Dua Cincin Satu Cinta

Dua Cincin Satu Cinta
Bab 20


__ADS_3

Sejak Pagi buta, Humaira mulai membereskan barang-barangnya. Tekadnya sudah bulat tentang pilihannya yang lebih memilih tinggal terpisah dengan Sameer dan Elena.


"Kamu mau kemana Mai?" tanya Elena menghampiri kamar Humaira.


"Humaira mau pindah Mbak, ke rumah yang lebih dekat dengan toko" kata Humaira tersenyum dibalik cadarnya.


"Kamu akan meninggalkan rumah ini? Apa ini karena aku Mai?" Elena merasa bersalah kalau memang benar Humaira meninggalkan rumah ini demi dirinya.


Humaira menggeleng pelan, senyuman manis masih menghiasi wajah cantiknya.


"Bukan Mbak, memang Mai pengen mencari rumah yang dekat sama toko. Kalau dari sini ke toko jaraknya cukup jauh" terangnya.


"Apa yakin bukan karena ada aku Mai?"


"Mbak Elena tidak sudah mengawatirkan itu, fokus saja sama kak Sameer dan segera beri anak untuk kak Sameer" Humaira menggenggam tangan Elena.


Deru suara mobil SUV putih memasuki gerbang rumah Sameer. Mobil itu terparkir di carport tepat disamping mobil hitam milik Sameer.


Keluarlah orang tua Sameer dari dalam mobil. Umi Iza menggandeng lengan Abi Ahmed memasuki rumah Sameer. Ini pertama kalinya bagi mereka berkunjung ke rumah Sameer setelah Sameer memutuskan menikah untuk yang kedua kalinya.


"Assalamualaikum" ucap Abi dan Umi


Humaira yang baru selesai menyiapkan sarapan pagi, berlari kecil menyambut kedatangan Umi dan Abi.


"Wa'alaikumsalam Umi, Abi" jawab Humaira mencium tangan kedua orang tua Sameer.


"Bagaimana kabar mu sayang?" tanya Umi Iza mengelus puncak kepala Humaira.


"Alhamdulillah Humaira baik Umi" tutur Humaira bergelayut manja dilengan Umi.


"Umi..Abi" sapa Sameer yang baru menuruni tangga dengan disampingnya Elena yang mengandeng mesra lengan Sameer.


"Kapan Abi dan Umi datang?" tanya Sameer mencium kedua tangan Umi dan Abi begitu pun dengan Elena.


"Bagaimana kabar mu Nak?" tanya Abi Ahmed menatap Elena yang menundukkan kepala.


"Baik Abi" jawab Elena singkat seraya tersenyum.


"Umi, Abi ayo kita sarapan bersama. Sarapannya sudah siap" ajak Humaira.


"Umi sudah lama tidak menikmati masakan mu" ujar Umi Iza mengikuti Humaira menuju meja makan.

__ADS_1


Suasana sarapan pagi tampak tenang, Elena pun lebih banyak diam apalagi melihat sikap Umi Iza yang sangat acuh.


"Bagaimana perkembangan toko kamu sayang?" tanya Abi Ahmed


"Alhamdulillah Abi berjalan lancar"


"Umi Dan Abi belum sempat berkunjung ke toko kamu" kata Umi Iza menyesap teh hangat yang Humaira suguhkan.


"Tidak apa-apa Umi, Umi datang kesini saja Mai sudah sangat senang"


Kesehatan antara Humaira dan Umi Iza membuat Elena iri melihatnya karena sampai kini Umi Iza tidak menyukainya. Bahkan sudah sejak dulu Umi Iza memang tidak menyukainya.


Sedangkan Abi dan Sameer memilih ruang kerja untuk berbicara berdua. Membahas perusahaan sekaligus rumah tangga poligami yang saat ini sedang Sameer jalani.


"Bagaimana perasaan mu saat ini?" tanya Abi


"Bahagia, Tapi..." Sameer menghentikan perkataannya, dia ragu untuk menceritakan permintaan Humaira.


"Tapi apa? Apa yang ini kamu ceritakan Sam?"


"Humaira memilih keluar dari sini dan memilih tinggal dirumah yang lain"


Abi Ahmed menghembuskan nafas berat. Abi Ahmed sudah memprediksi kalau kejadian seperti ini pasti akan terjadi.


"Abi tahu kalau Humaira adalah tanggung jawab mu dan seharusnya Abi dan Umi tidak mencampuri urusan rumah tangga mu tapi Abi pikir Humaira mengambil keputusab yang tepat. Dia melakukan itu mungkin bertujuan menjaga hati kalian semua"


Suasana hening, mereka terdiam menunggu Abi Ahmed melanjutkan perkataannya.


"Mereka adalah wanita Sameer, bagaimana pun mereka adalah makhluk berhati lembut dan sensitif. Mereka pasti merasakan cemburu satu sama lain, pasti dari mereka ada yang terluka saat kau bersama dengan salah satu satu dari mereka"


Sameer terdiam menatap Humaira dan Elena bergantian. Ia mencoba menyelami isi hati kedua istrinya.


"Kamu tau mengapa Abi menentang pilihan mu berpoligami?"


Abi Ahmed menatap dalam Sameer. Abi Ahmed ingin memberikan sedikit pencerahan kepada sang putra. Abi Ahmed ingin memberikan Sameer pemahaman mengenai poligami.


"Sejatinya Sameer, hati tidaklah bisa memiliki 2 cinta. Hati hanya mampu memiliki 1 cinta, kalau kau memilih untuk mendua itu bukanlah cinta tapi itu nafsu. Nafsu hati yang terus kau turuti karena kau mengejar keinginan mu. Kau mengejar keinginan mu sampai kau tidak percaya akan pilihan dan ketetapan Allah atas ke hendak Nya. Setelah ini merenunglah Sameer, merenung bukan untuk semua kesalahan mu. Merenung untuk meminta jawaban dari Allah atas segala keinginan mu itu. Abi yakin setelah ini kau akan menemukan jawabannya atas segalanya. Humaira di hati mu atau Elena yang ada di hatimu"


Sameer terdiam mendengar penjelasan Abi Ahmed. Rasa bersalah semakin besar bergelayut dihati Sameer.


"Maaf kan aku Abi karena ego ku, aku memilih jalan ini"

__ADS_1


"Ini bukan waktunya meminta maaf Sameer, berpikir dan merenung itu lebih baik. Jangan membuat keputusan tergesa-gesa tanpa kau meminta petunjuk Allah. Mintalah petunjuk itu Sameer, untuk hidup mu kedepan dan untuk kehidupan kedua istri mu" terang Abi Ahmed.


"Pilihlah sesuai ketetapan Allah. Abi percaya kau bisa melakukan itu dan satu lagi jangan kau sesali apapun pilihan yang telah kau ambil kini" lanjut Abi Ahmed memberikan pencerahan pada putra semata wayangnya.


Sameer masih bungkam, ia menyadari kalau segala keputusan yang di ambilnya berdasarkan nafsu hati untuk segera memiliki Elena, tanpa berpikir terlebih dahulu dan melupakan Allah yang lebih berhak memutuskan jalan hidupnya.


***


Rumah baru yang diminta Humaira telah Sameer siapkan. Humaira ditemani Sameer mengunjungi rumah baru yang akan menjadi tempat tinggal Humaira.


Rumah sederhana sesuai permintaan Humaira dengan halaman yang cukup luas. Disamping rumah pun terdapat taman bunga mini dengan sebuah ayunan kayu yang melengkapi taman mini itu.


"Apa kamu suka sayang?" tanya Sameer merangkul pundak Humaira memberikan kecupan dipuncak kepala Humaira.


"Suka Zauya, apalagi jaraknya cukup dekat dengan toko"


"Syukurlah kalau kamu suka dengan pilihan Zauya. Ayo kita masuk sayang!"


Humaira melihat isi dalam rumah itu yang telah lengkap. Rumah yang memiliki 3 kamar tidur, 1 kamar utama dan 2 kamar tamu dengan masing-masing kamar mandi dalam.


Ruang dapur pun telah lengkap, Sameer menyiapkan semuanya sebaik mungkin apalagi dapur merupakan sport favorite Humaira.


"Selamat siang Tuan, Nyonya" sapa seorang wanita yang muncul dari dapur.


"Selamat siang juga Bi, Oh ya...kenalkan ini Humaira istri saya Bi"


"Namanya Marni, Nyonya. Saya asisten rumah tangga yang dipekerjakan Tuan Sameer" Marni mengulurkan tangannya memperkenalkan diri kalau dia seorang asisten rumah tangga yang dipekerjakan Sameer. Sameer tidak ingin istrinya tinggal seorang diri saat nanti dia tidak bisa berkunjung kemari.


"Humaira, Bi Marni" Humaira membalas uluran tangan Bi Marni.


"Mulai hari ini, Bi Marni akan membantu kamu. Zauya tidak mau kamu kerepotan disini"


"Terima kasih ya Zauya!" Humaira memeluk Sameer erat, membenamkan kepalanya di dada sang suami.


"Terima kasihnya harus spesial, diujung sana" bisik Sameer menggoda. Humaira menundukkan kepalanya tersipu malu.


Sameer yang tidak sabar pun, mengandeng tangan Humaira mengajak Humaira melihat kamar tidur utama sekaligus mencoba merasakan empuknya tempat tidur baru itu.


Senyuman terukir dibibir Sameer. Sameer melepas khimar Humaira pelan. Membelai lembut wajah sang istri penuh kasih, Sameer segera membenamkan bibir ranumnya tepat dibibir cherry menggoda milik Humaira. Berawal dari kecupan yang manis, berubah menjadi menuntut penuh gairah.


***

__ADS_1


bisa ditebak sendiri ya apa yang terjadi sama mereka berdua...


😂😂😂😂


__ADS_2