
Deburan ombak gemuruh gelombang saling bersautan menenangkan hati. Langit senja yang secara perlahan tergantikan dengan langit malam.
Sameer berdiri seorang diri menikmati deburan ombak, membiarkan angin pantai menerpa tubuhnya. Di lihatnya sang istri yang masih tertidur di dalam mobil, mengistirahatkan diri saat tadi ia membawa sang istri melakukan perjalanan yang cukup jauh, untuk sampai ke sini.
Ia menatap wajah polos sang istri penuh penyesalan, ia merasa begitu bodoh selama ini membiarkan wanita yang mencintainya dengan tulus malah ia abaikan. Demi memilih cinta yang lain.
Lagi-lagi ia harus menyerah pada perasaannya sendiri, melepaskan Elena cinta pertamanya dan memulai cinta yang baru bersama sang istri sampai akhir hayatnya. Ia bersumpah pada dirinya sendiri akan membuat istrinya bahagia, akan membuat wanita itu menjadi cinta terakhirnya.
Pengorbanan cinta Humaira sudah cukup, kini saatnya ia yang harus memperjuangkan sang istri. Sudah cukup karma yang diterimanya selama ini, kini saatnya ia menebus semua rasa sakit dan kecewa yang sudah ia torehkan.
"Sayang"
Humaira memeluk Sameer dari belakang, menyandarkan kepalanya di punggung Sameer mencari kehangatan.
"Sudah bangun sayang?"
Humaira mengangguk, ia mengeratkan pelukannya pada tubuh sang suami menikmati terbenamnya matahari.
"Bagaimana kabar anak kita sayang?"
"Mereka sangat baik Zauya"
"Maafkan Zauya, beberapa hari ini membuat kekacauan. Pasti anak kita merasa tidak nyaman"
Sameer merubah posisinya, menatap wajah Humaira. Mengelusnya lembut, diciumnya kening Humaira. Humaira menutup matanya meresapi kecupan hangat yang Sameer daratkan tepat di keningnya.
"Sayang, apa yang harus Zauya berikan untuk mu? Zauya merasa tidak pantas mendapatkan cinta mu. Sudah banyak rasa sakit yang Zauya berikan, entah sudah berapa kali mata ini meneteskan air mata" Sameer mengecup ke dua mata Humaira bergantian.
"Zauya tidak perlu melakukan apapun, Zauya hanya perlu menyayangi ku dan anak kita. Sayangi anak kita dan didik anak kita menjadi seseorang yang sholeh sholehah"
"Zauya merasa beruntung memiliki mu, kamu masih mau menerima Zauya walaupun Zauya sudah sering menyakiti hati mu. Zauya begitu malu"
Sameer menundukkan kepalanya sejenak. Ia merasa sangat malu berada disamping istrinya. Meskipun ia sering menyakiti dan mengabaikan Humaira tapi istrinya masih mau tetap berdiri disampingnya merangkulnya dengan hangat.
Entah hati mu terbuat dari apa sayang batin Sameer kembali memeluk erat tubuh sang istri.
****
"Selamat pagi sayang" sapa Sameer memberikan senyuman terbaiknya menyambut sang istri yang baru turun dari lantai atas.
"Selamat pagi Zauya, pagi sekali Zauya sudah didapur. Kemana Bi Imah dan Bi Marni?"
Sameer mendaratkan kecupan dikening Humaira.
"Bi Imah dan Bi Marni sedang berada di taman belakang dan Zauya sudah menyiapkan sarapan spesial untuk Dinda" Sameer membawa nasi goreng spesial yang khusus ia masak untuk sang istri, tidak lupa dengan segelas susu khusus ibu hamil.
__ADS_1
"Zauya bisa masak?" tanya Humaira mengeyitkan dahinya.
"Tentu, Zauya tidak akan kalah dengan chef Juna yang ada di TV apalagi soal ketampanan. Zauya tidak ada tandingannya" kekeh Sameer geli mendengar gombalannya sendiri.
"Dasar percaya diri sekali, aku akan mencicipi nasi goreng buatan Zauya"
"Kalau enak cium Zauya seratus kali" pinta Sameer menopang dagunya menatap sang istri yang mulai menyendokan nasi goreng ke dalam mulut.
Humaira terdiam merasakan nasi goreng buatan Sameer. Sameer menatap Humaira lekat menanti jawaban dari sang istri.
"Bagaimana sayang enak tidak?" tanya Sameer mengangkat sebelah alisnya.
"Zauya mau di cium dimana? Disini apa di kamar?" tanya Humaira mengerlingkan sebelah matanya menggoda sang suami.
"Dimana aja boleh sayang, asal bibir ini yang mengecupnya" balas Sameer menggoda Humaira
Blush
Pipi Humaira bersemu merah, ia merasa malu.
Gelak tawa langsung terdengar dari suara Sameer tak kala wajah sang istri sudah berubah merah, semerah tomat.
"Zauya suka sekali menggoda Dinda" rengek Humaira manja sesekali memukul dada Sameer pelan.
"Rasanya Zauya merindukan momen seperti ini berdua bersama Dinda" Sameer merindukan rona merah yang selalu menghiasi wajah sang istri. Rasanya sudah begitu lama ia kehilangan momen seperti ini bersama sang istri.
"Itu ide yang bagus sayang, kamu mau kemana?"
"Ke Turki boleh? Dinda sangat merindukan Mama, Papa dan juga Elmir" kata Humaira antusias.
Ia memang merindukan keluarganya yang jauh disana, selama masa kehamilannya ia ingin ada keluarganya yang menemaninya.
"Siap sayang ku, nanti Zauya akan mengurus semuanya. Besok kita sudah siap berangkat"
"Tapi kita harus periksa baby kita dulu ya Zauya"
"Siap tuan putri. Apapun yang tuan putri minta, Zauya siap mengabulkan"
"Terima kasih Zauya" Humaira mendaratkan kecupan di kedua pipi Sameer
"Kembali kasih sayang ku" balas Sameer mencium kening Humaira.
"Dinda mencintai Zauya karena Allah" ucap Humaira
"Zauya lebih mencintai Dinda karena Allah, tetap berada di sisi Zauya. Mari kita menua bersama sayang, merawat anak-anak kita" Sameer mendaratkan kecupan di kedua mata Humaira, berlanjut ke kedua pipi Humaira. Ciuman terakhir Sameer berikan pada bibir merah cherry Humaira.
__ADS_1
Ciuman yang syarat akan cinta dan kasih, tidak ada nafsu didalamnya. Hanya sebuah rasa cinta tulus yang Sameer sampaikan pada sang istri yang setia menemaninya dalam suka maupun duka.
***
Senyuman bahagia menghiasi wajah mereka, Sameer menggenggam tangan Humaira erat. Mereka baru saja meninggalkan ruang praktek dokter kandungan setelah memeriksakan calon anak mereka. Mereka berencana pergi ke Turki untuk melaksanakan bulan madu yang tidak sempat mereka lakukan.
Setelah banyak peristiwa yang menimpa rumah tangga mereka, sejenak mereka ingin merefleksikan diri. Menikmati waktu berdua selama masa kehamilan Humaira. Sameer merasa begitu bersalah karena di awal kehamilan Humaira ia tidak sempat menemani, ia terlalu sibuk dengan cintanya yang mengebu pada Elena.
"Zauya kita kerumah Umi dan Abi ya"
"Siap tuan putri, kita akan memberikan kejutan untuk mereka"
Sameer segera melajukan mobil yang di kendarainya menuju kediaman orang tua Sameer. Humaira mengelus perutnya penuh sayang, tidak terasa usia kandungannya sudah memasuki bulan ke enam. Tinggal dua bulan lagi ia memasuki waktu kelahiran kedua bayinya.
***
"Assalamualaikum" sapa Humaira menggandeng lengan Sameer memasuki kediaman orang tuanya.
"Wa'alaikumsalam" balas Abi dan Umi.
"Umi!" panggil Sameer berhambur memeluk Umi Iza erat. Ia merindukan sang Umi, merindukan kasih sayang yang selalu Umi Iza limpahkan kepadanya.
"Maafkan Sameer. Sameer telah banyak berdosa menyakiti hati Umi, Sameer mengoreskan luka dihati Umi sampai Umi tidak ingin menatap Sameer. Maafkan Sameer, Umi"
Sameer bersimpuh dihadapan sang Umi, memohon maaf atas segala dosa yang telah ia lakukan. Derai air mata tak hentinya keluar dari mata Sameer. Ia sungguh menyesal telah menyakiti orang terkasihnya.
"Berdirilah sayang" Umi Iza membangunkan Sameer.
Selama ini ia menahan rasa rindunya pada sang putra, dipeluknya erat untuk melepas rasa rindunya.
"Maafkan Sam, Umi"
"Umi sudah memaafkan mu, mulai saat ini jagalah keluarga mu. Buatlah keluarga yang penuh kebahagiaan. Jangan lagi sakiti Humaira, jaga mereka Sam. Janji ya pada Umi"
Umi Iza menangkup wajah Sameer, menatap manik mata Sameer dalam menyelami mata sang putra.
"Sameer janji Umi" janji Sameer penuh keyakinan.
Senyuman yang Sameer rindukan dari sang Umi, kini bisa ia nikmati lagi. Bahkan cahaya mata yang dulu saat menatapnya kelam, saat ini telah kembali penuh binar cahaya.
"Terima kasih Abi" Sameer memeluk Sang Abi penuh kasih sayang.
Walaupun awalnya Abi Ahmed begitu marah terhadap sikapnya tapi Abi bisa memaklumi keadaannya dan terus memberikannya dukungan untuk memantapkan rumah tangganya, membangunnya lebih baik.
Abi Ahmed menepuk punggung Sameer pelan, memberikan isyarat kalau ia sudah memaafkan segala kesalahan yang telah Sameer lakukan.
__ADS_1
***