Dua Cincin Satu Cinta

Dua Cincin Satu Cinta
DT ~ 19


__ADS_3

Tin...tin..tin...bunyi klakson berbunyi nyaring menimbulkan keributan di sepanjang jalan. Sameer sang pemilik mobil sama sekali tidak peduli, yang dia pikirkan hanya berlari mengejar wanita yang dia yakini sangat mirip mendiang istrinya.


"Humaira!" panggil Sameer saat berhasil menarik tangan wanita itu. Secara reflek tangan wanita itu tertarik cukup kencang membuatnya menabrak dada bidang Sameer.


Pandangan mereka bertemu, Sameer menyelami manik coklat itu seketika membuatnya terpesona. Manik mata yang sama dengan istrinya, hanya saja di balik manik itu menyimpan sebuah beban yang entah apa dia tidak tahu.


"Humaira," ucap Sameer lirih.


"Maaf Tuan nama saya bukan Humaira," katanya berusaha melepaskan diri dari dekapan Sameer.


Sameer diam terpaku masih menatap intens wanita di hapadannya. Dia seperti mimpi melihat seorang wanita yang sangat mirip mendiang istrinya.


"Tuan, mobil anda menghalangi jalan pengendara lain," kata seorang pria menepuk pundak Sameer membuat Sameer mengalihkan perhatiannya.


"Ah iya..maafkan saya Pak," ucap Sameer membungukkan badannya.


"Tuan, bisa anda lepaskan tangan anda," kata wanita itu mulai merasa tidak nyaman, sejak tadi Sameer terus memegang tangannya.


"Maafkan saya, bisakah kita bicara?" tanya Sameer penuh harap.


"Saya ada pekerjaan, permisi Tuan!" Wanita itu melenggang pergi meninggalkan Sameer.


Sameer hanya bisa menatap kepergian wanita itu tanpa berusaha mencegahnya, dia sadar tidak berhak untuk menghalangi kepergian wanita itu.


Sameer pun bergegas kembali menuju mobilnya di mana beberapa orang menatapnya tajam karena mobilnya menghalangi laju kendaraan lain.


Di sepanjang perjalanan menuju jalan pulang sesekali Sameer mengusap wajahnya kasar. Pertemuan tak terduganya dengan seorang wanita yang begitu mirip istrinya, seakan memberikan getaran berbeda pada hati.


Getaran yang sudah lama mati kini ia rasakan kembali. Apalagi saat dia menyelami manik coklat itu, manik coklat yang memancarkan aura berbeda. Manik mata milik istrinya memancarkan kelembutan serta ketenangan, sedangkan milik wanita itu memancarkan beban serta kepedihan seakan membutuhkan sebuah perlindungan.

__ADS_1


Jiwa yang meronta seakan ingin memberikan sebuah kehangatan serta perlindungan pada wanita itu. Seakan hatinya terus mendorong untuk memiliki wanita itu.


......................


"Assalamu'alaikum," Sameer melangkah gontai memasuki rumah mewahnya.


Suasana sepi menyergapnya, hanya terdengar bunyi denting jarum jam yang berdetak di setiap detiknya. Langkah kakinya membawanya menuju ruang kerja, Sameer merebahkan badannya di sandaran kursi seraya melemparkan pandangannya ke langit-langit ruang kerjanya.


"Sayang, siapa sebenernya gadis itu? Tidak mungkin kalau dia saudara mu karena aku tahu betul bagaimana kamu lahir," gumamnya seorang diri penuh keresahan.


Pertemuan tak terduganya dengan wanita itu berhasil memporak-porandakan isi pikiran serta hatinya. Untuk pertama kalinya lima tahun berlalu dia memikirkan wanita lain selain istrinya.


"Hallo Hen!" sapa Sameer melakukan panggilan pada Henry asisten pribadinya.


"Iya tuan," jawab Henry dari sebrang telpon.


"Selidiki wanita itu, lakukan seperti semula," kata Sameer memberi perintah pada Henry.


Tut..


Sameer memutus sambungan telponya. Sekali lagi menghela nafas kasar.


"Dad," terdengar suara Zafran memanggilnya dari balik pintu ruang kerja Sameer.


"Zaf," ucap Sameer terkejut melihat kedatangan sang putra. "Sini boy!," perintah Sameer memberikan isyarat pada sang putra untuk masuk kedalam ruang kerjanya.


Zafran perlahan masuk kedalam ruangan kerja Sameer, kepalanya sesekali menunduk. Dia takut sang daddy akan marah karena dia tanpa sengaja mencuri dengar apa yang Sameer bicarakan dengan Henry asisten pribadinya.


"Kenapa kamu belum tidur?" tanya Sameer mengangkat Zafran duduk dipangkuannya. Membelai lembut surai hitam milik Zafran, rambut lurus hitam legam mirip sekali dengan rambut Humaira.

__ADS_1


"Zaf tidak bisa tidur, Dad," jawab Zafran menyandarkan tubuhnya di dada bidang sang daddy, mencari kenyamanan kehangatan dari pelukan sang daddy yang beberapa hari ini tidak ia dapatkan.


"Apa yang membuat Zaf tidak bisa tidur?"


Zafran menggelengkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan Sameer yang ditujukan kepadanya.


"Apa Dad mencari orang yang mirip Mom?" tanya Zafran menatap Sameer lekat.


"Maafkan Dad, memang Dad mencari orang itu," Sameer mengelus kepala Zafran lembut.


"Zaf tidak masalah selama itu bisa membuat Dad bahagia, selama ini Dad tidak pernah tersenyum," tutur Zafran. Sameer tersenyum kecil menatap Zafran.


"Kata siapa Dad tidak tersenyum? Dad tersenyum," Sameer menunjukkan deretan gigi putihnya yang tertata rapi.


"Dad seperti domba," ejek Zafran menutup mulut Sameer yang semakin melebarkan senyumannya.


"Kalo Dad domba berarti kamu anak domba dong," kata Sameer tergelak memandangi wajah cemberut Zafran.


Sameer mengecup seluruh wajah Zafran sampai membuat Zafran tertawa geli dengan ciuman bertubi-tubi yang di berikan sang Daddy.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Beberapa hari ini blm bisa up ya karena ada beberapa kerjaan di real...


maaf ya semuanya.. belum sempet revisi juga, harap maklum kalo banyak typo 🤭


Terima kasih yg masih mengikuti kisah Sameer.


JANGAN LUPA YA..

__ADS_1


LIKE+KOMEN+VOTE 😘


__ADS_2