Dua Cincin Satu Cinta

Dua Cincin Satu Cinta
DT ~ 10


__ADS_3

Sepulang dari sekolah Zafran mengurung diri didalam kamar. Seluruh orang di rumah merasa aneh dengan sikap Zafran karena tidak biasanya Zafran bersikap seperti itu apalagi sampai mengurung diri.


"Adek Za tidak tahu kenapa Abang Zaf seperti itu?," tanya Bi Nani pada Zafira yang tengah menikmati kue brownies buatan Bi Marni.


"Za tidak tau Nek, Abang dari sekolah sudah seperti itu."


"Zaf memang pendiam tapi tidak pernah melewatkan makan siangnya," gumam Bi Marni.


"Ada apa Bi?," tanya Umi Jza yang baru saja menyelesaikan aktifitas berkebunnya.


"Itu Nyonya, Abang Zaf gak mau makan siang dari pulang sekolah dan sekarang mengurung diri di dalam kamar," jelas Bi Marni.


"Kenapa dengan Zaf ? coba saya lihat. Tolong ya Bi siapkan makan siang untuk Zaf!,"


"Baik Nyonya," kata Bi Nani lekas menyiapkan makan siang untuk Zaf.


Umi Iza membawa nampan ditangannya berjalan menuju kamar Zafran di lantai atas. Memasuki kamar Zafran yang Umi Iza lihat hanya kekosongan, meja belajar maupun kasurnya tidak nampak berpenghuni.


"Abang!," panggil Umi Iza meletakkan makan siang di nakas dekat ranjang Zafran.


"Iya," jawab Zafran dari arah balkon kamar.


"Abang kenapa disini?" tanya Umi Iza mendudukkan diri di samping Zafran.


"Zafran cari angin, Nek,"


"Kenapa Abang Zaf tidak turun buat makan siang?,"

__ADS_1


"Zaf tidak lapar, Nek,"


"Apa yang mengganggu perasaan Abang Zaf? Nenek tahu Abang Zaf sedang merasa tidak nyaman,"


"Nek, apa orang yang sudah meninggal bisa hidup lagi?," tanya Zafran menatap Umi Iza lekat menunggu jawaban dari sang Nenek.


"Orang yang sudah meninggal memang tidak bisa hidup lagi, orang yang sudah meninggal sudah bersama Allah," tutur Umi Iza membelai lembut kepala Zafran.


Zafran menundukan kepalanya, raut wajahnya kembali sedih. Umi Iza bisa menangkap kesedihan yang tersirat dari wajah Zafran yang memang jarang sekali menunjukan perasaannya.


"Kenapa Abang Zaf sedih?," Umi Iza mengangkat wajah Zafran menelisik ekspresi wajahnya.


"Zaf melihat Mommy," gumam Zafran lirih kembali menundukan wajahnya.


Umi Iza terdiam, pikiran Umi Iza menerawang jauh. Kenapa Zafran mengatakan kalau melihat Humaira? sedangkan dirinya merupakan salah satu saksi yang menyaksikan Humaira di makamkan.


"Apa Abang Zaf tidak salah lihat?," tanya Umi Iza mencoba meyakinkan Zafran.


"Boleh besok Nenek bertemu Mommy?," tanya Umi Iza. Zafran menganggukan mengiyakan.


Umi Iza ingin memastikan sendiri kalau apa yang Zafran lihat memang Humaira sosok menantunya yang sudah meninggal lima tahun yang lalu.


...****************...


Waktu sudah menunjukkan pukul 08.00 malam. Sameer masih berkutat dengan segala berkas yang sedang dia kerjakan. Dia harus rela lembur dikantor karena ada masalah yang harus segera dia bereskan.


"Tuan, sebaiknya pulang saja ini sudah malam. Biarkan saya saja yang menyelesaikan dokumen itu," kata Henry menatap penampilan Sameer yang sudah mulai berantakan.

__ADS_1


Jasnya sudah tersampir di sandaran kursi, dasi pun sudah dia lepas dan lengan kemeja yang sudah terlipat ke atas memperlihatkan lengannya yang berotot.


"Aku akan pulang satu jam lagi," putus Sameer tanpa mengalihkan perhatiannya dari dokumen yang tengah dia pelajari.


"Tuan, kemarin dari The west menghubungi ingin membuat janji makan siang,"


"Pak Albert atau putrinya yang membuat janji?," tanya Sameer.


"Keduanya, sir,"


"Kalau dengan Pak Albert aku setuju, kalau dengan putrinya tolak saja. Aku tidak nyaman berada di sekitar putrinya," jelas Sameer.


"Baik, sir,"


"Kamu pulanglah, biarkan aku menyelesaikan ini sendiri,"


"Saya akan menunggu anda, sir."


Henry pun kembali membantu Sameer memeriksa beberapa tumpukan dokumen. Suasana di dalam ruangan itu tampak sunyi. hanya terdengar bunyi kertas serta dentingan dari laptop.


...****************...


*maaf yag guys up nya lama..


karena aku ada kesibukan di real..


Jangan lupa komen + like

__ADS_1


🤭


Makasih untuk semua pembaca yang masih setia sama novel ku. Dukungan kalian sangat berarti untuk ku*


__ADS_2