
Muhammad Sameer Bariq adalah sosok pria tampan sekaligus hot daddy yang paling dikagumi. Dalam kurun waktu lima tahun perusahaan yang di bangunnya dari bawah berkembang pesat bahkan perkembangan perusahannya bukan hanya di dalam negeri tapi juga sudah merambah keluar negeri dengan beberapa sektor industri serta pertambangan yang digelutinya.
Semua kesuksesannya tidak lepas dari kerja keras serta dukungan dari kedua malaikat kecilnya yang selama ini menjadi motivasi serta semangatnya dalam bekerja. Kedua malaikat kecilnya adalah sumber dari segala kebahagiaan di dalam dirinya.
Meskipun begitu banyak orang yang sangat menyayangkan statusnya, di tengah puncak karirnya dia masih betah menjadi seorang single daddy. Belum ada satupun wanita yang berhasil menarik perhatiannya, dia masih betah dengan kesendiriannya.
Selama kepergian Humaira lima tahun lalu, Sameer memang memilih hidup seorang diri bersama kedua malaikat kecilnya. Selama itu pula hati dan perasaannya masih terikat erat pada sosok Humaira. Dia merasa belum ada yang bisa menggantikan sosok istri tercintanya. Baginya tidak ada yang bisa menggantikan sosok Humaira baik dihatinya maupun dikehidupannya.
......................
Zafran Aushaf Bariq dan Zafira Nura Bariq. Tumbuh menjadi anak yang cerdas sekaligus menggemaskan bagi siapa saja yang melihatnya. Di usianya yang menginjak lima tahun membuat mereka berdua mulai memahami apa itu konsep seorang ibu dan mengapa mereka tidak bersama sosok seorang Ibu, sedangkan di sekolah mereka banyak teman-teman mereka yang datang serta di jemput oleh Ibu mereka. Sedangkan mereka hanya dijemput Ayah bahkan kadang supir yang melakukan itu.
Terkadang mereka merasa iri dan ingin menanyakan hal itu pada sang Daddy. Tapi melihat tatapan Daddy yang selalu sedih, membuat mereka menahan semua pertanyaan itu. Mereka tidak ingin membuat Daddy mereka sedih, mereka selalu ingin membuat Daddy mereka tertawa bahagia.
"Tuan...tuan....!" panggil Bi Nani tergopoh menghampiri Sameer yang baru saja turun dari lantai dua. Wajah Bi Nani terlihat panik dan gugup.
"Bi Nani kenapa?" tanya Sameer heran, tidak biasanya Bi Nani bersikap seperti itu.
"Tuan, Non Za tidak mau berangkat sekolah dari tadi menangis terus bahkan Bi Marni pun tidak bisa menenangkan Non Za," adu Bi Nani yang mulai khawatir pada Nona mudanya. Bi Nani merasa tidak biasanya nona mudanya bersikap seperti itu.
"Baiklah Bi, coba akan saya lihat."
Sameer berjalan menuju ke arah meja makan. Sameer melihat sang putri menutup wajahnya dengan kedua tangannya, terdengar isakan tangisnya.
Zafran yang duduk di samping sang adik terlihat lebih santai, sambil menikmati sarapan paginya serta segelas susu. Dia sama sekali tidak terganggu dengan suara tangisan Zafira.
"Zaf" panggil Sameer menatap sang putra. Zafran yang ditatapan sang Daddy terlihat tak acuh.
"I don't know!" jawab Zafran mengangkat kedua bahunya cuek. Sameer menghela nafas pelan. Sameer cukup memahami sifat putranya itu yang cuek serta dingin.
"Hy princess Daddy kenapa? Kok nangis," tanya Sameer mengangkat Zafira, mendudukan Zafira di pangkuannya membelai rambut gadis itu lembut.
__ADS_1
"Za, tidak mau sekolah Daddy. Za iri sama teman-teman Za yang datang sama Mommy mereka," Adu Zafira terisak tidak berani menatap mata Daddy nya.
Sameer terdiam mendengarkan keluhan sang putri. Dia tidak tahu lagi harus bagaimana menjelaskan pada putrinya. Dia pun menyadari kalau kedua anaknya pasti masih membutuhkan sosok seorang ibu. Sejak mereka masih bayi, mereka belum pernah sekali pun merasakan bagaimana kasih sayang seorang Ibu.
"Sayang, sini dengarkan Daddy," Sameer menangkup wajah sang putri, Sameer menatap manik mata Zafira yang masih terlihat polos.
"Za dan Abang Zaf itu juga memilik Mommy, hanya saja Mommy Za sudah tidak bisa lagi tinggal bersama kita." jelas Sameer memberikan kecupan manis dikening Zafira.
"Kenapa Mommy Za tidak mau tinggal bersama kita? Apa Mommy tidak sayang sama Za?," sahut Zafira mengedipkan kedua matanya menunggu jawaban sang Daddy.
"Mommy pasti sangat mau tinggal sama Za, tapi Allah lebih membutuhkan Mommy dan asal Za tau, Mommy itu sayang sekali dengan Za," jelas Sameer pada sang putri.
"Kenapa Allah mengambil Mommy Za? Apa Allah nakal?," tanya Zafira polos. Sameer tersenyum tipis sambil menggaruk keningnya.
"Allah sayang dengan Mommy jadi Allah membawa Mommy ke surga, memberikan tempat yang bagus untuk Mommy. Allah itu tidak nakal. Allah itu sangat baik. Allah itu yang memberikan Daddy anak-anak yang lucu seperti Abang Zaf dan Adek Za"
"Kata Bu guru di sekolah kalau ada orang pergi ke surga itu artinya orangnya meninggal, orang meninggal itu tidak bernafas," celoteh Zafira.
Raut wajah Sameer sudah berubah keruh, Sameer kembali terdiam, tatapan matanya sendu. Itu memang sebuah kenyataan yang ada kalau Humaira sudah tidak berada lagi di sisinya maupun anak-anaknya.
"Daddy, aku mau berangkat. Aku akan terlambat nanti kalau mendengarkan ocehan Za yang tidak penting," ketus Zafran menatap Zafira tajam.
Sameer yang sedang melamun tersentak dengan suara Zafran.
"Abang Zaf sudah selesai makannya?," tanya Sameer mengalihkan perhatiannya pada Zafran. Sarapan yang tadi dia nikmati sudah tandas.
"Sudah Dad, aku juga sudah kenyang."
Zafran mengusap perutnya yang sudah kenyang.
"Baiklah Abang Zaf, masuklah kemobil dulu," jawab Sameer tersenyum pada putranya. Zafran pun segera turun dari kursinya berlalu meninggalkan Sameer dan Zafira yang masih duduk di meja makan.
"Nona muda juga harus berangkat, nanti Nona muda ditinggal tuan muda," kata Bi Marni yang sedari tadi hanya mengamati interaksi yang terjadi diantara ayah dan anak itu. Bi Marni pun cukup takjub dengan sikap Zafran yang sangat peka pada kondisi sang Ayah.
"Iya Nek," jawab Zafira. Zafira segera turun dari pangkuan sang Ayah menyusul Zafran yang lebih dulu keluar rumah.
__ADS_1
Selepas kedua anaknya pergi, Sameer memijat pangkal hidungnya. Sameer tidak menyangka putrinya yang baru berusia lima tahun akan menanyakan tentang sang Ibu karena memang selama ini Sameer tidak pernah menjelaskan secara detail mengenai Humaira.
"Sebaiknya Tuan harus mencari pendamping hidup," celetuk Bi Marni yang masih setia bekerja pada Sameer meskipun Humaira telah tiada.
"Masih sulit Bi, suatu hari nanti aku akan menjelaskan pada mereka berdua tentang Humaira."
"Mereka berdua memang sudah seharusnya mengerti Tuan. tapi saya rasa tuan muda Zafran lebih peka dengan kondisi Tuan. Dia terlihat cuek diluar tapi cukup perasa di dalam," sambung Bi Marni yang selama ini ikut membantu merawat kedua anak kembar itu semenjak mereka masih bayi.
"Iya Bi, saya juga sadar akan hal itu. Zafran lebih mengerti mengapa Mommy tidak ada disamping dia, Zafira dia lebih sensitif dan aku sangat sadar kalau dia juga merasa iri dengan teman-temannya."
"Jangan terlalu dipikirkan tuan, semua pasti ada masanya."
"Iya Bibi benar. kalau begitu saya berangkat dulu ya Bi kasihan mereka yang sudah menunggu di dalam mobil,"
"Baik tuan. hati-hati," pesan Bi Marni. Sameer menganggukan kepalanya, melenggang pergi meninggalkan ruang makan bahkan sarapan pagi yang telah tersaji di atas meja tidak dia sentuh sama sekali. Mendengar keluhan sang putri tadi cukup membuat nafsu makannya menurun.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ini adalah awal dari season kedua dari novel ini. Di season kedua mungkin akan lebih terfokus menceritakan kehidupan sang hot daddy Sameer.
Bagaimana cara dia merawat kedua malaikat kecilnya dan Bagaimana kalutnya dia saat ada beberapa perempuan yang ingin menarik perhatiannya.
Jangan Lupa ya selalu....
√ LIKE
√ KOMEN
√ RATE 🌟🌟🌟🌟🌟
√ VOTE
Kalian juga bisa follow IG ku... 🤭🤭🤭
__ADS_1