Dua Cincin Satu Cinta

Dua Cincin Satu Cinta
The side story of Humaira Part 6


__ADS_3

Pernikahan kedua suami ku telah di gelar, pandangan ku terasa kosong, aku menarik nafas dalam-dalam menetralkan rasa sesak di dada. Hati ini semakin terluka tapi aku tidak boleh lemah. Aku akan mencoba menjadi wanita kuat untuk anak ku.


Aku dengan tangan ku sendiri menuntun Elena duduk disamping suami ku. Suami ku menyambutnya penuh senyuman, ada pancaran kebahagiaan di kedua matanya. Binar kebahagiaan yang tidak pernah aku lihat sebelumnya.Ya...apa sebegitu dalam rasa cinta yang telah dimiliki dia untuk Elena?


Sepanjang malam aku hanya terduduk dibalkon kamar seorang diri, kamar yang biasanya menjadi tempat ku berbincang santai dengan Sameer kini terasa sepi membuat ku malas hanya untuk berbaring di ranjang king size itu. Ranjang itu sudah terasa begitu hampa.


Memikirkan malam pengantin yang tengah dilalui sepasang pengantin baru itu membuat pikiran ku berkelana jauh. Lagi-lagi aku merasakan denyut nyeri semakin sakit di dada ku, pikiran ku membayangkan bagaimana mesranya mereka saling bercinta untuk meluapkan segala kerinduan yang selama ini telah mereka pendam. Membayangkan semua itu membuat ku seperti mengiris-iris sendiri hati ku yang terluka. Aku seperti mengores sendiri semua luka itu.


Helaan nafas ku hembuskan, menahan segala gejolak yang ada. Aku memutuskan untuk mengambil air wudhu melakukan sholat malam menenangkan hati ini yang semakin rapuh. Air wudhu itu telah menguyur tubuh ku menyirami setiap sisi-sisi rapuh yang ada pada diri ku.


Aku memakai mukena bersimpuh di hadapan sang pencipta mengucap sebegitu rasa syukur yang telah dia berikan. Rasa syukur tentang kebahagiaan ku yang telah diberikan malaikat kecil didalam rahim ku serta rasa syukur telah diberikan sebuah problema hidup yang menguji keteguhan serta kesabaran hati ku.

__ADS_1


Beribu kata terima kasih aku ucapkan untuk semua rasa syukur yang telah dia berikan pada ku. Aku akan menerimanya dengan lapang dada dan dengan segala kerendahan hati. Aku tidak ini terus mengeluh akan semua yang telah terjadi pada ku. Tapi aku justru akan menjadikan itu sebagai sebuah tahapan hidup ku untuk menjadi lebih baik lagi.


......................


Waktu terus berputar, perhatian yang biasanya selalu terpusat pada ku telah terbagi. Dia cukup baik membagi waktunya, dan mencoba menjadi sosok yang adil walaupun jauh didalam hati kami mungkin ada di antara kami yang akan merasakan cemburu.


Setiap kali Sameer berada di kamar ku, Sameer tidak lepas dari ponselnya karena setiap menit Elena selalu mengirimnya pesan. Aku ingin mengeluh tapi aku mencoba menahan segala rasa itu. aku hanya mampu memendam semua rasa yang ku rasakan.


Belaian lembut dan berbincangan santai sudah tidak pernah lagi ku rasakan, yang ada hanya aku yang sibuk membaca buku serta dia yang sibuk berkirim pesan dengan Elena. Aku merindukan hangatnya suasana kamar ini yang selalu penuh canda serta tawa kami, aku merindukan dia yang selalu membelai kepala ku lembut, merindukan segala perhatian yang selalu di tunjukkan pada ku. Apa ini salah ku karena telah memberinya izin? Apakah aku salah telah menerima duri dalam rumah tangga ku sendiri? Kata Ikhlas serta pasrah hanya mampu aku dengungkan disetiap hati ku.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Jangan Lupa ya WAJIB...


√ LIKE


√ KOMEN


√ RATE 🌟🌟🌟🌟🌟


Insyaallah setelah ini akan berlanjut bagaimana keadaan Humaira setelah mengalami kecelakaan.


Terima kasih ya sudah membaca karya ku

__ADS_1


Mau kasih VOTE/TIPS juga boleh


Silahkan 😚🤗


__ADS_2