Dua Cincin Satu Cinta

Dua Cincin Satu Cinta
Bab 27


__ADS_3

Malam menjelang, bintang bersinar cerah, angin berhembus menyentuh kulit. Terasa begitu dingin.


Humaira duduk bersantai diayunan samping rumahnya, senyuman manis terus tersinggung dibibirnya.


"Hy kenapa senyum-senyum begitu?" tanya Sameer duduk disamping sang istri sambil memberikan pelukan hangat.


"Dinda merasakan sebuah kebahagiaan di hidup Dinda, jadi ya Dinda tersenyum"


"Apa kamu bahagia hidup dengan Zauya?." tanya Sameer menatap lekat manik mata sang istri.


"Tentu, Dinda bersyukur memiliki pendamping hidup seperti Zauya dan sebentar lagi akan hadir Sameer Junior" Humaira mengelus perutnya pelan, merasakan gerakan ringan calon anaknya. Sameer pun ikut mengelus perut Humaira.


"Tetaplah disisi Zauya, apapun yg terjadi" Sameer menunduk menggenggam tangan Humaira erat.


"Iya Zauya"


"Janji?"


"Dinda janji akan tetap berada disisi Zauya, apapun yang terjadi"


"Terima kasih sayang" Sameer memeluk Humaira erat


****


Kicauan burung bernyanyi ria menyambut pagi yang cerah dilangit yang biru. Sameer dan Humaira masih bergelut diatas ranjang, Humaira masih menikmati tidur nyenyaknya setelah semalam dibuat kelelahan karena ulah Sameer yang tidak membiarkannya tidur.


Humaira merasa stamina suaminya begitu kuat saat olahraga malam. Terus berulang kali mengajaknya menikmati lautan gairah yang membara.


"Sayang" gumam Sameer lirih menatap wajah Humaira yang masih terlelap disampingnya.


Ditatapnya wajah teduh Humaira, disentuhnya perlahan wajah Humaira. Sameer memainkan pipi Humaira yang sudah terlihat cubby, membuatnya gemas. Kehamilan Humaira yang mengandung dua bayi memang membuat tubuh Humaira bertambah gemuk, membuat Sameer yang melihatnya menjadi gemas.


Humaira mengeliat kecil saat Sameer dengan sengaja menarik pipinya gemas. Sameer hanya tertawa kecil, ia senang memainkan pipi sang istri entah sejak kapan ia suka melalukan itu.


"Zauya" rengek Humaira mulai merasa terganggu dengan kejahilan Sameer.


"Bangun sayang, ini sudah siang"


"Benarkah?" tanya Humaira masih dengan mata terpejam sembari mengeratkan pelukannya di tubuh Sameer.


"Jangan menggoda ku sayang" tutur Sameer saat Humaira membenamkan kepalanya di dada Sameer.


Humaira pun melancarkan aksi jahilnya dengan menciumi dada telanjang sang suami, membuat gairah Sameer kembali naik.


"Dinda bangun dulu Zauya, mau buat sarapan kasihan Bi Marni" Humaira segera bangkit sambil menahan tawa melihat wajah Sameer yang memerah menahan gairah.


"Tidak!" cegah Sameer memegang tangan Humaira


"Dinda harus tanggung jawab" tegas Sameer


"Tanggung jawab apa? Memang Zauya hamil minta tanggung jawab" lirik Humaira menahan tawa geli.


"Dinda" Sameer menggeram saat tangan jail Humaira mengelus dadanya, membuat tulisan abstrak di dada Sameer.


Humaira tergelak, ia tertawa puas melihat suaminya yang sudah dipenuhi gairah.


"Semalaman Zauya sudah membuat Dinda lelah, jadi hari ini puasa saja" Humaira mencium sekilas bibir Sameer untuk meredam gairah sang suami yang mulai naik.


"Lagipula hari ini Dinda ada jadwal untuk periksa kehamilan" tutur Humaira mendaratkan satu kecupan singkat di kening Sameer sebelum Humaira beranjak dari sisi Sameer menuju kamar mandi.


"Siap tuan putri. Jam berapa nanti?"


"Dinda membuat jadwal nanti sehabis makan siang"


"Ok nyonya bos, nanti Zauya jemput ya" Humaira mengangguk senang.

__ADS_1


Selesai membersihkan diri, Humaira dan Sameer keluar dari kamar bersama. Senyuman manis dan wajah ceria terlihat dari wajah keduanya. Mereka seperti sepasang ABG yang baru merasakan cinta. Cinta yang menggebu-gebu.


"Assalamualaikum Mbak Elena. kapan datang?" sapa Humaira saat melihat Elena tengah duduk dimeja makan.


"Waalaikumsalam. baru saja Mai"


"Selamat pagi sayang" sapa Sameer mengecup puncak kepala Elena.


"Selamat pagi juga sayang" balas Elena mengecup pipi Sameer.


"Aku kebelakang dulu ya mau menyiapkan sarapan pagi" Pamit Humaira.


"Aku ikut Mai"


"Ayo Mbak!" Mereka berdua berjalan menuju dapur untuk membuat sarapan pagi bersama.


"Kamu terlihat bahagia ya Mai" kata Elena melemparkan pandangan sinisnya pada Humaira yang tengah sibuk memotong sayuran.


Humaira terdiam, ia tidak tau mengapa mendengar perkataan Elena terdengar sinis berbeda seperti biasanya yang selalu lembut.


"Biarkan aku yang memasak kali ini, aku ingin memasak untuk suami ku" kata Elena melewati Humaira begitu saja, tanpa keramahan atau kelembutan sama sekali.


"Apa Mbak marah sama aku?" tanya Humaira menyadari sikap Elena yang berubah.


"Tidak marah, hanya merasa kalau kau lebih beruntung dari pada Mbak"


"Beruntung? Kita sama-sama beruntung Mbak"


"Kita berbeda Mai" Elena menggelengkan kepalanya menghentikan kegiatannya mengeluarkan bahan makanan yang akan ia masak.


"Kau memiliki segalanya sedangkan aku tidak memiliki siapapun kecuali Sameer. Dan sekarang aku pun harus membagi milik ku satu-satunya pada mu. Sebelum kau kembali ke sini, seluruh perhatian Sameer ada untuk ku tapi setelah kau kembali. Sameer lebih perhatian pada mu dan semua itu karena anak dalam kandungan mu" Kata Elena panjang lebar dengan pandangan mengarah pada perut Humaira yang sedikit membuncit.


Humaira masih bungkam mendengar semua penuturan Elena mengenai perasaannya. Huamira sendiri tidak menampik sejak kehamilannya Sameer lebih perhatian bahkan sangat protektif terhadapnya. Sameer pun lebih banyak menghabiskan waktunya untuk tinggal bersama dengannya daripada dengan Elena.


"Seharusnya Mbak yang lebih dulu menikah dengan Sameer, tapi saat itu Mbak tidak punya pilihan lainnya. Mbak harus menikah dengan orang lain danĀ  meninggalkan Sameer"


Pertanyaan Elena menohok hati Humaira. Cinta? Sameer tidak pernah mengatakan cinta padanya selama ini. Tentang perasaan Sameer kepadanya membuat Humaira bertanya-tanya. Bagaimana perasaan Sameer padanya?


Tiba-tiba pertanyaan itu bergelayut memenuhi otaknya, kenapa ia baru sadar akan pertanyaan itu? Apa ia sudah terlalu terlena dengan perhatian Sameer sampai melupakan tentang perasaan Sameer sesungguhnya?


"Sameer hanya mencintai Elena, sampai kapanpun cinta Sameer hanya untuk Elena" bisik Elena


"Kau hanya menjadi tempat menapung benih Sameer, setelah itu kau akan di ceraikan oleh Sameer. Tidak percaya? Lihatlah nanti saat kau melahirkan" bisik Elena.


Humaira termangu mendengar bisikan Elena. Dadanya terasa sakit seperti diremas untuk siap dihancurkan. Perkataan Elena sukses menghujam tepat dihatinya menyayat lukanya semakin lebar dan dalam.


Tak terasa air mata membasahi pipinya. Elena tersenyum senang melihat tetes demi tetes air mata Humaira. Ia kembali menyiapkan sarapan mengabaikan Humaira yang masih terdiam.


****


Di Rumah Sakit


"Dinda" panggil Sameer menyentuh tangan Humaira membuyarkan lamunan Humaira.


"Iya Zauya" jawab Humaira lemah.


"Dinda kenapa?" tanya Sameer


Sejak tadi Sameer menjemput Humaira dari rumah sampai kini mereka tiba dirumah sakit. Istrinya itu hanya diam dan melamun, cahaya matanya yang bersinar pun kini sinarnya meredup tergantikan dengan mata yang hampa dan kosong seperti tidak ada kehidupan di dalamnya.


"Tidak Zauya" Humaira kembali menggelengkan kepalanya.


"Dinda sakit?"


"Tidak Zauya" jawab Humaira singkat.

__ADS_1


"Ada yang mengganggu pikiran Dinda sampai Dinda seperti ini?"


"Nyonya Humaira Az-Zahra" panggil seorang suster.


Humaira mengabaikan pertanyaan Sameer, segera bangkit menuju ruangan dokter untuk melakukan pemeriksaan pada kandungannya.


"Selamat siang" sapa Dokter Adam penuh senyuman.


"Selamat siang dok" balas Humaira tersenyum dibalik niqabnya


"Apa ada keluhan nyonya?"


"Alhamdulillah tidak ada dok"


"Baiklah, mari nyonya silahkan berbaring" Humaira berbaring dirajang. Sameer setia berdiri di samping istrinya menggenggam tangan Humaira erat.


"Kenapa perutnya harus di buka dokter?" tanya Sameer menghentikan gerakan suster wanita yang menjadi asisten Dokter Adam. Dokter Adam melemparkan senyumnya.


"Memang seperti itu Pak harus dibuka"


"Kenapa harus menyentuh kulit istri saya?, tidak bisa ya kalau suster itu saja" Ketus Sameer. Ia tidak rela tubuh istrinya di sentuh pria lain meskipun itu seorang dokter sekalipun.


Dokter Adam lagi-lagi tersenyum, Dokter Adam tersenyum maklum dengan sikap posesif Sameer.


"Zauya, biarkan dokter memeriksa anak kita" kata Humaira lembut. Sameer hanya mendengus sebal.


"Ini bayi anda, bayinya sehat ya" tutur Dokter Adam menunjuk layar yang menampilkan dua bayi di dalam perut Humaira.


"Ini kondisi jantungnya" Dokter Adam mendengarkan suara detak jantung ke dua bayi mereka.


Deg...


Sameer merasakan gegara aneh yang menelusup saat mendengar detak jantung calon anaknya untuk pertama kalinya. Matanya sampai berkaca-kaca, dia sungguh terharu dan untuk pertama kalinya. Ia merasakan jatuh cinta yang dalam, jatuh cinta pada kedua calon bayinya.


"Terima kasih sayang" Sameer mengecup kening Humaira dalam sambil memegang foto hasil USG bayi mereka berdua.


"Dinda menjaga anak kita dengan sangat baik" Sameer mengelus perut Humaira.


"Iya Daddy, kita akan sehat terus dan tidak rewel" jawab Humaira menirukan suara anak kecil


"Oh ya bulan depan Zauya akan mengganti dokternya"


"Kenapa diganti Zauya? dari awal Dinda sudah diperiksa Dokter Adam"


"Zauya tidak ikhlas anak Zauya dilihat dokter Adam, Zauya akan cari dokter perempuan titik. Tidak ada penolakan"


Humaira memutar bola matanya malas dengan sikap posesif Sameer. Ia tidak menyangka suaminya seposesif itu.


Drtt...drtd.....


Suara dering ponsel Sameer menghentikan perbincangan mereka. Sameer melepaskan pelukannya pada Humaira mengangkat telpon dari Elena.


"Siapa Zauya?" tanya Humaira


"Elena, sayang"


Sameer menggeser tombol hijau menjawab panggilan Elena, terdengar suara Elena yang ketakutan membuat Sameer bingung sekaligus khawatir.


****


Bonus visual


HUMAIRA AZ-ZAHRA


AS CATTALEYYA MIRROR

__ADS_1



__ADS_2