Dua Cincin Satu Cinta

Dua Cincin Satu Cinta
Bab 21


__ADS_3

Jangan lupa dukung karyaku ya..


√ LIKE


√ KOMEN


√ RATE 🌟🌟🌟🌟🌟


√ VOTE seikhlasnya


Dukungan kalian sangat berarti..


Terima kasih ❀❀❀


****


Selama seminggu Sameer menemani Humaira, melakukan aktifitas bersama tapi saat dia kembali ke rumah perasaan kosong itu menyergapnya. Dia merasakan kekosongan di hatinya, terasa hampa bahkan rumah terasa begitu sepi.


Sameer menyandarkan tubuhnya di sofa, menatap langit-langit rumahnya. Sejak sore Elena pergi, sampai petang datang Elena belum juga kembali. Sameer tidak paham kemana kepergian istrinya itu.


"Bi Imah, Apa Elena tadi bilang akan pergi kemana?" tanya Sameer pada asisten rumah tangga yang dia pekerjakan untuk mengurus rumahnya.


"Tidak Tuan, hanya berpesan akan kembali sebelum jam makan malam"


"Baiklah kalau begitu"


"Apa saya siapkan sekarang makan malamnya Tuan?"


"Siapkan aja Bi, saya juga sudah lapar"


"Baik Tuan" Bi Imah menyajikan menu makan malam di meja makan.


Sameer melirik ke sebelah kanan teman duduknya, memperhatikan kursi yang biasa Humaira tempati. Rasa sepi dan hamba begitu terasa dihati Sameer. Ini pertama kalinya sejak dia menikah. dia makan seorang diri.


Sameer menyendokkan makanan kedalam mulutnya dengan tidak semangat. Nafsu makannya mendadak hilang begitu saja.


"Sayang!" panggil Elena memasuki rumah dengan menenteng beberapa barang belanjaan ditangannya.


"Waalaikumsalam" kata Sameer yang masih menikmati makan malamnya.


"Maaf ya sayang lupa salam" Elena menyunggingkan senyum canggungnya.


"Kamu dari mana? ditelfon tidak diangkat" tanya Sameer meletakkan sendoknya mengalihkan perhatiannya pada sang istri.


"Maaf ya sayang" Elena mengecup pipi Sameer. Sameer menghela nafas lelahnya.


"Aku akan mandi, setelah itu aku temani kamu makan malam"


"Mandi nanti saja, temani aku dulu"


Elena menemani Sameer menikmati makan malamnya. Elena pun terus bercerita mengenai kegiatannya seharian ini. Sameer mengelus rambut Elena pelan.


"Rambut kamu yang indah ini akan terlihat lebih indah lagi kalau kamu mau memakai hijab" tutur Sameer membelai rambut panjang Elena yang tergerai indah.


"Nanti aku akan mencoba Sam"


"Tidak apa-apa, kamu memang baru memeluk islam. Jadi pelan-pelan saja, menutup aurat itu sebuah kewajiban bagi wanita muslim. Bukan wanita muslim juga tapi wanita beragama lain juga"


"Siap Bos, aku akan belajar pelan-pelan"


"Bagus, sekarang mandilah"


"Ok sayang" Elena memberikan ciuman di kedua pipi Sameer dan berlari kecil menuju lantai atas.

__ADS_1


***


Waktu berlalu begitu cepat, satu bulan sudah Sameer dan Humaira tinggal terpisah. Walaupun Sameer masih rutin berkunjung ke rumah Humaira tapi rasanya tetap beda. Sameer ingin mereka bisa tinggal bersama seperti dulu, tinggal dalam atap yang sama. Bukan seperti ini, dia harus berpindah-pindah.


Dilema..


Itulah yang dirasakan Sameer kini, banyak yang dia pikirkan. Apalagi sebulan ini dia selalu mendapatkan isyarat mimpi yang sama dan terus terulang setiap malamnya. Pikirannya kalut, apalagi isyarat itu merujuk pada jawaban atas rumah tangganya.


Pikirannya yang kalut membuatnya beberapa minggu ini tidak fokus untuk mengurus kantor, pikirannya terpecah dengan berbagai persoalan.


"Ini semua memang salah ku" gumamnya menengadahkan kepalanya menatap langit malam yang penuh bintang.


Sejenak ia menutup matanya membiarkan angin malam menerpa wajahnya, ia ingin berhenti berpikir. Ingin menikmati waktunya seorang diri melepaskan beban yang terasa berat dipundaknya.


Semua permasalahan rumah tangga berakar padanya, ia sengaja menarik Elena dalam rumah tangganya menjadikan wanita itu istri kedua. Membuat istri pertamanya tertekan dengan keputusannya dan memilih tinggal terpisah, yang juga otomatis menjadikan Elena duri dalam rumah tangganya.


Menikah dengan Elena memang keinginannya sejak dulu, tapi setelah menjadikan Elena istri. Rasa hampa mulai merayapi hati dan pikirannya.


Meskipun kini ia hidup berdua dengan Elena, jelas sikap dan tingkah laku Elena berbeda dengan Humaira. Humaira melayaninya bak seorang raja sedangkan Elena membuatnya mandiri melakukan apapun seorang diri.


Jujur dari lubuk hatinya yang paling dalam ia merindukan Humaira, merindukan di manja wanita itu, merindukan segala pelayanan wanita itu, merindukan kehadiran wanita itu disetiap harinya.


Wajahnya yang cantik, tatapan matanya yang teduh, senyumannya yang manis dan jangan lupakan wajahnya yang bersemu merah setiap kali ia menggoda wanita itu.


Membayangkan Humaira membuat senyumnya merekah. Kehadiran wanita itu membuatnya mengalihkan dunianya.


***


Tok...tok...tok...


"Masuk" jawab Sameer tanpa mengalihkan kesibukannya.


"Zauya sibuk ya?" tanya Humaira ceria


Ia masih tidak menyangka wanita yang baru saja ia pikirkan, wanita yang baru saja ia rindukan sudah berdiri dihadapannya. Menyapanya dengan suaranya yang lembut, jangan lupakan senyuman manisnya.


"Zauya" Humaira menyentuh lembut pundak Sameer.


"Aku merindukan mu"


Secepat kilat Sameer merengkuh tubuh Humaira, menyalurkan rasa rindu yang sudah menyiksa raga dan batinnya. Rindu yang menggebu-gebu.


"Zauya geli" tawa Humaira saat melihat tingkah Sameer.


Sameer mencium seluruh wajahnya yang tidak tertutup cadar yang tadi sudah Sameer lepas.


Humaira senang sekaligus heran dengan tingkah Sameer yang menciumnya seperti itu.


"Kenapa baru sekarang menemui Zauya?" rengek Sameer tidur dipangkuan Humaira, Humaira membelai lembut rambutΒ  Sameer.


"Kenapa memang? Zauya rindu ya dengan Dinda" Humaira menggoda Sameer membuat Sameer salah tingkah.


"Aku..." Sameer menghentikan perkataannya, ia malu dan gugup.


Humaira melemparkan tatapan menyelidik.


"He'em" Sameer menganggukan kepalanya kecil.


"Dasar..! Begitu saja malu" ledek Humaira mengacak-acak rambut Sameer gemas.


"Hy rambut Zauya rusak, malah nanti tidak tampan lagi" cebik Sameer pura-pura sebal


"Memang kenapa kalau tidak tampan lagi?"

__ADS_1


"Nanti gadis-gadis tidak menempel lagi dengan Zauya"


"Oh jadi kurang punya istri dua??" dengus Humaira memalingkan wajahnya. Sameer terkekeh geli mendapati sikap cemburu sang istri.


Sameer pun menggelitik perut Humaira membuat Humaira tertawa kencang.


Canda tawa menghiasi ruangan Sameer membuat siapa saja yang mendengarkan tawa bahagia mereka akan ikut tersenyum.


"Hufhhh...." Elena menghela nafas. Tenggorokannya rasanya tercekik, dadanya sesak. Ia menundukkan kepalanya.


"Apa ini yang dirasakan Humaira?" gumamnya seorang diri.


Matanya berkaca-kaca melihat Sameer dan Humaira bercanda penuh keceriaan.


Ia menutup ruangan Sameer, menyandarkan tubuhnya dipintu itu. Matanya menatap nyalang atap kantor. Sesekali menghela napas kasar.


"Melelahkan.."


Langkah kakinya menyusuri jalanan yang terik, polusi dari kendaraan semakin menyesakkan. Jam kantor akan segera berakhir tapi ia belum memutuskan untuk pulang. Ia masih menikmati langkah kecil kakinya yang mengiringnya tanpa tujuan yang pasti. Ia ingin berjalan mengikuti ke mana kakinya melangkah.


"Indah" ucap Elena saat kakinya berhenti disebuah butik yang menyediakan pakaian muslim.


Ia mengambil sehelai hijab pashmina memasangkan ke kepalanya, mematut diri didepan cermin beserta gamis yang tadi sengaja ia pilih.


Ia ingin merubah penampilannya, ingin lebih tertutup. Ingin menjaga tubuhnya dari tatapan liar para laki-laki yang bukan mahramnya.


"Cantik.."gumamnya menatap diri didepan cermin besar yang memperlihatkan seluruh tubuhnya.


Senyumnya mengembang. Ia tidak sabar ingin pulang ke rumah. Ingin menunjukkan kepada Sameer tentang perubahan penampilannya yang baru.


Setelah melakukan pembayaran, Elena segera memasuki taksi yang sudah ia pesan. Taksi itu segera membawanya meninggalkan butik menuju jalan pulang.


***


"Nanti malam kita dinner ya" ajak Sameer seraya membereskan beberapa dokumen penting yang berserakan di atas meja.


"Tumben Zauya mau ngajak Dinda dinner"


"Karena Zauya merindukan Dinda" goda Sameer mengerlingkan sebelah matanya. Humaira terkekeh geli melihat tingkah Sameer.


"Siap pak bos"


"Nanti Zauya jemput ya"


"Tidak usah, nanti Dinda berangkat saja sendiri. Dinda mau nyiapin kado spesial buat Zauya"


"Kado? Kado apa? Zauya kan belum ulang tahun"


"Rahasia lah, ini itu surprise"


"Mau main rahasia-rahasiaan dengan Zauya nih" Sameer mendekati Humaira, memeluk pinggang Humaira erat. Menatap wajah sang istri yang sudah bersemu merah.


"Zauya..Dinda malu" rengek Humaira menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Gelak tawa Sameer terdengar saat melihat tingkah Humaira yang menggemaskan.


"Dasar anak kecil" ledek Sameer mengacak jilbab Humaira membuat bibir Humaira mengerucut sempurna.


"Minta dicium ya, bibirnya manyun gitu" goda Sameer.


"Upss" Humaira menutup bibirnya cepat. Sameer pun kembali mengeluarkan tawa bahagianya. Menggoda Humaira menjadi kebahagiaan sendiri baginya. Dia sangat merindukan momen seperti ini saat bersama Humaira.


***

__ADS_1


__ADS_2