Dua Cincin Satu Cinta

Dua Cincin Satu Cinta
Bab 24


__ADS_3

Tiga hari Humaira dirawat, kini Sameer dan Elena membantu Humaira membereskan barang-barangnya untuk dibawa pulang. Humaira pun mencoba untuk berdamai dengan rasa kecewa yang sempat melandanya.


Ia mencoba sekali lagi untuk mengalah dengan keadaan dan mencoba memahami situasi rumah tangganya yang memang berbeda dari orang pada umumnya.


"Assalamualaikum" salam Umi Iza dan Abi Ahmed


"Wa'alaikumsalam"


"Humaira udah sehat sayang" Umi Iza menangkup wajah Humaira membelainya lembut.


"Iya Umi, Alhamdulillah Humaira sudah sehat"


"Kita pulang ya sayang, sama Umi dan Abi" ajak Umi Iza.


Humaira terdiam, ia bingung bagaimana menjawab ajakan Umi Iza. Pandangan matanya beralih menatap Sameer yang berdiri dibelakang Umi Iza. Ia berharap Sameer yang menjawab permintaan Umi Iza.


"Humaira akan kembali ke rumah Umi, dan tinggal sama Sameer" Sameer akhirnya angkat bicara menjawab permintaan sang Umi yang ingin membawa Humaira.


Seketika Umi Iza melemparkan tatapan sinis ke arah Sameer. Ia masih merasa marah dan kecewa kepada putranya itu.


"Apa jaminan yang akan kau berikan saat membawa kembali Humaira ke rumah neraka mu?" tanya Umi Iza sarkas. Mendelik tajam.


"Umi" ucap Abi Ahmed mencoba memperingatkan sang istri untuk menjaga ucapannya.


"Apa kau bisa menjamin Humaira tidak akan terluka? Apa kau bisa menjamin untuk tidak mengabaikan Humaira? Apa kau bisa menjamin membahagiakan Humaira?" tanya Umi Iza bertubi-tubi membuat Sameer bungkam seketika.


"Sameer tidak bisa menjanjikan apapun kepada Humaira, tapi Sameer berjanji akan menjaga Humaira dan anak kami, Umi. Maafkan Sameer yang belum bisa menjaga Humaira sepenuh hati, beri Sameer kesempatan sekali lagi menjaga Humaira dan Anak kami" pinta Sameer memandang iris mata sang Umi yang beberapa bulan ini selalu memandangnya sinis dan tajam.


"Kau tidak bisa berjanji karena ada wanita lain dalam rumah mu. Ada duri yang siap kapan saja menusuk mu, meskipun kau sudah hati-hati untuk tidak menyentuh duri itu" tegas Umi Iza.


Sameer tidak lagi menemukan kehangatan dari sang Umi yang dulu senantiasa memandanginya penuh cinta kasih.


Elena terdiam menundukkan kepalanya. Ia merasa kebencian Ibu mertuanya semakin besar terhadapnya.


"Umi, berilah kesempatan Sameer untuk menebus kesalahannya kepada Humaira" Abi Ahmed memegang kedua bahu sang istri.


"Hanya satu yang bisa membuat mu menebus kesalahan mu"


"Apa Umi?" tanya Sameer penuh harap.


"Menceraikan istri kedua mu, maka kesalahan mu akan terselesaikan" tutur Umi Iza enteng seraya memandang Elena dari atas sampai bawah.


Istri kedua putranya kini sudah berhijab berbeda dengan dulu yang selalu berpakaian terbuka.


Sameer terdiam, ia tidak tahu harus menjawab apa tentang permintaan Umi. Jauh di dalam lubuk hatinya yang paling dalam ia tidak ingin kehilangan kedua bidadari yang menyinari hidupnya.


Serakah...

__ADS_1


Ya ia memang serakah menginginkan dua wanita sekaligus di dalam hidupnya menemani hidupnya.


"Tidak ada dua matahari dan tidak ada dua bulan begitu pun dengan hati. Bagaimana jadinya kalau bumi ini memiliki dua matahari dan dua bulan?" kata Umi Iza.


Sameer menundukkan kepalanya mencerna perkataan sang Umi. Ia sendiri masih bimbang dengan perasaannya sendiri.


Allah memberikan Humaira sebagai jodohnya tapi entahlah hatinya belum mampu memilih Humaira seutuhnya.


Apa ia kini meragukan kuasa Allah yang telah memilihkan jodohnya?


"Umi pulang dulu sayang, jaga diri kamu dan cucu Umi ya" Umi Iza mengecup kening Humaira.


Umi Iza berlalu meninggalkan kamar rawat Humaira mengabaikan Sameer dan Elena. Ia sama sekali tidak peduli dengan mereka, baginya kini prioritasnya hanya Humaira.


"Jaga kesehatan ya sayang, Abi pulang" pamit Abi Ahmed memeluk Humaira sayang.


"Iya Abi"


"Jaga Humaira, Sam. Abi titip Humaira pada mu. Kalau kamu menyerah kembalikan Humaira ke Turki" ujar Abi Ahmed memberi Sameer peringatan.


Perkataan Abi Ahmed membuatnya tersadar, kilasan perbincangannya dengan Papa Ibran beberapa bulan lalu saat ia baru pertama kali menikah menyeruak kembali.


Sameer masih ingat permintaan Papa Ibram untuk mengembalikan Humaira, kalau sampai ia menyakiti Humaira dan sebuah janji yang ia ucapkan dihadapan orang tua Humaira.


Semua itu semakin menjadi beban berat di pundaknya.


"Iya Abi, Elena mengerti"


Abi Ahmed memeluk Elena untuk pertama kalinya. Air mata Elena luruh, ia merindukan hangatnya dekapan seorang ayah dan kini ia bisa merasakan dekapan hangat itu dari sang mertua.


Ia tidak menyangka kalau Abi yang pertama kali menolak kehadirannya justru memberikannya pelukan yang begitu hangat, sehangat pelukan ayah kandungnya yang telah lama pergi.


"Jangan menangis, bersabarlah. Belajarlah terus untuk dekat dengan Allah, Abi yakin Allah akan merangkul mu dengan doanya dan dengan kekuatannya" pesan Abi Ahmed sebelum berlalu meninggalkan kamar rawat Humaira.


****


Suara merdu Humaira yang sedang mengaji mengalun indah bersautan dengan derasnya hujan malam itu.


Siapapun yang mendengarnya bisa terhanyut ke dalam indahnya suara Humaira dengan lantunan ayat-ayat Allah yang menenangkan batin.


"Sayang" panggil Sameer


"Shadaqallahul 'Adziim" Humaira menutup mushafnya menghampiri Sameer yang memanggilnya.


"Iya Zauya"


Sameer menggandeng tangan Humaira mengajaknya duduk di balkon menikmati alunan indah yang dihasilkan oleh suara hujan.

__ADS_1


"Apa mereka sudah bisa bergerak?" tanya Sameer memeluk tubuh Humaira seraya mengelus perut rata Humaira.


"Sudah, tapi gerakannya begitu pelan Zauya"


"Zauya tidak sabar merasakan gerakan mereka, apa kita sudah bisa tahu jenis kelaminnya?" tanya Sameer antusias ingin mengetahui tentang kehamilan Humaira.


"Belum Zauya, insya Allah nanti saat usianya 6-7 bulan sudah bisa"


"Oh ya..kapan kita ke dokter kandungan? Zauya ini melihat anak kita"


"Bulan depan Zauya, saat usianya sudah 4 bulan"


"Baiklah, Zauya yang antar ya"


Humaira menganggukkan kepalanya senang. Ia bahagia melihat Sameer begitu semangat untuk melihat bayi dalam kandungannya. Ia tidak menyangka kalau reaksi Sameer akan sebahagia itu.


"Apa Zauya bahagia dengan kehamilan Dinda?"


"Kenapa bertanya seperti itu? Tentu saja bahagia, karena Zauya akan menjadi seorang Daddy dan rumah kita tentu akan sangat ramai. Apalagi kita akan mendapatkan dua sekaligus"


"Zauya ingin laki-laki atau perempuan?"


"Mau laki-laki atau perempuan Zauya tidak masalah, kalau laki-laki pasti akan tampan seperti Zauya. Kalau perempuan Zauya pastikan tidak ada yang boleh mendekati putri Zauya tanpa seizin Zauya"


"Kenapa begitu Zauya? Kan kasihan putri kita kalau punya Daddy galak"


"Yang boleh putri kita cintai terlebih dahulu hanya Zauya" kata Sameer menepuk dadanya.


Humaira terkekeh kecil mendengar perkataan Sameer, ia merindukan saat seperti ini. Saat ia bisa menikmati waktu berdua bersama Sameer. Sudah lama ia tidak merasakan itu.


"Dasar pecemburu dan egois" decak Humaira mencubit perut Sameer gemas.


"Aww...sakit Dinda" Sameer mengelus perutnya yang bekas cubitan Humaira. Humaira tergelak melihat ekspresi kesakitan Sameer.


"Biarkan itu kan putri ku" ujar Sameer merapatkan pelukannya seraya mendaratkan ciuman keseluruh wajah Humaira membuat Humaira tertawa geli.


Ia sungguh merindukan momen ini. Ia sangat berharap momen ini tidak akan pernah berakhir. Ia yang hanya seorang hamba Allah hanya mampu berdoa supaya diberi waktu yang lama menikmati kebersamaan ini dengan sang suami dan anak-anak mereka kelak.


Senyuman kedua menghiasi dinginnya malam itu. Sameer merapatkan pelukannya memberikan kehangatan untuk sang istri.


***


Akankah Elena menyusul Humaira untuk mendapatkan dua garis (positif) ?


Kalau Elena juga hamil, siapa yang akan lebih diperhatikan Sameer?? Humaira kah? atau Elena cinta pertamanya? 🤔🤔🤔


Bagaimana menurut kalian??

__ADS_1


__ADS_2