Dua Cincin Satu Cinta

Dua Cincin Satu Cinta
The side story of Humaira Part 2


__ADS_3

Sejak permintaan Abi Ahmed saat itu, aku semakin rajin memohon pada sang pencipta. Aku memohon petunjuk terbaiknya, aku tidak ingin mengambil langkah yang salah karena pilihan yang aku pilih secara gegabah tanpa berpikir lagi.


Meskipun aku telah memiliki jawaban itu sendiri, aku masih meminta waktu pada Sameer untuk memikirkannya kembali. Mereka pun memahami keinginan ku itu. Mungkin mereka berpikir kalau aku masih bingung karena itu merupakan sebuah permintaan yang cukup mendadak dan juga sebuah keputusan yang akan mempengaruhi masa depan ku nanti.


Selama masa berpikir aku lebih memilih untuk kembali ke Yogyakarta selain karena ada orang tua, Yogyakarta juga merupakan tempat ku tumbuh besar. Aku ingin menghilangkan sejenak bayang-bayang Sameer dari pikiran ku walaupun itu agaknya akan sangat sulit untuk ku lakukan.


Aku menikmati waktu berkumpul bersama keluarga, bercengkaram penuh kehangatan dan jalan-jalan menikmati keindahan kota Yogyakarta, yang terkenal akan kota pelajar sekaligus kota budaya yang sangat kental sekali dengan adat jawa. Serta menjunjung tinggi tata krama dan sopan santun.


Saat aku duduk di taman belakang rumah, Papa datang menghampiri ku. Beliau menanyakan kembali keinginan ku untuk menikah muda serta mengubur segala impian ku untuk pergi ke Al Azhar. Aku bisa melihat dari sorot mata Papa kalau beliau belum bisa melepas ku untuk di miliki pria lain.


Aku mencoba meyakinkan Papa kalau keputusan ku sudah bulat mengenai hal itu. Aku sudah yakin akan menjalani pernikahan ini bersama Sameer. Aku yakin kalau Sameer akan mencintai ku dan akan menjaga ku sebagaimana Mama serta Papa menjaga ku selama ini.


Papa akhirnya merestui keputusan ku untuk menikah dengan Sameer. Papa hanya bisa memberikan ku sebuah pelukan hangat yang sangat jarang beliau beri karena keterbatasan jarak diantara kita. Papa membelai kepala ku lembut, bagaimana pun bagi Papa aku tetaplah putri kecil mereka yang manja.

__ADS_1


Sebulan berjalan. inilah akhir dari batas waktu yang aku tentukan sendiri. Berulang kali aku mengucap basmallah untuk mengurangi gemuruh di dada yang semakin tidak terkendali. Ini adalah sebuah keputusan besar yang telah ku ambil, keputusan yang akan mempengaruhi masa depan ku kelak.


Setelah kata 'Ya' keluar dari bibir ku. Aku bisa melihat pancaran bahagia dari wajah mereka. Mama dan Umi begitu antusias untuk menyiapkan pernikahan ini dengan penuh semangat. Bahkan mereka sangat bergerak cepat untuk mengajak ku dan Sameer memilih gaun pernikahan serta cincin pernikahan. Aku tidak menyangka kalau kata 'Ya' sudah seperti mantra bagi kedua wanita paruh baya itu. Aku bisa melihat rona kebahagiaan dari mereka berdua.


Kebahagiaan yang dirasakan Mama dan Umi tidak menular begitu saja pada ku. Senyuman yang sedari tadi tersungging indah di bibir ku seketika meredup saat Sameer meminta izin ku untuk menikah lagi saat dia menemukan Elena.


Sakit itu sudah pasti, kita belum menjalani pernikahan ini saja tapi dia sudah meminta hal itu pada ku. Apa yang sebenernya Sameer pikirkan? Apakah dia tidak memikirkan perasaan ku? Kenapa semua kata-kata itu dengan entengnya terucap dari bibirnya? Aku sungguh tidak habis pikir dengan perkataan Sameer saat itu.


......................


Bab The side story of Humaira ini akan menceritakan bagaimana perasaan Humaira selama ini ya. Dan next setelah bab ini selesai, kita bisa melihat bagaimana perjuangan Humaira dia akan tetap dengan kondisinya yang tertidur atau dia akan terbangun dari komanya dan berkumpul bersama keluarga kecilnya.


Jangan bosan-bosan ya, ikuti terus cerita ku. 😊😊

__ADS_1


Maaf ya kalo beberapa bab ada yg feel nya kurang ngena di hati, apalah daya ku yang hanya seorang penulis ulung. 😂😂😂


Jangan lupa selalu dukung karya ku...


√ LIKE


√ KOMEN


√ RATE 🌟🌟🌟🌟🌟


√ Kalo mau VOTE/TIPS silahkan 🤭


Terima kasih semua, sudah mendukung cerita ku. 😚

__ADS_1


__ADS_2