Dua Cincin Satu Cinta

Dua Cincin Satu Cinta
Bab 9


__ADS_3

Sameer dan Humaira berjalan beriringan berkeliling resort tempat mereka menginap, menikmati keindanngan tepi pantai dan alam sekitar yang masih begitu alami.


Senyum Humaira tidak pernah luntur sedikit pun, bunga-bunga dihatinya terus bermekaran. Satu kata yang mendefinisikan perasaannya kali ini adalah rasa bahagia. Selama mereka menikmati waktu berdua, Sameer mampu menerbitkan senyuman di bibirnya.


"Apa Dinda suka?" tanya Sameer masih menggenggam erat tangan Humaira.


"Iya suka, sangat indah Zauya. Aku belum pernah kesini padahal aku orang Jogja" katanya tertawa kecil, mengingat dia sama sekali tidak pernah berkeliling menikmati keindahan kota Jogja. Seluruh waktunya dia habiskan memperdalam ilmu agama.


"Tidak masalah, sekarang sudah datang bersama Zauya" ujar Sameer mengelus kepala Humaira lembut, Humaira membalas dengan tatapan hangat dan penuh cinta.


"Zauya, sepertinya sangat indah kalau kita foto disini"


"Boleh"


Sepanjang hari mereka berjalan-jalan menikmati keindahan alam yang dimiliki Queen of the resort beach. Mereka pun mencoba beberapa fasilitas yang tersedia di resort itu, dan untuk pertama kalinya Humaira menyusuri tepi pantai dengan menunggangi kuda.


Tak lupa mereka mengabaikan setiap momen kebersamaan mereka dalam jepretan kamera, yang sengaja Sameer persiapkan untuk perjalanan singkat mereka.


"Sayang, aku akan membawa mu ke suatu tempat" ujar Sameer seraya mengambil sehelai kain penutup mata.


"Kemana Zauya?"


"Tapi matanya harus di tutup dulu"


"Astaga nanti Dinda malah seperti mummy, tidak terlihat semuanya" canda Humaira yang disambut tawa Sameer. Sameer pun tetap memasang sehelai kain itu di mata Humaira.


"Ayo pegang lengan Zauya" perintah Sameer.


Humaira mengaitkan tangannya pada lengan Sameer, Sameer pun menuntun Humaira menuju sebuah tempat yang sudah dia persiapkan untuk dinner mereka.


Perlahan Sameer melepas penutup mata itu, Humaira mengerjapkan matanya perlahan. Di hadapannya terdapat kelopak bunga mawar merah serta putih yang disusun rapi membentuk hati dengan jejeran lilin yang mengikuti bentuk bunga itu.


Humaira terdiam, terpaku melihat pemandangan indah di hadapannya. Kejutan yang Sameer siapkan sukses membuat bunga dihatinya semakin bermekaran.


Sameer memeluk pinggang Humaira posesif, berjalan beriringan menuju meja makan yang telah tersaji makanan istimewa yang sengaja Sameer siapkan untuk Humaira.


"Apa Dinda suka?" tanya Sameer menggenggam tangan Humaira.


"Suka Zauya, ini sangat indah apalagi Zauya memilih waktu yang tepat. Saat matahari akan segera tenggelam" tuturnya mengalihkan perhatiannya ke arah langit yang berwarna jingga.


"Disitu nilainya sayang, karena tempat ini sangat tepat untuk melihat matahari tenggelam" Sameer memberikan kecupan manis di punggung tangan Humaira. Humaira tersipu malu dengan segala sikap lembut Sameer.


Mereka berdua menikmati momen matahari tenggelam sambil menikmati sajian baked salmon yang tersaji diatas meja mereka. Senyuman kebahagiaan tidak pernah luntur dari bibir keduanya.


"Cantik sekali Zauya" ujar Humaira mengagumi keindahan alam milik sang pencipta.


"Ada yang lebih cantik dari itu sayang, keduanya juga sama-sama ciptaan Tuhan"


"Apa itu Zauya?" tanya Humaira polos.


"Kamu. Kamu ciptaan Tuhan yang tercantik yang pernah Zauya miliki" goda Sameer mengerlingkan sebelah matanya.


"Dasar gombal!" Humaira melayangkan pukulan manja dilengan Sameer. Sameer terkekeh pelan mendapati respon sang istri.


"Astaga, lihatlah wajah mu sayang, merah mengalahkan warna langit itu" goda Sameer berkelakar.


Humaira memegang kedua pipinya yang memerah malu. Bibirnya mengerucut, cemberut mendengar Sameer yang tidak henti menggodanya.


"Dasar jelek!" cibir Sameer kembali tertawa. Bibir Humaira semakin mengerucut di balik cadarnya.


***

__ADS_1


Setelah satu minggu menghabiskan waktu berdua di Jogja. Kini mereka kembali ke Bandung, Sameer memulai kembali pekerjaannya di kantor sedangkan Humaira mulai menyiapkan pembukaan toko kue miliknya. Memiliki toko kue sendiri adalah keinginannya sejak dulu.


"Bagaimana persiapan toko kue kamu sayang?" tanya Sameer menyendokkan lagsna masakan Humaira yang menjadi menu sarapannya kali ini.


"Sudah 80% Zauya, rencananya hari ini Dinda akan belanja beberapa bahan untuk keperluan di toko"


"Kamu sudah cocok dengan karyawan yang Zauya pilih?"


"Cocok kok mereka semua ramah, Dinda nyaman"


"Syukurlah kalau kamu nyaman, tapi maaf ya sayang. Zauya tidak bisa mengantar mu belanja. Hari ini Zauya ada meeting penting untuk proyek besar yang sedang ditangani perusahaan"


"Tidak masalah Zauya, Dinda bisa sendiri"


"Biar nanti Mang Ujang yang antar kamu"


"Siap bos" Sameer mengelus kepala Humaira lembut.


Humaira pun segera menyiapkan bekal makan siang yang biasa Sameer bawa ke kantor. Setelah selesai menyiapkan bekal makan siang, Humaira memasangkan jas ke tubuh Sameer, merapikan pakaian sang suami yang akan segera berangkat kerja. Rutinitas baru yang Humaira kerjakan sejak tiba dari honeymoon singkat mereka.


"Susah rapi, ini tasnya dan ini bekal makannya. Harus di makan ya Zauya" pesan Humaira mengantar Sameer ke pintu depan tepat mobil Sameer susah terparkir.


"Siap Nyonya Sameer"


"Hati-hati ya, jangan ngebut kalau menyetir"


"Iya, dan terima kasih untuk sarapannya yang selalu enak dan makan siangnya yang selalu membuat semangat" ujar Sameer pengecup kedua pipi Humaira.


"Terima kasih kembali Tuan Sameer, yang sudah bersedia mencicipi masakan Nyonya Sameer" balas Humaira terkekeh pelan, mengecup punggung tangan Sameer siap melepas sang suami pergi kerja.


"Nanti Zauya jemput di toko, dan hati-hati" Humaira mengangguk


"Assalamualaikum" ucap Sameer


***


Seusai mengantar kepergian Sameer. Humaira langsung menuju supermarket untuk belanja beberapa kebutuhan untuk pembukaan tokonya. Humaira memilih belanja seorang diri tanpa bantuan karyawan tokonya.


Saat sedang memilih beberapa bahan, tiba-tiba ada seorang pria yang tidak sengaja menabrak troli belanjanya dengan cukup keras sampai membentur pinggangnya.


Bruk..


"Maaf nona" ucap seorang pria yang tak sengaja menubruk troli belanja milik Humaira.


"Tidak apa-apa Tuan" jawab Humaira mengalihkan perhatiannya pada sang penabrak.


"Gus Akbar!" seru Humaira terkejut, saat didepannya berdiri seorang pria tampan bertubuh tinggi yang berkulit kuning langsat.


"Humaira" balas Akbar tak kalah kaget saat bertemu wanita bercadar didepannya ini.


"Apa kabar Gus Akbar? Kapan sampai ditanah air? Ah..maksudnya kapan sampai di Bandung?" tanya Humaira


"Alhamdulillah baik Humaira, Gus baru tiba kemarin di Indonesia sekaligus baru tiba di Bandung pagi tadi" kata Akbar tersenyum.


"Kenapa Gus Akbar tidak mampir? Apa Gus Akbar lupa sama Humaira?"


"Tentu saja tidak, Gus memang belum sempat berkunjung lagipula Gus juga ada keperluan dengan teman lama Gus. Lain waktu saja Gus akan berkunjung"


"Baiklah kalau begitu, Humaira pamit ya Gus. Jangan lupa mampir!" kata Humaira dengan peringatan. Akbar tersenyum kecil.


"Iya itu pasti, hati-hati dijalan"

__ADS_1


"Iya Gus, Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam" jawab Gus Akbar memperhatikan Humaira yang berlalu dari hadapannya.


***


Setibanya di toko kue, Humaira di bantu para karyawannya menata belanjaannya serta merapikan peralatan masak ke rak-rak yang telah tersedia.


"Assalamualaikum" ucap Sameer memasuki toko kue Humaira. Menghampiri Humaira yang masih berkutat dengan beberapa barang yang baru saja tiba.


"Waalaikumsalam" jawab mereka serempak.


"Zauya duduk dulu ya, Dinda masih ada beberapa pekerjaan yang harus di selesaikan"


"Butuh bantuan?" Sameer menawarkan dirinya karena melihat Humaira masih sibuk dengan pekerjaannya.


"Tidak Zauya terima kasih, ini sudah hampir selesai"


15 menit Humaira berkutat dengan pekerjaannya, akhirnya selesai juga. Sameer pun masih setia dan sabar menunggu Humaira menyelesaikan perkejaannya.


"Kalian kalau sudah selesai bisa langsung pulang ya" pesan Sameer


"Iya Pak"


"Kalian pasti juga capek, istirahat lah dirumah" timpal Humaira mengambil sling bag nya.


"Iya Mbak Mai"


"Assalamualaikum" pamit Humaira dan Sameer


"Waalaikumsalam"


Sameer segera melajukan kendaraan roda empatnya meninggalkan toko kue Humaira yang diberi nama 'RaSa'. Nama yang diambil dari huruf depan Sameer dan huruf belakang Humaira.


"Kamu pasti lelah tadi belanja sendirian" tanya Sameer masih tetap fokus dibalik kemudi.


"Dinda tidak lelah. Justru yang lelah itu Zauya, Zauya sibuk kerja sedangkan Dinda sibuk menghabiskan uang Zauya" canda Humaira


"Tidak masalah kamu habiskan, Zauya mencari uang juga untuk kamu"


"Benarkah? Dinda boleh menghabiskannya?" Humaira memandang Sameer antusias.


"Iya tentu" Jawab Sameer penuh keyakinan


"Tunggu saja, Dinda akan mengosongkan saldo ATM nya"


"Tidak masalah, Zauya masih mampu mencari lagi"


"Aishh...dasar sombong" cibir Humaira. Sameer tertawa kecil mendengar cibiran istrinya.


***


Jangan lupa dukung karyaku ya..


√ LIKE


√ KOMEN


√ RATE 🌟🌟🌟🌟🌟


√ VOTE seikhlasnya

__ADS_1


Dukungan kalian sangat berarti..


Terima kasih ❤❤❤


__ADS_2