Dua Cincin Satu Cinta

Dua Cincin Satu Cinta
Bab 40


__ADS_3

"Zauya"


"Iya sayang" jawab Sameer


"Maafkan Elmir ya.!" Humaira mengobati sudut bibir Sameer yang terluka akibat pukulan Elmir.


"Tidak apa-apa sayang, bukankah ini memang salah Zauya" Sameer mengelus wajah Humaira lembut, seraya menampilkan senyum terbaiknya agar Humaira tidak lagi khawatir.


Walaupun jauh di dasar hatinya, ia sudah tau akan seperti ini dan ini resiko yang harus ia terima dari segala keputusannya yang gegabah.


"Sudahlah sayang kita lupakan saja, bukankah kita ke sini untuk liburan" Sameer menenangkan Humaira, mengelus lembut punggung tangan Humaira.


"Tapi Dinda merasa bersalah, Zauya seperti ini juga karena Elmir adik Dinda" Humaira menatap Sameer sendu


"Sudah cukup. Ok!" Sameer menarik tubuh Humaira ke dalam pelukannya memeluk erat penuh kasih.


"Kita ke sini mau bersenang-senang. Jadi Zauya tidak mau, bidadari Zauya ini sedih dan menangis. Apa kamu tidak kasihan dengan mereka? Kalau Mommy nya sedih, mereka pasti juga ikut sedih" Sameer mengelus perut Humaira yang membuncit. Ia sangat bahagia dan sudah tidak sabar lagi menanti kehadiran buah hatinya.


"Iya Zauya" Humaira menganggukan kepalanya mengerti.


"Itu baru bidadari Zauya yang paling cantik" Sameer mengecup kening Humaira. Humaira tersipu malu.


"Besok Dinda mau pergi kemana lagi?"


"Dinda ingin pergi ke Hagia Shopia dan Cappadocia" jawab Humaira antusias.


"Apa nanti kamu tidak akan lelah sayang?"


"Tidak Zauya, justru itu bisa membuat Dinda menjadi semangat. Dinda sudah tidak sabar untuk pergi kesana"


"Baiklah sayang ku, sekarang kita tidur. Pasti kamu juga sangat lelah"


Humaira membaringkan tubuhnya dengan Sameer yang memeluknya erat memberikan kehangatan. Sameer pun memberikan kecupan di kening sang istri.


***


Pagi yang cerah di langit Istanbul, kicauan burung bernyanyi riang diatas awan biru. Mama Kirana di bantu Humaira tengah sibuk menyiapkan sarapan pagi. Mama Kirana menyiapkan sarapan pagi khas Turki yang sengaja dia masak untuk sang putri.


"Mama sedang memasak sarapan apa?" tanya Humaira mencium bau masakan sang Mama yang menggoda selera.


"Sarapan khas Turki. Menemen untuk Papa mu karena dia paling suka sarapan seperti ini dan simit ortasinda yumurta sarapan favorite Elmir dan Akbar. Kalau kamu dan Sameer ingin sarapan apa? Biar Mama yang menyiapkan"


"Lagsna saja Mom, Kak Sameer termasuk orang yang tidak pilih-pilih makanan"


"Baiklah kalau begitu Mama akan siapkan. Kamu bisa duduk dulu"


"Papa, Elmir dan Gus Akbar kemana Ma?"


"Papa dan Elmir sedang diruang kerja. Akbar dia tadi mengikuti suami mu jogging" Humaira menganggukan kepalanya.


Suasana berbeda pun terasa di ruang kerja Papa Ibram, suasana tegang serta emosional lebih mendominasi. Papa Ibram dan Elmir saling memandang, pandangan mata yang saling berbicara satu sama lain.


"Kenapa kau gegabah seperti itu El?" tanya Papa Ibram yang menatap sang putra yang duduk dihadapannya dengan kepala yang menunduk.

__ADS_1


Elmir tau dirinya telah melakukan sebuah kesalahan, tapi di sisi lain pun ia juga tidak bisa membiarkan Humaira sang kakak menderita dengan sikap Sameer. Ia sungguh tidak menyangka kalau pria yang sudah ia kenal sejak ia masih kanak-kanak tega menyakiti kakaknya.


"Kenapa hanya diam?" tanya Papa Ibram menyorot tajam tepat di manik mata sang putra.


"Tanpa aku harus menjawab, seharusnya Papa sudah tau sendiri jawabannya" tutur Elmir ketus.


Papa Ibram mendesah pelan, mengusap wajahnya kasar. Sesekali kilasan masa lalunya berkelebat masuk ke dalam pikirannya.


Masa lalu yang sangat ia sesali, masa lalu yang membuat banyak orang terluka. Meninggalkan semua rasa penyesalan di dada.


Penyesalan yang sampai kapan pun akan membayangi hidupnya, sebuah penyesalan yang tidak akan terhapuskan.


"Maafkan Papa" ucap sang Papa lirih penuh penyesalan.


"Untuk apa meminta maaf? Toh semua sudah terjadi, kalau tidak ada lagi yang ingin Papa bicarakan Elmir keluar"


Tanpa menunggu jawaban sang Papa, Elmir berlalu meninggalkan Papa Ibram seorang diri di ruang kerjanya. Papa Ibram tertunduk sedih seraya menarik sebuah laci dimana di laci itu terdapat foto seorang wanita cantik yang tersenyum manis, senyuman manis yang akan selalu menghantuinya sampai kapan pun.


"Maafkan aku, yang sudah melukai hati mu" gumam Papa Ibram meneteskan air mata, air mata yang membasahi selembar foto yang sudah usang itu.


Mama Kirana memaku di depan pintu ruang kerja suaminya dengan secangkir kopi hangat di tangan. Ada rasa nyeri bersarang di dadanya tak kala melihat sebuah air mata menetes membasahi wajah sang suami.


Mama Kirana menundukkan kepalanya dalam, terluka, kecewa, sakit, semua rasa itu bercampur menjadi satu. Goresan luka yang semakin menyayat hatinya secara perlahan dan semakin dalam.


"Ma.." panggil Akbar menepuk pelan pundak Mama Kirana. Mama Kirana buru-buru menyeka air matanya sebelum berbalik menghadap Akbar yang tepat berdiri di belakangnya.


"Iya Bar" senyum Mama Kirana mencoba menyembunyikan rasa kecewanya.


"Tidak Bar" Mama Kirana menggeleng pelan, masih dengan senyuman manis yang tersungging untuk menutupi rasa yang sebenarnya dia rasakan.


"Lalu Mama untuk apa berdiri disini saja? Masuklah dan berikan kopinya. Papa pasti sudah menunggu"


"Ya sudah Mama mengantar kopinya ke dalam ya, Kamu sarapan lah dulu bersama yang lain"


"Iya Ma" Mama Kirana segera masuk ke dalam ruang kerja Papa Ibram.


"Maafkan Akbar ,Ma" batin Akbar menatap tubuh Mama Kirana yang telah menghilang dari balik pintu ruang kerja Papa Ibram.


****



Hagia Shopia adalah salah satu tempat bersejarah di Turki. Sebuah bangunan yang terkenal akan kubahnya yang besar dan indah.


Bangunan awal Hagia Shopia dulunya adalah sebuah gereja yang dibangun pada tahun 532-537 atas perintah Kaisar Romawi Timur.


Kemudian pada tahun 1453 M. Konstantinopel ditaklukkan oleh Utsmani  di bawah kepemimpinan Sultan Mehmed II, yang kemudian memerintahkan pengubahan gereja utama Kristen Ortodoks menjadi masjid.


Hagia Shopia pun banyak berubah fungsi, dari gereja, masjid, museum sampai sekarang berubah menjadi masjid kembali. Menjadikan Hagia Shopia sebagai salah satu tempat ibadah terbesar di Turki.


...


__ADS_1


...


Siang itu mereka berempat memutuskan untuk melakukan sholat dhuhur untuk pertama kalinya di Hagia Shopia.


Memasuki pintu utama Hagia Shopia, pandangan takjud tersirat dari mata mereka. Mereka kagum dengan keindahan Hagia Shopia yang megah dengan ukiran lafadz Allah di dinding masjid itu.


Meskipun Elmir yang lahir dan menetap di Turki, tapi ini pertama kali dirinya berkunjung ke Hagia Shopia karena beberapa saat lalu Hagia Shopia sempat di tutup, karena ada suatu permasalahan antara Pemerintah Turki dengan Uskup Katolik terkait fungsi Hagia Shopia.


"Rasanya aku ingin berkunjung ke sini setiap hari" kata Humaira masih dengan semangatnya menjelajah kota Istanbul dan menyusuri setiap sejarah di Turki.


Kekaguman Humaira tentang Turki memang sudah sejak lama dia simpan. Semasa di pondok dia mempelajari apapun tentang Turki baik itu sejarahnya maupun negara sendiri.


Dia pun harus menahan selama 10 tahun untuk bisa pergi ke Turki dan melihat langsung salah satu negara yang menjadi saksi bisu peradaban islam dibumi ini.


"Aku akan mengantar mu setiap hari ke sini setelah kamu melahirkan sayang" kata Sameer


"Ah..aku tidak yakin kalau akan bisa berkunjung ke sini lagi Zauya" gumamnya menerawang jauh Hagia Shopia yang berdiri kokoh.


"Mbak Mai pasti akan sibuk dengan si kembar" sahut Elmir. Humaira hanya tersenyum.


"Ok, setelah ini kita mau kemana lagi?" tanya Akbar memasang kacamata hitamnya siap untuk melanjutkan perjalanannya ke wisata selanjutnya.


"Gus, gimana kalau kita wisata kuliner. Aku sudah lapar Gus" Humaira mengelus perutnya sebagai tanda kalau dia butuh asupan untuk mengisi tenaganya.


"Aku setuju!" seru Elmir penuh semangat.


"Ayo kita wisata kuliner! Tenang ada Bos kontrakan yang siap membayar semua makanan kita" canda Akbar menepuk pundak Sameer.


"Sialan kau!" gerutu Sameer menatap sebal Akbar.


"Kita akan wisata kuliner dan juga belanja" timpal Akbar sekali lagu. Sameer memandang sinis Akbar.


"Kau bayar sendiri, kau juga kaya jangan belaga miskin" sahut Sameer ketus.


"Hey..kau lebih kaya dari ku Sam. Jadi kau jangan pelit, anggap saja ini sebagai sogokan kepada kakak ipar" kata Akbar memainkan kedua alisnya.


"Cih...mimpi saja sana kau. Aku tidak akan membayar tagihan mu. Kau bayar saja sendiri" kekeh Sameer.


"Dasar kau pelit sekali Sam"


"Biarkan!" kata Sameer cuek. "Ayo sayang kita pergi!" Sameer mengandeng Humaira meninggalkan Akbar yang memasang wajah cemberutnya, sedangkan Humaira dan Elmir hanya menggelengkan kepalanya dengan kelakuan dua pria dewasa itu.


****


Buat temen² sekalian aku minta


√ LIKE


√ KOMEN


√ RATE 🌟🌟🌟🌟🌟


Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2