Dua Cincin Satu Cinta

Dua Cincin Satu Cinta
DT ~ 21


__ADS_3


Sejak pagi sebuah sedan porsche Panamera berhenti disebuah rumah sederhana. Pemilik mobil mewah itu tak lain adalah Sameer.


Sejak pagi buta Sameer memang memutuskan untuk pergi ke alamat Senja. Entah apa yang merasuki hati serta pikiran Sameer sampai membuatnya nekat untuk memantau Senja secara langsung. Ini untuk pertama kalinya dalam seumur hidupnya dia memantau bahkan mengurusi kehidupan orang lain.


Tepat pukul lima pagi. Senja keluar dari rumahnya membawa 5 kotak besar yang Sameer yakini kalau kotak itu berisi beberapa kue basah hasil olahan tangan Senja Aulia.


Sameer terus mengikuti Senja yang meninggalkan rumahnya menuju sebuah warung yang letaknya tidak jauh dari tempat tinggalnya.


"Eh Neng Senja sudah datang" sapa Bu Hilman pemilik warung tempat Senja menitipkan kue buatannya.


"Ini Bu, Kuenya ada 2 box ya," Senja memberikan dua box kue pada Bu Hilman.


"Iya terima kasih ya, Nja," ucap Bu Hilman mengulas senyumannya.


"Mari Bu, saya mau lanjut mengantar kuenya," tutur Senja membalas senyuman Bu Hilman.


Senja segera menghentikan sebuah angkot, Senja masuk kedalam angkot itu. Dari kejauhan Sameer masih mengikuti Senja yang menaiki angkot. Angkot itu berhenti di sebuah rumah sakit, Sameer pun segera masuk kedalam rumah sakit itu memarkirkan mobilnya. Dia ingin melihat apa saja yang dilakukan Senja seharian ini.


Sejak melihat Senja untuk pertama kalinya dia memang sudah penasaran dengan sosok Senja. Rasa penasaran itu membuatnya ingin sekali mengetahui tentang kehidupan Senja. Langkah kaki Sameer terus mengikuti Senja yang berjalan menuju kantin rumah sakit. Usai mengantar kue ke kantin, Senja berjalan menuju sebuah kamar rawat inap.


Cklek....


Senja membuka kamar inap itu. Wajahnya berubah sendu menyaksikan seorang pria tengah terbaring lemah diranjang rumah sakit. Selang serta alat-alat rumah sakit terpasang hampir di seluruh tubuh pria itu untuk menopang kehidupannya.


Isak tangis terdengar dari suara Senja, hatinya terasa begitu sakit melihat orang yang sangat dia cintai tak kunjung bangun dari tidur panjangnya.


Sameer yang sedari tadi mengikuti Senja hanya mampu melihat Senja dari balik jendela kamar rawat itu. Melihat Senja menangis ada desiran aneh yang menelusup ke dadanya, desiran yang menyesakan melihat air mata kesedihan terus berjatuhan dari mata indah Senja.

__ADS_1


"Ada apa dengan ku?" gumam Sameer menyentuh dadanya. Sameer memejamkan matanya mencoba merasakan apa yang tengah terjadi dengan hatinya.


......................


Sameer melangkahkan kakinya tergesa masuk kedalam ruangannya. Sameer membanting tubuhnya di kursi kebesarannya. Mengusap wajahnya kasar, dia masih belum bisa memahami dengan dirinya sendiri yang terlihat begitu berbeda sejak bertemu Senja.


"Hen, keruangan ku segera," pinta Sameer dari sambungan telepon.


Sameer menyandarkan tubuhnya, Sameer kembali mendesah pelan, pikirannya selalu terbayang sosok Senja.


Bagaimana wanita itu berjuang dari pagi buta mengantarkan kue ke warung serta kantin rumah sakit, bekerja sebagai petugas kebersihan di sekolah tempat kedua anaknya bersekolah dan berakhir bekerja di kantin perusahaan miliknya.


Sameer tidak bisa membayangkan Senja bekerja sekeras itu untuk menopang biaya rumah sakit suaminya yang terbaring koma di rumah sakit.


"Siang tuan," sapa Henry membungkukan tubuhnya menyapa Sameer yang baru saja tiba di perusahaan.


"Apa kamu juga menyelidiki masalah keuangan Senja?" tanya Sameer to the point masih setia menutup matanya.


"Sudah Tuan," jawab Henry. Sameer menganggukan kepalanya.


"Bacakan Hen," perintah Sameer membuka matanya menatap Henry siap mendengarkan setiap laporan Henry.


"Nona Senja bekerja keras untuk membayar biaya rumah sakit suaminya yang terus bertambah setiap harinya, karena sudah selama 6 bulan lebih di rawat di rumah sakit," jelas Henry.


"Dulu dia bekerja sebagai apa?"


"Nona Senja pernah memiliki sebuah toko kue tapi toko itu di jual untuk biaya rumah sakit,"


"Segera lunasi biaya rumah sakit milik suami Senja," perintah Sameer.

__ADS_1


"Hah! Apa Tuan?" tanya Henry terkejut mendengar perintah Sameer untuk melunasi biaya rumah sakit suami Senja.


"Kamu ini kenapa?" Sameer mengernyit bingung melihat respon terkejut Henry.


"Tuan apa saya boleh berpendapat?" tanya Henry hati-hati. Sameer mengangguk.


"Maaf kalau saya lancang Tuan, ini seperti tidak masuk akal Tuan tiba-tiba membayar semua biaya rumah sakit suami Nona Senja. Sedangkan anda tidak ada sangkut pautnya dengan Nona Senja, bahkan anda tidak mengenal secara pribadi bagaimana Nona Senja itu," terang Henry.


Henry tidak ingin Sameer terlalu dalam ikut campur dalam kehidupan Senja, walaupun Henry tahu kalau Sameer mulai merasa tertarik dengan sosok Senja yang di duga mirip Humaira, mendiang istrinya.


Sameer terdiam mendengar pendapat Henry, tentang apa yang telah dia lakukan pada Senja. Sameer tahu mungkin langkahnya salah telah masuk ke dalam kehidupan Senja, tapi melihat kerapuhan wanita itu hatinya terasa sakit.


"Apa yang harus aku lakukan? aku kasihan melihatnya menderita," desah Sameer.


"Minta Nona Senja untuk menjadi pengasuh Tuan Muda dan Nona Muda," kata Henry memberi ide. Sameer terdiam, memikirkan ide Henry, sepertinya itu bukan hal buruk.


Dia bisa menjadikan Senja pengasuh kedua anaknya sekaligus bisa melihat Senja dekat, sebagai pengobat rasa rindunya pada sosok Humaira.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Maaf ya semuanya. mungkin ceritanya agak bertele-tele..


semoga kalian gak bosen baca kisah duda keren Sameer Bariq.


Aku masih belum bisa tepati janji buat up setiap hari karena ada beberapa urusan di real yg jadi prioritas utama.


Makasih ya, masih banyak typo juga.


JANGAN LUPA LIKE + KOMEN + VOTE

__ADS_1


TERIMA KASIH BUAT DUKINGAN KALIAN


Selalu jaga kesehatan karena musim hujan dan masih dalam masa pandemi juga. 🤗🤗🤗🤗💖💖💖💖


__ADS_2