalik kan tubuhnya, menangkup wajah Sameer memberikan tatapan penuh cinta.
"Zauya seperti anak kecil, sangat kekanakan ini hanya pantai" Humaira memberikan elusan lembut di wajah Sameer. Sejenak Sameer memejamkan matanya menikmati kelembutan tangan Humaira yang membelai wajahnya.
Cup..
kecupan kecil Humaira daratkan tepat di kening Sameer. Senyuman tebit dari bibir Sameer.
"Sekarang kamu sudah mulai berani ya cium-cium" goda Sameer
"Jadi Zauya tidak mau Dinda cium?" Humaira mengangkat kedua alisnya. "Baiklah kalau begitu Dinda akan cari orang lain yang mau dicium" goda Humaira.
Seketika senyuman surut dari bibir Sameer. tatapannya menajam. Humaira yang tatap hanya bersikap santai tidak terpengaruh dengan tatapan Sameer.
"Aku akan mengosok mulut orang itu dan akan menjahit mulut mu dengan mulut ku" ujar Sameer posesif. Humaira tertawa terbahak seraya memegangi perutnya.
"Zauya sadis sekali, Dinda jadi takut"
"Astaga sayang. dimana pun itu tidak ada suami yang mau melihat istrinya mencium pria lain. Jelas saja Zauya akan bersikap sadis"
"Baiklah...baiklah...Dinda hanya akan mencium pria tampan ini"
"Anak baik" Sameer menepuk kepala Humaira pelan.
"Zauya. ayo kita ke kamar. Dinda ingin mandi"
"Siap tuan putri"
Tangan mereka saling menggenggam menyusuri bibir pantai, langit pun sudah mulai berubah gelap. Sesekali Sameer mencuri ciuman di pipi Humaira. sampai membuat Humaira tersipu malu apalagi beberapa orang memperhatikan tingkah mereka.
Setibanya di kamar hotel, Humaira segera melepas hijab dan cadarnya. Dia sudah ingin membasuh tubuhnya yang terasa lengket.
"Apa mau mandi bersama?" tawar Sameer duduk ditepi ranjang memperhatikan setiap gerak gerik sang istri.
"Mandi bersama?" Humaira menggelengkan kepalanya, ia malu kalau harus mandi berdua. Walaupun Sameer sudah sah menjadi suaminya, tapi ia masih belum terbiasa melakukan itu.
"Ti..tidak mau, Dinda malu"
"Kenapa harus malu? Zauya sekarang sudah menjadi suami Dinda" kata Sameer senyum menyeringai, ada maksud lain dari senyuman Sameer.
"Tidak Zauya, Dinda tidak yakin kalau Zauya akan benar-benar mandi" tolak Humaira tegas.
Humaira tau yang ada dipikiran suaminya apalagi senyum yang ditunjukkan Sameer tampak aneh dan mencurigakan.
Sameer yang tidak suka menerima penolakan segera menggendong Humaira dan memasukkannya ke dalam kamar mandi.
Sameer yang melihat tubuh polos Humaira sudah seperti candu baginya untuk ia sentuh, dengan bujuk rayu yang Sameer lancarkan mereka kembali memulai aktivitas pasangan suami istri di dalam kamar mandi diiringi gemericik air yang semakin mengobarkan gairah keduanya.
Sameer sungguh ingin segera memiliki buah hati yang lahir dari rahim Humaira. Sameer sudah membayangkan kalau anak-anaknya kelak akan begitu cantik seperti Humaira dan akan begitu tampan sepertinya. Sameer pun sungguh mengagumi kecantikan Humaira dan segala apapun yang ada pada diri Humaira.
Sameer pun sudah berlapang dada menerima Humaira didalam hidupnya. Humaira sendiri begitu bersyukur Sameer masih tetap lembut terhadapnya dan memperlakukannya dengan baik.
__ADS_1
***