
"Saudara Muhammad Sameer Bariq bin Ahmed Bariq!" Kata Papa Ibram
"Iya saya" jawab Sameer tegas
"Saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan anak perempuanku Humaira Az-zahra binti Ibram Omar Syarif dengan mas kawin surah Ar Rahman dan seperangkat alat shalat dibayar tunai" Papa Ibram menghentak tegas tangan Sameer. Sameer segera menjawabnya.
"Saya terima nikah dan kawinnya Humaira Az Zahra binti Ibram Omar Syarif dengan mas kawin tersebut dibayar tunai" jawab Sameer sekali napas.
"Sah...!!!" seru beberapa saksi yang menyaksikan bagaimana proses ijab kabul itu.
Air mata mengalir begitu saja dari pelupuk mata para wanita yang berada dikamar pengantin. Ada rasa bahagia dan lega menyelimuti hati mereka semua saat kata SAH menggema.
Humaira diapit Mama Karina dan Umi Iza keluar dari kamar menghampiri Sameer yang tengah menuju tengah duduk menunggu kedatangan Humaira.
Pandangan terpesona terpancar dari kedua mata Sameer, gaun putih yang indah membalut sempurna tubuh Humaira tak lupa cadar yang menutupi sebagian wajah Humaira menambah kesan misterius.
Jantung Sameer berdetak dengan tempo cepat, sungguh Sameer tidak mengerti mengapa jantungnya berdetak begitu cepat saat berdekatan dengan Humaira istrinya.Gugup dan gelisah datang secara bersamaan. Menambah kebingungan dalam diri Sameer.
Ayat suci Al Quran dari Surat Ar Rahman telah Sameer lantunkan dihadapan Humaira sebagai bentuk mahar yang diminta Humaira. Suara merdu Sameer saat melantunkan surat Ar Rahman membius seluruh tamu yang hadir pada acara pernikahan mereka.
Air mata kebahagiaan tidak henti mengalir dari mata indah Humaira. Inilah pernikahan impiannya, pernikahan dimana sang suami melantunkan surat Ar Rahman sebagai maharnya dan kini bisa terwujud.
Humaira sangat bersyukur akan hal itu. Walaupun Humaira tidak akan tau akan seperti apa nantinya pernikahan yang akan di jalaninya ini.
Setelah prosesi ijab kabul kini tiba saatnya acara resepsi pernikahan. Humaira berdiri anggun disamping Sameer, tangannya mengapit lengan Sameer erat. Humaira terus tersenyum dibalik cadarnya saat beberapa rekan kerja maupun teman Sameer datang menyapa mereka diatas pelaminan.
"Selamat ya Sam, kau akhirnya menikah juga. Ku pikir kau akan menjadi bujang lapuk" ejek Hasan sahabat karib Sameer sembari memeluk sahabatnya itu. Hasan turut bahagia atas pernikahan Sameer.
"Enak saja kau mengatakan aku bujang lapuk" Sameer memukul pelan lengan Hasan, disambut tawa kecil dari keduanya.
"Lihatlah diantara kita mungkin hanya kau dan Akbar yang belum menikah, aku saja sudah punya anak satu" Damar membanggakan dirinya dihadapan Sameer, rupa wajah boleh kalah tapi kalau untuk urusan asrama Sameer kalah telak dari sang sahabat Hasan dan Damar.
Masing-masing dari mereka telah beristri dan memiliki seorang anak, Hasan memiliki anak laki-laki berusia 2 tahun sedangkan Damar memiliki anak perempuan yang sudah berusia lima tahun.
"Segeralah buat anak yang banyak, istri mu juga kelihatan cantik dan masih muda" tutur Hasan menggoda kedua mempelai pengantin baru itu.
Humaira yang mendengar percakapan mereka hanya mampu tersipu malu dibalik cadar yang menutupi wajahnya.
"Oh ya..aku sampai lupa kalau Akbar tidak bisa hadir, dia menitip salam kepada kalian berdua" Kata Damar menyampaikan amanah Akbar. Sameer mengangguk mengiyakan.
__ADS_1
****
Mulai dari ijab kabul sampai dengan resepsi telah mereka jalani, kini mereka tengah kembali ke kamar hotel untuk membersihkan diri. Raut wajah lelah tampak sekali dari keduanya, acara pernikahan itu sungguh membuat mereka kelelahan.
"Kak, Humaira mandi dulu ya"pamit Humaira kikuk
"Hemm..." jawab Sameer cuek sambil fokus dengan ponselnya. Humaira berlalu dari hadapan Sameer untuk membersihkan diri.
Beberapa saat kemudian..
Klek....
Pintu kamar mandi terbuka, Humaira keluar dari kamar mandi lengkap dengan gamis dan cadar yang menutupi wajahnya.
"Kak, mandilah dulu. Humaira akan menyiapkan baju untuk kakak" kata Humaira memecah rasa canggung yang tengah menerpanya.
"Baiklah" Sameer menuju kekamar mandi, untuk membasuh badannya yang lengket.
Setelah Humaira menyiapkan baju untuk Sameer, Humaira berjalan ke arah balkon kamarnya. Humaira sungguh bingung apa yang akan diperbuatnya didalam kamar itu bersama Sameer.
Ini pengalaman pertama baginya tidur satu kamar dengan seorang laki-laki, yang sekarang sudah berubah menjadi mahramnya. Keadaan ini cukup membuatnya canggung serta gugup.
Seketika tubuh Humaira menegang merasakan Sameer memeluk pinggangnya erat, kepala Sameer berada diceruk lehernya.
Ada perasaan asing yang ia rasakan, gugup, nyaman dan hangat.
"Kenapa tegang?" tanya Sameer tersenyum jail
"Kakak membuat ku takut" cicit Humaira canggung berada di dekat Sameer. Jawaban polos terucap dari bibir Humaira membuat Sameer terkekeh kecil.
"Apa aku ini seperti singa? Tenang aku tidak akan memakan mu. Dasar kau ini bocah manja" Sameer mengacak jilbab Humaira gemas. Humaira membalikan tubuhnya menghadap Sameer.
"Kakak..."rengek Humaira. "Nanti jilbab ku rusak" Humaira memukul dada Sameer.
Lagi-lagi Sameer terkekeh sambil menangkap tangan Humaira yang memukul dadanya. Pukulan yang tidak terasa sakit sama sekali.
"Aku ingin lihat ekspresi mu itu, kenapa kau masih memakai cadar dan jilbab mu" protes Sameer memegang jilbab Humaira.
"Kakak, aku belum siap menunjukkan wajah ku pada mu"
__ADS_1
"Kenapa belum siap? Aku ini suami mu dan kamu istri ku"
Suami..
Hati Humaira menghangat mendengar Sameer mengakuinya bahwa ia adalah istrinya. Humaira sendiri tidak mengerti apa yang ada dihati dan pikiran Sameer saat ini.
"Bolehkah aku membuka khimar dan cadar mu?" tanya Sameer meminta izin Humaira
"Katanya aku ini jelek, kenapa kakak ingin tau sekali wajah ku? Kakak nanti akan kecewa dengan wajah jelek ku ini" protes Humaira mengerucutkan bibirnya di balik cadarnya.
"Justru itu, aku penasaran seberapa jelek wajah mu. Cocok tidak berpasangan dengan ku yang tampan ini" kata Sameer masih tersenyum menampilkan deretan gigi indahnya.
Sameer sangat menyukai momen dimana dia bisa menggoda Humaira, sampai wajah gadis itu berubah merah merona.
"Aish...kakak kau ini percaya diri sekali, dasar narsis" ejek Humaira
"Aku buka ya"
"He'em" Humaira mengangguk mengizinkan Sameer membuka jilbab dan cadarnya lagi pula Sameer sudah halal baginya.
Perlahan Sameer membuka tali cadarnya, tampaklah wajah Humaira yang begitu cantik. Mata coklat bulu mata lentik, hidung mancung dengan bibir cherry alami tampak begitu seksi tidak lupa kulit yang putih bersih.
Dalam hati berkali-kali Sameer mengagumi kecantikan Humaira, Sameer tidak menyangka gadis kecil yang dulu selalu bermanja dengannya telah tumbuh menjadi gadis yang cantik mempesona. Bahkan Elena kalah cantik. Kecantikan yang begitu sempurna, pantas saja Humaira menutupi kecantikannya itu dengan selembar kain yaitu cadar.
Setelah membuka cadar Humaira, perlahan Sameer membuka jilbab panjang Humaira. Rambut Humaira yang berwarna cokelat alami itu nampak, Sameer pun membuka tali rambut Humaira. Seketika rambut cokelat Humaira yang panjang dan lurus jatuh tergerai terbang tertiup angin.
Sameer menatap Humaira intens, sungguh sempurna. Sameer menatap Humaira dalam. Diletakkan tangan Sameer di atas ubun-ubun kepala Humaira sembari membaca doa untuk pengantin baru.
Dikecupnya kening Humaira, Humaira memejamkan matanya merasakan kecupan lembut yang Sameer daratkan dikeningnya. Ciuman Sameer terasa lama dan dalam.
"Terima kasih Humaira telah menjaga wajah ini dari pandangan laki-laki lain yang bukan mahram mu. Sungguh kakak merasa beruntung memiliki seorang istri yang bisa menjaga diri" puji Sameer mengelus kepala Humaira lembut.
Meskipun ia menikah atas permintaan kedua orang tuanya tapi Sameer tetap ingin menjalankan perannya sebagai seorang suami. Sameer pantang untuk menyakiti hati perempuan. Kalau ia menyakiti hati perempuan sama saja ia menyakiti sang ibu yang telah melahirkannya.
Untuk pertama kalinya dikamar itulah terjadi pergulatan hangat sepasang pengantin baru, yang sedang menjalankan ibadah mereka sebagai sepasang suami istri yang sah.
Senyum bahagia tampak dari wajah keduanya yang penuh peluh keringat. Rasa lelah langsung mengantarkan mereka ke alam mimpi.
"Terima kasih telah menjaga mahkota mu, untuk ku yaitu aku Suami mu" kecup Sameer tepat di kening Humaira.
__ADS_1
***