Dua Cincin Satu Cinta

Dua Cincin Satu Cinta
Bab 26


__ADS_3

Setibanya dirumah, Sameer membawa semua barang belanjaan Humaira. Humaira mengekori Sameer yang berjalan kearah dapur menyerahkan semua belanjaan itu pada Bi Marni.


Sameer yang masih terbawa emosi hanya mendiamkan Humaira saat Humaira menyajikan secangkir teh di hadapannya.


Sameer menyesap teh itu perlahan tanpa mengucapkan sepatah kata pun, emosi masih melingkupi hatinya. Entah mengapa ia merasa begitu cemburu melihat Humaira tersenyum dan tertawa bersama pria lain.


Humaira yang merasakan kemarahan Sameer hanya mampu terdiam menundukkan kepalanya. Ia tidak berani menatap mata Sameer, ia terlalu takut menghadapi kemarahan Sameer.


"Zauya" panggil Humaira lirih seraya menatap Sameer takut. Sameer terdiam tidak membalas panggilan Humaira, hatinya masih terasa panas.


"Apa Zauya marah dengan Dinda?" tanya Humaira. Sameer masih bungkam.


Humaira menghela napas pelan. Ia merasa sedih Sameer mengabaikannya, matanya terasa perih mengalir lah air mata Humaira.


"Kenapa menangis?" tanya Sameer mengalihkan perhatiannya pada Humaira yang duduk disampingnya.


"Apakah Dinda membuat kesalahan yang begitu besar sampai Zauya mengabaikan Dinda?" tutur Humaira. Ia tidak merasa telah membuat kesalahan besar pada Sameer tapi Sameer memperlakukannya seperti itu. Mengabaikannya.


Pandangan mata Sameer jatuh pada wajah Humaira yang sudah basah dengan air mata.


"Jangan menangis itu membuat Zauya sakit" tutur Sameer membuka niqab Humaira, menghapus air mata sang istri.


"Bukankah tadi sudah Zauya katakan kalau Zauya tidak suka Dinda bersama pria lain selain Zauya, Akbar bukan mahram Dinda jadi itu membuat Zauya tidak suka" jelas Sameer menangkup wajah Humaira memandangnya penuh cinta.


"Tapi Gus Akbar itu...."


"Stttttt..!!!" Sameer menutup bibir Humaira dengan telunjuknya. Ia tidak ingin sang istri membicarakan pria lain.


"Pandangan mata ini hanya untuk Zauya" Sameer mengecup kedua mata Humaira.


Seulas senyum menghiasi wajah Humaira, rasanya hatinya penuh dengan bunga bermekaran. Debaran jantungnya pun berdetak kencang.


"Dan senyum ini untuk Zauya seorang" Sameer melekatkan bibir ke bibir cherry Humaira, kecupan manis yang berubah menjadi ciuman yang menuntut penuh gairah.


"Kamu harus menerima hukumannya sayang"


"Hukuman? kenapa Dinda di hukum?"


"Karena Dinda tidak menurut"


"Dinda kan sudah menurut. Isshhh...Zauya jahat" Humaira mengerucutkan bibirnya.


"Hukuman mu akan dilaksanakan sekarang juga"


Spontan Sameer langsung mengendong Humaira ala bridal style. Humaira pun berteriak terkejut dengan aksi spontan sang suami. Kini Humaira paham maksud dari kata hukuman yang dilontarkan Sameer.

__ADS_1


"Dasar mesum" cibir Humaira. Sameer yang gemas dengan tingkah Humaira segera melahap bibir Humaira memberikan ciuman panas.


Sameer terus mencium bibir Humaira sepanjang menuju kamar mereka. Perlahan Sameer pun membaringkan tubuh Humaira diatas ranjang. Rona bahagia menghiasi wajah keduanya.


"Daddy akan menjenguk mu sayang karena Mommy sudah nakal. Mari kita buat kami merasakan kenakalan kita" gumam Sameer berbicara dengan bayi didalam kandungan Humaira. Humaira tertawa kecil mendengar perkataan Sameer yang menurutnya kekanakan.


"Allahumma janibnasyaithana wa janibnisyathanamarazaqna" bisik Sameer tepat ditelinga Humaira. Ditiupnya ubun-ubun Humaira seraya mengecup kening Humaira penuh perasaan.


Humaira memejamkan matanya merasakan ciuman Sameer, ia hanya mampu tersenyum saat doa untuk berjima Sameer ucapkan tepat di telinganya.


Sepasang mata penuh api cemburu memandang kemesraan Sameer dan Humaira. Tangan itu mengepal erat, ia menahan rasa panas didadanya.


Elana yang baru tiba di rumah Humaira harus menyaksikan adegan romantis pasangan suami istri yang tengah memadu kasih. Tidak bisa dipungkiri Elena kalau rasa cemburu selalu ada tiap kali melihat interaksi antara Sameer dan Humaira.


Ia merasa cemburu dengan segala apa yang Humaira dapatkan, memiliki orang tua yang lengkap, mertua yang begitu menyayanginya dan Sameer yang mulai menaruh perhatian lebih pada Humaira apalagi sejak Sameer mengetahui Humaira tengah mengandung buah cinta mereka.


"Seharusnya dari awal aku yang berada diposisi itu bukan Humaira. Dan harusnya aku jadi yang pertama bukan menjadi yang kedua" gumamnya sendu.


Elena membalikan badannya meninggalkan rumah Humaira. Raut wajah terluka mengiringi langkah Humaira.


***


"Mari kita menikmati kopi hangat ditengah udara yang dingin" tutur Akbar menyeruput kopi miliknya. Ia menikmati rasa kopi luwak favoritnya dengan baunya yang khas.


"Pasti sakit ya" ujar Damar meringis membayangkan tinju Sameer di wajah Akbar.


"Kau terlihat begitu menyayangi Humaira, bahkan orang tua Sameer juga sangat sayang dengan Humaira" tutur Hasan


"Dia itu istimewa, makanya kami menyayangi Humaira"


"Apa kau menaruh rasa pada Humaira?" celetuk Damar


"Menaruh hati?" tanya Akbar bingung menatap kedua sahabatnya bergantian.


"Iya, Kamu dan Humaira" Hasan mempertegas maksud Damar.


"Apa kalian gila? Humaira itu adik ku. buat apa aku menaruh hati pada Humaira?"


"Apa?" tanya Mereka serempak.


Damar dan Hasan saling pandang penuh rasa terkejut. mata mereka membulat sempurna mendapati kenyataan bahwa Akbar dan Humaira bersaudara.


"Ceritanya panjang. Kami satu ayah beda Ibu" jelas Akbar masih penuh teka teki.


Ada sebuah kisah rumit yang terjadi di keluarganya yang selama ini belum banyak yang tau termasuk para sahabatnya. Akbar memang sengaja menyembunyikan semua kisah itu, bagi Akbar itu merupakan kisah kelam yang terjadi pada keluarganya.

__ADS_1


"Ya sudanlah yang penting aku senang rencana kita berhasil membuat Sameer cemburu dan Sameer belum mengetahui kalau kau kakak Humaira, jadi lebih memudahkan kita" kata Damar tertawa.


"Dan kalian memanfaatkan aku..Sialan!" umpat Akbar dengan tawa renyahnya.


"Kita cukup di untungkan Sameer tidak tahu hubungan mu dengan Humaira" timpal Hasan.


"Ya dan sekali lagi aku harus rela menjadikan wajah tampan ku ini babak belur" dengus Akbar.


Seketika mereka tertawa mendengar gerutuan Akbar yang menjadikannya korban samsak Sameer.


"Tidak lucu kalau kita Bar, kita sudah punya pasangan jadi yang jomblo mengalah" timpal Hasan tertawa, begitupun dengan Damar tidak bisa menahan tawanya.


"Sialan..! Kalian sahabat laknat" ejek Akbar melayangkan tinjunya ke lengan kedua sahabatnya.


"Segera cari pasangan, kau suka sekali jadi bujang lapuk" kata Damar menepuk pundak Akbar.


"Aku akan memastikan Humaira bahagia dulu, baru aku akan mencari pasangan. Aku tidak akan tenang sebelum Humaira bahagia"


"Kau begitu menyayangi Humaira, aku tidak yakin kalau kau tidak memiliki perasaan lebih ke Humaira selain dia adik mu" tanya Hasan penuh selidik. Akbar menghembuskan nafas kesal.


"Aku memiliki rasa bersalah yang besar yang semua itu berkaitan dengan Humaira. Jadi aku akan menebusnya dengan membuat Humaira bahagia" tatapan Akbar berubah sendu. Seperti ada banyak luka yang sengaja ia tutupi.


"Kau adalah kakak yang baik, kami mendukung keputusan mu" Damar menepuk pelan pundak Akbar, memberikan semangat untuk sahabatnya itu.


"Ya, apalagi kini Sameer menjadikan Elena istri ke dua. Walaupun wanita itu sudah agak berubah tapi aku masih tetap khawatir"


Akbar tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya tentang rumah tangga Sameer. Akbar sangat takut kalau adiknya Humaira akan terluka dengan pernikahan itu.


"Kita pun khawatir, aku sendiri tidak paham kenapa Elena kembali ke sini. Lalu bagaimana dengan Erik?" tanya Hasan yang mulai merasa janggal dengan kembalinya Elena.


"Entahlah, sepertinya kita harus mencari tau" Akbar mengangkat bahunya santai walaupun dari tatapan matanya memancarkan kegelisahan.


***


Jangan lupa dukung karyaku ya..


√ LIKE


√ KOMEN


√ RATE 🌟🌟🌟🌟🌟


√ VOTE seikhlasnya


Dukungan kalian sangat berarti..

__ADS_1


Terima kasih ❤❤❤


__ADS_2