
Seusai menelfon Dokter Johan, Humaira termenung seorang diri memikirkan perkataan Sameer tentang Elena. Elena yang mengalami mual serta badan lemas, semua itu seperti gejala yang dulu dia alami saat pertama kali dia tahu dia hamil.
"Sayang kenapa melamun?" tanya Sameer membuyarkan lamunan Humaira.
"Tidak apa-apa Zauya, Dinda hanya khawatir dengan keadaan Mbak Elena"
"Tuan, Nyonya, Dokter Johan sudah datang" kata Bi Imah
"Iya Bi" balas Humaira.
***
"Bagaimana Jo?" tanya Sameer menatap Johan meminta jawaban hasil dari pemeriksaannya.
Johan menarik nafas dalam dan menghembuskannya secara perlahan. Ada ketakutan yang mengelayuti pikiran Johan yang berkaitan dengan informasi yang akan dia sampaikan.
"Spertinya kau harus membawa Elena ke dokter kandungan" Ujar Johan.
Deg..
Seketika tubuh Sameer diam mematung mendengar saran Johan untuk membawa Elena ke dokter kandungan. Ia masih diam membisu tidak menanggapi.
Tiba-tiba otaknya berhenti bekerja. Perasaannya mendadak menjadi ragu. Dia ragu akan janin yang dikandung Elena saat ini. Itu Janin miliknya atau milik orang lain?
"Apa dia Hamil Jo?" tanya Sameer tatapan mata yang tidak terbaca
"Iya dia hamil, sebaiknya kamu periksakan keadaan Elena"
"Baik Jo. Terima kasih"
Humaira yang mendengar berita kehamilan Elena pun tersenyum. Dugaannya benar kalau Elena tengah hamil.
"Zauya selamat ya" ucap Humaira dengan binar bahagia menatap Sameer yang masih terdiam kaku tanpa ekspresi.
"Ayo sayang kita keluar!" Tanpa menjawab ucapan Selamat Humaira, Sameer menarik tangan Humaira meninggalkan kamar Elena menuju kamar mereka sendiri.
"Zauya kenapa?" tanya Humaira membaca mimik wajah sang suami yang tampak datar, tidak ada senyuman atau binar mata penuh kebahagiaan.
"Zauya ragu, itu janin milik ku atau milik orang lain"
"Maksud Zauya apa?" Humaira terlihat bingung
"Zauya hanya menggauli Elena sekali, sangat tidak mungkin kalau janin itu milik ku bahkan sampai sekarang aku belum menemukan siapa yang memperkosa Elena"
__ADS_1
Sameer mengusap wajahnya kasar. Sameer terlihat frustasi dengan keadaannya saat ini.
***
Semilir angin malam terasa dingin menusuk sumsum tulang. Desahan berat sesekali Sameer keluarkan, pandangannya menerawang jauh memikirkan berbagai persoalan yang tengah ia hadapi.
Badai datang silih berganti menguras emosinya, ia mencoba untuk tidak menyesali segala keputusan yang telah di ambilnya. Ia mencoba berpikir mungkin ini ujian hidup yang harus ia lewati.
Dari kejauhan Humaira menatap Sameer yang sedang menyendiri di taman belakang. Humaira paham bagaimana kondisi suaminya kini. Suaminya tengah menanggung begitu banyak beban.
Humaira melangkah pelan mendekati sang suami, direngkuhnya tubuh suaminya menyalurkan kehangatan, menenangkan batinnya.
"Bermunajat kepada sang pencipta adalah hal terbaik untuk melepas segala beban yang sedang Zauya hadapi, Dinda tau ini berat tapi Zauya tidak boleh terlalu mengeluh" tutur Humaira memeluk Sameer dari belakang, menyandarkan kepalanya dipunggung sang suami.
Sameer memberikan elusan lembut pada tangan Humaira.
"Apa ini karma Zauya yang harus Zauya tanggung? Apa ini karma dari kemurkaan Allah karena aku telah menyakiti mu. Jodoh yang telah Allah pilihkan?" tanya Sameer melemparkan iris matanya kelangit malam yang penuh bintang dengan rembulan yang mempesona.
Malam ini begitu indah, pemandangan langit yang mempesona mata. Semua keindahan langit malam tak sebanding dengan hati dan perasaan Sameer.
"Langkah apa yang harus Zauya ambil setelah ini? Zauya tidak bisa membayangkan esok apa yang akan terjadi, semua ini terlalu berat bagi Zauya" Sameer membuang napas kasar.
Humaira masih setia mendengarkan segala keluh kesah sang suami. Ia mencoba menjadi pendengar yang baik untuk suaminya. Ia juga tidak ingin mengungkit ataupun menghakimi kesalahan suaminya di masa lalu.
"Andaikan Zauya tidak terlena dengan kebahagiaan sesaat, mungkin Zauya tidak akan terjerumus terlalu jauh seperti ini. Zauya bodoh bukan? Apa yang harus Zauya lakukan untuk menebus semua yang telah terjadi? Mengembalikan hati Dinda yang retak? Atau membalikkan kemarahan Umi menjadi kebahagiaan? Otak Zauya rasanya lelah untuk diajak berpikir, lelah untuk menerima semua ujian yang terjadi"
Sameer menundukkan kepalanya dalam, menyelami semua permasalahan hidupnya. Setetes air mata jatuh tepat di tangan Humaira, kini ia sedang rapuh. Benar-benar rapuh.
Ia sangat bangga dengan istrinya itu yang tampak kuat dan tabah menghadapi luka hatinya. Ia sangat bangga melihat ketegaran hati istrinya selama ini. Mulai dari ia mengabaikan sang istri sampai ia menikahi kekasih masa lalunya, sang istri masih tetap berdiri kokoh dengan kuatnya.
Sama sekali tidak merasa terancam dengan segala badai yang menyerang fisiknya, bukan hanya fisik tapi hati dan perasaannya.
"Bagaimana Zauya bisa belajar dari Dinda yang tegar menghadapi problematika rumah tangga kita? Dinda yang seorang wanita begitu tegar dan kuat meskipun selalu Zauya sakiti. Tapi Zauya yang baru seperti ini saja rasanya sudah lelah dan ingin menyerah"
Sameer menggelengkan kepalanya pelan, ia merasa tidak berguna sebagai seorang laki-laki. Tidak bisa melindungi istrinya dan rumah tangganya.
Humaira melepaskan pelukannya, melangkahkan kakinya berdiri dihadapan Sameer. Humaira mengamati wajah Sameer dengan teliti, diusapnya guratan dikening sang suami.
"Semua jawaban yang Zauya tanyakan tempatnya ada disini" senyum Humaira meletakkan telapak tangannya di dada Sameer.
"Dinda juga bukan orang yang kuat seperti yang Zauya bilang. Dinda orang yang sangat rapuh, setiap malam Dinda selalu mengeluh dengan ujian hidup yang Dinda hadapi. Sesungguhnya hati Dinda pun begitu hancur tapi Dinda selalu mengingat satu hal Zauya" Humaira melemparkan senyum hangat untuk sang suami yang sedang rapuh.
"Allah selalu ada di hati Dinda, Allah yang telah memberikan Dinda kekuatan untuk melewati ujian hidup ini. Allah yang telah menegakkan kaki Dinda untuk terus melangkah" tutur Humaira penuh makna.
__ADS_1
"Saat lelah, kecewa, marah, sedih bahkan sekalipun sedang bahagia mengadulah kepada Allah, Zauya. Hanya Allah satu-satunya tempat terbaik untuk kita berbagi dan hanya Allah yang dapat membantu kita terlepas dari ujian ini"
Humaira kembali memberikan pelukan untuk Sammer.
"Mari Zauya kita melewati ujian ini bersama-sama, Mari kita saling mengeratkan genggaman kita untuk menghadapi ini semua"
Humaira memberikan semangat untuk sang suami, suaminya butuh sebuah dukungan untuk kembali meningkatkan rasa percaya diri melewati ujian hidup yang sedang mereka hadapi.
"Dinda" panggil Sameer lirih
"Entah kata apalagi yang harus Zauya rangkai untuk mengungkapkan perasaan Zauya saat ini. Zauya sangat bersyukur karena Zauya didampingi bidadari bumi seperti Dinda. Sekalipun Zauya melakukan kesalahan besar Dinda tidak menghakimi Zauya, Dinda tidak meninggalkan Zauya. Dinda malah mengulurkan tangan Dinda, merentangkan tangan Dinda selebar mungkin untuk memeluk Zauya"ucap Sameer menggenggam tangan Humaira erat.
"Terima kasih sayang, beribu-ribu kata maaf dan kata terima kasih Zauya ucapkan untuk Dinda. Dinda adalah pelita harapan Zauya. Dinda adalah cahaya bagi Zauya yang senantiasa menyinari setiap langkah Zauya"
Sameer mengecup kening Humaira dalam, menyalurkan rasa cinta dan kasihnya untuk bidadari buminya. Sameer merasa begitu bangga disampingnya berdiri seorang wanita sekuat dan setegar Humaira.
Sameer sangat menyesal dulu menyakiti Humaira, membiarkan wanitanya meneteskan air mata kesedihan.
Sameer berjanji pada dirinya sendiri akan mengganti air mata kesedihan Humaira menjadi air mata kebahagiaan. Ia berjanji untuk itu.
Ia tidak ingin lagi mengulang kesalahan yang sama, yang nantinya akan membuatnya menyesal untuk yang kedua kalinya.
***
Bi Imah berlari kecil menghampiri Sameer dan Humaira yang sedang menikmati waktu berdua di taman belakang.
"Tuan..Nyonya" panggil Bi Imah gugup, meremas tangannya ketakutan sekaligus panik.
"Kenapa Bi Imah panik?" tanya Humaira heran dengan sikap pembantu barunya itu.
"Itu anu..anu...Nyonya"
Bi Imah menundukkan kepalanya takut, panik sekaligus khawatir melanda perasaannya. Ia seperti merasa ini mimpi buruk untuknya, baru hari pertama bekerja sudah terlibat dalam masalah kehidupan sang majikan.
"Anu kenapa Bi? bicara yang jelas" tuntut Sameer tidak sabar menunggu penjelasan Bi Imah yang terkesan bertele-tele.
"Nyonya Elena mencoba bunuh diri" ujar Bi Imah mendesah lega.
"Apa!!" teriak Sameer dan Humaira serempak.
Sameer segera berlari menuju kamar Humaira, begitu pun Humaira yang berjalan cepat. Ia tidak mampu untuk berlari mengimbangi Sameer dengan keadaannya yang sedang hamil.
***
__ADS_1