
Sameer berjalan lunglai meninggalkan kamar Elena. Perasaan sedih masih dia rasakan, bahkan di akhir hayatnya Elena masih menyimpan rasa cinta padanya.
"Maafkan aku Ele" batin Sameer menatap langit-langit koridor rumah sakit, menghalau air mata yang akan jatuh.
"Kak" panggil Elmir menghampiri Sameer yang bersandar. Elmir bisa melihat ada kesedihan di mata Sameer.
"Apa terjadi sesuatu dengan kak Elena?" tanya Elmir hati-hati. Sameer menganggukan kepalanya.
"Dia.....meninggal" Sameer menarik nafas panjang. Sameer tidak bisa menyembunyikan kesedihannya.
Elmir terdiam. Berita kematian Elena cukup membuatnya terkejut.
"Semoga segala amal ibadah kak Elena di terima disisi Nya"
"Amin.." Sameer menganggukan kepalanya mengamini ucapan Elmir.
__ADS_1
"Tadi ada apa El mencari ku?"
"Oh itu..bayi kakak membutuhkan mu untuk segera di adzani, mereka berdua sudah di pindahkan keruang bayi" jelas Elmir.
"Baiklah"
Setibanya diruang bayi, Sameer menghampiri kedua box bayi yang satu berwarna biru dan satu berwarna pink. Dipandangi bayi kembar berbeda kelamin itu, senyuman manis seketika terbit dari bibir Sameer, jantungnya berdegup kencang, darah berdesir tak kala melihat kedua bayi itu. Apalagi bayi perempuan yang menduplikat wajah Humaira, mulai dari garis wajahnya, hidung serta bibir bayi itu.
Disentuhnya bayi mungil itu, dikecupnya kening putranya. Tangannya bahkan bergetar, matanya sudah berkaca-kaca. Akhirnya dia bisa melihat wajah tampan sang putra yang lahir terlebih dahulu.
Ada rasa bahagia sekaligus sedih. Bahagia karena anaknya telah lahir ke dunia melihat indahnya dunia ini. Setelah delapan bulan berdiam diri didalam perut istrinya.
Tapi di isisi lain dia juga merasakan kesedihan yang mendalam, sejak sang istri selesai di operasi. Belum ada tanda-tanda sang istri terbangun dari tidurnya. Dokter pun telah memberikan diagnosa kalau Humaira mengalami cidera otak yang kemungkinan untuk sadar adalah kecil.
Terpukul itu pasti, mendapati kenyataan yang tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan. Dia berharap sang istri cepat bangun dan bisa memberikan ASI pertama untuk putra-putri mereka. tapi ternyata harapan berbicara lain. Humaira masih setia dengan tidur panjangnya.
__ADS_1
......................
Seminggu berlalu semenjak kecelakaan itu, Sameer setiap hari berkunjung ke kamar Humaira. Sameer telah menyulap kamar perawatan Humaira menjadi seperti kamar pribadi mereka. Sameer tidak ingin meninggalkan sang istri begitu saja, dia ingin menjadi orang pertama yang melihat istrinya bangun.
"Sayang, ini sudah seminggu kamu tertidur. Apa kamu tidak lelah?" tanya Sameer berbicara pada Humaira seraya mengelap tubuh Humaira.
"Anak kita sudah lahir sayang, dia laki-laki dan juga perempuan. Yang laki-laki sangat tampan seperti ku dan yang perempuan mirip sekali dengan mu" kata Sameer masih asik mengajak Humaira untuk berbincang. Sameer pikir dengan mengajak Humaira untuk berkomunikasi bisa membuat Humaira terbangun dari tidur nyenyaknya.
"Zauya. belum memberi dia nama. Zauya ingin kamu yang memberikan dia nama sayang. Zauya akan setia menunggu kamu bangun" Sameer mengecup kening Humaira.
"Oh ya...Umi dan Abi juga ada disini, mereka bahagia ada kehadiran cucu mereka sekaligus mereka juga merindukan kamu. Mereka rindu masakan kamu" cerita Sameer seraya tersenyum. Ia ingin menampilkan senyuman terbaiknya dihadapan istrinya walaupun disisi lain hatinya merasa hancur.
Sameer terus berharap cerita bahagia yang selalu dia ceritakan mampu merangsang perkembangan otak Humaira agar cepat sadar. Sameer ingin mereka bisa berkumpul kembali seperti dulu.
Tertawa dan bercanda bersama, apalagi sekarang ini ditengah-tengah mereka ada kedua malaikat kecil yang akan senantiasa memberikan warna baru di kehidupan mereka.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...