
Hampir satu jam operasi itu berjalan..lampu operasi masih berwarna merah menandakan operasi masih berjalan.
Seorang dokter dan seorang suster keluar dari ruang operasi itu. Mereka menghampiri keluarga Humaira yang masih diselimuti kesedihan.
"Dokter bagaimana keadaan istri ku?" tanya Sameer tidak sabar untuk mengetahui kondisi Humaira. Rasa cemas melanda hatinya.
"Nyonya Humaira masih menjalani operasi, beliau kehilangan banyak darah" jelas Dokter itu.
Tubuh Sameer seketika lemas, dia tahu didalam sana sang istri tengah mempertaruhkan nyawanya.
Mama Kirana tak kalah terpukulnya mendengar informasi tentang keadaan Humaira.
"Lalu bagaimana dengan bayi yang di kandung dok?" tanya Akbar tak kalah cemasnya.
"Kedua bayi nyonya Humaira lahir dengan selamat. Bayinya laki-laki dan perempuan. Tapi kami masih harus menangani kondisi Nyonya Humaira yang masih belum stabil, ada pendarahan di otak Nyonya Humaira terdapat darah beku didalamnya. Mari kita semua berdoa untuk kesembuhan Nyonya Humaira" kata Sang dokter.
"Terima kasih dok" jawab Elmir.
Mereka semua terdiam setelah mendengar semua penjelasan dokter. Humaira masih dalam kondisi yang belum stabil bahkan kepalanya mengalami cidera sampai ada darah beku di dalamnya.
Perasaan mereka kini campur aduk, di satu sisi mereka bahagia kedua anak Humaira lahir dengan selamat tapi disisi lain mereka masih merasakan ke khawatiran yang mendalam tentang kondisi Humaira yang masih belum ada kejelasan. Saat ini posisi Humaira ada di antara hidup dan juga mati.
****
Di sisi lain..
Erik masih setia menemani Elena yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Alat medis terpasang di seluruh tubuh Elena untuk menopang hidup Elena yang sedang dalam masa kritis.
Sekelebat bayangan kecelakaan yang menimpa Elena terus membayangi Erik. Erik tidak tahu harus seperti apa nantinya menjelaskan pada Sabrina tentang keadaan Elena yang berada di ambang hidup dan mati. Bahkan dokter saja sudah pesimis mengenai keadaan Elena.
Flashback
Beberapa jam sebelum kejadian..
"Elena!" teriak Erik saat melihat Elena menuju pusat wisata kuliner Cappadocia. Elena berjalan dengan tergesa-gesa tidak sabar ingin menghampiri Sameer dan Humaira yang sedang mengantri di kedai kebab yang berada di seberang jalan.
"Tunggu Lena!" Teriak Erik berhasil meraih tangan Elena, menghentikan langkah Elena.
"Erik, kau tau aku disini?" tanya Elena terkejut mendapati Erik menyusulnya.
"Iya, karena aku mengkhawatirkan mu. Kamu mau kemana sayang?" tanya Erik membelai lembut wajah Elena yang terlihat pucat dengan lingkaran mata yang hitam.
"Aku mau bertemu Sameer dan Humaira, aku harus bicara dengan mereka" kata Elena tidak sabar untuk bertemu Sameer dan Humaira.
"Kita bicara nanti, kamu terlihat pucat sekali"
"Tidak! Aku harus bicara dengan Sameer. aku ingin kembali dengannya" kata Elena tegas
"Elena, apa kamu sadar dengan apa yang kamu katakan?"
"Aku sadar Rik, sangat sadar. Aku jatuh cinta kembali pada Sameer. Aku ingin bertemu dengan Sameer dan mengatakan semuanya kalau aku mencintainya" Ujar Elena kekeh.
"Tapi Lena, Sameer sudah milik Humaira. Jadi menyerah lah"
Elena menggelengkan kepalanya berulang kali, melemparkan tatapan sendunya.
"Aku tau itu Rik, tapi tidak kah aku bisa memiliki kesempatan untuk terakhir kalinya?"
"Sayang, kamu masih memiliki aku dan juga Sabrina. Mari kita buat kebahagiaan kita sendiri"
__ADS_1
"Izinkan untuk ku terakhir kalinya mengatakan kalau aku mencintai Sameer. Setelah itu aku akan menyerah" putus Elena. Erik mengangguk pasrah.
Elena melepas tangan Erik bergegas menuju arah Sameer. Senyuman manis tersungging di wajah Elena tak kala jaraknya dengan Sameer sudah dekat.
Wajah pria yang pernah menjadi cinta pertama sekaligus suami nya masih tetap tampan bahkan wajahnya semakin berseri.
"Elena hati-hati kalau menyebrang" teriak Erik.
Elena yang sudah merasakan kebahagiaan yang membuncah, tidak memperhatikan langkahnya saat ada sebuah mobil yang melaju cukup kencang.
"Mbak Elena!" teriak Humaira.
Elena berhenti mencari suara Humaira yang memanggil namanya. Senyuman melengkung dari bibir Elena.
"Elena Awas!!" teriak Erik sekali lagi saat melihat mobil itu semakin berjalan mendekat.
Brukkk....
Cittt.....
"Mbak Mai!" teriak Elmir dari seberang jalan saat menyaksikan sang kakak menyelamatkan Elena.
Humaira dan Elena berguling ditengah aspal, darah segar mengucur dari kepala keduanya. Elmir berlari menghampiri Humaira yang tergeletak tak berdaya dengan kesadaran yang sudah mulai melemah.
"Mbak Mai!" tangis Elmir memangku kepala Humaira yang mengeluarkan banyak darah.
Tak berapa lama Sameer dan Akbar pun datang mendekat. Raut wajah kesedihan terlihat jelas dari sosok Sameer, apalagi istrinya tengah tergeletak tak berdaya.
"Elena! bangunlah sayang" ucap Erik tak jauh dari posisi Humaira
"Bertahan lah sebentar lagi ambulan akan datang" Erik mengelus wajah Elena penuh kasih.
"E-erik ma..maafkan aku, a..a..aku banyak ber..dosa kepada mu dan Sa...brina" ujar Elena terbata.
"Sayang jangan bicara dulu, jaga kondisi mu. Bertahan lah sayang, jangan tinggalkan aku" tutur Erik tidak bisa memendung kesedihannya.
"E..erik!" panggil Elena lirih mengangkat tangannya perlahan menghapus air mata yang jatuh dari mata indah suaminya, sebelum sebuah kesadaran yang sempat menguasai dirinya hilang lenyap.
"Elena!" teriak Erik memeluk Elena erat sampai sebuah mobil ambulan datang mengangkut tubuh kedua wanita itu dan membawanya menuju ke rumah sakit.
Flashback End
...----------------...
Sebuah gerakan kecil terlihat dari tangan Elena, gerakan kecil yang perlahan semakin intens terjadi. Perlahan kelopak mata Elena bergerak, menandakan masa kritis telah terlewati.
"Erik..." ucap Elena lirih bercampur serak.
"Sayang..." kata Erik terkejut saat mendengar suara Elena. "Ya ampun sayang kamu sudah bangun, Terima kasih Tuhan" dikecupnya tangan Elena berulang kali sebagai wujud rasa syukur yang Erik rasakan terhadap kembalinya Elena.
"Tunggu sebentar, Aku akan panggil dokter" Erik bangkit dari tempat duduknya namun tertahan saat tangan Elena menggenggam erat tangan Erik.
"Tolong panggilkan Sameer saja, Rik. Ada yang ingin aku bicarakan" pinta Elena.
Hati Erik merasakan sakit serta kecewa mendengar permintaan Elena. Disaat Elena baru terbangun dari masa kritisnya, masih tetap mencari seorang Sameer. Harapan dia untuk memiliki Elena kembali sepertinya sudah sirna, dia harus melepaskan Elena agar Elena bisa bahagia dengan pilihannya nanti.
"Baiklah. aku akan memanggilkan Sameer" kata Erik pasrah seraya meninggalkan Elena.
Tak berselang lama, Erik tiba membawa Sameer. Sameer menatap iba Elena yang terbaring lemah diranjang itu bahkan masih dengan alat medis yang menempel di sekujur tubuhnya.
__ADS_1
"Sayang, Sameer sudah datang" kata Erik mengelus punggung tangan Elena.
Elena membuka matanya menatap wajah Sameer yang berdiri disampingnya. Seulas senyuman manis Elena tunjukkan untuk menyambut kehadiran Sameer.
"Aku akan keluar, bicaralah dengan Sameer" tutur Erik.
"Kamu disini saja, temani aku" pinta Elena tidak membiarkan Erik pergi.
Erik tampak terkejut mendengar permintaan Elena yang tidak mengizinkannya pergi, malah memintanya menemaninya saat berbincang dengan Sameer.
"Sam, maafkan aku. Maafkan atas semua kesalahan ku selama ini. Aku telah banyak berdosa telah menyakiti perasaan mu dan Humaira. Mungkin ini adalah permintaan maaf ku yang terakhir untuk mu" kata Elena lirih sambil sesekali menarik nafasnya, dia masih merasakan sesak di dada setiap kali berbicara.
"Aku mencintai mu Sam" ucap Elena lirih beserta air mata yang mengalir.
"Sam, berbahagialah bersama Humaira dan anak-anak kalian. Maafkan aku!" ucap Elena sekali lagi.
"Kau tidak perlu minta maaf Ele, aku telah memaafkan mu. Terima kasih aku pasti akan berbahagia bersama Humaira dan kamu berbahagialah bersama Erik dan juga putri mu Sabrina"
Elena tersenyum menggelengkan kepalanya. Pandangan yang sedari tadi berpusat pada sosok Sameer kini teralihkan pada sosok Erik yang berdiri disamping Sameer. Pria yang masih berstatus sebagai suaminya itu masih setia menggenggam tangannya erat.
"Sayang.." panggil Elena tersenyum menatap Erik.
"Maafkan aku!" ucap Elena menangis
"Aku menyayangi mu, karena tindakan bodoh ku. aku memilih meninggalkan mu serta Sabrina"
"Aku pun menyayangi mu" Erik mengecup punggung tangan Elena.
"Aku sangat merindukan Sabrina. Aku sangat ingin bertemu dengan Sabrina. Tapi...waktu yang ku miliki tidaklah banyak" tutur Elena
"Kamu masih memiliki waktu yang banyak sayang untuk bertemu Sabrina, Sabrina pun juga sangat merindukan mu. Dia merindukan Mami nya. Berhenti lah berbicara aku akan memanggil dokter" Kata Erik mulai merasakan cemas. Perasaannya mulai tidak menentu, dia takut apa yang dia pikirkan akan terjadi.
"Aku menyayangi mu dan Sabrina. Berbahagialah Sayang" ucap Erik menampilkan senyum terbaiknya.
"Sam, tuntun aku" pinta Elena mencoba meraih tangan Sameer.
Sameer pun tidak bisa menahan air matanya. Ada rasa sesak di dada menyaksikan orang yang dulu pernah dia cintai berada di ujung kehidupan dunia. Sameer menarik nafas panjang, menghembuskannya kasar. Mengusap wajahnya berkali-kali menandakan kalau dia merasa sangat tertekan.
Sameer mendekati Elena. Sameer mentalqin Elena secara perlahan tepat di telinga Elena dengan mengucapkan syahadat.
"Laa illaaha illa Allah" ucap Elena terbata.
Sekali tarikan nafas, mata Elena mengeluarkan air mata, senyuman manis terukir di wajahnya untuk terakhir kalinya. Bunyi monitor pun sudah berdering nyaring menandakan Elena telah pergi ke sang khalik.
Erik tertunduk menangis, derai air mata tidak dapat di bendungnya lagi. Dia menyaksikan sendiri sang istri berada disakaratul maut. Melihat sang istri meninggal sebagai seorang muslim.
Erik memeluk Elena erat, di kecupnya seluruh wajah Elena untuk terakhir kalinya. Wajahnya yang begitu cantik dengan senyuman yang tersungging indah.
"Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un" ucap Sameer memposisikan tangan Elena layaknya seorang muslim yang meninggal pada umumnya. Di usapnya mata Elena agar tertutup sempurna.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jangan Lupa...
√ LIKE
√ KOMEN
√ RATE 🌟🌟🌟🌟🌟
__ADS_1
√ Mau VOTE juga boleh
Terima kasih selalu dukung karya ku ya 🤗