
Humaira POV
Wajah tampan sorot mata yang menghangatkan. Itulah pertama kalinya aku lihat dari sosok Sameer saat usia ku menginjak usia 12 tahun. Entah itu disebut cinta monyet atau cinta yang murni saat itu aku masih belum paham, aku masih belum bisa memahami cinta itu seperti apa.
Aku hanya merasakan kalau pada saat itu aku menyukainya, apalagi cara dia yang selalu mengelus rambut ku dan suka sekali mencubit pipi ku membuat rasa ku semakin kuat. Sekali lagi aku belum bisa memahami rasa cinta itu, cinta antara wanita dan pria atau cinta antara adik ke kakak.
Tapi saat itu aku harus berpisah dengan dia, Aku harus melanjutkan pendidikan ku kepondok pesantren sedangkan dia kembali ke Al azhar tempat dia mengambil pendidikan. Al Azhar..semua orang pun akan tahu kalau itu salah satu universitas bergengsi yang berada di negeri piramida sana.
Kecerdasan yang dia miliki membawanya ke Al Azhar sekaligus itu menjadikan motivasi untuk diri ku supaya bisa seperti dia. Aku ingin menimba ilmu sebanyak mungkin. Aku ingin menunjukkan kalau aku bisa menjadi seorang wanita yang bisa bersanding disisi dia. Aku juga ingin menempuh pendidikan ku kesana suatu saat nanti.
__ADS_1
Selama di pondok pesantren aku tidak hentinya untuk menulis surat pada dia. Aku menulis surat dan surat itu aku simpan. Aku memang tidak berani untuk mengirim surat itu padanya karena aku tahu dia hanya menganggap ku seorang adik. Aku akan menyimpan perasaan ini seorang diri sampai aku keluar dari pondok pesantren.
Sepuluh tahun berlalu akhirnya aku kembali, dia lah yang datang menjemput ku. Senyuman manisnya, wajah tampannya yang rupawan serta tubuhnya yang tinggi tegap membuat ku semakin terpesona. Dia berubah seperti sesosok dewa yunani yang penuh pesona.
Karena terlalu antusias, aku berlari memeluknya tanpa sadar. Kebahagiaan yang menyelimuti hati ku membuat ku melakukan tindakan yang diluar akal sehat. Aku telah melanggar syariat agama untuk bersentuhan dengan yang bukan mahram. Seketika sadar aku memundurkan tubuh ku, menundukkan wajah malu menyadari kekeliruan ku.
Dia hanya tersenyum memaklumi sikap ku, dia membawa ku kembali pulang kerumah Umi Iza dan Abi Ahmed. Orang tuanya sekaligus orang tua yang sudah ku anggap seperti orang tua ku sendiri.
Menjalani hari tinggal bersama keluarga Bariq memberikan kehangatan sendiri. selama itu pula aku sering melihat Sameer mendengarkan ku mengaji disetiap sepertiga malam. Hampir setiap malam dia selalu menyempatkan diri duduk di balkon kamarnya hanya untuk mendengarkan ku mengaji. Aku tau kalau dia diam-diam melakukan itu, tapi aku hanya membiarkannya saja.
__ADS_1
Saat itu rasanya aku ingin memintanya duduk berdua bersama ku, mengaji bersama mendendangkan ayat-ayat Allah. Tapi rasanya semua itu hanya sebatas angan yang tidak akan pernah terwujud karena dia sudah seperti bagaikan bulan yang sulit untuk ku raih. Jarak kita sudah terlali jauh, aku sendiri pun tidak ingin berharap lebih atau pun mengharapkan semua itu.
Kebahagiaan yang baru ku rasakan sejenak harus terusik saat Abi Ahmed meminta ku untuk menikah dengan putra mereka. Muhammad Sameer Bariq.
Terkejut itu pasti dan bahagia itu tentu saja ku rasakan tapi aku harus menahan perasaan itu. Aku tidak mau terlalu terbang ke awan dengan permintaan Abi Ahmed.
Aku tidak ingin berbesar kepala. Aku tau Sameer telah memiliki wanita pilihannya. Hati Sameer telah terkunci pada sosok wanita itu, wanita yang pergi meninggalkan Sameer tanpa alasan yang jelas.
Disisi lain Abi dan Umi tidak menyetujui hubungan Sameer bersama wanita itu yang ku ketahui bernama Elena adalah karena Elena tidak seiman dengan Sameer. Elena memeluk agama khatolik, itu halangan terbesar pada hubungan mereka.
__ADS_1
Sameer menolak permintaan orang tuanya untuk menikah dengan ku karena Sameer hanya menganggap ku sebagai seorang adik. Sakit, kecewa serta terluka itu pasti ku rasakan, tapi aku pun tidak bisa berbuat apa-apa, aku tidak bisa memaksa Sameer untuk menerima pernikahan itu. Aku tidak bisa memaksa perasaan Sameer yang tidak mencintai ku. Cinta memang tidak bisa dipaksakan.
...----------------...