
Brummm...
Sameer menginjak pegal gas mobilnya kencang, perasaan khawatir mulai merayapi hatinya. Wajahnya tampak begitu cemas. Sedangkan Humaira yang duduk disamping Sameer, hanya mampu mencengkeram erat sabuk pegamannya. Ia takut dengan cara Sameer berkendara. Bahkan keringat dingin sudah membasahi wajahnya. Ia ketakutan.
"Zauya, Dinda takut" keluh Humaira ketakutan.
"Maafkan Zauya, sayang. Tahan sebentar ya" Sameer mengelus kepala Humaira menenangkan istrinya.
Setibanya mereka disebuah hotel, Sameer bergegas masuk ke dalam dengan Humaira yang berada di genggamannya. Sameer melangkah cepat menuju sebuah kamar hotel tempat di mana Elena berada.
Brakk....
Sameer membuka kasar pintu kamar itu, dia melihat Elena tengah duduk dikepala ranjang. Wajahnya penuh air mata, pakaiannya berantakan bahkan hijabnya sudah lepas dari kepalanya.
"Elena!!" ucap Sameer berlari kecil menghampiri Elena, dipeluknya Elena. Elena menangis di dada Sameer.
Humaira terdiam mematung menyaksikan mereka berdua. Perasaan cemburu menguasai hatinya, tapi ia harus segera menepisnya. Elena sedang tertimpa musibah jadi ia harus bisa memahami situasi dan tidak membiarkan rasa cemburu menguasai hatinya.
"Sam, aku kotor" tangis Elena kencang mengosok seluruh badannya, sampai badannya berubah warna merah.
"Kenapa bisa seperti ini? Siapa yang berani melakukan hal ini pada mu?" tanya Sameer memegang kedua pundak Elena.
Perasaan Sameer campur aduk melihat kondisi Elena kini. Rambut berantakan dan baju yang berserakan di lantai. Ia bukan anak kecil yang tidak bisa memahami apa yang telah terjadi dengan kondisi Elena kini.
Ada seseorang yang sudah memperkosa istrinya. sampai pergelangan tangan Elena memerah bekas cengkeraman tangan.
"Zauya, kita bawa Mbak Elena pulang dulu. sepertinya Mbak Elena masih trauma" saran Humaira setelah mampu menguasai hatinya.
"Iya sayang, tolong bantu Elena memakai bajunya" Sameer melepas pelukannya membiarkan Humaira mengambil alih. Humaira menatap Elena, mengelus wajah cantik Elena yang berantakan.
Sepanjang perjalanan menuju pulang ke rumah, Elena hanya terdiam dengan pandangan kosong. Ia merasa hampa, ia merasa kotor dengan peristiwa yang sedang ia alami. Ia tidak menyangka hal menjijikkan itu menimpanya.
Humaira yang duduk di samping Sameer, sesekali melirik Elena yang meringkuk di kursi penumpang. Wajah depresi terlihat di wajah Elena. Humaira hanya bisa menatapnya iba dengan kondisi Elena.
"Mbak kuatlah, Mai yakin. Mbak Elena adalah wanita yang kuat" batin Humaira meneteskan air mata ikut merasakan kepedihan Elena.
***
Setibanya di rumah Sameer membopong Elena, membawa Elena menuju ke kamarnya. Sameer membaringkan Elena pelan, wajah depresi masih menghiasi wajah Elena bahkan tatapan matanya tampak kosong.
"Jaga Elena sebentar Dinda, Aku akan menelfon Johan"
__ADS_1
"Iya Zauya"
"Disini saja Sam" Elena bergelayut dilengan Sameer tidak membiarkan Sameer pergi dari sisinya. Humaira yang segera memahami hal itu, memilih menggantikan Sameer menghubungi Dokter Johan.
"Biarkan Dinda saja yang menghubungi Dokter Johan"
"Terima kasih ya sayang"
Humaira segera menghubungi Dokter Johan untuk memeriksa keadaan Elena.
"Sam, jangan tinggalkan aku" pinta Elena dengan tatapan mata sendu.
"Jangan pikirkan itu Ele, yang harus dipastikan adalah kesehatan mu" Sameer mengelus kepala Elena lembut, memberikan kekuatan pada istrinya.
tok...tok...tok
"Masuklah!" perintah Sameer
"Zauya, Dokter Johan sudah datang"
Dokter Johan pun segera memeriksa keadaan Elena.
"Bagaimana kondisi istri ku, Jo?" tanya Sameer pada Dokter Johan yang tak lain merupakan dokter pribadi keluarganya sekaligus teman Sameer semasa SMA.
"Apa kita perlu konsultasikan ke psikiater, Jo?"
"Kita lihat nanti Sam, saat ini aku memberinya obat penenang. Kalau nanti saat bangun dia mengamuk, Kita perlu konsultasi ke ahlinya untuk memulihkan kondisi Elena dan pastikan Elena untuk tidak menyakiti tubuhnya" jelas Dokter Johan. Sameer hanya menganggukkan kepalanya mengerti.
"Ini resep obat untuk Elena" lanjut Dokter Johan sembari membereskan peralatannya.
"Terima kasih Jo"
"Sama-sama Sam, Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
****
Sameer menutup pintu kamar Elena membiarkan Elena istirahat. Sameer menuruni tangga menghampiri Humaira yang tengah berkutat di dapur menyiapkan makan malam.
"Huffff.." Sameer memeluk Humaira dari belakang mengelus perut buncit Humaira. Humaira terdiam membiarkan Sameer memeluknya.
__ADS_1
"Kita makan malam dulu Zauya, tadi Zauya tidak sempat makan siang"
"Biarkan seperti ini dulu Dinda, Zauya lelah"
Humaira mengelus tangan Sameer, membiarkan posisi mereka saling berpelukan. Humaira bisa mengerti kalau kejadian yang menimpa Elena juga hal berat untuk di terima Sameer, sebagai seorang suami ini menambah beban dipundaknya.
"Bagaimana kalau Elena hamil?" tanya Sameer sendu. Ada rasa sesak di dadanya kalau sampai Elena hamil dari hasil peristiwa itu. Ia tidak tau apa yang akan ia lakukan nantinya.
"Itu tugas Zauya, Bukankah Mbak Elena juga istri Zauya?" tanya Humaira mengeratkan pelukan Sameer diperutnya.
"Elena memang istri Zauya, tapi entah mengapa Zauya tidak bisa menyentuh Elena. Hati Zauya tidak menginginkan itu" Tutur Sameer lemah.
Humaira terdiam mencerna setiap kata yang meluncur dari bibir Sameer.
Jadi selama ini suaminya tidak pernah menyentuh Elena. Humaira tersenyum mendapati kenyataan itu.
Disamping itu bergelayut berbagai macam pertanyaan di benaknya. Mengapa suaminya tidak pernah menyentuh Elena? Bukankah Elena sosok wanita yang di cintai suaminya?
Apa yang sebenarnya suaminya pikirkan? Sungguh ia tidak bisa menebak jalan pikiran suaminya.
"Kenapa Zauya melakukan itu? Bagaimana pun itu adalah kewajiban Zauya?" Tanya Humaira mengurai pelukan Sameer, memberikan tatapan teduh pada sang suami.
Ia ingin sekali egois, ingin sekali bersorak dan berteriak bahagia tapi ia mencoba menahan kegembiraannya itu karena kini ada Elena yang tengah bersedih.
"Entahlah, Zauya hanya bisa memberikan ciuman untuk Elena tidak untuk berjima"
Humaira tersenyum menatap wajah sang suami.
"Entah nanti Mbak Elena hamil atau tidak, kita harus menjaganya. Bukankah kini Mbak Elena butuh kita untuk memeluknya"
"Terima kasih Dinda mau menerima semuanya, terima kasih Dinda sudah menerima Zauya yang banyak kekurangan. Maafkan Zauya yang hanya bisa menyakiti Dinda, Zauya tau dulu memilih langkah yang salah. Walaupun begitu Zauya tidak ingin menyesalinya, meskipun jauh di dalam hati ini sungguh sangat ingin menyesal"
Sameer membelai lembut wajah Humaira, ia suka dengan wajah teduh sang istri apalagi iris mata coklatnya yang memancarkan kehangatan.
"Zauya tau dan sadar kata maaf tidak akan cukup untuk membayar rasa sakit Dinda. Terima kasih mau mengandung anak Zauya, terima kasih untuk segalanya. Zauya tidak tau bagaimana jadinya kalau bukan Dinda yang di sisi Zauya. Jadilah Ibu yang baik untuk anak-anak kita nanti, Zauya begitu menyayangi Dinda dan Zauya mencintai Dinda karena Allah" Sameer mengecup kening Humaira dalam.
Air mata bahagia mengalir dari pelupuk matanya, ia sangat bahagia akhirnya kata cinta keluar dari bibir suaminya.
"Ana Uhibbuka Fillah, Zauya"
"Ana Uhibbuka Fillah, Dinda"
__ADS_1
Senyum bahagia mengembang dari bibir mereka berdua. Setelah sekian lama mereka diam, kini kata sakral itu keluar juga dari bibir keduanya.
****