Dua Cincin Satu Cinta

Dua Cincin Satu Cinta
Pemakaman


__ADS_3

Setelah Sameer tersadar dari pingsannya. Dia dengan sekuat tenaga bergegas mengurus segala keperluan untuk kepulangan jenazah Humaira ke tanah air. Dia ingin Humaira di makamkan di tanah air, tanah tempat dimana Humaira dilahirkan sekaligus tanah dimana dia harus kembali.


Derai air mata terus bergulir bahkan matanya sudah memerah, dia tidak peduli orang lain memandangnya aneh, bahkan mungkin akan menganggapnya cengeng. Dia tidak perduli akan hal itu karena mereka tidak akan tahu seberapa hancur hatinya kini. Orang lain tidak akan bisa mengerti, mereka tidak berada di posisinya saat ini.


"Sam, istirahat lah" perintah Abi Ahmed meremas pundak Sameer. Abi Ahmed tidak tega melihat keadaan sang putra yang terlihat kuyu dan sangat berantakan. Bahkan baju yang Sameer kenakan sudah tampak begitu lusuh.


"Sam tidak lelah Abi." jawab Sameer lirih seraya menundukkan kepalanya. Air mata terus saja menetes, seharian ini dia hanya meneteskan air matanya sebagai ungkapan luka di hatinya.


"Setelah ini kita akan kembali ke Indonesia Sam, kamu harus jaga kondisi mu. Bukan kah kamu sendiri yang ingin mengantar Humaira di rumah terakhirnya?" terang Abi Ahmed menepuk pundak Sameer pelan.


"I-ya Abi" jawab Sameer terbata sambil menganggukkan kepalanya.


Abi Ahmed menarik Sameer kedalam pelukannya, memeluk sang putra yang tengah rapuh. Abi Ahmed menepuk punggung Sameer yang bergetar karena tangisnya.


Ia sangat tahu kalau putranya tengah menyesal dan terluka, ia bisa merasakan apa yang putranya rasakan. Ini seperti kehancuran bagi putranya. Putranya yang gagah tampak begitu frustasi dengan kepergian wanita yang dicintainya.


"Ini adalah karma untuk Sameer, Abi" kata Sameer menyesali segala perbuatannya selama ini kepada sang istri. Ia meremas rambutnya menandakan kalau dia sangat frustasi.


"Tidak Sam, kamu sudah berusaha menjadi suami yang baik untuk Humaira" Abi Ahmed membesarkan hati Sameer agar tidak semakin terpuruk karena kondisinya.


"Tidak Abi" Sameer menggelengkan kepalanya. "Sameer telah gagal."


"Kuatlah Sam, demi kedua anak mu. Mereka membutuhkan diri mu. kalau kamu seperti ini bagaimana dengan mereka yang masih membutuhkan kasih sayang mu." nasehat Abi Ahmed kembali mengingatkan Sameer kalau dia masih memiliki tanggung jawab untuk memberikan kasih sayang pada kedua anaknya yang masih bayi.


"Ini berat Abi, Aku...." Nafas Sameer tercekat menghentikan sejenak ucapannya. "Aku tidak sanggup harus hidup tanpa Humaira, dia belahan jiwa ku" Sameer menutup wajahnya, isak tangis kembali terdengar.

__ADS_1


Tak jauh dari tempat Abi Ahmed dan Sameer ada Umi Iza yang memperhatikan Sameer. Ia tak kalah sedihnya melihat kerapuhan yang nampak jelas dari putranya. Ia pun sesekali menyeka air mata yang terus mengalir.


Ia sendiri pun masih tidak percaya kalau menantu yang sangat dia sayangi telah secepat ini pergi. Meninggalkan seorang suami yang amat mencintainya serta kedua bayi yang masih merah, yang membutuhkan belaian kasih seorang Ibu.


"Lihatlah sayang, suami mu begitu mencintai mu. Berbahagia lah disana." bati Umi Iza menyeka air matanya sambil menyunggingkan bibirnya melengkung ke atas.


...****************...


Gundukan tanah yang masih basah bertabur bunga. Sameer masih setia membelai nisan yang telah terukir nama Humaira. Dia masih tidak menyangka kalau kebersamaannya dengan Humaira hanya sampai disini, takdirnya untuk bersama Humaira hanya sampai disini saja.


Andaikan takdir bisa dirubah, dia ingin menjadi orang pertama yang akan merubah takdir itu. Dia akan memberikan limpahan kebahagiaan untuk istrinya dan tidak akan membiarkan istrinya terluka sedikit pun. Tapi nyatanya takdir tetaplah takdir. Dia tidak bisa lagi melawan takdir yang telah di tetapkan oleh sang maha kuasa.


"Kenapa kamu secepat ini? tidakkah kau mencintai ku sampai kamu tega meninggalkan ku seorang diri dan anak-anak kita." Sameer menundukkan kepalanya, menarik nafas dalam.


"Mereka masih membutuhkan mu begitu pun aku. Apa yang harus aku lakukan dengan mereka sayang? Kamu menghadirkan mereka ke dunia tapi kamu malah memilih pergi meninggalkan kami" ungkap Sameer terus membelai nisan itu.


"Ayo Sam kita pulang! langit mendung sebentar lagi akan turun hujan" ajak Akbar yang sedari tadi menemani Sameer.


"Pulanglah Bar!, aku masih ingin disini bersama istri ku." katanya lirih.


"Sam, jangan seperti ini. kalau kamu terus terpuruk kasihan Zafran dan Zafira mereka membutuhkan mu."


"Aku tau itu. Tapi apa kamu tahu betapa sakitnya hati ku ?." tanya Sameer menatap gundukan tanah itu dengan pandangan kosong menerawang jauh.


Dadanya masih terasa sesak setiap kali memikirkan kalau Humaira tidak ada lagi disisinya, tidak akan lagi menemani hari-harinya. Kenyataan yang semakin membuatnya sakit.

__ADS_1


"Aku tau apa yang kamu rasakan Sam, aku pun merasa kehilangan adik ku. Meskipun kita tidak tumbuh besar bersama tapi saat dia masih di pondok aku selalu memperhatikannya."


Akbar menarik nafas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan. Dia pun merasakan kehilangan sosok adik yang selalu ceria serta selalu tersenyum bagaimana pun keadaannya.


"Kado terakhir dari Humaira." kata Akbar menyerahkan sebuah kotak berwarna coklat.


"Kado?" Sameer mengernyitkan keningnya sambil menerima kotak berwarna coklat.


"Buka lah dirumah Sam, kini saatnya kita pulang. Kasihan Zafran dan Zafira" Akbar meremas pundak Sameer pelan sambil berlalu meninggalkan Sameer yang masih setia menatap nanar kado pemberian Humaira, yang dia sendiri bahkan tidak tahu kapan Humaira menyiapkan kado itu.


...----------------...


Ada yang mau ini di buat SEASON 2???


kalo ada yang setuju aku bakalan buat season 2. Season 2 akan lebih berpusat pada sosok Sameer.


Kalau setuju kalian bisa komen di bawah ya...🤭🤭


HAL WAJIB YANG HARUS KALIAN LAKUIN....☺☺


√ LIKE


√ KOMEN


√ RATE 🌟🌟🌟🌟🌟

__ADS_1


Terima kasih buat kalian semua 😘😘😘😘


__ADS_2