
Raut wajah cemas, panik sekaligus sedih tampak sekali dari wajah Sameer. Sedari tiba di rumah sakit Sameer hanya mondar mandir di depan ruang UGD.
Tak berapa lama seorang dokter keluar dari ruang UGD, Sameer segera menghampiri dokter itu untuk menanyakan kondisi Elena istrinya.
"Bagaimana dok, keadaan istri saya?" tanya Sameer cemas
"Alhamdulillah, istri anda cepat dibawa ke sini. Terlambat sedikit saja istri anda akan kehilangan banyak darah yang tentu akan berpengaruh pada kondisi kandungannya"
Sameer menghela napas lega, ia mengusap wajahnya beberapa kali.
"Setelah ini saya akan merujuk Nyonya Elena ke dokter kandungan, biar bisa di cek bagaimana kondisi janinnya"
"Terima kasih dokter"
"Setelah ini Nyonya Elena akan di pindahkan ke ruang rawat"
Sameer hanya mengangguk mengiyakan sebagai jawaban. Humaira mengelus lengan sang suami, mencoba memberikan ketenangan untuk suaminya.
"Apa yang harus Zauya lakukan Dinda?" tanya Sameer frustasi mengusap wajahnya kasar.
Ia duduk disamping Humaira, mengenadahkan kepalanya ke atas menatap langit-langit rumah sakit.
"Apa Zauya sudah menemukan orang yang telah membuat Mbak Elena seperti itu?"
"Zauya belum menerima laporan Doni" Jawab Sameer singkat.
Pikiran Sameer terlalu lelah untuk memikirkan orang yang memperkosa Elena, bahkan dia meminta Doni untuk tidak melaporkan hasil penyelidikannya terlebih dahulu.
Dia belum siap mendengar semua laporan Doni yang pasti itu akan menambah bebannya lagi.
"Apa aku harus menceraikan Elena?" ceplos Sameer
Humaira terperanjat mendengar pertanyaan Sameer. Humaira tidak menyangka kalimat itu keluar dari mulut sang suami yang jelas tahu kalau menceraikan wanita hamil itu tidak diperbolehkan.
"Zauya, Mbak Elena sedang hamil bagaimana mungkin Zauya menceraikan Mbak Elena?"
Sameer terdiam tidak menjawab pertanyaan yang dilontarkan Humaira padanya.
"Kenapa hati ini menolak?" tanya Sameer pada diri nya sendiri.
***
Elena telah di pindahkan ke ruang rawat, Sameer duduk disamping Elena, menatap wajah Elena yang tertidur. Dielusnya tangan Elena seraya sesekali menepuknya pelan.
"Ele, aku tidak ingin mengatakan ini. Tapi aku harus bagaimana? Aku yang menarik mu ke dalam rumah tangga ku, tapi aku pun juga harus melepas mu" batin Sameer.
Ini sebuah keputusan yang sulit bagi Sameer, apa yang harus ia lakukan? Siapkah Elena mendengar keputusannya itu? Tepat kah waktu yang ia pilih? Apalagi dengan kondisi Elena yang tengah terguncang.
"Aku meragukan bayi didalam kandungan mu Ele" batin Sameer menundukkan kepalanya.
"Tidurlah Ele, aku akan keluar sebentar" Sameer memberikan kecupan di kening Elena seraya berlalu meninggalkan kamar inap itu.
"Hallo bagaimana Don? apa kau sudah menyelidiki semuanya?" tanya Sameer sesaat setelah keluar dari ruangan Elena.
"Sudah Tuan" jawab Doni di seberang telfon
__ADS_1
"Apa yang kau temukan Don?"
Doni pun melaporkan semua hasil penyelidikan yang telah dia lakukan. Sameer mendengarkan nya dengan saksama, Sameer tidak ingin melewatkan satu poin pun hasil dari laporan Doni.
"Shitt!!!" umpat Sameer melayangkan tinjunya ke tembok membuat tangannya terluka.
"Arghhh...!" Sameer menarik rambutnya kencang.
"Zauya!" teriak Humaira berlari tergesa menghampiri Sameer dengan sekantong plastik makanan ditangannya.
"Zauya kenapa?" tanya Humaira cemas. Sameer terlihat frustasi
"Aku telah salah memilih orang. Maafkan aku Dinda" ucap Sameer penuh rasa penyesalan.
"Maksud Zauya apa? Dinda sama sekali tidak mengerti"
"Elena masih terikat sebuah pernikahan dengan Erik mantan suaminya. Dan yang memperkosa Elena adalah Erik suaminya sendiri" jelas Sameer tatapan matanya berubah sendu.
Humaira menutup mulutnya terkejut. Dia sama sekali tidak menyangka dengan semua fakta itu. Humaira mengalihkan tatapannya pada sang suami yang terlihat kusut dan tangan yang terluka.
***
Siang itu Sameer membuat janji temu bersama para sahabatnya, ia membutuhkan sedikit penghiburan dari para sahabatnya.
"Kusut banget Sam" kata Damar sesaat setelah Sameer mendudukan tubuhnya disalah satu kursi yang masih tersisa.
"Makanya punya istri jangan banyak-banyak, satu aja gak habis malah nambah lagi" sindir Akbar menatap sinis Sameer.
"Aku sedang tidak ingin berdebat Bar, tenaga ku sudah terkuras memikirkan semuanya" keluh Sameer malas menanggapi sindiran pedas Akbar.
Damar dan Hasan masih bungkam menyaksikan kedua sahabatnya yang siap berperang mulut.
"Apa aku harus mengatakannya pada mu?" tanya Sameer menatap Akbar sengit penuh permusuhan.
Akbar tergelak keras sembari menggelengkan kepalanya. Ia merasa sahabatnya itu sudah berubah menjadi pria bodoh. Kecerdasaannya sudah hilang ditelan cintanya untuk Elena.
"Bar, sudahlah Sameer sedang terkena musibah" kata Damar mencoba menghentikan Akbar untuk tidak terus mencemooh Sameer.
"Mar, Sameer pantas mendapatkan itu. Dia sudah jadi pria bodoh karena cintanya pada Elena dan menyakiti Humaira. Aku tidak terima Humaira disakiti"
"Sialan kau!" umpat Sameer
"Sam tahan emosi mu" Damar memegang tangan Sameer untuk meredam emosi yang bergejolak di dada.
"Sam, sepertinya kau harus tau ini" Hasan memberikan sebuah amplop coklat yang sedikit tebal.
Sameer menatap ketiga sahabatnya bergantian, Damar mengendikan bahunya sedangkan Akbar tersenyum sinis.
Sameer perlahan membuka amplop itu. Sameer membaca satu persatu isi dari amplop yang ternyata berisi beberapa dokumen.
Tubuh Sameer terdiam membeku, setelah membaca semua isi dokumen itu. Seketika ia berubah menjadi bisu, ia tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun.
Lagi-lagi ia harus menerima kenyataan yang begitu menyakitkan. Hancur sudah hidupnya, bukan hanya hidupnya yang hancur tapi hatinya juga hancur.
Seperti ada sebuah bom yang sengaja dilemparkan kearahnya membuat bom itu meledak menghancurkan tubuhnya berkeping-keping.
__ADS_1
***
Sameer melangkah gontai, wajahnya terlihat muram cahaya matanya perlahan meredup. Ia seperti kehilangan separuh jiwanya.
Ia merasa hidup tengah mempermainkannya saat ini, mempermainkannya dengan kejam. Kini ia menyadari kalau karma itu ada, karma yang harus diterimanya karena sudah menyakiti istri dan kedua orang tuanya.
"Zauya" panggil Humaira saat melihat Sameer memasuki ruang rawat Elena dengan wajah kusutnya. Humaira menghampiri Sameer, ia khawatir dengan kondisi Sameer.
"Sayang" Sameer memeluk Humaira erat, ia menghela napas pelan menetralisir perasaannya yang berkecamuk.
"Sam" sapa Elena menatap Sameer sayu.
Sameer melepas pelukannya menghampiri Elena, kondisi Elena sudah lebih baik dari sebelumnya.
"Sam, maafkan aku" ucap Elena menangis
"Sudahlah pikirkan kesehatan mu dulu" ujar Sameer memberikan senyum masamnya.
Perasaannya sedang kecewa dan alasan kekecewaannya kini adalah Elena. Rahasia yang wanita itu simpan melukai perasaannya begitu dalam.
"Sam, kau tidak akan meninggalkan aku kan" Pinta Elena penuh permohonan.
"Jangan bahas itu untuk saat ini Ele, aku ingin menenangkan diri" kilah Sameer menghindari permohonan Elena.
"Sam, apa kau membenci ku? Aku mohon jangan benci aku Sam, mari kita besarkan janin ini bersama karena aku yakin kalau ini adalah anak kita berdua?" tutur Elena memegang lengan Sameer, meyakinkan Sameer kalau bayi yang tengah dia kandung adalah bayinya dan Sameer.
"Maafkan aku Ele, aku meragukan itu" kata Sameer lirih.
Jleb...
Hati Elena terasa sakit saat Sameer meragukan janin yang tengah di kandungnya. Elena tidak mempercayai apa yang dia dengar. Air mata merembes membasahi wajah Elena yang masih pucat.
"Kenapa kau meragukannya Sam? jelas sekali kalau ini bayi kita" kekeh Elena tidak terima.
"Biarkan kita tes DNA dulu Ele. Karena terakhir kau berhubungan bukan hanya dengan ku saja tapi dengan Erik. Lalu aku harus bagaimana Ele?" Sameer menatap Elena sayu syarat akan luka.
"Erik.." gumam Elena pelan menyebut nama Erik. Elena menatap dalam manik mata Sameer. Elena melihat kekecewaan didalam manik mata itu.
"Aku mohon pada mu Sam, jangan tinggalkan aku. Kalau kau tidak mau mengakuinya, aku akan mengugurkan janin ini asal kau tetap disisi ku"
"Apa kau gila?" teriak Sameer membelalakan matanya lebar, ia tidak pernah menyangka kalau Elena akan berbicara seperti itu.
"Istigfar Mbak" Humaira mengingatkan Elena untuk tidak mengatakan sesuatu yang buruk tentang janinnya.
"Jangan coba-coba kau berbicara pada ku" kata Elena menatap tajam Humaira.
"Mbak Elena..." gumam Humaira tidak percaya Elena berbicara ketus padanya.
"Kalau seandainya kau menolak perjodohan itu mungkin aku sudah bahagia dengan Sameer. Semua ini memang salah mu, aku menderita juga karena mu" bentak Elena meluapkan kemarahannya pada Humaira.
Hati Humaira serasa diremas mendengar bentakan Elena yang menyalahkannya atas semua peristiwa yang terjadi.
Tangan Sameer mengepal kuat, wajahnya memerah menahan amarah. Sameer tidak terima istrinya dibentak Elena.
"Cukup Elena Samantha!" teriak Sameer keras membuat Humaira dan Elena terperanjat kaget. Ini pertama kalinya mereka mendengar teriakan kemarahan Sameer.
__ADS_1
...****************...