
Malam pertama adalah malam yang ditunggu sepasang pengantin baru. Selepas aku selesai membersihkan diri, aku berdiri di balkon kamar hotel menatap indahnya malam. Gemerlap bintang yang di sinari cahaya rembulan serta semilir angin yang membawa hawa dingin menusuk tulang.
Gugup serta gelisah melanda hati ku. Aku meremas kedua tangan ku yang berkeringat tanda bahwa aku benar-benar merasa gugup. Aku masih merasakan rasa asing saat harus berada di satu ruangan bersama pria lain. Dan pria lain itu yang sekarang sudah sah menjadi pendamping hidup ku. Aku merasakan antara siap dan tidak siap.
Ada setitik keraguan didalam hati ku di malam pertama ku, aku tidak mengharapkan Sameer menunaikan kewajibannya sebagai seorang suami karena mungkin dia belum ingin menyentuh ku. Aku akan memahami kalau memang nantinya dia berpikir seperti itu.
Tapi ternyata semua pikiran buruk ku itu terhempas begitu saja. Dia meminta haknya pada ku menyentuh kepala ku lembut, memberikan kecupan serta doa. Sesaat setelah membacakan doa berjima. dia meminta haknya sebagai seorang suami. Tentu ada rasa bahagia saat dia meminta haknya, itu tandanya dia telah menerima ku seutuhnya sebagai seorang istri.
__ADS_1
Air mata itu meluncur begitu saja dari mata ku, ada rasa bahagia dihati ku saat aku mampu memberikan mahkota ku untuk suami ku seorang. Dia pun melakukan penyatuan kami dengan lembut. walaupun rasa perih itu tidak mampu untuk di halau tapi rasa perih itu telah terhalang dengan rasa bahagia yang lebih besar. Aku merasa bahagia bisa mempersembahkan mahkota ku untuk suami ku.
Dia pun terus memberikan kecupan dikening ku, ungkapan terima kasih serta senyuman manis tidak pernah hilang dari bibirnya. Dia pun nampak bahagia. aku pun tau dia mungkin merasa bangga karena menjadi pria pertama bagi ku. Dia memeluk ku erat, mengelus ku dengan lembut seakan aku ini seperti sebuah barang berharga.
......................
Diam-diam saat dia masih tertidur aku memperhatikan wajahnya. setiap detail wajahnya aku perhatikan secara saksama. Ku sentuh hidungnya yang begitu mancung serta rahangnya yang tegas. Sentuhan jari ku berhenti tepat di bibirnya, bibir yang tebal serta berwarna merah. Cukup merah untuk kategori seorang pria.
__ADS_1
"Terima kasih telah menjadikan ku istri seutuhnya"
"Terima kasih telah menerima ku menjadi istrimu kak"
"Aku berharap waktu akan berhenti saat ini, aku berharap kebahagiaan ini akan selalu mengelilingi keluarga kecil kita" gumam ku tidak henti untuk memandangi wajahnya yang tengah tertidur pulas.
Harapan ku ini terdengar egois memang, tapi di sisi lain rasanya aku ingin mengingkari janji yang telah aku sepakati dengan dia. Entah mengapa aku berharap sosok Elena tidak akan pernah hadir di sisi Sameer. Dalam hati kecil ku aku tidak siap kalau rasa yang baru ku miliki pada Sameer harus terbagi dengan yang lain.
__ADS_1
Tidak salah kan kalau aku meminta hal seperti itu karena nyatanya Sameer telah sah menjadi suami ku dan aku berhak atas suami ku sendiri.
......................