Dua Cincin Satu Cinta

Dua Cincin Satu Cinta
DT ~ 14


__ADS_3

Hari terus berganti, sejak kejadian itu Umi Iza maupun Zafran tidak pernah bertemu lagi dengan sosok wanita yang mirip Humaira. Perlahan mereka pun melupakan sosok itu.


Umi Iza sendiri membuang jauh angan-angan dirinya tentang Humaira. Umi Iza tidak ingin melihat Sameer kembali sedih.


"Assalamualaikum," sapa seorang wanita dengan berpakaian gamis syari berwarna navy membuat kecantikan wanita itu semakin terpancar.


"Waalaikumsalam," sapa Umi Iza berjalan menuju arah pintu untuk menghampiri sang tamu.


"Apa kabar Umi?" sapa wanita itu menyalami tangan Umi Iza.


Umi Iza yang masih di liputi rasa terkejut dengan sosok yang berdiri di hadapannya hanya diam. Umi Iza memperhatikan penampilan wanita itu, wanita yang biasanya berpakaian seksi dengan make up tebal kini menutup tubuhnya dengan sepasang gamis syari dan khimar yang menutup dadanya tak lupa masih dengan make up yang menghiasi wajahnya hanya saja lebih natural.


"Alhamdulillah baik, mari masuk," Umi Iza mempersilahkan wanita itu.


"Aunty Dona," panggil Zafira menghampiri wanita berpakaian syari itu.


"Hy Za! Aunty bawa oleh-oleh untuk mu," Dona memberikan paper bag pada Zafira.


"Apa ini Aunty?"


"Kamu buka saja, pasti kamu akan suka."


Zafira membuka paper bag itu yang berisi sebuah boneka barbie keluaran terbaru.


"Wow! ini bagus sekali Aunty," kata Zafira menatap kagum. Binar bahagia terlihat di mata Zafira.


"Kembalikan Za," kata Zafran yang datang dari belakang Zafira menatap tidak suka dengan boneka yang di pegang Zafira.


"Memangnya kenapa? ini bagus. Aku suka."


Zafira mengerucutkan bibirnya cemberut. Zafran hanya mendengus sebal.

__ADS_1


"Aunty juga punya sesuatu untuk Abang Zaf," Dona menyodorkan satu paper bag lagi yang memang sudah Dona siapkan untuk Zafran.


"Tidak, terima kasih Aunty," tolak Zafran meninggalkan Dona tanpa peduli dengan tatapan penuh kecewa yang terpancar dari wajah Dona.


"Zafran memang tidak suka di beri hadiah. maafkan Zafran," kata Umi Iza.


Dona menampilkan senyuman manisnya untuk menutupi rasa kecewanya karena penolakan Zafran. Sejak awal mereka bertemu, Dona sudah menyadari kalau Zafran memang tidak menyukai dirinya. Entah apa alasannya Dona sendiri tidak paham.


...****************...


Tawa canda terdengar di dapur, Umi Iza tengah memasak bersama Dona untuk makan malam karena sebentar lagi Abi Ahmed dan Sameer akan tiba dirumah.


"Makanan kesukaan Sameer apa Umi?" tanya Dona memperhatikan Umi Iza yang memasak.


"Makanan favorit Sameer rendang," senyum Umi Iza memperhatikan Dona yang berdiri disampingnya.


"Aku ingin membuat rendang untuk Sameer tapi sayangnya aku tidak bisa memasak," Dona mengerucutkan bibirnya cemberut.


Dia bisa melakukan apa saja tapi hanya memasak yang tidak pernah bisa dia lakukan. Sejak berusia 10 tahun Ayahnya tidak pernah mengizinkannya masuk di dapur apalagi menyalakan kompor.


"Daddy yang tidak mengizinkan masuk dapur Umi," ujar Dona sendu.


"Kenapa bisa begitu?" Umi Iza menatap Dona penasaran.


Mengalirlah sebuah cerita dari mulut Dona. Ayahnya mengalami sebuah trauma yang berkaitan dengan dapur. Dulu Ibu Dona adalah seorang chef terkenal di Inggris, Ibu Dona memiliki sebuah restaurant yang cukup terkenal.


Ada sebuah kejadian di mana saat Ibu Dona tengah memantau pekerjaan pegawainya di dapur, tiba-tiba terjadi kebocoran gas yang menimbulkan sebuah ledakan yang seketika membuat dapur itu terbakar. Mengakibatkan Ibu Dona bersama 4 orang pegawainya terjebak dan terbakar didalam dapur itu. Tubuh mereka bahkan sudah hangus dilalap api, sampai tidak mampu di kenali lagi. Semua itu terjadi saat usia Dona menginjak 10 tahun.


Sejak kejadian itu membuat Albert Ayah Dona mengalami trauma berat, wanita yang begitu di cintainya harus meninggal dengan cara yang tragis bahkan dia tidak mampu mengenali wajah sang istri, hanya sebuah cincin pernikahan yang pada saat itu masih tersemat di jari manisnya yang bisa dia kenali.


Meskipun peristiwa itu berlangsung lama tapi Albert masih tetap tidak mengizinkan Dona untuk menginjakkan kaki di dapur bahkan untuk hanya sekedar menyalakan kompor pun Albert tidak mengizinkan. Albert tidak ingin putri semata wayangnya sekaligus satu-satunya orang yang dimiliki di dunia ini harus meninggal secara tragis di dapur.

__ADS_1


"Umi turut berduka cita, itu sudah berlalu sangat lama. Semoga Daddy mu bisa segera melupakan itu," Umi Iza memberikan pelukan hangat untuk Dona.


Dona memejamkan matanya meresapi hangatnya pelukan Umi Iza, pelukan sosok seorang Ibu yang selama ini telah lama dia rindukan.


"Terima kasih Umi," senyum Dona.


"Tidak apa-apa, Umi senang karena memiliki seorang anak perempuan," Umi Iza menggenggam tangan Dona erat seakan menyalurkan kekuatan untuk Dona.


"Umi, apa Dona boleh tanya sesuatu?"


"Tanya apa? Umi akan menjawab selama Umi bisa menjawabnya."


"Bagaimana sosok istri Sameer? Dona ingin tahu seperti apa...."


"Jangan melewati batas mu!" teriak Sameer yang berjalan menuju arah dapur.


Dona yang belum menyelesaikan kalimatnya mengalihkan tatapannya pada sosok Sameer yang memberikannya tatapan tajam bak tatapan burung elang yang mengincar mangsanya.


...****************...


Hy...hy...


Merry Christmas ya...⛄🎄


bagi kalian semua yang merayakan.


Damai natal bersama kalian semua.


Maaf ya baru bisa up sekrang. karena flu lagi melanda 🤧🤭🤣


Selalu semangat ya, jaga kesehatan kalian semua... 🤗

__ADS_1


Tetep ya KOMEN+LIKE+VOTE


Makasih 😘


__ADS_2