
Humaira melangkahkan kakinya menuruni tangga bersiap pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan pagi. Di tangga terakhir Humaira menghentikan langkahnya.
Humaira menatap sendu Sameer dan Elena yang berada didapur, Sameer memeluk Elena dari belakang sedangkan Elena sedang belajar memasak dengan di bantu Sameer.
Terluka itu pasti, sekuat apapun seorang wanita bertahan pada akhirnya ia akan menyerah juga. Apalagi dalam keadaan kalau harus berbagi suami dengan wanita lain. Wanita yang lebih dicintai sang suami.
Air mata mengalir begitu saja dari pelupuk matanya. Sesakit inikah melihat suaminya tersenyum dan tertawa bersama wanita lain. Ia sedih karena ia bukan lagi menjadi alasan satu-satunya bagi Sameer untuk selalu tersenyum.
"Selamat pagi Mai" sapa Elena yang melihat Humaira berada di depan tangga.
Humaira buru-buru menghapus air matanya. Ia tidak ingin Sameer maupun Elena melihat air matanya.
"Selamat pagi Mbak" balas Humaira melebarkan bibirnya menyunggingkan senyuman manis.
"Dinda sudah bangun" sapa Sameer.
"Mai sini, ayo cicipi hasil masakan ku" pinta Elena menarik tangan Humaira menuju meja makan. Menu sarapan pagi pancake banana hasil masakan Elena.
Humaira pun mendudukan dirinya di kursi sebelah kiri karena kursi sebelah kanan yang biasa dia tempati, kini menjadi tempat duduk Elena. Ada rasa tidak nyaman yang menelusup di dadanya, apalagi kebiasaan Sameer yang mengecup keningnya saat dia bangun tidur mendadak menghilang.
"Ini kamu harus coba Mai, aku tidak pandai memasak tapi aku berusaha untuk memasak ini juga di bantu Sam" jelas Elena antusias. Humaira menyendokkan satu potong kecil pancake itu ke dalam mulutnya sedangkan Elena menanti jawaban dari Sameer maupun Humaira mengenai masakannya.
"Bagaimana Mai? bagaimana sayang?" tanya Elena bergantian. Sameer tersenyum menganggukkan kepalanya dan masih terus melahap pancake buatan Elena walaupun pancake itu rasanya cukup aneh di lidah Sameer.
"Hanya kurang sedikit gula Mbak" jawab Humaira.
"Benarkah?" Binar bahagia terlihat dari mata Elena.
"Ok, besok aku akan mencoba menu lain" Elena mendaratkan kecupan manis di pipi Sameer.
"Oh ya...kalian lanjutkan sarapannya aku akan menyiapkan baju kerja untuk Sameer. bolehkan Mai?"
"Silahkan Mbak!" senyum Humaira. Elena berlari kecil menuju lantai dua.
Sepeninggal Elena, Sameer berlari ke wastafel memuntahkan semua pancake yang masuk di mulutnya. Sameer tidak bisa menggambar rasa pancake buatan Elena yang jauh dari kata enak.
"Jangan makan itu sayang!" ucap Sameer masih berdiri di depan wastafel. "Sepertinya kamu harus mengajarkan Elena memasak" saran Sameer meneguk segelas air.
"Iya Zauya, sekarang Zauya mandi saja dulu. Mbak Elena pasti sudah selesai menyiapkan pakaian kerjanya"
"Hari ini kamu akan ke toko?"
"Iya, hari ini ada pesanan banyak di toko. Dinda tidak bisa membuatkan bekal makan siang"
"Tidak apa-apa, Zauya ke atas dulu"
Sameer menuju ke kamarnya menghampiri Elena yang sedang menyiapkan pakaian kerja Sameer.
Humaira membereskan sarapan pagi di meja dan segera mencuci semua bekas sarapan mereka sekaligus beberapa alat memasak yang tadi Elena gunakan.
"Sameer sepertinya sangat menyayangi mu ya, panggilan kalian lucu" kata Elena datang dari belakang Humaira. Elena menyandarkan tubuhnya di dekat wastafel seraya memperhatikan Humaira yang sibuk mencuci piring.
"Bukankah memang harus saling menyayangi Mbak? Humaira pun juga sayang sama Mbak Elena" kata Humaira memberikan senyuman manisnya untuk Elena.
"Terima kasih ya Mai mau menerima Ku, Maafkan aku juga sudah masuk ke dalam rumah tangga mu" Elena menundukkan kepalanya merasa bersalah.
"Mbak Elena tidak perlu seperti itu seharusnya Humaira yang berterima kasih karena Mbak Elena menjadi alasan Kak Sameer tersenyum. Humaira bahagia kalau melihat Kak Sameer bahagia dan itu sudah cukup bagi Humaira"
__ADS_1
"Mai, terbuat dari apa hati mu? kalau aku berada di posisi mu mungkin aku tidak akan sanggup berbagi suami"
"Humaira mencintai Kak Sameer karena Allah. Jadi di sini Humaira belajar ikhlas untuk berbagi karena Kak Sameer bukan milik Humaira, Mbak. Kak Sameer hanya titipan dari Allah untuk melengkapi hidup Humaira"
"Mai, ajari aku untuk seperti kamu menjadi wanita yang kuat dan sabar. Aku juga ingin belajar menutup aurat" kata Elena menggenggam tangan Humaira erat.
"Insya Allah Humaira akan bantu Mbak. Mari kita belajar bersama Mbak, untuk menjadi istri sholehah untuk kak Sameer"
"Terima kasih ya Mai, terima kasih banyak"
"Iya Mbak sama-sama. Oh ya Mbak, sekarang Mbak ke kamar lihat kak Sameer karena dia biasanya minta di layani kalau pakai baju" kata Humaira.
"Kamu saja Mai, Mbak lain kali aja"
"Ya sudah kalau begitu, lain kali Mbak juga harus belajar melayani suami yang baik" tutur Humaira. Elena hanya menganggukkan kepala.
Humaira pun segera berlalu dari hadapan Elena menemui Sameer yang masih berada di kamar untuk bersiap-siap berangkat ke kantor.
"Zauya sudah selesai mandinya" tanya Humaira melihat Sameer baru saja keluar dari kamar mandi
"Iya Dinda"
Humaira menghampiri Sameer, memakaikan kemeja pilihan Elena ke tubuh Sameer seperti yang selalu ia lakukan sejak menikah. Bagi Humaira sang suami adalah raja yang harus ia layani dengan baik.
"Maafkan Zauya ya" ucap Sameer menatap Humaira yang sibuk mengancingkan kemeja Sameer.
"Kenapa Zauya minta maaf?"
"Menjadikan Elena istri Zauya, tanpa melibatkan Dinda terlebih dahulu"
"Dinda bahagia kalau Zauya juga bahagia" Kata Humaira
"Terima kasih Dinda"
"Sekarang Zauya turun ke bawah, tadi Mbak Elena malu mau bantu Zauya pakai baju jadi sekarang berikan ini" Humaira mengerlingkan sebelah matanya sambil meletakkan dasi ke tangan Sameer.
"Siap Nyonya"
"Ingat! Istri Zauya ada dua sekarang, minta gih ke Mbak Elena untuk memasangkan dasinya" Humaira mendorong Sameer keluar dari kamar. Humaira tidak ingin menjadi orang yang egois yang hanya memonopoli Sameer untuk dia seorang.
"Sayang"panggil Sameer mengecup pipi Elena sekilas
"Iya Sam"
"Pasangkan dasi" kata Sameer manja mengulurkan dasinya ke arah Elena yang sedang membaca majalah.
"Astaga kenapa kamu tidak memakainya sendiri. Emang kamu gak bisa pakai sendiri?" tanya Elena menutup majalahnya menghampiri Sameer.
Sameer cemberut menatap Elena, ia tidak menyangka kalau Elena akan menolaknya hanya untuk memasangkan dasi.
"Kali ini aja ya" Sameer menatap Elena memelas. Elena menghela napas pelan. Elena memasangkan dasi Sameer, Sameer mendekap pinggang Elena erat sembari sesekali mencuri ciuman di bibir Elena.
"Sam, ini tidak akan selesai kalau kamu terus mencium ku" protes Elena
"Tidak apa-apa kalau tidak selesai, seperti ini saja" kekeh Sameer terus memeluk pinggang Elena erat.
"Dasar kau ini, sudah nanti kau akan terlambat bekerja"
__ADS_1
"Siap cantik"
"Oh ya Humaira mana Sam?"tanya Elena
"Masih di kamar, mungkin sebentar lagi juga turun"
Sepeninggal Sameer, Humaira terus memuntahkan isi perutnya. Kehamilan pada trimester pertama membuatnya tidak bisa berhenti untuk mual dan muntah, ia pun sensitif dengan bau parfum Sameer yang ada dikamar padahal parfum itu juga pilihannya.
"Sam, kok Humaira belum juga turun ya?" tanya Elena khawatir, sedari tadi Humaira belum juga keluar dari kamar.
Sameer terdiam. Memang tidak biasanya Humaira belum keluar dari kamar bahkan ia sudah siap berangkat ke kantor.
"Sebentar ya, aku lihat dulu"
Sameer berlari menuju kamar Humaira. Saat masuk ke dalam, kamar tampak sepi diranjang dan dikamar mandi pun Humaira tidak ada. Langkah kakinya membawa Sameer menuju balkon kamar. Salah satu tempat favorit Humaira.
Di balkon kamar, ia melihat Humaira meringkuk di sofa seperti bayi. Sameer mengernyitkan dahinya heran, tidak biasanya Humaira kembali tidur sepagi ini.
"Dinda" Sameer menepuk pelan pipi Humaira
"Kenapa tidur sepagi ini? Dinda sakit?"
"Tidak Zauya, tadi Dinda mau membereskan kamar. Eh malah tidak tahunya ketiduran" bohong Humaira
"Tidak biasanya loh Dinda tidur jam segini"
"Dinda baik-baik saja Zauya, memang akhir-akhir ini Dinda hobi tidur. Zauya sudah mau berangkat"
"Iya, Zauya mau berangkat ke kantor"
Humaira mengantar Sameer sampai ke pintu depan. Memasangkan jas ke tubuh Sameer. Sikap dan tingkah laku yang Humaira lakukan untuk Sameer tidak pernah lepas dari perhatian Elena.
"Sam, jangan manja sama Humaira. Masak jas dipakain" cibir Elena
"Inikan enaknya punya istri dua ada yang manjain" canda Sameer terkekeh.
"Dasar maruk"
"Maruk-maruk gini tapi kamu suka kan?" goda Sameer mengerlingkan sebelah matanya. Humaira tersenyum melihat mereka berdua.
"Jangan ke pedean bos" balas Elena
"Dinda"rengek Sameer menatap Humaira yang berdiri tepat didepannya
"Zauya aneh kalau merengek kayak anak kecil, tidak sesuai umur"
"Tuh inget umur Sam" balas Elena
"Sudah Zauya berangkat gih, udah siang" kata Humaira setelah merapikan pakaian Sameer
"Ya udah Zauya berangkat ya" Sameer mengecup kening Humaira, Humiara membalasnya dengan kecupan di kedua pipi Sameer.
"Aku berangkat ya sayang" Sameer pun juga memberikan kecupan dikening Elena.
"Hati-hati" kata mereka melambaikan tangan melepas kepergian Sameer. Sameer pun tersenyum bahagia melihat dua bidadarinya melambaikan tangan ke arahnya.
***
__ADS_1