
Pada masa kejayaan islam, Istanbul adalah ibukota kesultanan Turki Usmani. Sebelumnya, kota itu bernama Konstantinopel selang seribu tahun nama kota itu berubah menjadi Istanbul hingga kini.
'Indah dan Megah'
Dua kata yang menggambarkan Istana Topkapi. Istana yang terletak di tepi pantai pada titik pertemuan antara Selat Bosphorus, Tanjung Tanduk Emas (Golden Horn), dan Laut Marmara.
"Indah sekali Zauya" Humaira merentangkan tangannya menghirup udara sejuk di Istana Topkapi.
Sameer hanya membalas perkataan Humaira dengan senyuman.
Sameer merasa takjud dengan semangat istrinya yang luar biasa untuk menikmati kota Istanbul. Kehamilannya yang sudah membesar sama sekali tidak mengurangi ruang geraknya untuk kesana kemari yang terkadang malah membuat Sameer khawatir sendiri melihatnya.
"Sayang, hati-hati kamu itu sedang mengandung" Sameer memperingatkan Humaira untuk membatasi pergerakannya.
"Iya Zauya, Dinda tau. Dinda hanya semangat berkunjung kesini. Zauya kan tau kalau aku 10 tahun tidak datang kemari" cerocos Humaira yang mulai cerewet semenjak hamil.
"Iya sayang Zauya tau, tapi kamu harus tetap jaga diri"
"Iya suami ku sayang" Humaira memberikan kecupan di pipi kanan Sameer.
"Mau merayu ya??"
"Bukan, itu hanya ucapan terima kasih Dinda untuk Zauya" Sameer mengelus kepala Humaira lembut sambil membalas kecupan Humaira tepat di kening sang istri.
"Zauya, ayo kita kesana!" ajak Humaira menuju pintu utama Istana Topkapi
"Siap tuan putri"
Mereka pun masuk ke dalam istana Topkapi. Istana yang sekarang menjadi museum itu merupakan kediaman resmi dan juga merupakan pusat Pemerintahan Turki Usmani yang berjalan selama kurang lebih 400 tahun lamanya.
***
Perjalanan mereka pun tidak berhenti di Istana Topkapi saja. Sepoy angin menyambut kedatangan mereka, gemerlap lampu yang indah terlihat dari jembatan Bosphorus yang merentang di atas selat Bosphorus yang menghubungkan antara Benua Eropa dan Benua Asia.
Sameer merangkul pinggang Humaira posesif menuju sebuah kapal pesiar yang sengaja Sameer sewa untuk mengelilingi Selat Bosphorus.
"Kita naik kapal ini Zauya?" tanya Humaira tidak hentinya menatap kagum gemerlap lampu yang terpancar dari jembatan Bosphorus.
"Iya, Ayo kita kesana! Zauya sudah menyiapkan sesuatu yang spesial untuk kamu"
Suara alunan biola mengiringi langkah Sameer dan Humaira. Senyuman terbit dari bibir Humaira, pandangan matanya dia alihkan pada sang suami yang masih setia berdiri disisinya.
"Zauya yg menyiapkan ini semua?" tanya Humaira.
__ADS_1
Sameer menyiapkan makan malam romantis diatas kapal pesiar dengan latar belakang jembatan bosphorus yang indah.
Sameer perlahan menarik kursi untuk Humaira, mendudukan sang istri dengan hati-hati. Sameer bersimpuh di hadapan Humaira menggenggam tangan Humaira erat, pandangan mata yang saling mengunci satu sama lain dengan alunan suara Biola yang semakin menambah malam itu terasa romantis.
"Dinda.."
"Iya Zauya"
"Mungkin dulu disaat awal pernikahan kita, aku membuat perjanjian bodoh. Perjanjian bodoh yang telah melukai hati dan perasaan mu. Tapi saat ini aku Sameer meminta maaf atas segala yang pernah Zauya lakukan pada Dinda" ucap Sameer sesekali menundukkan kepalanya, menghela nafas pelan.
Humaira masih terdiam. mendengarkan setiap kata yang Sameer ucapkan. Pancaran ketulusan sekaligus rasa penyesalan nampak di manik mata Sameer.
"Semua hanya tinggal penyesalan yang tersisa. Saat ini Zauya ingin kita merangkai kembali kisah dari awal"
"Dinda..." Sameer mengeluarkan sebuah kotak kecil berisi sebuah cincin berlian dengan baru ruby yang sangat indah.
"Dulu Zauya tidak melakukannya dengan benar tapi saat ini Zauya ingin melakukannya dengan benar. Dinda..maukah kamu menikah dengan ku, menjadi ibu dari anak-anak ku. Berbagi suka duka bersama dan merajut kembali kisah kita bersama keluarga kecil kita"
Setetes air mata jatuh membasahi wajah Humaira, dadanya berdegup kencang, bibirnya mengembang penuh senyuman. Ada rasa bahagia yang membuncah dari lubuk hatinya.
"Iya Zauya, Dinda mau" Sameer yang sudah sedari tegang akhirnya menghembuskan nafas lega.
Dipasangkan cincin itu di jari manis Humaira sebagai simbol ketulusan cintanya. Sameer mengecup kedua tangan Humaira penuh cinta. Dipeluknya Humaira erat.
"Maukah Dinda berdansa dengan Zauya?"
"Lihatlah perut Dinda sudah besar Zauya. jadi akan susah kalau berdansa" kata Humaira mengelus perutnya yang besar.
"Tidak ada yang sulit Dinda. Mari kita berdansa, kita tidak pernah melakukannya"
"Baiklah.." Humaira menyambut uluran tangan Sameer.
Mereka berdansa diatas kapal pesiar, menikmati waktu berdua yang sempat menghilang. Sameer ingin mengganti waktu kebersamaannya dengan sang istri yang dulu belum sempat mereka lakukan.
...----------------...
Bugh...
Setibanya di rumah Keluarga Ibram, sebuah pukulan melayang tepat di wajah Sameer menyambut kedatangan mereka. Pukulan diwajah Sameer sampai membuat Sameer terhuyung ke belakang. Meninggalkan luka robek tepat di sudut bibir Sameer.
"Elmir!" teriak Mama Kirana mendapati sang putra memukul wajah Sameer.
Sambutan selamat datang yang seharusnya penuh pelukkan kerinduan antara adik ipar dan kakak ipar malah berbanding terbalik. Elmir menatap Sameer penuh kebencian.
"Elmir, kenapa kamu memukul kak Sameer?" tanya Humaira menatap sang adik penuh tanda tanya.
"Dia yang sudah menyakiti Mbak Mai, buat apa dia ke sini?" tanya Elmir masih penuh emosi. Nafasnya pun terlihat naik turun tidak teratur.
__ADS_1
"Elmir, itu sama sekali tidak sopan. Mereka baru saja tiba" tegur Akbar yang baru turun dari lantai dua.
"Kenapa kalian membiarkan dia masuk rumah kita? Jadi ini alasan kemarin Kak Akbar membawa ku pergi ke luar kota?" tanya Elmir menatap tajam Akbar.
"Elmir, Papa tidak pernah mengajari mu seperti itu" bentak Papa Ibram.
"Bela saja, laki-laki bejat seperti ini. Aku menyesal melepas Mbak Mai untuk di nikahi pria seperti ini" teriak Elmir melepaskan segala emosi yang beberapa bulan ini ia pendam.
Ia harus menahan semua emosinya kala ia mendengar bahwa kakaknya di poligami, ditambah lagi ia juga mendapati kabar sang kakak tengah hamil.
Semua berita itu tentu membuatnya terkejut sekaligus terluka. Ia tidak terima saudara perempuannya yang begitu baik, yang begitu ia sayangi harus mendapatkan pendamping hidup yang tidak bertanggung jawab seperti Sameer.
Bugh..
"Ini untuk sakit hati Mbak Mai" Elmir melayangkan sekali lagi pukulan di wajah Sameer.
Mereka semua terperangah, mendapati Elmir kembali melayangkan tinjunya.
Sameer mengusap ujung bibirnya yang berdarah. Humaira menatap Sameer khawatir. Ia sungguh tidak percaya kalau sang adik akan memberikan pukulan pada Sameer.
"Elmir, kau harus bisa tahan emosi mu. Ayo kita pergi!" Akbar merangkul Elmir, menggiring Elmir pergi meninggalkan mereka.
"Maafkan Elmir, Sam" ucap Mama Karina memberikan pelukan pada Sameer
"Tidak perlu Ma, Sameer memang pantas mendapat sambutan seperti itu. Kalau Sameer berada di posisi Elmir, Sameer juga akan melakukan hal sama" jelas Sameer menyadari kalau ia memang salah.
Ia sama sekali tidak menyalahkan tindakan Elmir yang memukul wajahnya karena ia sendiri sudah mengingkari janji yang telah di buatnya sendiri.
"Ayo kita masuk, istirahatlah. Supaya badan kalian segar. Biar nanti pelayan membawakan obat untuk mu" titah Papa Ibram.
"Iya Pa" jawab Humaira dan Sameer bergantian.
***
Jangan lupa ya...
√ LIKE
√ KOMEN
√ RATE
√ VOTE seikhlasnya
Dukungan kalian sangat berarti untuk ku
Makasih readers... ❤❤
__ADS_1