Dua Cincin Satu Cinta

Dua Cincin Satu Cinta
DT ~ 3


__ADS_3

Semilir angin berhembus membelai lembut tubuh Sameer yang tengah bersimpuh dihadapan sebuah nisan. Kepalanya menunduk dalam, memanjatkan doa kepada sang khalik untuk tempat terbaik bagi sang kekasih hati tercinta.


Tiba-tiba rasa sesak itu menyerangnya tepat didadanya. Ia kembali mengingat setiap kenangan manis yang telah tercipta antara dirinya serta sang istri. Kenangan yang sulit pergi dari otaknya walaupun dia pernah menyoba untuk mengusirnya. Matanya mulai terasa berkabut saat mengingat semua kenangan itu, kenangan yang penuh senyuman sekaligus penuh luka.


Rasa penyesalan itu selalu menggantuinya disetiap saat. Dia merasa menjadi suami yang paling bodoh selama ini, telah membiarkan sang istri terluka. Luka yang dia torehkan sendiri. Andaikan dia memiliki satu kesempatan lagi, dia ingin membahagiakan sang istri, ingin memberikan cinta serta menghujani sang istri dengan kebahagiaan yang melimpah. Tapi sayang seribu sayang. semua itu hanya angan yang dia miliki yang sangat mustahil untuk terwujud.


"Apa kabar sayang?," sapa Sameer tersenyum.


"Apa kamu bahagia disana? Hem...." Sameer terdiam, nafasnya tercekat, kabut yang sedari tadi menutupi pandangannya berubah menjadi cairan bening yang perlahan meluncur membasahi wajah tampannya. Dia selalu terlihat rapuh saat berada dihadapan sang istri.


"Hem...malaikat kecil kita sudah tumbuh menjadi anak yang cerdas, mereka sangat merindukan mu. Aku merasa rapuh setiap mereka bertanya tentang Mommy mereka, apa yang harus aku lakukan sayang?," isaknya pilu.


Kilasan bayangan terus berputar didalam pikirannya, dimana saat berusia dua tahun sang anak selalu menanyakan kemana Ibu mereka. kenapa Ibu mereka tidak ada bersama mereka?.


Saat itu setiap sang anak bertanya, dia merasa sedih apa yang bisa dia jelaskan tentang seorang ibu pada kedua anaknya. Karena nyatanya sejak mereka lahir mereka tidak pernah merasakan kasih sayang seorang Ibu. Bahkan mereka harus menerima bantuan ASI dari bank ASI untuk memenuhi asupan gizi bagi kedua anaknya.


"Sejujurnya aku tidak sanggup untuk bertahan tanpa diri mu, tapi...setiap melihat tawa anak-anak kita itu sudah seperti vitamin bagi ku,"


"Berilah aku kekuatan untuk menjaga kedua anak kita sayang," Sameer mengelus nisan bertuliskan nama sang istri.


"Bahagialah disana, maafkan aku yang belum bisa membahagiakan mu."


Sameer meletakan bunga tulip putih diatas nisan itu, menatapnya nanar. Sampai saat ini hatinya masih belum mampu untuk berdamai dengan kepergian Humaira. Kepergian Humaira sama saja menghilangkan separuh nyawanya.


...****************...


Setelah dari makam sang istri, Sameer mengendarai mobilnya menuju kesekolah anaknya. Sameer pun menyiapkan senyuman terbaiknya untuk menyambut sang anak. Dia tidak ingin anaknya melihatnya berwajah murung ataupun bersedih, apalagi menangis.

__ADS_1


Selama ini dia berperan sebagai seorang strong Daddy. Daddy yang selalu kuat dan tegar dihadapan anak-anaknya. Cukup dia yang merasakan kesedihan itu, tidak untuk anak-anaknya. Dia selalu ingin melihat tawa bahagia dari kedua malaikat kecilnya.


"Daddy!," teriak kedua anaknya yang berlari menghampiri Sameer yang sudah menunggu mereka digerbang sekolah.


"Tangkap aku Daddy," teriak kedua anak penuh binar bahagia.


Hap...! Sameer menangkap kedua anaknya mengendongnya secara bersamaan. Mereka memberikan kecupan di kedua pipi Sameer, membuat Sameer tersenyum bahagia.


"Love you, Daddy," ucap mereka secara bersamaan.


"Love you too my angel," balas Sameer memberikan kecupan kedua pipi anaknya secara bergantian.


Para orang tua yang datang menjemput anak-anak mereka memperhatikan interaksi hot daddy itu dengan kedua anaknya.


Beberapa dari mereka menatapnya penuh kekaguman. Mereka merasa sangat langka seorang pria tampan seperti Sameer bisa merawat anak kecil dengan baik tanpa bantuan seorang istri. Sesuatu yang sulit dipercaya, apalagi kesibukannya sebagai seorang pimpinan perusahaan membuatnya masih menyempatkan waktu untuk menjemput anaknya sendiri.


"Kita akan pulang atau kekantor, Daddy?," tanya Zafran setelah sang Daddy memasang sabuk pengaman dikursi penumpang.


"Daddy, tadi Papi datang kesekolah membawakan kita makanan," kata Zafira mengeluarkan paper bag kecil dari dalam tas punggungnya.


"Makanan apa itu? Coba tunjukkan pada Daddy."


Papi adalah panggilan dari mereka untuk Akbar. Akbar memang meminta mereka untuk memanggilnya dengan sebutan Papi. Akbar merasa kalau mereka juga merupakan anak-anaknya.


"Ada coklat, Ada cheese cake sama susu," Zafira membongkar semua makanan yang berada didalam paper bagnya.


"Itu sepertinya sangat enak, kalian boleh makan kalau sudah tiba dikantor ya."

__ADS_1


"Ok Daddy," Zafira mengacungkan jempot antusias. Dia sudah tidak sabar mencicipi makanan kesukaannya itu.


"Papi juga mengirimkan mainan kerumah," timpal Zafran masih duduk dengan tenang tanpa terpengaruh saudarinya yang membongkar paper bag berisi makanan itu.


"Mainan?," Sameer menatap wajah putranya dari kaca mobil.


"Iya Dad, tadi Papi bilang seperti itu. Katanya itu kado dari Mami," jelas Zafran


"Mami?," Sameer mengangkat sebelah alisnya. "Ok, coba nanti Daddy tanya sama Papi Akbar,"


"Mami itu katanya istri Papi Akbar," sahut Zafran melihat sang Daddy yang kebingungan.


"Istri itu apa?," celetuk Zafira.


"Sudah diam saja, dasar anak kecil," omel Zafran melipat kedua tangannya didada. Zafira mengerucutkan bibirnya mendengar jawaban ketus sang kakak.


"Abang juga kecil," balas Zafira tidak terima.


"Sejak kapan aku bilang besar?," Zafran menatap Zafira tajam.


"Daddy, Abang nakal," rengek Zafira.


"Dasar pengadu," dengus Zafran menatap keluar jendela.


"Abang Zaf, bicara yang lembut sama Adeknya. Abang kan bisa berbicara yang baik," nasehat Sameer masih memantau mereka dari kaca.


"Za sangat cerewet dan berisik Dad, aku merasa tidak nyaman. Seperti Nenek Nani," keluh Zafran.

__ADS_1


Sameer menggelengkan kepalanya heran. Mereka berdua memang selalu berdebat. Zafira memiliki sifatnya ceria serta cerewet berbeda dengan Zafran yang lebih pendiam, cuek dan tenang.


...****************...


__ADS_2