
Brukkk....!
Zafira terjatuh saat tanpa sengaja dia menabrak seorang pejalan kaki. Zafira memegang lututnya yang sedikit berdarah.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya wanita itu lembut mensejajarkan tubuhnya menatap Zafira.
"Mommy!" ucap Zafira menatap wanita di hadapannya itu yang tersenyum manis.
"Ayo berdiri!" Wanita itu membantu Zafira berdiri, senyuman manis terus mengembang dari bibir wanita itu.
"Mommy masih hidup?" tanya Zafira menatap polos.
"Maaf sayang, aku bukan Mommy kamu,"
"Bukan ya," Zafira menunduk lesu.
Wanita itu menatap Zafira bingung. Dia tidak menyangka, dia akan ditabrak seorang gadis kecil apalagi gadis itu memanggilnya Mommy.
"Za baik-baik saja," tutur Zafira lirih masih memasang wajah sedihnya.
"Apa kamu yakin?" Zafira mengangguk mengiyakan kalau dirinya memang baik-baik saja.
Setelah memastikan kalau Zafira tidak ada masalah, wanita itu segera meninggalkan Zafira yang masih duduk termenung di bangku taman.
Zafira masih cukup terkejut bertemu seorang wanita berwajah mirip almarhumah Mommynya, hanya saja yang membedakan Mommynya bercadar sedangkan wanita itu tidak memakai cadar.
Sameer dari kejauhan hanya bisa memperhatikan interaksi diantara putrinya dengan seorang wanita yang entah siapa dia tidak tahu, karena posisi wanita itu yang membelakanginya membuatnya tidak bisa melihat wajahnya.
"Sayang," panggil Sameer berlari kecil menghampiri Zafira yang duduk termenung.
"Kamu kenapa sayang? ada yang sakit?" tanya Sameer memeriksa sekujur tubuh putrinya dan menemukan luka lecet di lututnya.
"Ayo kita pulang!"
"Za ingin Mommy," gumam Zafira lirih yang masih mampu didengar Sameer. Mata Zafira pun sudah berkaca-kaca.
"Mommy?" Sameer menatap Zafira bingung.
"Tadi yang menolong Za, itu Mommy. Tapi kenapa Mommy tidak kenal Za?" tangis Zafira pecah. Sameer sungguh tidak paham apa yang di maksud putrinya itu.
"Ok nanti Dad cari Mommy, sekarang Za berhenti dulu menangisnya," Sameer memeluk sang putri, membelai lembut rambut Zafira penuh kasih sayang.
"Dad, janji?" tanya Zafira mendongak menatap Sameer.
"Iya sayang, Dad janji," tutur Sameer.
__ADS_1
"Dad, ayo kita pulang!" ajak Zafran yang sejak tadi hanya terdiam mendengar rengekkan sang adik.
Sameer berjalan meninggalkan taman itu dengan kedua anaknya dengan berjuta rasa kebingungan. Ia masih tidak bisa memahami situasi yang sedang terjadi pada putrinya.
Dia harus percaya pada putrinya atau tidak. Baginya sosok Humaira yang kembali hidup adalah sesuatu yang sangat mustahil terjadi.
"Assalamualaikum Nenek, kakek" salam si kembar berlari kecil masuk kedalam rumah dengan tawa riang mereka.
"Waalaikumsalam" jawab Umi Iza dan Abi Ahmed secara bergantian menyambut kedatangan kedua cucu mereka.
"Kakek...kakek...tangkap Za!" teriak Zafira. Abi Ahmed terkekeh melihat tingkah sang cucu.
"Hap! berhasil!" sorak Zafira saat sudah berada di gendongan sang kakek.
"Kakek sangat kuat," puji Zafira mengecup pipi Abi Ahmed.
"Untuk Za, kakek akan jadi kuat." Abi Ahmed mengusap lembut kepala Zafira.
"Kakek memang yang terhebat," Zafira mengacungkan kedua jempolnya dengan memperlihatkan deretan giginya.
"Ayo sayang kita sarapan dulu! Nenek sudah menyiapkan sarapan spesial untuk kalian berdua," ujar Umi Iza mengandeng tangan Zafran menuju meja makan yang telah tersaji berbagai makanan untuk sarapan pagi mereka.
Suasana sarapan pagi itu tampak begitu ceria dengan celotehan si kembar. Mereka berdua pun tidak henti-hentinya saling bertengkar bahkan sesekali berebut makanan, membuat para orang dewasa hanya bisa tersenyum.
...****************...
"Ketemu dimana sayang?"
"Di mimpi," celetuk Zafran memandang sebal pada sang adik.
"Ihh.....bukan abang, bukan di mimpi tapi di taman."
"Kenapa sih kamu bicara tentang Mommy? Mommy sudah pergi di surga," omel Zafran yang tidak suka dengan celotehan sang adik tentang Mommy mereka.
"Tapi kan Za lihat sendiri, abang waktu itu juga lihat kan di sekolah," ujar Zafira lirih menundukan kepalanya.
"Itu bohong," Zafran turun dari kursinya berlalu pergi menuju ke arah kamarnya.
"Kenapa abang bilang itu bohong," gumam Zafira merasa sedih. Air mata pun menetes dari pelupuk matanya. Pagi tadi dia sungguh melihat Mommy.
"Hey kenapa menangis?" Sameer mengangkat Zafira dan memangku sang putri.
"Abang bilang bohong, padahal waktu itu kita berdua melihat Mommy,"
"Sayang, manusia yang telah pergi ke surga itu tidak akan bisa hidup kembali," tutur Sameer mencoba memberikan pemahaman pada Zafira.
__ADS_1
"Za tahu Daddy. Tapi tadi memang Mommy," Zafira masih kekeh dengan penglihatannya kalau wanita yang menolongnya itu adalah Mommy nya.
"Mungkin mereka hanya mirip. tapi itu bukan Mommy," sahut Umi Iza.
"Apa Daddy bisa mencari orang yang mirip Mommy dan menjadikan dia Mommy Za," celetuk Zafira menatap Sameer polos.
Sameer terdiam, dia sungguh terkejut mendengar permintaan putrinya untuk mencari seseorang yang mirip Humaira. Logika Sameer terus menyangkal kalau tidak akan ada orang yang mirip dengan Humaira.
"Sekarang Za, masuk kedalam ya. Temani abang Zaf di dalam," pinta Abi Ahmed.
"Siap kakek!" Zafira memberikan hormat pada sang kakek. Zafira pun turun dari pangkuan Sameer dan segera berlari masuk kedalam kamar.
Sameer menghela nafas pelan, dadanya terasa sesak. Ia masih belum mampu untuk mempercayainya, sebelum dia membuktikannya sendiri.
"Kamu memang harus mencarinya Sam. Umi yakin selama ini kamu sudah melakukan penyelidikan tentang wanita yang mirip," timpal Umi Iza.
"Sam memang melakukan itu Umi, tapi Sam menghentikan itu atas permintaan Zafran." Sameer meraup kasar wajahnya.
"Zafran?" kata Abi Ahmed dan Umi Iza bersamaan.
"Zaf bilang dia tidak ingin daddy nya mencari Mommy baru, baginya semirip-miripnya orang itu dengan Mommnya pasti ada perbedaannya," kata Sameer menirukan apa yang Zafran pernah katakan padanya diruang kerja sebulan yang lalu.
"Kenapa Zafran berpikir begitu?" tanya Umi Iza masih menatap Sameer intens.
"Bagi Zaf, Mommy Humaira tidak akan tergantikan dan diam-diam dia sering melihat video pernikahan kami," ungkap Sameer menundukkan kepalanya.
Pikiran Sameer cukup kacau, ia merasa dilema. Zafran putranya melarangnya untuk mencari wanita yang mirip Humaira tapi disisi lain ada Zafira yabg ingin sekali bertemu wanita itu dan menjadikan wanita itu sebagai Ibunya.
"Jangan terlalu dipikirkan Sam. Hal itu masih bisa di pikirkan dengan santai," Abi Ahmed menepuk pelan pundak Sameer. Abi Ahmed tahu kalau putranya itu tengah bimbang.
"Bener kata Abi mu. kalau wanita itu memang masih berjodoh dengan mu pasti kalian akan di pertemukan dengan cara yang tidak terduga," sambung Umi Iza mengelus pelan punggung Sameer untuk memberikan kekuatan pada sang putra.
"Iya Umi, Sam mengerti. Terima kasih masih selalu berada di sisi Sam yang rapuh ini," kata Sameer lirih.
Umi Iza dan Abi Ahmed melemparkan senyum bangganya. Bagi mereka, Sameer yang dulu egois ternyata telah menjadi sosok yang lebih bijak dan ayah yang baik bagi kedua anaknya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Maaf ya guys... Beberapa hari belum bisa up. selain ada acara sekaligus aku lagi bapil (batuk pilek) jadi mau nerusin nulis konsentrasinya agak terganggu.
Selalu jaga kesehatan ya. musim hujan sekaligus masih dalam masa pandemi.
Terima kasih buat kalian yang masih menunggu up novel ku.
JANGAN LUPA... 😘
__ADS_1
LIKE+KOMEN+VOTE 🤗