
"Kenapa tadi pagi Dinda pergi?" tanya Sameer berbaring bersama sang istri di ranjang mereka.
"Untuk apa Dinda tetap disana melihat kalian berdua" Humaira memasang wajah cemberut mengingat bagaimana kejadian pagi tadi.
"Bukankah Dinda yang bilang sendiri kalau melakukan itu kewajiban untuk Zauya"
"Iya Dinda tau itu sebuah kewajiban yang harus Zauya berikan. Maafkan Dinda, sudah bertindak egois" Humaira menundukkan kepalanya, meremas gamisnya.
Humaira menyadari kalau saat itu ia yang memberikan saran pada Sameer mengenai hak yang harus di terima Elena sebagai seorang istri. Hak itu juga termasuk kewajiban Sameer untuk mengauli Elena.
Humaira segera mengalihkan pandangan matanya, saat menyadari semuanya.
"Tidak ada yang salah Dinda. Semua itu memang salah Zauya yang menempatkan Dinda pada posisi sekarang ini" Sameer menyandarkan kepala Humaira di dadanya membelainya lembut.
"Maafkan Zauya yang telah banyak menyakiti hati Dinda, Maafkan Zauya masih belum bisa adil untuk berbagi dengan ke dua istri Zauya"
Sameer mengecup kening Humaira dalam, rasa cinta dan sayangnya pada sang istri semakin besar.
Malam itu mereka tertidur saling berpelukan sekaligus mengistirahatkan diri setelah melewati hari yang berat, yang menguras emosi.
***
Setelah kemarin melewati hari yang menguras tenaga. Mereka menyambut pagi ini dengan cerah, secerah wajah Humaira dan Sameer.
Mereka berdua masih berbaring diranjang, Sameer memeluk Humaira erat sedangkan Humaira membenamkan kepalanya di dada Sameer. Senyuman penuh kebahagiaan terukir dari keduanya.
"Selamat pagi sayang" Sameer mengecup kening Humaira.
"Selamat pagi juga sayang" balas Humaira mengecup rahang Sameer.
"Ayo bangun Zauya! Apa Zauya tidak mau pulang kerumah? Kasihan Mbak Elena sendirian" tutur Humaira
"Sebentar sayang, Zauya masih ingin memeluk Dinda. Kenapa rasanya nyaman sekali?" kekeh Sameer mencubit hidung Humaira gemas.
"Salah sendiri Zauya baru nyadar" Humaira mencubit pinggang Sameer gemas. Sameer meringis kesakitan.
"Sakit ya Zauya"
"Iya sayang sakit banget" Sameer mengangguk.
"Maaf Zauya" Humaira mengelus perut Sameer yang habis ia cubit. Sameer hanya memejamkan mata menikmati elusan halus dari tangan sang istri.
"Kebawah sedikit sayang" pinta Sameer jail
"Zauya..."
"Hem..."
__ADS_1
"Ini apa?" tanya Humaira yang tidak sengaja mengelus pusaka milik Sameer.
"Enak sayang" tutur Sameer masih menikmati elusan Humaira.
"Iihh...dasar Zauya mesum" rengek Humaira memukul dada Sameer. Sameer tergelak keras. Ia tertawa begitu puas setelah berhasil mengerjai sang istri.
"Dinda sih aneh, pakai tanya lagi sudah tau itu yang buat Dinda hamil" kata Sameer masih dengan tawa gelinya. Ia merasa istrinya sangat polos.
"Dasar...kalau bicara itu di sensor, jangan ngasal" sungut Humaira cemberut dengan rona wajah kemerahan.
"Tapi enak Dinda. Yuk Dinda, mumpung masih pagi" Sameer mengerlingkan sebelah matanya menatap Humaira dengan pandangan menggoda.
"Dasar otak mesum!!" ketus Humaira bangkit dari tidurnya masuk kedalam kamar mandi meninggalkan Sameer yang masih tertawa.
****
Elena memindai diri didepan cermin, meneliti wajahnya yang tampak depresi. Kantung mata yang menghitam, rambut yang berantakan.
Sejak semalam di tinggal Sameer pergi ke rumah utama cukup membuat Elena berdiam seorang diri ketakutan. Ia takut hal buruk itu akan terjadi padanya. Bayang-bayang beberapa minggu lalu terus saja menghantuinya. Ia takut Erik kembali datang.
Flash back
Elena menikmati waktu bersantainya di halaman belakang seraya memandangi bunga mawar yang ditanam Humaira. Bunga mawar yang bermekaran dengan semerbak harumnya yang membuatnya tenang.
Taman belakang membuatnya tenang, senyum menghiasi wajahnya. Beberapa hari ini perasaannya memang sedang buruk. Suasana hatinya berubah-ubah setelah kabar kehamilan Humaira.
Jauh di dalam lubuk hatinya yang paling dalam ia juga ingin hamil, hamil dari hasil percintaannya dengan Sameer. Tapi lagi-lagi ia harus menelan pil pahit saat menghadapi kenyataan yang ada. Sameer tidak pernah menyentuhnya sejak pertama kali mereka menikah.
Sesekali ia mendesah pelan mengingat jalan hidupnya yang begitu rumit, apalagi kini ia harus mengambil jalan menjadi istri kedua dari kekasih masa lalunya yang sangat ia cintai.
"Hy Lena" sapa pria bersuara bariton yang membuyarkan lamunannya.
"E-erik" ucapnya beringsut menjauh dari hadapan Erik, tubuhnya bergetar ketakutan mendapati Erik mantan suaminya berdiri dihadapannya dengan senyuman manis.
Senyuman manis yang begitu mempesona kalau orang lain yang melihatnya tapi tidak dengannya, senyuman itu seperti senyuman penuh racun yang mematikan.
"Lama tak jumpa sayang, aku merindukan mu" Erik berhambur memeluk Elena erat.
"Pergi kau Erik!" teriak Elena mendorong Erik menjauh.
"Apa kau tidak rindu dengan ku sayang?"
"Jangan muncul dihadapan ku lagi, aku sekarang istri Sameer. Pergilah sebelum Sameer kembali ke sini dan menghajar mu" tutur Elena memperingatkan Erik untuk tidak mendekat dan segera pergi menjauh dari hidupnya.
Erik tertawa keras dengan pandangan penuh gairah. Ia memerhatikan penampilan Elena dari atas sampai bawah, dimana sekarang wanita itu telah menutup seluruh tubuhnya khas orang muslim.
"Kau muslim sekarang?" tanya Erik menarik sebelah alisnya ke atas menatap Elena dalam.
__ADS_1
"I-iya dan jangan sentuh aku lagi"
"Kau tidak bisa menerintah ku sayang, jadi ini alasan mu meninggalkan Belgia untuk kembali pada Sameer?" tanya Erik.
"Kau masih istri sah ku Lena, dan aku berhak atas diri mu"
"Tidak Rik, kita sudah bercerai" tolak Elena mentah-mentah.
"KATA SIAPA?" Bentak Erik.
Elena ketakutan mendengar bentakan Erik apalagi tangan Erik yang menggenggam erat pergelangan tangannya. Air matanya luruh begitu saja.
"Aku sudah menandatangi surat cerai itu dan kita sudah resmi bercerai"
"Aku membatalkan cerai itu dan sekarang kau harus ikut dengan ku"
Erik menarik tangan Elena kasar meninggalkan kediaman Sameer. Elena mencoba berontak tapi kekuatannya jelas kalah dengan Erik yang seorang laki-laki.
Erik mengendarai mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata, ia membawa Elena menuju hotel tempat dimana ia menginap. Setibanya dikamar hotel, Erik mendorong Elena menuju ranjang itu, tubuh Elena semakin bergetar ketakutan melihat bagaimana Erik melemparnya.
"Jangan takut sayang, kau akan mendesah dibawah ku setelah ini. Dengan pakaian mu seperti ini semakin meningkatkan gairah ku" tutur Erik mengelus rambut Elena.
Erik segera mengambil sebuah obat dari dalam celananya, dengan seringai liciknya Erik mencengkeram dagu Elena.
"Minum sayang, ini akan membuat mu bergairah sepanjang hari"
"Tidak..aku tidak mau Erik" Elena menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri menolak permintaan Erik yang akan memasukkan obat perangsang ke dalam mulutnya.
Setelah susah payah Erik memasukkan obat itu, akhirnya obat itu masuk juga ke dalam mulut Elena. Senyuman penuh kepuasan nampak jelas di wajah Erik.
"Argh...Erik" teriak Elena menahan hasratnya, bulir keringat dingin telah membasahi tubuhnya.
"Aku tau pasti Sameer tidak mau menyentuh mu kan" kata Erik mengelus lengan Elena. Tubuh Elena menggeliat mendapat sentuhan lembut dari tangan Erik.
Elena terdiam membisu, selama mereka menikah Sameer memang belum pernah menyentuhnya sama sekali. Pria itu hanya memberikan pelukan dan ciuman.
"Kau pasti merindukan sentuhan sayang, tenang aku akan siap memberi mu kepuasan seperti dulu"
Erik mendaratkan bibirnya menyentuh bibir Elena, dilumatnya bibir Elena penuh gairah. Elena yang sudah terangsang akibat obat yang di minumnya, semakin membuatnya kehilangan akal dan lepas kendali.
Pagi itu terjadi pergulatan yang begitu panas, rintihan dan desahan menggema di seluruh penjuru kamar itu.
Flashback end
...****************...
**Bonus visual MUHAMMAD SAMEER BARIQ
__ADS_1
Mertya Zicioglu**