
Sameer berdiri di balik pintu kamar kedua anaknya. Dia terdiam mendengarkan suara canda serta tawa yang menggema dari kamar itu.
Ini adalah pertama kalinya selama lima tahun terakhir dia bisa mendengarkan tawa riang dari kedua malaikat kecilnya.
Dia pun mulai menyadari sesuatu, keberadaan dirinya di sisi kedua anaknya tidak cukup untuk melengkapi tawa mereka. Mereka butuh sosok seorang Ibu yang bisa memberikan kehangatan di hati mereka.
"Daddy," panggil Zafira yang melihat sang Daddy dari celah pintu kamar yang tidak tertutup rapat.
"Hy sayang!" sapa Sameer melangkah masuk kedalam kamar, mendaratkan kecupan manis di kening kedua malaikat kecilnya, yang selama lima tahun ini menjadi pusat dunianya serta hidupnya.
"Apa Daddy menganggu kalian?" tanya Sameer duduk diantara kedua anaknya.
"Tidak Dad, justru kita senang Daddy datang," sambut Zafira riang.
"Hemm...tapi Daddy harus berangkat kerja jadi tidak bisa bergabung dengan kalian, kalian yang pinter ya sama Mommy Senja," pesan Sameer menatap lembut mereka.
"Iya Dad, kami tidak akan menyusahkan Mommy Senja," kata Zafran.
"Good boy!" Sameer mengelus puncak kepala Zafran.
"Saya titip anak saya sama kamu ya Senja, tolong! jaga mereka untuk saya" pinta Sameer tanpa mengalihkan tatapannya pada Senja yang senantiasa menundukkan kepalanya.
"Iya Tuan, saya akan menjaga mereka. Tapi saya mau minta izin tuan, setiap jam makan siang saya ingin menjenguk suami saya."
"Iya jenguklah suami kamu setiap hari, saya juga sudah melunasi semua biaya rumah sakitnya."
"Terima kasih tuan atas kebaikan hati anda, saya tidak tahu harus membalasnya dengan cara apa," tutur Senja merasa tidak enak hati.
Mereka baru saja bertemu tapi Sameer begitu baik membantu dirinya bahkan tidak mengharapkan imbalan apapun darinya. Entah terbuat dari apa hati majikannya itu, yang memiliki kebesaran hati yang luar biasa.
"Saya hanya minta satu sama kamu Senja, jadilah pengasuh yang baik bagi anak saya karena selama ini mereka tumbuh tidak bersama seorang Ibu. Semoga kamu bisa menjadi pengganti sosok itu bagi mereka berdua,"
"Saya akan menjaga mereka dengan baik Tuan, sesuai dengan amanah yang telah anda berikan pada saya," kata Senja penuh keyakinan.
"Terima kasih Senja,"
__ADS_1
"Terima kasih kembali tuan, hanya dengan menjadi pengasuh yang baik bagi mereka yang bisa saya lakukan untuk membalas semua kebaikan anda," kata Senja mantap.
Sameer menganggukkan kepalanya seraya tersenyum.
...*****...
Siang itu setelah menemani Zafran dan Zafira makan siang serta meminta mereka untuk tidur siang.
Senja memutuskan untuk pergi kerumah sakit menjenguk Havid. Biasanya dia akan datang saat pagi sambil menitipkan kue basah hasil olahan tangannya tapi sejak Sameer menjadikan dia pengasuh bagi kedua anaknya. Senja mulai berhenti berjualan dan hanya bisa menjenguk sang suami saat jam makan siang seperti sekarang ini.
Baginya semua itu tidak masalah asal sang suami masih bisa dirawat dengan baik dirumah sakit ini, sampai sang suami bangun dari komanya walaupun dia sendiri tidak bisa memprediksi kapan suaminya itu akan bangun dari tidur panjangnya. Yang bisa dia lakukan hanya berdoa kepada sang maha pencipta untuk kesembuhan Havid, suaminya.
"Assalamualaikum Mas Havid," sapa Senja duduk disamping ranjang Havid. Senja membelai punggung tangan Havid sesekali mengecupnya pelan.
"Kapan Mas sadar? Senja sudah sangat merindukan Mas," tutur Senja merebahkan kepalanya disamping tangan Havid, Senja masih setia menautkan jemarinya dengan jemari Havid.
Setiap memandang wajah Havid, ada rasa sesak yang menyelimuti hatinya. Havid adalah seorang dokter disebuah rumah sakit. Dokter yang cukup sukses tapi karena sebuah kecelakaan maut membuatnya harus terbaring lemah, hanya alat-alat medis yang selama ini bisa menopang hidupnya.
Keadaan Havid sendiri pun tengah berada di batas ambang antara hidup dan mati. Dan Senja sendiri harus siap dengan segala hal yang nantinya bisa terjadi pada Havid. Kemungkinan Havid untuk sembuh adalah sangat kecil.
...*****...
Senja pun melangkah pergi meninggalkan rumah sakit, dia masih punya tanggung jawab untuk menjaga dua malaikat kecil itu.
Malaikat kecil yang entah sejak kapan mulai menempati tepat di bagian terdalam hatinya. Berjauhan dengan mereka sudah membuatnya merindukan senyuman kedua malaikat itu.
Kedekatan yang terjalin antara dia dan mereka pun belum ada satu minggu tapi dia merasa sudah sangat dekat dengan mereka, dan dia merasa kedekatannya seperti sudah terjalin cukup lama.
"Mommy!" teriak Zafira berlari menghampiri Senja yang baru saja tiba dirumah.
"Mommy dari mana?" tanya Zafran yang menyusul Zafira dari belakang.
"Mommy habis pergi sebentar sayang, kenapa kalian sudah bangun?" tanya Senja membelai lembut kedua kepala mereka secara bergantian.
"Kami bangun karena tidak akan Mommy disamping kami, kami takut Mommy akan pergi lagi," kata Zafira mendekap kaki Senja yang berdiri dihadapannya.
__ADS_1
"Mommy tidak akan pergi lagi sayang, Mommy akan berada disamping kalian karena kalian kesayangan Mommy."
Senja memeluk mereka berdua penuh kasih sayang. Umi Iza yang memperhatikan semua itu merasa terharu. Jauh didalam lubuk hatinya, dia berharap Senja adalah Humaira.
"Mereka sangat bahagia ya, Nyonya," tutur Bi Nani yang juga menyaksikan kehangatan yang terjalin diantara mereka.
"Kamu benar, lihatlah mereka sangat bahagia dengan kehadiran Senja di sisi mereka."
"Tuan muda dan Nona muda pasti rindu sosok seorang ibu disamping mereka, hanya saja selama ini Tuan tidak pernah berniat mencari pengganti nyonya muda," kata Bi Nani yang sudah cukup lama mengabdikan dirinya dikeluarga Bariq khususnya dirumah utama.
"Iya Nani, putra ku itu sudah terlalu jatuh dalam sebuah rasa bersalah. Rasa bersalahnya lebih besar pada Humaira, sampai dia tidak ingin menggantikan Humaira dengan sosok yang lain. Aku mencoba memahami itu dan tidak memaksa dia lagi tentang jodoh."
"Biarkan Tuan menentukan pilihannya sendiri Nyonya, semuanya sudah ada Tuhan yang mengatur. Bisa saja nanti tuan berjodoh dengan Senja," celetuk Bi Nani terkikik menutup mulutnya.
"Dasar kamu ini!" Umi Iza menepuk pundak Bi Nani. "Tapi semoga saja ya, Nani," sambung Umi Iza tersenyum manis.
"Ternyata Nyonya juga mengharapkannya toh," kelakar Bi Nani menatap sang majikan.
"Berharap tidak apa-apa toh, semoga berawal dari berharap bisa jadi kenyataan," tawa Umi Iza.
"Sip Nyonya," Bi Nani mengacungkan dua jempolnya kehadapan Umi Iza. Senyuman tidak lepas dari bibir keduanya.
...****************...
-
Baru selesai ngetik langsung aku up, belum aku revisi ulang. Maaf ya kalo ada typo, dll. 🤭🤭🤭
Aku selalu buat kalian menunggu. 😌
Terus dukung aku ya dengan cara
LIKE + KOMEN + VOTE
Dukungan kalian sangat berarti sekali
__ADS_1
Terima kasih semuanya . 😍😘😘😇